Rabu, 10 Agustus 2011

Tips Puasa Diterima Allah

Sumber ramadhan.republika.co.id

Imam Abu Hamid al Ghazali di dalam Ihya’ ‘Ulum al Din pernah mengemukakan sebuah permasalahan, “Apakah ada puasa yang sah tetapi tidak bernilai”. Dalam hal ini, ia menjelaskan bahwa ungkapan sah adalah istilah yang digunakan ahli fiqih terhadap puasa seseorang yang memenuhi syarat dan rukunnya saja. Namun, ulama –yang ia sebut dengan ulama akhirat- tidak hanya berorientasi kepada penilaian sah semata, tetapi lebih berorientasi kepada kualitas puasa sehingga diterima di sisi Allah.

Berdasarkan tujuan tersebut, al Ghazali memberikan enam tips agar puasa dapat diterima di sisi Allah. Petama, menjaga pandangan dari sesuatu yang diharamkan. Ia dikarenakan terdapat hadis Nabi SAW yang menyebutkan bahwa pandangan terhadap sesuatu yang haram adalah bagian dari ‘panah-panah’ syetan. (HR. al Hakim dan al Thabrani).

Kedua, menjaga lisan dari ghibah, dusta, gosip, cacian, dan debat. Al-Ghazali menyarankan agar orang yang berpuasa lebih banyak berzikir dan membaca Alquran. Beberapa ulama dari kalangan Tabi‘in seperti Imam Sufyan al Tsauri dan Mujahid sepakat bahwa berbohong dan bergunjing dapat merusak nilai puasa. Nabi SAW pernah mengingatkan, “Apabila seseorang di antara kamu berpuasa, maka janganlah berkata keji dan bertengkar. Apabila ada orang yang mengajak bertengkar, maka katakanlah ‘Aku sedang berpuasa’.” (HR. al Bukhari dan Muslim).

Ketiga, menjaga pendengaran dari mendengarkan yang dibenci oleh Allah. Al Ghazali menegaskan bahwa bersikap diam ketika ada pergunjingan termasuk diharamkan. Ini dikarenakan Nabi SAW melarang melakukan pergunjingan dan juga mendengarkannya.

Keempat, menjaga anggota badan seperti tangan dan kaki dari aktivitas yang tidak disukai Allah, dan juga perut dari memakan sesuatu yang syubhat ketika berbuka. Al Ghazali mengingatkan bahwa puasa tidak bernilai jika menahan diri dari sesuatu yang halal, namun berbuka dengan sesuatu yang haram.

Kelima, menahan diri dari berbuka secara berlebihan, walaupun makanan yang dikonsumsi halal. Tradisi mengonsumsi beraneka ragam makanan khusus pada bulan Puasa, ternyata juga menjadi kebiasaan sebagian umat Islam di zaman al Ghazali. Ini membuat ia heran dengan mengatakan, “Spirit dari puasa adalah meminimalkan kekuatan hawa nafsu, sedangkan itu tidak akan diperoleh kecuali dengan cara meminimalkan makan”. Selain itu, makan dan minum yang berlebihan juga berakibat malas dan suka tidur, sehingga tidak mampu memakmurkan malam Ramadan.

Keenam, menghadirkan perasaan takut (khawf) tidak diterima puasanya, dan harap (raja’) agar Allah menerimanya. Ini dilakukan setelah berbuka puasa, bahkan setiap selesai beramal apa pun. Ini dikarenakan jika Allah menerima puasa seseorang maka ia akan menjadi golongan yang diridai. Adapun sebaliknya jika Allah menolaknya maka orang tersebut akan menjadi golongan yang dimurkai.

Dengan demikian, pesan-pesan Imam al Ghazali tersebut dapat disimpulkan agar puasa diterima, maka orang yang melaksanakannya harus berpuasa secara zahir dan batin. Semoga Allah menerima puasa kita, sehingga menjadi hamba yang diridai-Nya.

Macam-macam surga dan penghuninya

Surga Firdaus

Surga Firdaus ini diciptakan oleh Allah Swt. dari emas. Tentang calon penghuninya, dijelaskan dalam surat Al-Mukminuun berikut ini.

“Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, (yaitu) orang-orang yang khusyuk dalam shalatnya, dan orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tiada berguna, dan orang-orang yang menunaikan zakat, dan orang-orang yang menjaga kemaluannya, kecuali terhadap istri-istri mereka atau budak yang mereka miliki; maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada tercela.
Barangsiapa mencari yang di balik itu maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas. Dan orang-orang yang memelihara amanat-amanat (yang dipikulnya) dan janjinya, dan orang-orang yang memelihara shalatnya. Mereka itulah orang-orang yang akan mewarisi, (yakni) yang akan mewarisi surga Firdaus. Mereka kekal di dalamnya.” (Q.S. Al-Mukminuun [23]: 1-11)

Surga ‘Adn

Surga ‘Adn ini diciptakan oleh Allah Swt. dari intan putih. Calon penghuni Surga ‘Adn antara lain:

1. Orang yang bertakwa kepada Allah Swt.
“(Yaitu) surga Adn yang mereka masuk ke dalamnya, mengalir di bawahnya sungai-sungai, di dalam surga itu mereka mendapat segala apa yang mereka kehendaki. Demikianlah Allah memberi balasan kepada orang-orang yang bertakwa. (Yaitu) orang-orang yang diwafatkan dalam keadaan baik oleh para malaikat dengan mengatakan (kepada mereka), ‘Salaamun`alaikum, masuklah kamu ke dalam surga itu disebabkan apa yang telah kamu kerjakan.’” (Q.S. An-Nahl [16]: 31-32)

2. Orang yang benar-benar beriman dan beramal saleh.
“Dan barangsiapa datang kepada Tuhannya dalam keadaan beriman, lagi sungguh-sungguh telah beramal saleh, mereka itulah orang-orang yang memperoleh tempat-tempat yang tinggi (mulia). (Yaitu) surga Adn yang mengalir sungai-sungai di bawahnya, mereka kekal di dalamnya. Dan itu adalah balasan bagi orang yang bersih (dari kekafiran dan kemaksiatan).” (Q.S. Thaahaa [2]: 75-76)

3. Orang yang banyak berbuat baik.
“Kemudian Kitab itu Kami wariskan kepada orang-orang yang Kami pilih di antara hamba-hamba Kami, lalu di antara mereka ada yang menganiaya diri mereka sendiri dan di antara mereka ada yang pertengahan dan di antara mereka ada (pula) yang lebih cepat berbuat kebaikan dengan izin Allah. Yang demikian itu adalah karunia yang amat besar. (Bagi mereka) surga Adn, mereka masuk ke dalamnya, di dalamnya mereka diberi perhiasan dengan gelang-gelang dari emas, dan dengan mutiara, dan pakaian mereka di dalamnya adalah sutera.” (Q.S. Fathir [35]:32-33)

4. Orang yang sabar, menginfakkan hartanya dan membalas kejahatan dengan kebaikan.
“Dan orang-orang yang sabar karena mencari keridhaan Tuhannya, mendirikan shalat, dan menafkahkan sebagian rezeki yang Kami berikan kepada mereka, secara sembunyi atau terang-terangan serta menolak kejahatan dengan kebaikan; orang-orang itulah yang mendapat tempat kesudahan (yang baik). (Yaitu) surga Adn yang mereka masuk ke dalamnya bersama-sama dengan orang-orang yang saleh dari bapak-bapaknya, isteri-isterinya dan anak cucunya, sedang malaikat-malaikat masuk ke tempat-tempat mereka dari semua pintu.” (Q.S. Ar Ra’d [13]: 22-23)

Surga Na’im

Surga Na’im diciptakan oleh Allah Swt. dari perak putih. Calon penghuninya adalah orang-orang yang benar-benar bertakwa dan beramal saleh. Sebagaimana firman Allah Swt. berikut ini.

“Sesungguhnya bagi orang-orang yang bertakwa (disediakan) surga-surga yang penuh kenikmatan di sisi Tuhannya.” (Q.S. Al-Qalam [68]: 34)

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal saleh, bagi mereka surga-surga yang penuh kenikmatan” (Q.S. Luqman [31]: 8)

“Kekuasaan di hari itu ada pada Allah, Dia memberi keputusan di antara mereka. Maka orang-orang yang beriman dan beramal saleh adalah di dalam surga yang penuh kenikmatan.” (Q.S. Al-Hajj [22]: 56)

Surga Ma’wa

Surga Ma’wa diciptakan oleh Allah Swt dari zamrud hijau. Calon penghuninya adalah:

1. Orang-orang yang benar-benar beriman dan beramal saleh.
“Adapun orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal saleh, maka bagi mereka surga-surga tempat kediaman, sebagai pahala terhadap apa yang telah mereka kerjakan.” (Q.S. As-Sajdah [32]: 19)

2. Orang-orang yang takut pada kebesaran Allah Swt. dan menahan diri dari hawa nafsu buruk.
“Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya. Maka sesungguhnya surga tempat tinggal(nya).” (Q.S. An-Naazi‘aat [79]: 40-41)

Surga Darussalam

Surga Darussalam diciptakan oleh Allah Swt dari yakut merah. Calon penghuninya adalah orang-orang yang kuat iman dan Islamnya, mengamalkannya ayat-ayat Al-Quran dalam kehidupan sehari-hari, serta mengerjakan amal saleh lainnya karena Allah Swt. Firman-Nya,

“Bagi mereka (disediakan) darussalam (surga) pada sisi Tuhannya dan Dialah Pelindung mereka disebabkan amal-amal saleh yang selalu mereka kerjakan.” (Q.S. Al-An’aam [6]: 127)

Surga Darul Muqamah

Surga Darul Muqamah diciptakan oleh Allah Swt. dari permata putih. Calon penghuninya adalah orang-orang yang melakukan banyak kebaikan. Firman-Nya,

“Dan mereka berkata, ‘Segala puji bagi Allah yang telah menghilangkan duka cita dari kami. Sesungguhnya Tuhan kami benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri. Yang menempatkan kami dalam tempat yang kekal (surga) dari karunia-Nya; di dalamnya kami tiada merasa lelah dan tiada pula merasa lesu.’” (Q.S. Faathir [35]: 34-35)

Surga Al-Maqaamul

Surga Al-Maqaamul adalah surga yang diciptakan oleh Allah Swt. dari emas. Calon penghuninya adalah orang-orang yang sangat beriman (muttaqien), yaitu yang benar-benar bertakwa kepada Allah Swt. sebagaimana firman Allah Swt. berikut ini
“Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa berada dalam tempat yang aman.” (Q.S. Ad-Dukhan [44]: 51)

Surga Khuldi

Surga Khuldi adalah surga yang diciptakan oleh Allah Swt. dari marjan merah dan kuning. Calon penghuninya adalah orang-orang yang taat menjalankan perintah Allah Swt. dan menjauhi segala larangan-Nya. Firman-Nya,

“Katakanlah, ‘Apa (azab) yang demikian itukah yang baik, atau surga yang kekal yang telah dijanjikan kepada orang-orang yang bertakwa? Dia menjadi balasan dan tempat kembali bagi mereka.’” (Q.S. Al-Furqan [25]: 15)

Jadi, selamat berlomba-lomba meraih surga.


Sumber dari sini

Baca juga:

Senin, 08 Agustus 2011

Renungan Ramadhan : Bonus Ramadhan


Sumber koran.republika.co.id

Prof Dr KH Achmad Satori Ismail

Watak manusia memang mencintai materi (QS Ali Imran: 14). Walaupun kesenangan materi adalah palsu dan menipu  (QS Ali Imran: 185, al-Hadid: 20)). Dan, jika dia tenggelam dalam kemateriannya maka posisinya bisa lebih rendah dari binatang. (QS al A'raf 179).

Memang, manusia harus seimbang antara materi dan rohani. Namun, orang yang bisa melepaskan diri dari kekuasaan kemateriannya, akan naik ke derajat malaikat. Saat orang berpuasa, berusaha untuk meninggalkan kemateriannya dan menuju alam malakut. Sehingga, Allah menyanjungnya dalam hadis Qudsi yang artinya:  "Setiap amalan anak cucu Adam adalah baginya kecuali puasa. Puasa adalah milik-Ku dan Aku akan langsung membalasnya. Puasa adalah perisai, jika salah seorang berpuasa jangan berkata kotor dan jangan bertengkar. Bila dihina seorang atau diajak duel, hendaknya menjawab: aku sedang puasa ..." (HR Bukhari, Muslim, an-Nasa'i, dan Ibnu Hibban dari Abu Hurairah).

Itulah bonus bagi orang yang puasa Ramadhan. Agar manusia yang materialis ini bisa tawazun (seimbang), Allah memberi motivasi dengan berbagai cara. Sebagai makhluk ekonom, ia tertarik dengan segala bentuk transaksi yang menguntungkan. Untuk itu, Alquran banyak menggunakan istilah ekonomi, seperti istilah transaksi (as-Shaf: 10), rugi dan timbangan (ar-Rahman: 9), dan lainnya.

Supaya umat Islam di bulan Ramadhan mencapai puncak dalam ibadah maka Allah menyediakan beragam bonus. Rasulullah SAW bersabda, "Umatku diberi lima keistimewaan pada bulan Ramadhan yang tidak diberikan kepada umat sebelum mereka:  Bau mulutnya orang-orang puasa lebih wangi di sisi Allah dibandingkan bau minyak kasturi, setiap hari malaikat memintakan ampunan bagi mereka saat berpuasa sampai berbuka, Allah menghiasi surga untuk mereka kemudian berfirman, "Hamba-hamba-Ku yang saleh tengah melepaskan beban dan kesulitan maka berhiaslah, setan-setan dibelenggu sehingga tidak bisa menggoda dan orang-orang puasa diampuni dosa-dosa mereka pada malam terakhir bulan Ramadhan." (HR Ahmad, al-Bazzar, al-Baihaqi).

Selain itu, pada malam pertama Ramadhan setan dibelenggu, pintu surga dibuka, pintu neraka ditutup, dan penyeru dari langi memanggil, "Wahai pencari kebaikan, songsonglah dan wahai pencari kejahatan berhentilah! Dan, Allah membebaskan banyak manusia dari neraka setiap malam Ramadhan."

Orang yang berpuasa diberi keistimewan dengan dua kebahagiaan, yakni kebahagiaan saat berbuka dan saat bertemu dengan Allah di surga. Di surga ada pintu yang disiapkan untuk orang puasa, yaitu pintu ar-rayyan. Bila para shoimin di dunia telah masuk, semua pintu ditutup dan tidak ada yang masuk lagi selain mereka.

Lebih dari itu, di bulan suci ini, Allah menyediakan satu malam yang lebih baik dari seribu bulan, yaitu lailatul qadar (malam kemuliaan). Barang siapa yang tidak mendapat kebaikan malam itu sungguh dia termasuk orang celaka. Demikian besar bonus yang disediakan Allah pada setiap Ramadhan. Tidak cukupkah bagi kita untuk bermujahadah dalam beribadah demi menyongsong keutamaannya? Boleh jadi di antara kita, ada yang tidak bertemu kembali dengan bonus-bonus Ramadhan.

Jumat, 05 Agustus 2011

Renungan Ramadhan : Memaknai Ramadhan

Sumber : koran.republika.co.id

Ustadz Muhammad Arifin Ilham

Ramadhan secara bahasa berasal dari kata ramidha, yarmadhu, ramadhan yang artinya terik, sangat panas, atau terbakar (pembakaran). Jika pengertian ini dipegang berarti Ramadhan dapat diartikan sebagai pembakaran, peleburan, atau penghapusan sesuatu.

Adapun sesuatu yang dibakar bisa dua kemungkinan. Pertama, yang dibakar biasanya adalah sesuatu yang kotor; seperti sampah yang berserakan di pelataran rumah, yang setelah dikumpulkan lalu dibakar. Biasanya, setelah itu pelataran rumah menjadi bersih. Atau kemungkinan kedua, sesuatu yang dibakar biasanya benda seperti besi. Oleh si pandai besi, besi dipanaskan lalu dibakar, besi kemudian memuai dan setelah itu mudah baginya untuk membentuk dan menciptakan apa pun sesuai seleranya. Bisa jadi pisau, keris, pedang, atau yang lainnya.

Ramadhan dengan arti pembakaran, itu berarti yang kotor-kotor dari diri kita harus dibakar. Hidup kita kotor karena dosa dan kemaksiatan yang tumpuk-menumpuk. Pelataran kehidupan pun seperti dipenuhi oleh sampah-sampah kesalahan yang berserakan sehingga mengakibatkan ketidaknyamanan dalam hidup. Ramadhan datang, berarti kesempatan terbesar buat kita untuk membakar semua bentuk kesalahan dan dosa sehingga kehidupan menjadi bersih dan nyaman. Bahkan, dari proses pembakaran pada Ramadhan ini akhirnya bisa membentuk dan menciptakan diri kita sesuai selera kebaikan, yaitu insan yang bertakwa. (QS al-Baqarah [2]: 183).

Karena itu, Ramadhan terbaik adalah Ramadhan yang mampu memuasakan diri tidak sebatas menahan lapar, haus, dan birahi, tapi memuasakan segala sesuatu demi satu hal, yaitu lahir dan terbentuk manusia yang bertakwa. Saatnya, kita pindahkan dari puasa seremoni menuju puasa yang hakiki.

Puasa seremoni adalah puasa yang hanya mengejar fikih, asal tidak membatalkan puasa, seperti makan minum atau berhubungan suami istri pada siang hari. Memang tidak makan dan minum pada siang hari. Juga tidak tidur dengan suami atau istri pada jam-jam setelah imsak hingga Maghrib, tapi perbuatan-perbuatan yang melanggar norma dan kaidah kepatutan agama tidak diindahkan. Perbuatan-perbuatan, seperti rafats (berkata cabul atau porno), fusuq (fasiq seperti berkata atau bersumpah tidak sesuai fakta), dan jidal (mencaci maki, memfitnah, dan bergunjing atau bergosip), sama sekali tidak dipuasakan.

Dalam hal itulah, Rasulullah SAW memberikan peringatan terhadap umat Muslim. "Banyak orang yang puasa, mereka tidak mendapatkan apa-apa melainkan hanya rasa lapar dan haus." (HR Bukhari). Lebih tegas, Rasul SAW menyebutkan bahwa Allah sama sekali tidak berhajat kepada usaha menahan rasa lapar dan haus seseorang, bila dia tidak meninggalkan perkataan bohong, perbuatan nista, dan tindakan kejahilan. (Baca HR Muslim).

Karena itu, saatnya kita bakar semua dosa dan maksiat kita dengan berpuasa yang benar sesuai tuntunan syariat Allah dan Rasulullah. Semoga kita mampu memaknai Ramadhan tahun ini dengan benar.

Kamis, 04 Agustus 2011

Kapan saat imsak yang benar?

Sumber : koran.republika.co.id

Kata imsak dalam fikih shaum berarti menahan diri dari segala yang membatalkan puasa. Pada awalnya, kata imsak dalam fikih shaum tidak berkaitan dengan waktu 10¨C15 menit sebelum fajar (azan Subuh). Memang ada sebagian ulama yang beralasan untuk kehati-hatian maka sebaiknya berhenti dari aktivitas yang bisa membatalkan puasa 10-15 menit sebelum azan Subuh.

Selanjutnya, beredarlah di masyarakat pembagian dua waktu: imsak dan terbit fajar (fajar shadiq) walau pembagian dua waktu ini tidak dikenal pada masa Rasulullah SAW dan zaman para sahabat beliau dan juga kata imsak tidak ada hubungannya dengan waktu.

Seharusnya, kita tidak perlu mensyariatkan imsak sebelum Subuh ini sebagaimana yang ditegaskan oleh Ibnu Abbas dan diikuti Imam Syafi bahwa dibolehkan tetap makan pada waktu yang meragukan (syak) antara sudah atau belum masuknya waktu Subuh, sampai jelas tampak masuk waktu Subuh sebenarnya. Sebagaimana yang dijelaskan ayat berikut: ­ dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar (Al-Baqarah: 187).

Rasulullah SAW bersabda, Makan dan minumlah dan janganlah menghalangi kalian sinar yang tinggi (yakni terangnya fajar kadzib). Makan dan minumlah hingga tampak bagi kalian warna merah. (HR Abu Daud). Hadis ini menjelaskan agar kita tak perlu takut dengan waktu Subuh yang sebentar lagi masuk, silakan lanjutkan aktivitas makan dan minum Anda selama belum azan Subuh. Bahkan, ada riwayat lain yang sahih yang membolehkan tetap makan selama piring masih berisi makanan yang masih kita butuhkan dan gelas berisi minuman yang kita butuhkan. Wallahu a'lam bish shawab.

Renungan Ramadhan : Puasa lahir batin

Sumber : republika.co.id

Oleh Dr A Ilyas Ismail

Seperti dimaklumi, puasa merupakan ibadah yang sangat istimewa sebagai proses penyegaran kembali (rejuvenation), baik fisik, mental, maupun spiritual. Ibadah ini bila dilaksanakan dengan benar dan dengan sikap batin yang kuat serta tulus karena Allah (imanan wa ihtisaban), maka ia dapat mengantar pelakunya meraih derajat takwa. (QS Al-Baqarah [2]: 183).

Namun, untuk mencapai kualitas ini, seorang muslim mesti menjalankan puasa, tidak saja puasa lahir, tetapi juga puasa batin. Puasa lahir, seperti diajarkan oleh para ahli fikih, ialah menahan diri (al-imsak) dari makan dan minum, serta melakukan hubungan suami-isteri dari terbit fajar hingga matahari terbenam dengan niat karena Allah.

Sedangkan puasa batin, seperti diajarkan oleh para sufi, ialah menahan diri dari segala hal yang dilarang oleh Allah, bahkan menahan diri dari apa pun yang akan memalingkan manusia dari mengingat Allah. Horizon tertinggi dari puasa batin (internal fasting), menurut Imam Ghazali, juga menurut Kess Waaijman, dalam Spirituality: form, foundation, method (2002), adalah menjadikan Allah sebagai satu-satunya Yang Terkasih (God is the Beloved One). Puasa batin mengantar manusia mencapai esensi Islam, yaitu berserah diri secara total kepada Allah SWT (total surrender to god).

Dalam buku Asrar al-Shaum, al-Ghazali menetapkan enam rukun yang bersifat moral dan spiritual, agar puasa batin dapat mencapai sasarannya, yaitu sah (al-shihhah) dan diterima Allah (al-maqbul). Pertama, mensucikan pandangan (shaum al-bashar) dari segala hal yang dilarang oleh Allah. Pandangan itu berbahaya karena ia seringkali menjadi titik awal keburukan. Kata Nabi, pandangan itu merupakan salah satu anak panah Iblis (sahmun min sihami Iblis). (HR Hakim dari Hudzaifah ibn al-Yaman).

Kedua, menyucikan lisan atau perkataan (shaum al-lisan) dari dusta, gosip, dan adu domba. "Jangan berkata kotor dan jangan berbuat jahil." (HR Bukahari dan Muslim). Orang yang berpuasa, demikian al-Ghazali, lebih baik diam (al-sukut), lalu banyak zikir, dan baca Alquran.

Ketiga, menyucikan pendengaran alias tutup telinga (shaum al-sam`) dari perkatan dusta dan kebohongan. Orang yang mendengar kebohongan sama buruknya dengan orang yang mengatakannya. Dalam Alquran, pendengar kebohongan disamakan dengan pemakan riba atau suap (QS al-Maidah [5]: 42 dan 63).

Keempat, menyucikan anggota tubuh yang lain (shaum baqiyat al-jawarih), seperti tangan, kaki, dan organ tubuh yang lain, serta mensucikan diri dari makan dan minum barang haram. Kelima, mengurangi makan yang terlalu kenyang. Sebab, hal demikian bertentangan dengan salah satu tujuan puasa, yaitu melepaskan diri dari kendali syahwat perut. Keenam, cemas, tetapi tetap penuh harap (optimistis) bahwa ibadah puasa yang dilakukan diterima oleh Allah SWT.

Semoga kita tak hanya puasa lahir, tetapi juga puasa batin. Dengan begitu, puasa betul-betul menjadi penyembuh yang cespleng (infallible remedy) untuk kebugaran kita, baik fisik, psikis, maupun mental dan spiritual. Wallahu a`lam.

Selasa, 02 Agustus 2011

Doa berbuka puasa, mana yang benar?

koran.republika.co.id

Pada bulan Ramadhan, ada dua kegembiraan yang senantiasa menyertai seorang Mukmin, yakni kegembiraan saat berbuka dan kegembiraan saat menjumpai Tuhannya. Karena itu, disunahkan berdoa saat berbuka sebagai kegembiraan pertama dalam bentuk syukur. Sayangnya, doa yang selama ini tersebar di kalangan Muslimin adalah doa berbuka yang lemah hadisnya.

Berikut doa tersebut: Allahumma laka shumtu wa ala rizqika afthortu (Ya Allah, untuk-Mu aku berpuasa dan dengan rezeki-Mu aku berbuka). Menurut sebagian ahli hadis, riwayat di atas dikeluarkan oleh Abu Daud dalam sunahnya No 2358, dari Muadz bin Zuhroh. Mu'adz adalah seorang tabiin sehingga jadilah hadis ini mursal (ada silsilah yang terputus di atas tabi'in). Hadis mursal merupakan hadis dhaif, sebab sanad yang terputus.

Imam Bukhari dalam kitabnya Tarikh Alkabir (227/1) juga mengatakan bahwa hadis tentang doa di atas adalah mursal. Bahkan, Ibnu Hibban dalam kitab Tsiqat menjelaskan, Mu'adz adalah seorang yang majhul (tidak jelas riwayat hidupnya) dan hidup di bawah periode tabi'in (atba' tabi'in).

Menurut sebagian ulama ahli hadis, riwa yat yang lebih kuat tentang hadis doa ifthar (berbuka puasa) adalah sebagai berikut. Marwan bin Salim al-Muqaffa berkata, Saya melihat Ibnu Umar menggenggam jenggotnya dan memotong jenggot yang melebihi telapak tangan. Dan ia berkata, Dahulu Rasulullah SAW apabila berbuka beliau mengucapkan: Dzahabazh zhoma'u wabtallatil uruuqu wa tsabatal ajru insya Allah, (Rasa haus telah hilang dan urat-urat tenggorokan pun telah basah, serta pahala telah ditetapkan, insya Allah). (Derajat hadis ini Hasan, HR Abu Daud dan an-Nasa'I, juga Daruquthni dalam kitab sunahnya).

Berdasarkan penjelasan di atas, doa yang lebih kuat dalilnya adalah doa yang kedua, yang diriwayatkan oleh sahabat Ibnu Umar ra. Wallahu a'lam bish shawab.