Rabu, 30 November 2011

Tenaga Metafisika

Sumber : Scribd

Tenaga Metafisika adalah tenaga yang diserap oleh seseorang menusia dari alam dan dimanfaatkan atau didapat dengan jalan diisi oleh seorang guru atau dengan jalan bertapa dan puasa. Tenaga ini berasal dari luar tubuh manusia dan merasuk ke dalam tubuh manusia sesuai dengan keperluan dan kegunaannya, misalnya sebagai pertahanan diri, pengobatan, pukulan jarak jauh dan sebagainya.

Secara garis besar ada empat jenis tenaga metafisika yang beredar di dunia dan masing- masing memiliki ciri tersendiri di dalam mendapatkannya. Keempat tenaga metafisika itu adalah:

Tenaga metafisika yang diturunkan langsung oleh Allah SWT. yaitu suatu tenaga metafisika yang dimiliki oleh seseorang tanpa diketahui orang yang bersangkutan. Jadi tenaga metafisika ini diberikan oleh Allah SWT. Kepada yang dikehendaki-Nya tanpa perantara apa-apa. Biasanya orang memiliki tenaga ini memiliki misi-misi tertentu, terutama dalam syiar Islam dan menegakkan agama Allah. Untuk tenaga metafiska ini dibagi lagi menjadi 3 golongan yaitu: mukjijat, karamah dan maunah.

Tenaga metafisik bantuan malaikat, yaitu bala bantuan pasukan malaikat yang diberikan oleh Allah SWT. Kepada orang-orang yang sedang berperang di jalan Allah.

Tenaga metafisika bantuan jin, yaitu suatu jenis tenaga metafisika dimana kekuatan menggunakan sarana jin. Cara mendapatkan tenaga metafiska jenis ini biasanya menggunakan syarat-syarat tertentu. Syarat-syarat untuk mendapatkan tenaga metafisika atas bantuan jin ada beberapa jenis yaitu: bertapa, berpuasa, melalui wirid tertentu.

Tenaga metafisika energi luar, yaitu suatu jenis tenaga metafisika berupa energi yang menyelubungi tubuh dan bukan merupakan bantuan makluk ghaib apapun. Energi ini membentuk Aura atau selubung tenaga yang mengelilingi tubuh seseorang. Setiap orang memiliki apa yang disebut Aura ini hanya tebal tipisnya berbeda dengan orang yang telah melakukan olah nafas, Auranya akan tebal dan melebar. Keberadaan tenaga ini dapat dibuktikan secara visual dengan melalui pemotretan dengan kamera KIRLIAN atau AURA CAMERA 3000. Setiap makluk bernyawa pasti memiliki energi metafisika ini. Kekuatan ini dari ion-ion positif dan negatif sehingga dapat dimodifikasi dengan kekuatan tanpa batas dengan catatan energi yang dimiliki oleh orang tersebut besar sekali dan itu bisa dilatih.

Minggu, 27 November 2011

Alam jin menurut Al Qur'an dan hadits

Sumber : As Sunnah

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ

Ikhwanul Muslimin Rahimakumullah,
Dalam topik kali ini, insya Allah kita akan coba mengkaji bersama tentang alam jin dan hal-hal yang berkaitan dengan Jin sebagaimana yang diajarkan dalam Al Qur'an maupun yang dijelaskan oleh Rasulullah SAW.

Semoga Allah memudahkan dan memberi taufiq kepada kita sekalian untuk memahami intrik-intrik jin, setan, dan semua sekutunya dari golongan manusia yang menggunakan sihir atau ilmu hitam yang sesat lagi menyesatkan nanusia-manusia lain yang lemah imannya, terutama menjelang akhir zaman ini.

Perhatikanlah, hampir semua stasiun televisi nasional seolah berlomba-lomba untuk menayangkan hal-hal mistis-alam supernatural dan lain-lain acara yang berbau "syiriq" dengan kemasan yang menarik disertai trik-trik kamera yang canggih, yang menyebabkan banyak orang yang merasa takjub-terpukau- terheran-heran serta terpesona olehnya.
Naudzubillahi minzaliq!

Mudah-mudahan risalah yang singkat ini dapat menambahkan ilmu yang bermanfaat bagi kita semua, dan sesungguhnya hanyalah Allah SWT semata pemberi taufiq dalam i'tikad, ilmu dan amal.

ASAL KATA JIN


Asal pembentukan kalimat "jin" dari huruf 'jim' dan 'nun' menunjukkan makna tertutup, sebagaimana firman Allah SWT:

فَلَمَّا جَنَّ عَلَيْهِ اللَّيْلُ رَأَى كَوْكَباً قَالَ هَـذَا رَبِّي فَلَمَّا أَفَلَ قَالَ لا أُحِبُّ الآفِلِينَ
"Ketika malam telah gelap, dia melihat sebuah bintang (lalu) dia berkata: "Inilah Robbku", tetapi tatkala bintang itu tenggelam dia berkata:"Saya tidak suka kepada yang tenggelam." (QS.Al-An'am [6]: 76).

Berkata Syaikhul Islam Rahimahullah: "Ia dinamakan jin karena ketertutupannya dari pandangan manusia."

Para jin melihat manusia sedangkan manusia tidak dapat melihat mereka. Allah SWT berfirman:

يَا بَنِي آدَمَ لاَ يَفْتِنَنَّكُمُ الشَّيْطَانُ كَمَا أَخْرَجَ أَبَوَيْكُم مِّنَ الْجَنَّةِ يَنزِعُ عَنْهُمَا لِبَاسَهُمَا لِيُرِيَهُمَا سَوْءَاتِهِمَا إِنَّهُ يَرَاكُمْ هُوَ وَقَبِيلُهُ مِنْ حَيْثُ لاَ تَرَوْنَهُمْ إِنَّا جَعَلْنَا الشَّيَاطِينَ أَوْلِيَاء لِلَّذِينَ لاَ يُؤْمِنُونَ
"Hai anak Adam, janganlah sekali-kali kamu dapat ditipu oleh syaitan sebagaimana ia telah mengeluarkan kedua ibu bapamu dari surga, ia menanggalkan dari keduanya pakaiannya untuk memperlihatkan kepada keduanya 'auratnya. Sesungguhnya ia dan pengikut-pengikutnya melihat kamu dan suatu tempat yang kamu tidak bisa melihat mereka. Sesungguhnya Kami telah menjadikan syaitan-syaitan itu pemimpin-pemimpim bagi orang-orang yang tidak beriman." (QS.Al-A-rof [7]: 27)

Maksud dari ayat ini adalah: Sesungguhnya manusia tidak dapat melihat jin sesuai dengan bentuk kejadiannya yang hakiki, tetapi terkadang mereka bisa dilihat dengan bentuk yang lain semisal hewan. (Lihat Fath al-Haq al-Mubin: 28 oleh Abdullah bin Muhammad bin Ahmad ath-Thoyar)

JIN DICIPTAKAN SEBELUM MANUSIA


Jin diciptakan sebelum manusia berdasarkan nash al-Qur'an QS Al-Hijr [15]"27-28)

وَالْجَآنَّ خَلَقْنَاهُ مِن قَبْلُ مِن نَّارِ السَّمُومِوَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلاَئِكَةِ إِنِّي خَالِقٌ بَشَراً مِّن صَلْصَالٍ مِّنْ حَمَإٍ مَّسْنُونٍ
"Dan Kami telah menciptakan jin sebelum (Adam) dari api yang sangat panas. Dan (ingatlah) , ketika Tuhanmu berfirman kepada malaikat: "Sesungguhnya Aku akan menciptakan seorang manusia dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk."

ASAL PENCIPTAAN JIN
Allah menciptakan jin dari api. Hal ini sesuai dengan apa yang disebutkan oleh Allah SWT dalam surat Al-Hijr [15]: 27;
وَالْجَآنَّ خَلَقْنَاهُ مِن قَبْلُ مِن نَّارِ السَّمُومِ
"Dan Kami telah menciptakan jin sebelum (Adam) dari api yang sangat panas." Dan juga dalam surat Ar-Rohman [55]: 15;

وَخَلَقَ الْجَانَّ مِن مَّارِجٍ مِّن نَّارٍ
"Dan Dia menciptakan jin dari nyala api."

Dan Rasulullah SAW bersabda: "Malaikat diciptakan dari nur (cahaya). Jin diciptakan dari marij (api). Dan Adam diciptakan dari apa yang disifatkan kepada kalian. (yaitu dari tanah)" (HR Muslim: 2512)

MACAM-MACAM JIN


Rasulullah SAW bersabda: "Jin terdiri atas tiga kelompok: satu kelompok memiliki sayap mereka terbang di udara dengannya, satu kelompok berbentuk ular dan anjing, dan satu kelompok lagi berdiam diri di tempatnya dan melakuikan petualangan." (HR.Thabroni dengan sanad hasan, al-Hakim, dan al-Baihaqi dengan sanad shohih; lihat Shohihul Jami' 3/85)

TEMPAT TINGGAL JIN


Jin banyak berdiam pada tempat-tempat berikut ini:

Di Pasar
Dari Salman r.a. ia berkata: "Bersabda Rasulullah SAW: "Sungguh jika kamu mampu, janganlah engkau menjadi orang yang pertama kali masuk pasar dan terakhir kali keluar darinya, karena sesungguhnya pasar adalah medan peperangan setan dan di dalamnya ia menancapkan bendera." (HR. Muslim:2451)

Tempat-tempat Buang Hajat
Dari Zaid bin Arqam r.a. dari Nabi SAW, beliau bersabda: "Tempat-tempat buang hajat ini dihadiri oleh setan (dengan tujuan mengganggu). Maka jika salah seorang di antara kalian masuk ke dalamnya, hendaklah mengucapkan: ("Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari gangguan setan laki-laki dan perempuan)." (HR. Abu Daud: 6)

Bersama dengan unta dan di kandang-kandangnya
Dari Abdullah bin Mughofal r.a., ia berkata: "Rasulullah SAW telah melarang kami untuk melakukan sholat di kandang-kandang unta dan tempat-tempat menderumnya, karena ia diciptakan dari setan-setan." (Shahih Sunan Abu Dawud, No.184/493)

Berkata Ibnu Hibban r.a sebagaimana dalam al-Ihsan (4/602)., mengomentari makna hadits: karena ia diciptakan dari setan-setan: "Maksudnya adalah: "Sesungguhnya setan bersamanya."

Di rumah-rumah
Dari Abu Hurairah r.a. behwasanya Rasulullah SAW bersabda: "Janganlah kalian jadikan rumah-rumah kalian sebagai kuburan, sesungguhnya setan akan lari dari rumah-rumah yang dibacakan di dalamnya surat Al-Baqarah." (HR.Muslim:780-Shahih Muslim:752)

Dalam hadist yang diriwayatkan dari As-Sya'bi ia berkata: "Abdullah bin Mas'ud berkata: "Barangsiapa membaca 10 ayat dari surat Al-Baqarah di dalam rumah, maka setan tidak akan memasuki rumah itu malam harinya hingga tiba pagi hari. Kesepuluh ayat tersebut adalah 4 ayat pertama darinya; Ayat Kursi; 2 ayat sesudah Ayat Kursi; dan 3 ayat terakhir dari surah Al-Baqarah." (HR.Thabrani).

(Al-Haitsami berkata dalam Mazma'uz Zawai'd [10/118], "Hadits ini diriwayatkan Thabrani dengan rijal shahih, hanya saja As-Sya'bi tidak mendengar langsung dari Ibnu Mas'ud.")

Hadits-hadits diatas menunjukkan bahwa mereka tinggal pula di rumah-rumah manusia.

Di Lautan
Dari Jabir r.a. ia berkata: Rasulullah SAW bersabda: "Sesungguhnya Iblis meletakkan singgasananya di lautan. Dari sana dia mengirim pasukannya untuk membuat fitnah (mengacau atau membencanai) umat manusia. Maka siapa yang lebih besar membuat bencana, dialah yang lebih besar jasanya (terhormat) di kalangan mereka." (HR.Muslim: 2813-Shahih Muslim: 2408)

Di Lubang-lubang dan belahan-belahan tanah
Dari Qatadah, dari Abdullah bin Sirjis, bahwa sesungguhnya Nabi SAW melarang seseorang melakukan kencing di lubang. Meraka bertanya kepada Qatadah: "Mengapa dibenci kencing di dalam lubang?" Ia menjawab: "Dikatakan, bahwasanya ia adalah tempat-tempat tinggal jin." (Abu Daud: 29)

Di padang pasir, Lembah, Lorong, dan tempat-tempat yang ditinggalkan oleh penghuninya.
Hal ini berdasarkan hadits Ibnu Mas'ud r.a. yang diriwayatkan oleh Imam Muslim: "Pada suatu malam kami bersama Rasulullah SAW, lalu kami kehilangan beliau lantas kamipun mencari beliau di lembah-lembah dan gang-gang. Kami mengatakan "Rasulullah SAW telah diculik." Maka kamipun tidur malam dengan sejelek-jelek malam yang suatu kaum bermalam dengannya. Tatkala tiba waktu pagi hari, tiba-tiba beliau datang dari arah Haro', maka kami mengatakan:"Ya Rasulullah, kami kehilangan anda dan kami mencari anda namun kami tidak menjumpai anda, lantas kami bermalam dengan sejelek-jelek malam yang suatu kaum bermalam dengannya." (Mendengar ucapan tersebut) maka Rasulullah menjawab: "Datang kepadaku seorang yang mengundang dari kalangan jin, maka akupun pergi bersamanya dan aku membacakan Al-Qur'an kepada mereka." (HR.Muslim, 1007)

DAPATKAH MANUSIA MELIHAT JIN?


Termasuk kekhususan jin, mereka dapat melihat manusia, namun sebaliknya manusia tidak dapat melihat mereka dalam wujud aslinya. Allah SWT berfirman:

يَا بَنِي آدَمَ لاَ يَفْتِنَنَّكُمُ الشَّيْطَانُ كَمَا أَخْرَجَ أَبَوَيْكُم مِّنَ الْجَنَّةِ يَنزِعُ عَنْهُمَا لِبَاسَهُمَا لِيُرِيَهُمَا سَوْءَاتِهِمَا إِنَّهُ يَرَاكُمْ هُوَ وَقَبِيلُهُ مِنْ حَيْثُ لاَ تَرَوْنَهُمْ إِنَّا جَعَلْنَا الشَّيَاطِينَ أَوْلِيَاء لِلَّذِينَ لاَ يُؤْمِنُونَ
"Hai anak Adam, janganlah sekali-kali kamu dapat ditipu oleh syaitan sebagaimana ia telah mengeluarkan kedua ibu bapamu dari surga, ia menanggalkan dari keduanya pakaiannya untuk memperlihatkan kepada keduanya 'auratnya. Sesungguhnya ia dan pengikut-pengikutnya melihat kamu dan suatu tempat yang kamu tidak bisa melihat mereka. Sesungguhnya Kami telah menjadikan syaitan-syaitan itu pemimpin-pemimpin bagi orang-orang yang tidak beriman." (QS Al-A'rof [7]:27)

Tidak seorangpun mampu melihat jin, kecuali bila mereka mengubah diri (menjelma) dalam berbagai bentuk atas izin Allah SWT. Ada beberapa riwayat yang menjelaskan bahwasanya mereka mengubah diri ke dalam berbagai bentuk seperti di antaranya:
Menjadi seorang lelaki miskin (Lihat Mukhtasor Shahih Muslim karya Az-Zabidi: 1078)
Menjadi seorang Syaikh dari Najd (Lihat Siroh Ibnu Hisyam 2/122)
Menjadi seekor ular (Lihat Mukhtasor Shahih Muslimi: 1498)
Adapun tentang bagaimana cara mereka mengubah diri menjadi bentuk-bentuk lain, tidak ada nash yang menjelaskan hal tersebut.

DAPATKAH MANUSIA MENUNDUKKAN JIN?


Tidak seorangpun akan mampu menaklukkan dan menguasai jin setelah do'a dari Nabi Sulaiman AS, sebagaimana firman Allah SWT:

قَالَ رَبِّ اغْفِرْ لِي وَهَبْ لِي مُلْكاً لَّا يَنبَغِي لِأَحَدٍ مِّنْ بَعْدِي إِنَّكَ أَنتَ الْوَهَّابُ
فَسَخَّرْنَا لَهُ الرِّيحَ تَجْرِي بِأَمْرِهِ رُخَاء حَيْثُ أَصَابَوَالشَّيَاطِينَ كُلَّ بَنَّاء وَغَوَّاصٍوَآخَرِينَ مُقَرَّنِينَ فِي الْأَصْفَادِ هَذَا عَطَاؤُنَا فَامْنُنْ أَوْ أَمْسِكْ بِغَيْرِ حِسَابٍ
"Ia berkata: "Ya Tuhanku, ampunilah aku dan anugerahkanlah kepadaku kerajaan yang tidak dimiliki oleh seorang juapun sesudahku, sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Pemberi". Kemudian Kami tundukkan kepadanya angin yang berhembus dengan baik menurut ke mana saja yang dikehendakinya, dan (Kami tundukkan pula kepadanya) syaitan-syaitan semuanya ahli bangunan dan penyelam, dan syaitan yang lain terikat dalam belenggu. Inilah anugerah Kami; maka berikanlah (kepada orang lain) atau tahanlah (untuk dirimu sendiri) dengan tiada pertanggungan jawab." (QS Shod [38]:35-39)

Berkata Syaikh Ahmad bin Nashir bin Muhammad al-Hamd ra: "Tetapi didapatkan penguasaan dan penundukkan manusia terhadap jin tidaklah mungkin, karena adanya perbedaan bentuk keduanya. Manusia tidak bisa melihat jin dan dari sini (diketahui) bahwa manusia tidaklah dapat menguasai dan menundukkan jin. (Penundukkan dan penguasaan ini) didapatkan dari syaitan sebagai hasil dari penundukkan sebagian mereka terhadap sebagian yang lain. Maka jin yang ditundukkan manusia, hakikatnya ia tertundukkan oleh syaitan yang memiliki kekuasaan dan kekuatan terhadap sang jin itu sendiri, dan hal ini adalah sebagai timbal balik dari pelaksanaan manusia itu terhadap apa yang dikehendaki oleh syaitan darinya, yang berupa kefasikan, maksiat dan keluar dari ajaran-ajaran agama. Dari sini diketahui, (pada hakekatnya) manusialah yang menjadi budak bagi syaitan (bukan syaitan atau jin ditundukkan olehnya)." (As-Sihr Baina Haqiqoh wal Khoyal:211)

AL-QUR'AN DIGUNAKAN UNTUK MENUNDUKKAN JIN?


Kita banyak mendengar bahwa ada di antara kaum yang menisbatkan dirinya kepada ilmu dan kebajikan, mereka mendakwakan diri telah menundukkan jin dengan menggunakan ayat-ayat al-Qur'an. Yang menjadi pertanyaan, benarkah hal tersebut bisa dilakukan dan benarkah al-Qur'an dapat digunakan untuk hal itu? Jawabnya adalah: Tidak benar dan tidak mungkin!

Berkata Syaikh Majd Muhammad asy-Syahawi rahimahullah: "Dan tidaklah diragukan lagi bahwasanya pada saat sekarang ini tidak ada orang yang meminta bantuan jin dengan al-Qur'an semata tanpa menggunakan mantera-mantera dan jimat-jimat dari sihir yang tidak diketahui maknanya, yang kami telah memberikan peringatan terhadap kesesatan yang ada didalamnya dan barangsiapa menyangka bahwa dia meminta bantuan jin dengan al-Qur'an semata tanpa menggunakan selain al-Qur'an,-maka ia adalah pendusta dan penipu." (Tahdhirul Arwah wa Taskhiru al-Jan Baina Baina Haqiqoh wal Khurofat: 103-104)

MEMINTA BANTUAN JIN


Meminta bantuan jin tidaklah diperbolehkan secara syar'i. Adapun dasar-dasar larangan tersebut adalah sebagai berikut:

Hal ini tidak pernah dilakukan oleh Rasulullah SAW, Khulafa'ur Rosyidin, para shahabat Nabi SAW secara umum, para tabi'in, dan orang-orang shaleh dari umat ini.

Ciri utama dari jin dan setan adalah dusta. Rasulullah SAW bersabda kepada Abu Hurairoh r.a.: "Ia berlaku jujur kepadamu, sedangkan ia pendusta." (Shahih Bukhori No.1122)

Tersebarnya kejahilan yang merata, jauhnya kebanyakan manusia dari metode al-Qur'an dan as-Sunnah, serta sedikitnya penuntut ilmu syar'i di masa sekarang ini menyebabkan kebanyakan manusia tidak dapat lagi membedakan antara tukang sihir (tenung) dan selainnya dari orang-orang yang mendakwakan meminta bantuan kepada jin yang sholih. Akibatnya, bercampur aduklah perkara-perkara tersebut dan cacatlah aqidah umat manusia, padahal ia merupakan sesuatu yang paling berharga baginya dan padahal jaminan kejayaan dan keselamatan di dunia dan akhirat terdapat dalam aqidah shohihah.

Jin atau syaitan akan menjerumuskan manusia kedalam kekufuran, kesyirikan, ataupun keharaman dengan berbagai jalan dan sarana serta secara sedikit demi sedikit menjerat orang yang meminta bantuan kepada mereka.

Meminta bantuan kepada mereka (jin-syaitan), akan membawa kepada kecacatan aqidah, dimana kita akan jumpai diantara mereka bergantung kepada selain Allah SWT.

Membuka pintu lebar-lebar bagi kebanyakan ahli sihir untuk mendakakan ruqyah syar'iyyah dengan al-Qur'an dan Sunnah dan meminta pertolongan jim muslim (padahal hakikat dan keadaan yang sebenarnya berbicara lain).

Apabila ada orang bertanya: "Apakah orang yang meminta bantuan jin telah melakukan kekufuran?" Maka jawabannya adalah: "Orang (manusia) yang menggunakan jin tidaklah kufur, kecuali apabila penggunaan jin tersebut dengan memakai cara dan jalan yang telah ditempuh tukang sihir dan sulap atau dikaitkan dengan bintang dan tulisan-tulisan ajimat kufur atau semisalnya. Apabila perkaranya seperti itu, maka ia telah kafir. [Lihat al-Qoul al-Mubin oleh Usamah bin Yasin: 197]

BEBERAPA BENTUK MEMINTA BANTUAN JIN


Ada beberapa perbuatan yang merupakan bentuk dan perwujudan meminta bantuan jin, diantaranya:
Penjualan cincin dan batu berharga dengan harga yang sangat mahal, dengan iming-iming (sangkaan) bahwa ada jin bersamanya, yang akan membantu pemiliknya, menjaganya dari gangguan-kesulitan, melancarakan usahanya dan lain sebagainya.

Membaca sebagian ayat-ayat al-Qur'an dan bermacam-macam wirid dan do'a pada seseorang yang tertelentang di atas dipan dan setelah selesai dari pembacaan wirid tersebut, tubuhnya terangkat ke udara.
Membedah tubuh pasien penderita penyakit-penyakit tertentu dengan cara yang unik dan asing atau tanpa meninggalkan bekas apapun pada tubuh dan kulit si pasien.

Menghadirkan arwah, baik dengan cara merasukkan pada tubuh seseorang lalu arwah tersebut berbicara tentang segala sesuatu yang dikehendaki oleh orang yang mendatangkannya atau dengan cara menampakkannya dalam bentuk orang yang telah meninggal dunia dan kemudian berjalan di kamar atau berbicara dengan orang yang ada disekitarnya (penampakan).

Catatan: Arwah atau roh yang disangkakan datang kepada penghadir roh tersebut pada hakikatnya adalah jin yang bekerja sama dengannya. Bukan roh orang yang diminta kehadirannya (sebab sebagai Muslim kita tahu bila meninggal seorang manusia maka rohnya akan berpindah ke alam kubur dan terputus seluruh hubungannya dengan dunia, kecuali tiga hal.

Tentang ini Rasulullah SAW bersabda:

إذا مات العبد انقطع عنه عمله إلا من ثلاث: صدقة جارية، أو علم ينتفع به، أو ولد صالح يدعو له
"Jika seseorang telah meninggal, maka putuslah semua amalannya kecuali 3 hal: shodaqoh jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak sholeh yang mendoakannya."
(HR Bukhori)

MENGAMBIL SUMPAH DARI JIN


Tidaklah diperkenankan seorang muslim ketika melakukan ruqyah syar'iyyah mengambil janji dengan nama Allah kepada jin yang mengganggunya. Hal ini dikarenakan jin sering bersumpah dengan nama Allah, namun mereka banyak melanggarnya.

Demikianlah yang dapat kita kaji bersama pada topik kita kali ini, semoga menjadi ilmu yang bermanfaat. Kami mohon maaf jika terdapat beberapa kesalahan dan hal-hal yang kurang berkenan dalam topik ini. Dan segala puji dan sanjungan teriring kecintaan dan pengagungan hanya milik Allah semata.

Wallahu A'lam bish shawab.

Alhamdulillah, puji dan syukur kami panjatkan kehadirat Allah Azza wa Jalla. Shalawat dan salam semoga tercurah kepada junjungan kita Nabi Muhammad Saw. beserta keluarga dan shahabatnya.

ماً الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِي إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا
“Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi.
Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi
dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.”
(QS Al-Ahzab [33]:5)

Kamis, 24 November 2011

Mengkritisi Sejarah Hijrahnya Nabi saw

Sumber : Mentari Timur

Oleh: Sudarmadji

Setiap tanggal 1 Muharam di masjid, surat kabar, radio, tv di negeri-negeri muslim termasuk di Indonesia dipenuhi dengan pembacaan kembali sejarah hijrahnya Nabi Muhammad saw, yang dijadikan menjadi awal dari perhitungan tahun Islam. Namun sayangnya dalam uraian sejarah hijrahnya Nabi saw kita (penulis) lebih sering mendengar dari sisi mistisnya saja misal bagaimana orang kafir Qurais tertidur ketika nabi keluar dari rumah dengan menebarkan pasir, kemudian burung dan labah-labah segera membuat sarang di mulut gua tsur, kemudian ketika orang kafir melempar batu kedalam gua tsur, batu itu mengenai gigi nabi hingga patah, sehingga bunyinya nyaring seperti membentur batu. Setelah nabi keluar dari gua tsur dan melanjutkan perjalan ke Madinah ditengah jalan orang kafir (Suraqah bin Malik) memergokinya, kemudian dia mengejar nabi dan mencapai persis di belakang Nabi saw. tanpa sepengetahuan Nabi saw, begitu dia mengayungkan pedangnya ke pungung nabi tiba-tiba badannya lemas dan terjatuh, kemudian dia bangkit lagi, kejadianpun berulang dan seterusnya.

Masih banyak lagi kisah-kisah mistis yang meliputi hijrah Nabi saw dari Mekah ke Madinah. Akibatnya yang ditangkap oleh umat adalah selamat dan mulusnya perjalanan Nabi saw. semata-mata hanya karena kekuatan "mistis" dari atas sana tanpa ada andil Nabi saw dan teman seperjalanannya Abu Bakar.

Cara penyampain kisah-kisah seperti ini berlanjut pada peristiwa-peristiwa dalam pertempuran-pertempuran dengan orang-orang kafir Quraish. Bahkan tidak hanya berhenti sampai di situ, kisah-kisah sahabat nabi dan penerus Islam selanjutnya pun tidak kurang mistisnya. Di Indonesia kisah para wali juga sangat kental dengan peristiwa-peristiwa semacam, misal kisah Syeh Siti Jenar dengan Sunan Kalijaga, Sunan Kudus yang membangun sakaguru mesjid dari tatal (potongan kayu kecil) dengan kekuatan "ilmunya". Di jawa kehebatan Pangeran Diponegoro dalam menghindari kejaran Belanda juga lebih sering dikaitkan dengan keris pusaka beliau. Cerita-cerita tersebut masih sangat dipercaya dan menjadi panutan sebagian umat Islam di Indonesia hingga sekarang. Misal, sering kita dengar rumor bahwa Kiyai anu kalau shalat jumat di Mekah, walau tinggalnya di banten atau tempat lain di Indonesia.
Apa betul cerita-cerita tersebut? Apa betul Nabi saw dan Abu Bakar tidak punya planning dan hanya sekedar jalan berdasarkan wangsit (bisikan ajaib dari langit). Mari kita coba kritisi kisah hijrah perjalanan Nabi saw tersebut, dengan memperhatikan fakta-fakta yang akan diuraikan di bawah, namun sebelumnya akan penulis sajikan ringkasan perjalanan hijrah Nabi saw.

Ringkasan Perjalanan Hijrah Nabi Saw.
1. Tanggal 14 Safar 1 H (27 Agustus 622 M) tahun ke 14 kenabian. Nabi, Abu Bakar dan Ali bin Abi Talib, berkumpul di rumah Nabi. Setelah gelap Nabi bersama Abu Bakar, meninggalkan rumah melalui pintu belakang setelah sebelumnya memerintahkan Ali bin Abu Thalib untuk memakai jubahnya dan tidur di tempat tidur beliau. Mereka pergi ke selatan ke arah Yaman sejauh 8 Km (5 mile). Mereka bersembunyi di gua Tsur, selama 3 hari. Setiap malam Amir bin Fuzairah dan Abdullah bin Abu Bakar (anak Abu Bakar) menengok mereka dengan membawa makanan dan informasi tentang orang-orang kafir Quraish.
2. Pada hari ke 3, Amir bin Uraiqit yang akan menjadi penunjuk jalan datang ke gua Tsur dengan membawa 2 ekor unta. Pada malam tersebut Nabi, Abu Bakar dan Amir bin Fuzairah meneruskan perjalanan ke arah Quba. Mereka mengambil rute yang berbeda dengan rute normal, lihat gambar. Sementara itu kaum kafir Quraish mengadakan sayembara siapa yang bisa menangkap Muhammad akan mendapat hadiah 100 ekor unta. Dua di antara peserta sayembara Suraqah bin Malik dan Abu Buraidah, yang berhasil mengejar nabi namun setelah bertatap muka dan berbicara dengan Nabi justru menyerah dan masuk Islam.
3. Setelah 24 hari meninggalkan Mekah, mereka sampai di Quba' pada hari Senin 8 Rabiul Awal 1H (20 September 622 M). Penduduk Quba menyambut rombongan dengan suka cita. Nabi dan rombongnan tinggal di Quba selama 4 hari. Dan beliau sempat membuat pondasi untuk Mesjid Quba.
4. Pada hari Jumat 12 Rabiul Awal 1 H (24 September 622 M) rombongan Nabi saw, sampai di Madinah. Mereka disambut oleh kerabat Nabi dari suku Banu An-Najar. Mereka menjalankan shalat Jum’at di lembah Banu Salim. Setelah shalat Jum'at mereka melanjutkan perjalanan dan kemudian berhenti di suatu tempat yang sekarang menjadi Masjid Nabawi Madinah.
5. Di Madinah nabi dan keluarganya tinggal di rumah muhajirin Khalid bin Zaid bin Kulaib dari suku Banu An-Najjar yang sering dipanggil dengan nama Abu Ayyub. Beliau tinggal di rumah Abu Ayub sekitar 7 bulan.

Beberapa fakta sekitar hijrah Nabi:
- Sebelum Hijrah ke Madinah Nabi saw pernah memerintahkan umatnya untuk hijrah ke Abesinia untuk menghindarkan mereka dari siksaan kaum kafir Qurais. Abesinia dipilih karena dipimpin oleh raja Kristen yang baik, sehingga harapan beliau sang raja bisa memberikan perlindungan kepada umat Islam. Namun Hijrah ke Abesinia tidak menghasilkan suasana yang diharapkan, dan Nabi saw menyuruh mereka pulang kembali ke Mekah.
- Beberapa lama kemudian memerintahkan umatnya untuk hijrah ke Madinah, karena orang Madinah halus dan berbudi luhur, ditambah sebagian besar mereka adalah penganut kristen dan yahudi yang taat. Nabi juga punya kerabat di sana yakni dari suku Banu An Najr dari keluarga ibunya. Jadi harapan beliau penduduk Madinah akan berkenan menolong orang Islam dan mereka bisa teketuk hatinya untuk menganut Islam. Mereka disuruh pergi dengan diam-diam pada malam hari, dengan rombongan yang kecil, membawa bekal sekedar untuk bertahan hidup di perjalanan.
- Setelah sebagian besar sahabat-sahabatnya meninggalkan Mekah giliran Nabi saw, merencanakan pergi ke Madinah. Beliau memanggil sahabatnya Abu Bakar dan keponakannya Ali bin Abu Thalib untuk mengatur strategi dalam meninggalkan Mekah. Pada suatu malam yang direncanakan mereka bertiga berkumpul di rumah Nabi, saw. Namun pada saat yang sama tersebut juga kaum kafir telah berkumpul di sekitar rumah nabi untuk membunuh beliau. Nabi saw menyuruh Ali memakai jubahnya dan tidur ditempat tidurnya. Dalam keadaan gelap gulita Nabi saw dan Abu Bakar keluar dari rumah lewat pintu belakang. Nabi dan Abu Bakar berjalan ke arah selatan ke arah Yaman, mendaki bukit padas dan terjal hingga akhirnya sampai ke gua Tsur. Mereka bersebmbunyi di sana sampai 3 hari.
- Setelah mendapat “lampu hijau” dari informan dan penunjuk jalan sudah datang mereka keluar dari gua dan melanjutkan perjalanan ke Quba dengan mengabil rute yang berbeda dengan rute normal (lihat gambar).

Cerita di atas bisa disimpulkan sebagai berikut:
- Bahwa Nabi saw, pada kali pertama menyuruh umatnya hijrah ke Abesinia dengan pertimbangan logika (raja kristen yang kan baik masa tidak mau melindungi sahabat-sahabatnya) dan ini gagal. Jadi Nabi menyuruh hijrah ke Abesinia itu bukan sekedar karena wangsit. Kalau wangsit mengapa mesti gagal.
- Nabi memutuskan Hijrah Madinah karena orang Madinah halus dan berbudi luhur dan taat menjalankan agamanya berbeda dengan orang Mekah tidak beragama, sombong dan kasar, jadi harapan beliau orang Madinah bisa berkenan menolong oran Islam dan bisa menerima Islam. Ditambah lagi beliau punya kerabat dari ibunya. Jadi plihan Madinah adalah pertimbangan logika, kalau sekedar wangsit mestinya tidak harus ke tempat orang yang berbudi luhur dan taat kepada ajaran agamanya dan ada kerabat.
- Ketika meninggalkan rumah beliau tidak asal pergi, menyuruh Ali tidur ditempat tidurnya dan memaki jubahnya untuk mengelabui kaum kafir, pergi setelah gelap, lewat pintu belakang. Kalau berdasarkan pertimbangan semata-mata ada "perlindungan mistis", tidak perlu bikin rencana sedetil itu. Jadi ini membuktikan nabi menggunakan akal dan perencenaan yang baik.
- Dia pergi ke arah selatan sejauh 8 km, padahal Madinah itu berada di sebelah utara Mekah. Dia juga dan memilih jalur berbatu, terjal dan jarang dilewati manusia. Ini jelas suatu trik yang sangat cerdas. Jadi walau orang Qurais sudah sampai ke gua tsur mereka juga ragu masa iya sih Muhammad melewati jalan ini yang susah luar biasa dan arahnya tidak ke Madinah.
- Memilih jalan berbatu, jelas ini pertimbangan akal supaya tapak kakinya tidak kelihatan, coba kalau milih lewat jalan tanah atau pasir kemungkinan besar bekas tapak kaki mereka akan kelihatan.
- Tinggal di gua Tsur sampai 3 hari, kalau hanya berdasarkan percaya "perlindungan mistis" tentu tidak harus menunggu sampai 3 hari. Tidak perlu informan. Tidak perlu penunjuk jalan.
- Rute yang dilalui rombongan Nabi adalah bukan rute yang Mekah-Madinah yang biasa dipakai para kafilah. Ini adalah salah satu usaha Nabi saw supaya tidak mudah dilacak oleh orang kafir Qurais.

Jadi menurut pendapat penulis kebiasaan kita mengajarkan Islam baik itu sejarah atupun yang lainya tidak hanya ditonjolkan dari sisi mistisnya. Ini sangat tidak mendidik dan menciptakan cara berpikir yang salah dalam menghadapai masalah-masalah kehidupan dan fenomena alam. Allah mengatur jagad raya ini dengan sunatullahnya (hukum-hukum Allah, orang non islam menyebutnya sebagai hukum alam) bukan dengan kekuatan magis (supra natural) nya. Jarang sekali Allah menunjukkan kekuatan mukjizatnya, apalagi setelah Muhammad saw, sebagai nabi terakhir. Maka mukjizat beliau adalah alquran tempat belajar, tempat untuk berpikir, tempat untuk research tidak seperti nabi-nabi sebelumnya. Sebagai contoh yang sangat popular untuk menjelaskan sunatullah adalah jika ada dua gedung tinggi bersebelahan, masjid dan tempat mesum, yang tempat mesum memakai penangkal petir dan masjid tidak jika ada petir menyambar, insha Allah tempat mesumlah yang akan selamat.

Cara berpikir yang salah dalam menyikapi masalah kehidupan menyebabkan munculnya kasus-kasus memprihatinkan ditanah air. Contoh kasus-kasus yang memprihatinkan yang penulis maksud adalah:
- Belasan gadis belia (9-14 th) di Banjar Negara di gauli dukun cabul dengan iming-iming dapat ilmu sakti. Kasus itu sampai tahunan (1999-2004) tidak terungkap karena sang dukun berkata bahwa kalau mereka menceritakan kepada orang lain (orang tua) ilmu yang telah diajarkan akan hilang.
- Kasus Sumanto, di Purbalingga, makan daging manusia dalam rangka menambah kesaktian.
- Kasus di Slawi (Tegal), belasan orang (Islam) meninggal karena diracun oleh sang dukun maut, mereka percaya bahwa sang dukun mampu mengubah sekarung kulit jagung menjadi uang milyaran rupiah. Mereka dengan sukarela memberi downpayment hingga puluhan juta rupiah dan minum ramuan yang ternyata adalah racun karena mereka percaya itu sebagai bagian ritual untuk mengubah kulit jagung tersebut.
- Kasus penipuan calon mahasiswa (islam) Unsoed (Universitas Soedirman), yang tertipu Rp.50 juta karena sang penipu menjanjikan bisa memasukan dia ke fakultas kedokteran Unsoed. Sang penipu yang juga mahasiswa (islam) Unsoed merasa yakin bisa memasukan korban karena berdasarkan pengalaman pribadi dia selalu memperoleh apa yang diinginkan termasuk lolos seleksi masuk ke Unsoed dengan pergi ke dukun langganannya.

Kasus-kasus yang penulis ungkapkan di atas adalah yang baru-baru saja terjadi, kasus serupa yang yang terjadi sebelumnya sangat banyak. Selain kasus-kasus kriminal masih banyak lagi kasus-kasus biasa yang penulis yakin tidak asing lagi bagi telinga kita, misal untuk naik pangkat, dagangan laris, lulus ujian, enteng jodoh dsb pergi ke tempat-tempat keramat seperti gunung kawi, gunung srandil, kuburan para wali dan sebagaianya. Bawa jimat atau rajah untuk kewibwaan dan atau keselamatan. Yang penulis ceritakan ini mereka-mereka itu muslim, kalau penganut agama lain yang mempunyai kepercayaan seperti itu tidak masalah. Dan lebih memprihatinkannya lagi acara-acara seperti itu dilegalisasi dengan alasan mempertahankan budaya. Misal pada acara suran (Perayaan 1 Muharam) di keraton Yogyakarta ratusan orang berebut air bekas mencuci pusaka keraton karena mereka percaya bahwa air itu punya kekuatan magis yang bisa melindungi mereka dari bencana, penyakit ataupun awet muda. Kalau untuk melestarikan budaya, bisa saja acara seperti tetap saja bisa digelar, namun yang berebut air itu aktor-aktor yang hanya memperagakan perebutan air, jadi mereka berebut air itu hanya sebagai sandiwara bukan betul-betul ingin dapat air yang dianggap bertuah.

Sikap-sikap tidak rasional juga sering ditunjukan masyarakat dalam menyikapi berbagai bencana alam termasuk bencana Tsunami Aceh. Banyak yang percaya bahwa selamatnya belasan Masjid di Aceh dalah karena faktor "X" karena masjid adalah rumah Allah maka Allah melindunginya. Berdasarkan laporan resmi dari Menko Kesra Alwi Shihab sebanyak 2.742 sarana ibadah rusak berat atau hancur, terdiri dari 2.704 masjid 8 gereja dan 20 vihara. Jadi kalau hanya belasan yang selamat dan 2.704 masjid lainnya hancur argumen tersebut menurut penulis kurang valid. Sebagian besar masjid-masjid yang selamat adalah masjid-masjid yang realtif terkenal dan menjadi kebanggaan di daerah tersebut, otomatis kita bisa berkata bahwa masjid-masjid tersebut lebih megah dan konstruksinya lebih kuat dibanding rumah-rumah penduduk disekitarnya jadi wajar kalau tidak hancur.

Di Al Qur’an banyak sekali ayat-ayat yang menyuruh kita untuk berpikir, menggunakan akal dalam menerjemahkan kejadian-kejadian alam dan menyikapi masalah-masalah kehidupan. Pembuktian sederhana pernyataan di atas adalah dengan melakukan pencarian “search” pada terjemahan Quran versi Departement Agama RI, maka akan diperoleh 50 ayat mengandung kata pikir atau memikirkan dan ada 106 ayat mengandung kata akal. Dan banyak pula ayat yang menyebutkan bahwa orang yang berilmu (menggunakan pikirannya) mempunyai derajat yang lebih baik di mata Allah. Jadi akan sangat tidak fair (adil) jika Allah menyuruh kita berpikir dan menggunakan akalnya kemudian Allah (terlalu banyak) memberikan contoh-contoh yang di luar akal pikiran, kalau orang jawa bilang JarKoNi, bisa ngajar tidak bisa nglakoni (menjalankan).

Kasihnya Allah (sebagai ar-rahman) di dunia ini tidak pandang bulu, beriman atau tidak seseorang sepanjang dia bekerja keras sesuai sunatullah dia akan berhasil. Akan tetapi jangan lupa target kita sebagai muslim tidak hanya sukes di dunia tapi juga sukses di akherat, jadi selain kerja keras kita juga harus beriman, sehingga kerja keras kita menjadi amal yang punya nilai di akherat.

….Akhirnya penulis mengajak dengan semangat hijrah marilah kita berhjirah dalam berbagai hal (termasuk pemikiran) dari yang kurang baik pada tahun kemarin menjadi lebih baik pada tahun ini.
Wallahu a’lam bisawab.

Rabu, 23 November 2011

Tasawuf dan gugurnya kewajiban syari'at

Sumber : Sufi Road

Oleh: Syeikh Abdul Halim Mahmud (Mantan Rektor al-Azhar Mesir)
Alih bahasa: Juru Angon


Kita sering menemukan adanya provokator dalam setiap bidang kehidupan, baik dalam bidang keagamaan, politik, keilmuan bahkan dalam bidang tasawuf itu sendiri. Tujuan para provokator tersebut sangat jelas, yakni memperoleh keuntungan materiil dengan jalan pintas. Agar agama, ilmu pengetahuan maupun tasawuf tidak menjadi suatu yang disalahfahami, maka kita perlu menjelaskan bagaimana para provokator menyembunyikan wajahnya.

Agama dan ilmu pengetahuan memiliki kebenaran dan karakteristiknya sendiri yang sangat jelas, sehingga bisa menjadi “alat ukur” untuk mengungkap berbagai kebohongan dan kebatilan yang telah dilontarkan oleh para pendusta. Begitu juga dengan tasawuf.
Kami kemukakan hal di atas, karena berkaitan dengan apa yang pernah kami dengar berkaitan dengan adanya bid’ah dlalalah (bid’ah yang sesat) yang telah meresap dalam sebagian hati orang-orang yang belum mendalami agama secara khusus dan tasawuf secara umum.

Bid’ah ini memandang bahwa seseorang yang telah sampai pada tingkatan ma’rifat tertentu, ia dibebaskan dari kewajiban syari’at, sehingga ia boleh meninggalkan shalat, zakat, haji dan lain-lain yang telah menjadi kewajiban seorang muslim.
Ironisnya, pandangan tersebut pertama kali dimunculkan oleh mereka yang menggeluti bidang hukum dan syari’at. Mereka mengaku bahwa dirinya telah sampai pada tingkat ma’rifat tasawuf yang tertinggi dan sampai pada satu kondisi yang menurut anggapan mereka sudah tidak diwajibkan lagi menjalankan kewajiban-kewajiban syari’at.

Ketika saya melacak sumber “ma’rifat” mereka, maka anda pasti akan sangat heran, karena sumber pengetahuan mereka tidak lain adalah ruh-ruh yang sengaja mereka hadirkan – yang menurut mereka – melalui perantaraan tubuh seseorang. Ruh-ruh tersebut memberikan informasi kepada mereka mengenai berbagai persoalan ghaib dan lain-lain.

Perbuatan bid’ah yang berupa “menghadirkan ruh” telah bgitu tersebar dan populer di kalangan mereka. Kegiatan tersebut telah menjadi “agama” mereka. Dalam pandangan mereka, informasi yang diberikan ruh tersebut mengalahkan kedudukan al-Qur’an dan Sunnah.

Lebih ironis lagi, mereka justeru mengaku sebagai pengamal ajaran tasawuf. Mereka menganggap diri mereka sebagai tokoh sufi, orang ‘arif dan orang yang memperoleh ilham. Bahkan ada yang sudah keterlaluan karena mengaku sebagai seorang wali. Ada juga yang mengaku sebagai seorang rasul. Bahkan ada yang berani mengaku bahwa dirinya adalah Isa (‘alaihi salam), kemudian ada juga yang mengaku sebagai Nabi Muhammad Saw.

Yang lebih keterlaluan lagi, ada yang bahwa “kemanusiaan” yang ada dalam dirinya telah lenyap dalam sekejap, kemudian mengaku kepada para pengikutnya bahwa “Tuhan telah menyatu dengan dirinya”. Semua pengakuan orang tersebut selalu diperkuat dan didukung oleh ruh yang dihadirkannya. Ruh tersebut selalu membenarkan apa yang dikatakan orang tersebut. Maha benar Allah Swt, karena Dia memberikan perumpamaan tentang orang yang berhubungan dengan jin dan berpaling dari jalan kebenaran.
“Dan ada beberapa orang laki-laki di antara manusia yang meminta perlindungan kepada beberapa laki-laki di antara jin, maka jin-jin itu menambah bagi mereka dosa dan kesalahan” Qs. Al-Jin; 6).

Mungkin anda akan bertanya: “Apakah ada hubungan antara menghadirkan ruh dengan tasawuf?” Jawaban ahli tasawuf tentang hal itu sangat jelas, bahwa antara menghadirkan ruh dengan tasawuf sama sekali tidak memiliki keterkaitan, justeru sebaliknya, keduanya saling bertentangan. Para ahli tasawuf menganggap bahwa menghadirkan ruh termasuk perbuatan pembodohan, karena hal itu sama saja dengan bekerja sama dengan jin dan syaitan. Allah Swt berfirman tentang hal itu.

“Apakah akan Aku beritakan kepadamu, kepada siapa syaitan-syaitan itu turun? Mereka turun kepada tiap-tiap pendusta lagi yang banyak dosa, mereka menghadapkan pendengaran (kepada syaitan) itu, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang pendusta” (Qs. Al-Syu’ara; 221-223).

Allah Swt juga berfirman: “Barangsiapa yang berpaling dari pengajaran Tuhan Yang Maha Pemurah (Al Qur’an), Kami adakan baginya syaitan (yang menyesatkan) maka syaitan itulah yang menjadi teman yang selalu menyertainya. Dan sesungguhnya syaitan-syaitan itu benar-benar menghalangi mereka dari jalan yang benar dan mereka menyangka bahwa mereka mendapat petunjuk” (Qs. Al-Zuhruf; 36-37).


Tujuan tulisan kami di sini hanyalah untuk menjelaskan pandangan tasawuf tentang “gugurnya kewajiban-kewajiban syari’at”. Persoalan ini sering dianggap bukan sebagai sesuatu yang bid’ah (mengada-ada) oleh mereka yang mengaku sebagai orang sufi di era modern ini. Sesungguhnya, persoalan tersebut merupakan kesesatan yang telah ada sejak lama dan telah muncul di tengah-tengah masyarakat, kemudian dianggap sebagai salah satu dasar ajaran tasawuf. Suatu anggapan yang sangat keliru dan ditentang oleh tokoh-tokoh sufi yang sejati kapanpun dan di manapun mereka berada.

Yang pasti, jika ada beberapa problem atau permasalahan, maka yang menjadi rujukan dalam penyelesaiannya adalah mereka yang benar-benar menguasai bidang permasalahan tersebut. Oleh karena itu, ketika kami merujuk pada tokoh-tokoh tasawuf yang tidak lagi diragukan kredibilitasnya, baik mereka yang hidup di masa lalu maupun di era modern sekarang ini, semuanya sangat mengingkari dan menentang pendapat di atas. Mereka menganggap bahwa gagasan tentang “gugurnya kewajiban syari’at” merupakan gagasan atau pendapat yang menyesatkan, penuh kebohongan dan tidak sejalan dengan ajaran agama secara umum.Kami akan membicarakan tentang pendapat sebagian ahli tasawuf klasik mengenai persoalan tersebut.

Abu Yazid al-Busthami pernah berkata kepada salah seorang temannya: “Marilah kita sama-sama melihat seorang lelaki yang mengaku dirinya sebagai seorang wali” – dan dia memang dikenal ke-zuhud-annya. Kemudian, ketika laki-laki tadi keluar dari rumahnya dan memasuki masjid, dia membuang ludahnya ke arah kiblat. Melihat kejadian tersebut, Abu Yazid langsung bergegas meninggalkannya dan tidak memberi salam kepadanya, lalu beliau berkata: “Laki-laki tadi tidak bisa mengamalkan akhlaq Rasulullah Saw, bagaimana mungkin pengakuannya (sebagai seorang wali) bisa dipercaya?”

Abu Yazid al-Busthami juga pernah berkata: “Kalian jangan tertipu, jika kalian melihat seseorang yang memiliki karamah -meski dia bisa terbang di udara-, sampai kalian melihat bagaimana orang tersebut melaksanakan perintah dan meninggalkan larangan Allah Swt, menjaga dirinya dari hudud (hukum pidana Allah Swt) dan bagaimana dia melaksanakan syari’at Allah Swt.”

Sahl al-Tusturi mengatakan tentang pinsip-prinsip dasar tasawuf: “Dasar-dasar tasawuf itu adalah tujuh, yaitu berpegang teguh pada al-Qur’an; meneladani Sunnah Nabi Muhammad Saw; memakan makanan yang halal; menahan diri dari menyakiti (orang lain); menjauhi maksiyat; senantiasa bertaubat; dan memenuhi segala yang telah menjadi kewajibannya”.

Al-Junaid, seorang tokoh dan Imam para sufi, berkata – sebagaimana dikutip oleh al-Qusyairi: “Barang siapa yang tidak menghafal al-Qur’an dan tidak menulis hadits, maka janganlah ia mengikuti jalan tasawuf ini, karena ilmu kami ini berasal dari dalil-dalil al-Qur’an dan sunnah.” Beliau menambahkan: “Ilmu kami ini selalu diperkuat dengan hadits Rasulullah Saw”. Beliau juga berkata: “Pada dasarnya jalan tasawuf itu tertutup bagi semua orang, kecuali bagi mereka yang memilih jalan yang ditempuh Rasulullah Saw, mengikuti sunnahnya dan terus tetap berada di jalannya.”

Pernah ada seorang laki-laki yang menuturkan tentang ma’rifat di hadapan al-Junaid dengan berkata: “Ahli ma’rifat kepada Allah Swt akan sampai pada satu kondisi dimana ia bisa meninggalkan perbuatan baik apapun dan ber-taqarrub¬ kepada Allah Swt”. Mendengar perkataan orang tersebut, al-Junaid berkata: “Itulah pendapat sekelompok orang yang menyatakan tentang ‘gugurnya amal perbuatan’, dan hal ini, menurutku, merupakan suatu kesalahan atau dosa yang sangat besar. Bahkan orang yang mencuri dan bezina masih lebih baik keadaannya daripada orang yang mengatakan pendapat tersebut”.

Jika kita menengok pada Imam al-Ghazali, maka kita akan melihat bahwa beliau menyatakan pendapatnya dengan tegas, jelas dan kuat argumentasinya. “Ketahuilah, bahwa orang yang menempuh perjalanan menuju Allah Swt itu sangat sedikit jumlahnya, namun mereka yang mengaku-aku sangat banyak jumlahnya. Kami ingin anda mengetahui seorang salik yang sebenarnya, antara lain; semua amal perbuatannya yang bersifat ikhtiyari selalu selaras dengan aturan-aturan syari’at, baik keinginannya, aktualisasinya maupun performansinya. Karena tidak mungkin bisa menmpuh jalan tasawuf, kecuali setelah ia benar-benar menjalankan syari’at. Tidak ada orang yang akan sampai (pada tujuan tasawuf), kecuali mereka yang selalu mengamalkan amalan-amalan sunah. Oleh karena itu, bagaimana mungkin seseorang yang meremehkan kewajiban-kewajiban syari’at bisa sampai (pada tujuan tasawuf tersebut)?”

Jika anda bertanya: “Apakah kedudukan salik akan sampai pada suatu tingkatan di mana ia boleh meninggalkan sebagian yang menjadi kewajiban syari’atnya dan atau melakukan sebagian perbuatan yang dilarang oleh syari’at, sebagaimana pendapat sebagian syeikh yang menggampangkan persoalan tersebut?”

Jawabanku: “Ketahuilah, bahwa pendapat tersebut merupakan bentuk tipuan dan kebohongan yang nyata, karena orang-orang sufi sejati mengatakan: ‘Jika engkau melihat seseorang yang dapat terbang di atas udara dan berjalan di atas air tetapi dia melakukan satu hal yang bertentangan dengan syari’at, maka ketahuilah bahwa dia adalah syaitan’.”

Selanjutnya, kita sampai pada pendapat Abi Hasan al-Syadzali yang mengatakan: “Jika kasyf-mu bertentangan dengan al-Qur’an dan Sunnah, maka berpeganglah kepada al-Qur’an dan Sunnah dan abaikanlah kasyf-mu itu, lalu katakan pada dirimu sendiri; sesungguhnya Allah Swt telah memberikan jaminan tentang kebenaran al-Qur’an dan Sunnah kepadaku, tetapi Allah Swt tidak memberikan jaminan kepadaku tentang kebenaran kasyf, ilham dan musyahadah kecuali setelah dikonfirmasikan dengan al-Qur’an dan Sunnah”.

Orang-orang sufi mengikuti semua petunjuk yang berupa nash al-Qur’an dan Sunnah, baik Sunnah qauliyah (perkataan Nabi) maupun Sunnah ‘amaliyah (perbuatan Nabi). Mereka pasti sangat menyadari akan kebenaran sejarah bahwa Rasulullah Saw adalah contoh ideal dalam segala hal hingga akhir hayatnya.

Itulah beberapa pendapat dari kalangan sufi klasik. Sebagai penutup, kami kutipkan sebuah hadits Nabi Muhammad Saw. Beliau pernah ditanya tentang sekelompok orang yang meninggalkan amal perbuatan atau kewajiban agama, tetapi mereka ber-husnu al-dzan (berprasangka baik) kepada Allah Swt. Rasulullah Saw menjawab: “Mereka itu bohong, kalau mereka itu berprasangka baik, tentu baik pula amal perbuatan mereka”.

Allah sebagai pelindung

Sumber : Republika Online

Oleh Prof Dr Yunahar Ilyas


Setelah Pemilihan Umum Pertama (1955), Hamka terpilih menjadi anggota Dewan Konstituante dari Masyumi mewakili Jawa Tengah. Setelah Konstituante dan Masyumi dibubarkan, Hamka memusatkan kegiatannya pada dakwah Islamiah dan memimpin jamaah Masjid Agung Al-Azhar, di samping tetap aktif di Muhammadiyah. Dari ceramah-ceramah di Masjid Agung itu lah lahir sebagian dari karya monumental Hamka, Tafsir Al-Azhar.

Zaman demokrasi terpimpin, Hamka pernah ditahan dengan tuduhan melanggar Penpres Anti-Subversif. Dia berada di tahanan Orde Lama itu selama dua tahun (1964-1966). Dalam tahanan itulah Hamka menyelesaikan penulisan Tafsir Al-Azhar.

Waktu menulis Tafsir Al-Azhar, Hamka memasukkan beberapa pengalamannya saat berada di tahanan. Salah satunya berhubungan de ngan ayat 36 Surah az-Zumar, “Bukan kah Allah cukup sebagai Pelindung hamba-Nya...”. Pangkal ayat ini menjadi perisai bagi hamba Allah yang beriman dan Allah jadi pelindung sejati.

Sehubungan dengan maksud ayat di atas, Hamka menceritakan pengalaman beliau dalam tahanan di Sukabumi, akhir Maret 1964. Berikut kutipan lengkapnya. “Inspektur polisi yang memeriksa sambil memaksa agar saya mengakui suatu kesalahan yang difitnahkan ke atas diri, padahal saya tidak pernah berbuatnya. Inspektur itu masuk kembali ke dalam bilik tahanan saya membawa sebuah bungkusan, yang saya pandang sepintas lalu saya menyangka bahwa itu adalah sebuah tape recorder buat menyadap pengakuan saya.”

“Dia masuk dengan muka garang sebagai kebiasaan selama ini. Dan, saya menunggu dengan penuh tawakal kepada Tuhan dan memohon kekuatan kepada-Nya semata-mata. Setelah mata yang garang itu melihat saya dan saya sambut dengan sikap tenang pula, tiba-tiba kegarangan itu mulai menurun.”

“Setelah menanyakan apakah saya sudah makan malam, apakah saya sudah sembahyang, dan pertanyaan lain tentang penyelenggaraan makan minum saya, tiba-tiba dilihatnya arlojinya dan dia berkata, Biar besok saja dilanjutkan pertanyaan. Saudara istirahatlah dahulu malam ini, ujarnya dan dia pun keluar membawa bungkusan itu kembali.

Setelah dia agak jauh, masuklah polisi muda (agen polisi) yang ditugaskan menjaga saya, yang usianya baru kira-kira 25 tahun. Dia melihat terlebih dahulu kiri kanan. Setelah jelas tidak ada orang yang melihat, dia bersalam dengan saya sambil menangis, diciumnya tangan saya, lalu dia berkata, Alhamdulillah bapak selamat! Alhamdulillah! Mengapa, tanya saya. Bungkusan yang dibawa oleh Inspektur M itu adalah setrum. Kalau dikontakkan ke badan bapak, bapak bisa pingsan dan kalau sampai maksimum bisa mati.

Demikian jawaban polisi muda yang ditugaskan menjaga saya itu dengan berlinang air mata. Bapak sangka tape recorder, jawabku sedikit tersirap, tetapi saya bertambah ingat kepada Tu han. Moga-moga Allah memelihara diri Bapak. Ah! Bapak orang baik, kata anak itu.

Dalam menghadapi paksaan, hinaan, dan hardikan di dalam tahanan, Hamka selalu berserah diri kepada Allah SWT. Termasuk ketika Inspektur M datang membawa bungkusan malam itu, Hamka tetap dengan pendirian. Bukankah Allah cukup sebagai pelindung hamba-Nya.

Jumat, 18 November 2011

Orang Islam haram mengikuti dan mengamini doa yang dipimpin non-Muslim

Sumber : Republika online

Bagi umat Islam, doa bersama bukan sesuatu yang baru. Sejak belasan abad silam, bahkan sejak agama Islam disampaikan oleh Nabi Muhammad SAW hingga sekarang, mereka sudah terbiasa melakukannya, baik setelah shalat berjamaah maupun pada acara-acara tertentu.

Doa adalah suatu bentuk kegiatan berupa permohonan manusia kepada Allah SWT semata (lihat antara lain QS al-Naml [27]: 62). Dalam sejumlah ayat Alquran (antara lain surah al-Mu'min [40]: 60), Allah memerintahkan hamba-Nya untuk berdoa. Karena itu, kedudukan doa dalam ajaran Islam adalah ibadah. Bahkan, Nabi Muhammad SAW menyebutnya sebagai otak atau intisari ibadah (mukhkh al-ibadah). Sebagai sebuah ibadah, pelaksanaan doa wajib mengikuti ketentuan atau aturan yang digariskan Islam. Di antara ketentuan yang paling penting dalam berdoa adalah doa hanya dipanjatkan kepada Allah SWT. Dengan demikian, di dalam doa sebenarnya terkandung juga unsur akidah, yakni hal yang paling fundamental dalam agama.

Di Indonesia, dalam acara-acara resmi kemasyarakatan dan kenegaraan, umat Islam terkadang melakukan doa bersama dengan pemeluk agama lain pada satu tempat yang sama. Doa dengan bentuk seperti itulah yang dimaksud dengan doa bersama. Sedangkan, doa yang dilakukan hanya oleh umat Islam sebagaimana disinggung di atas tidak masuk dalam pengertian ini.

Kegiatan doa bersama menimbulkan pertanyaan di kalangan umat Islam, terutama tentang status hukumnya. Atas dasar itu, Majelis Ulama Indonesia (MUI) telah menetapkan fatwa tentang doa bersama. Fatwa tersebut terbagi dalam enam butir. Pertama, doa bersama yang dilakukan oleh orang Islam dan non-Muslim tidak dikenal dalam Islam. Karena itu termasuk bidah.

Kedua, doa bersama dalam bentuk setiap pemuka agama berdoa secara bergiliran, maka orang Islam haram mengikuti dan mengamini doa yang dipimpin oleh non-Muslim. Mengapa haram mengamini doa non-Muslim? Sebab, menurut MUI, mengamini sama dengan berdoa. Dan ketika yang berdoa adalah non-Muslim, orang Islam yang mengamini tersebut berarti ia berdoa kepada Tuhan yang kepadanya non-Muslim berdoa. Padahal, konsep dan akidah mereka tentang Tuhan, menurut Alquran, berbeda dengan akidah orang Islam (lihat antara lain dalam QS al-Maidah [5]: 73). Dengan demikian, menurut MUI, orang Islam yang mengamini doa yang dipanjatkan oleh non-Muslim dapat dikategorikan kafir atau musyrik.

Lantas, bagaimana dengan orang Islam yang karena alasan tertentu harus mengikuti doa bersama? "Maka ketika non-Muslim memanjatkan doa, ia wajib dalam hati haram mengamininya," lanjut MUI dalam penjelasannya atas fatwa doa bersama.

Ketiga, doa bersama dalam bentuk Muslim dan non-Muslim berdoa secara serentak (misalnya, mereka membaca teks doa bersama-sama), hukumnya haram. Artinya, orang Islam tak boleh melakukannya. Sebab, doa seperti ini dipandang telah mencampuradukkan antara ibadah (dalam hal doa) yang haq (sah, benar) dengan ibadah yang batil. Hal ini dilarang oleh agama (lihat antara lain dalam QS al-Baqarah [2]: 42).

MUI juga menilai, doa bersama bentuk ini sangat berpotensi mengancam akidah orang Islam yang awam. Cepat atau lambat mereka akan menisbikan status doa yang dalam ajaran Islam merupakan ibadah, serta dapat pula menimbulkan anggapan bagi mereka bahwa akidah ketuhanan non-Muslim sama dengan akidah ketuhanan orang Islam.

Keempat, doa bersama dalam bentuk seorang non-Islam memimpin doa. Dalam doa bersama seperti ini, orang Islam haram mengikuti dan mengamininya. Kelima, doa bersama dalam bentuk seorang tokoh Islam memimpin doa. Doa bersama bentuk ini hukumnya mubah.Keenam, doa dalam bentuk setiap orang berdoa menurut agama masing-masing. Yang ini hukumnya juga mubah. wachidah handasah

Selasa, 15 November 2011

Penggunaan gelar HAJI

Sumber : Republika Online

Rasulullah dan para sahabat beliau tidak menggunakan gelar haji di depan nama mereka padahal mereka telah berhaji. Tetapi, itu tidak berarti menggunakan gelar haji atau hajjah di depan nama seseorang merupakan bidah. Penggunaan gelar keilmuan seperti profesor, doktor, MA, atau keulamaan seperti kiai haji, buya, syekh, imam, atau allamah juga tak dikenal pada zaman Nabi.

Apakah itu berarti penggunaan gelar keulamaan semacam itu juga bidah dan dilarang? Berapa banyak ulama yang kita kenal mendapatkan sebutan imam atau syekh di depan namanya seperti Imam Bukhari, Imam Syafi'i, Syekh Yusuf al-Qaradhawi, dan Syekh Abd al-'Aziz bin Baz? Ibnu Taimiyah bahkan bergelar hujjat al-Islam dan tidak ada seorang sahabat Nabi pun yang bergelar hujjat al-Islam.

Pada dasarnya tidak ada perintah dan larangan menggunakan gelar haji, yang dilarang memberikan gelar jelek bagi seseorang, baik dia suka atau tidak. ".… Dan janganlah suka mencela dirimu sendiri dan jangan memanggil dengan gelar yang mengandung ejekan. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) buruk sesudah iman dan barang siapa yang tidak bertobat, mereka itulah orang-orang yang zalim (QS al-Hujurat [49]: 11).

Yang dikhawatirkan, gelar haji itu menjadi tujuan dalam melaksanakan ibadah haji agar dengan gelar tersebut memperoleh kehormatan dalam masyarakat, sehingga menimbulkan riya dalam beribadah. Semuanya, bergantung pada niat. Jika ada orang sengaja memakai gelar agar dipuji, itu bertentangan dengan akhlak Islam.

Tetapi, kalau penggunaan gelar untuk mengingatkan diri sendiri agar tidak lagi melakukan perbuatan maksiat yang akhirnya menimbulkan rasa malu kepada Allah, tentu baik. Jadi, tidak selamanya gelar haji mengandung konotasi negatif semacam riya, kesombongan, dan sebagainya namun bisa juga mengandung nilai-nilai positif seperti selalu bermuhasabah dan berdakwah di jalan Allah.

Menjadi tidak bijak bila kita langsung menyamaratakan setiap masalah dengan satu sikap, semuanya mesti kita dudukkan persoalannya secara baik dan proporsional. Wallahu a'lam bish shawab.

Jumat, 11 November 2011

Membantu orang miskin (memberi kail lebih baik daripada memberi ikan)

SUMBER : REPUBLIKA ONLINE

Oleh Khofifah Indar Parawansa

Suatu hari ada seseorang datang meminta-minta kepada Rasulullah SAW yang sedang berkumpul dengan para sahabat. Melihat kehadiran pengemis itu, Rasulullah lantas bertanya, "Apakah kamu mempunyai sesuatu di rumahmu?"

Dia menjawab, "Tentu, saya mempunyai pakaian yang biasa dipakai sehari-hari dan sebuah cangkir." Rasulullah lalu berkata, "Ambil dan serahkan ke saya!"

Pengemis itu langsung bergegas pulang dan kembali dengan membawa cangkir. Rasulullah kemudian menawarkan cangkir itu kepada para sahabat, "Adakah di antara kalian yang ingin membeli ini?" Seorang sahabat menyahut, "Saya beli dengan satu dirham."

Rasulullah lalu menawarkannya kepada sahabat yang lain. Seorang sahabat yang sanggup membelinya dengan harga dua dirham. Rasulullah kemudian memberikan dua dirham itu kepada si pengemis. Rasul mengharapkan agar uang itu digunakan untuk membeli makanan buat keluarganya, dan sisa uangnya digunakan untuk membeli kapak. "Carilah kayu yang banyak dan juallah, selama dua minggu ini aku tidak ingin melihatmu," kata Rasulullah.

Dua minggu kemudian, pengemis itu datang kembali menghadap Rasulullah SAW, tapi tidak untuk mengemis. Ia datang kepada Rasullah membawa uang 10 dirham hasil dari berjualan kayu. Rasulullah SAW kemudian menyuruhnya untuk membeli pakaian dan makanan untuk keluarganya.

Rasulullah berkata, "Hal ini lebih baik bagi kamu, karena meminta-meminta hanya akan membuat noda di wajahmu di akhirat nanti. Tidak layak bagi seseorang meminta-minta kecuali dalam tiga hal, fakir miskin yang benar-benar tidak mempunyai sesuatu, utang yang tidak bisa terbayar, dan penyakit yang membuat seseorang tidak bisa berusaha."

Kisah ini menggambarkan sifat Rasulullah yang gemar membantu orang yang tidak mampu. Bantuan tidak hanya berupa uang, tapi juga "kail" atau pekerjaan agar kelak orang yang tidak mampu itu bisa hidup mandiri.

Tidak dapat dimungkiri, jumlah pengemis dan pengangguran di Indonesia saat ini masih sangat tinggi. Alangkah indahnya, jika setiap orang mampu (secara ekonomi) di negeri ini mau meniru perilaku Rasulullah tersebut. Dengan memberi sedekah dan pekerjaan, setidaknya jumlah anak jalanan dan pengangguran bisa diminimalisasi.

Rasullullah memberikan contoh bahwa kesalehan spiritual belum dikatakan sempurna, sebelum dibarengi dengan kesalehan sosial (to be sensitive to the reality).

Dalam Alquran disebutkan bahwa orang yang bertakwa yaitu: "Orang-orang yang menafkahkan hartanya, baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan kesalahan orang (QS Ali Imran [3]: 134).

Saatnya kita berbagi dengan orang di sekeliling kita yang fakir dan miskin. Jika orang yang diberi kecukupan ekonomi di negeri ini mau peduli terhadap yang miskin, pasti perempuan Indonesia tidak akan berbondong-bondong menjadi tenaga kerja dan pembantu rumah tangga di negeri orang. Jika orang kaya di negeri ini mau membantu yang lemah dan fakir, tentu tidak banyak anak negeri ini yang putus sekolah. "Sesungguhnya kefakiran (kemiskinan) itu bisa menjerumuskan ke jurang kekafiran."

Kepahlawanan dalam Islam

SUMBER : REPUBLIKA.CO.ID

oleh : Ustaz Bachtiar Nasir

Dalam suatu kesempatan, di satu rumah di Madinah, Amirul Mukminin Umar bin Khattab duduk bersama para sahabatnya dan berkata kepada mereka, "Berobsesilah kalian semua!" Salah seorang dari mereka lalu berkata: "Saya berangan-angan seandainya rumah ini dipenuhi oleh emas yang akan saya infakkan di jalan Allah."

Kemudian, Umar meminta lagi kepada yang lain, maka berkata lagi seseorang dari mereka, "Saya berangan-angan seandainya rumah ini dipenuhi oleh mutiara dan intan berlian yang akan saya infakkan dan sedekahkan di jalan Allah. Umar meminta lagi kepada mereka, tapi mereka lalu mengatakan tidak tahu lagi apa yang akan dikatakan.

Umar berkata, "Kalau saya berangan-angan agar rumah ini dipenuhi orang-orang seperti Abu Ubaidah bin al-Jarrah, Mu'az bin Jabal, dan Salim budak Abu Huzaifah dan saya akan bahu membahu dengan mereka untuk meninggikan kalimat Allah SWT.'' Umar sangat mengagumi kepahlawanan Abu Ubaidah dan para sahabatnya.

Keikhlasan pengorbanan dan pengabdian serta kesetiaan yang mereka berikanlah yang membuat Umar mampu memimpin dan membangkitkan peradaban Islam ke penjuru dunia. Memang dalam perjuangan dan membuat perubahan membutuhkan harta banyak. Tetapi, apalah artinya harta jika tidak memiliki pribadi-pribadi terbaik yang berjuang untuk menjalankan misi dan menciptakan perubahan.

Rasulullah bersabda, "Manusia itu hanyalah seperti seratus ekor unta, hampir-hampir dari seratus ekor tersebut engkau tidak dapatkan satu ekor pun yang bagus untuk ditunggangi." (HR al-Bukhari). Hadis ini menggambarkan mayoritas manusia itu kurang berkualitas jika dilihat dari sudut pandang kualitas kepahlawanan.

Pribadi yang berjiwa kepahlawanan ini dapat sebanding dengan seratus orang bahkan satu bangsa. Islam mengajarkan, pribadi terbaik itu adalah yang berpegang teguh pada keyakinannya, berjuang, dan berdakwah dengan harta serta jiwanya. Wallahu a'lam bish shawab.

Selasa, 08 November 2011

Penjahat hakiki bertudung sorban

Sumber : Muxlimo's Lair

Salaam, Sobat...
Jika dulu ada istilah "penjahat berdasi" yang mengacu pada para penipu yang berdandan seperti orang baik-baik, kini tampaknya kita perlu waspada pada para "penjahat hakiki bertudung sorban", yaitu para tukang sihir yang mengklaim ilmunya berdasarkan Alquran dan hadis. Ini adalah masalah yang krusial karena menyangkut masalah hakiki akidah Islam, Sobat.

Muslim yang paling awam sekali pun, pasti tahu bahwa pergi berobat ke tukang sihir, dukun atau paranormal itu hukumnya syirik dan tergolong dosa besar tak berampun. Akan tetapi, tampaknya masih banyak yang tertipu oleh para tukang sihir yang berkedok agama: pengobatan alternatif Islami (kata mereka). Bahkan, ada sebagian besar tabib pengobatan alternatif yang menjadikan terapi penyembuhan ini sebagai lahan bisnis. Mereka menentukan harga tertentu bagi para pasien. Sebagian besar kaum muslimin tidak bisa membedakan antara pengobatan Qurani dengan pengobatan sihir. Jenis pengobatan yang pertama bersifat imani, sedangkan yang kedua adalah syaithani.

Yang menambah runyamnya permasalahan ini bagi orang-orang awam adalah bahwa sebagian paranormal ketika membaca mantra-mantra yang mengandung kekufuran, dibaca dengan suara yang pelan dan tidak kedengaran dan melantangkan suaranya ketika membaca sebagian ayat-ayat Alquran (yang diselipkan di antara mantra-mantra musyrik tersebut. Inilah ciri utama para penjahat hakiki bertudung sorban itu.

Hendaknya para pasien tidak tertipu dengan simbol-simbol dan penampilan luar sebuah terapi pengobatan, tetapi hendaknya mereka mencari para pemberi terapi Qurani (ahli ruqyah) yang bertakwa. Nah, bagaimana cara kita mengetahui wak haji, ustaz, atau santri penyembuh alternatif yang kita jumpai itu tukang sihir atau bukan? Selain ciri utama yang sudah ditandai di atas, berikut ini beberapa ciri sekundernya:
menanyakan kepada si penderita siapa namanya dan nama ibunya;
mengambil salah satu benda bekas yang dipakai oleh si penderita, seperti baju, peci, sapu tangan, dan lain-lain; terkadang meminta kepada si penderita seekor binatang dengan sifat-sifat tertentu, untuk disembelih dengan tidak menyebutkan nama Allah ﷻﷻ lalu mengoleskan darahnya kepada bagian-bagian tubuh si penderita yang sakit atau membuang bangkainya pada tempat-tempat yang sepi; menuliskan rajah; memberikan jimat penangkal yang berbentuk persegi empat kepada si penderita. Jimat it mengandung rajah yang berupa huruf-huruf atau angka-angka meminta si penderita untuk menghindari orang ('uzlah) selama masa tertentu dalam ruang yang gelap dan tidak dimasuki sinar matahari. Orang awam menyebutnya dengan menyepi atau bersemedi; terkadang meminta si penderita agar tidak menyentuh air selama masa tertentu, biasanya selama empat puluh hari; memberikan kepada si penderita benda-benda yang harus ditanam di dalam tanah; memberikan kepada si penderita lembaran-lembaran kertas yang harus dibakar kemudian dihirup asapnya; berkomat-kamit membaca sesuatu yang tidak bisa dipahami; terkadang si tabib dapat menebak dengan benar tentang nama si penderita, tempat asalnya, dan persoalan-persoalan yang akan ia tanyakan kepadanya; menuliskan untuk si penderita huruf-huruf potongan di atas sebuah kertas atau di atas piring dari tembikar putih lalu memerintahkan si penderita untuk melarutkannya dengan air dan meminumnya.

Jika Anda sudah tahu bahwa seseorang itu adalah penyihir (meskipun ia adalah ulama terpandang, punya banyak massa, dan kehidupan sehari-harinya tampak begitu islami), jangan sekali-kali mendatanginya. Apalagi jika ulama tersebut terkenal dapat memerintah jin! Bukankah seseorang yang bisa memerintah jin itu berarti ia adalah pemimpin para jin? Berarti pula ia bagian dari keluarga besar jin yang berwujud manusia? Waspadalah, tidak ada seorang pun yang berhak mengklaim ilmunya setaraf Nabi Sulaiman a.s. atau para nabi lainnya.

Bila Anda tetap berkeras dan tetap mendatangi ulama-ulama semacam ini, Anda akan terkena sabda Rasulullah ﷺ
"Barang siapa mendatangi tukang ramal, atau tukang sihir, atau tukang tenung lalu ia bertanya kepadanya tentang sesuatu kemudian membenarkan apa yang dikatakan olehnya, maka sesungguhnya ia telah kafir terhadap wahyu yang telah diturunkan kepada Nabi Muhammad ﷺ."
(Imam Al-Hafizh Al-Mundziri dalam At-Targhib, IV/53 berkata,"Hadis ini diriwayatkan oleh Al-Bazzar dan Abu Ya'la dengan sanad baik dan mauquf (hanya sampai kepada sahabat saja).

Nasihat bagi para muslim yang melakukan praktik pengobatan alternatif. Hendaknya Anda hanya menggunakan metode yang disyariatkan saja. Hendaknya Anda tidak meluaskan praktiknya ke mana-mana, yang pada akhirnya menjerumuskan Anda dan pasien Anda ke dalam hal-hal yang dilarang. Hal ini jika diumpamakan, seperti penggembala yang menggembala gembalaannya di sekitar tempat yang terlarang sebab dikhawatirkan gembalaannya akan masuk ke tempat tersebut.

Allahua'lam.

{Sebuah penyajian ulang dari tulisan Wahid Abdussalam Bali, seorang ulama Mesir sekaligus dosen fikih perbandingan, dalam bukunya yang berjudul asli Ash-Shârimul Battar fît Tashaddy Lis Saharatil Asyrâr (digubah ke dalam bahasa Indonesia menjadi Tolak Sihir Cara Islam oleh Penerbit Aqwam, Solo, 2008).

The Confession: A Novel Sudoku The Gift The 7th Victim The UnionThe Incredible MachineO Holy Night (CD/DVD)

Minggu, 06 November 2011

Teringat BLACK HOLE di Arafah

SUMBER : REPUBLIKA ONLINE

Oleh Muhammad Subarkah


"Seperti apa rasanya Padang Mahsyar?" Jawabnya, sebelum mati pergilah haji dan berwukuflah di Arafah. Di sini, meski masih di atas tanah, panasnya juga tak ketulungan. Bayangkan saja, kalau jarak bumi ke matahari yang sekitar 149.600.000 kilometer (92,96 juta mil) tiba-tiba dipangkas hingga hanya tinggal sejengkal. Apa jadinya makhluk yang bernama latin Homosapiens ini? Semua jelas akan menjadi sebutir debu atau sekadar zarah (partikel).

"Arafah adalah padang kesadaran," tulis cendikiawan Iran, Ali Syariati, dalam bukunya yang memukau mengenai haji itu. Menurut dia, saat wukuf di Arafah yang dimulai tepat tengah hari tanggal 9 Dzulhijah, di kala matahari bersinar sangat terik, maka carilah kesadaran diri, wawasan, pengetahuan, dan cinta Ilahi. Dia pun menyerukan agar semua orang yang ada di tempat itu keluar dari tendanya: "Hai manusia, keluarlah dari tenda dan terjunlah ke dalam kesadaran manusia. Biarkanlah 'ego' terbakar terik matahari!"

Kesadaran akan Arafah yang identik sebuah dusun percobaan untuk alam Mahsyar pada hari kiamat memang sudah lama dipompakan dalam pelajaran manasik haji. Di tempat itulah dahulu Rasulallah SAW mengucapkan khotbah haji wadanya yang sangat fenomenal. Inti pesannya adalah kesucian dan kehormatan Ilahiah dari setiap anak manusia serta pernyataan konkret bahwa semua manusia sama kecuali amal baiknya.

Tapi, di balik seruan khotbah Amirul Haj di Arafah dan di antara dengung talbiah dan zikir, saat itu juga mendenging 'khotbah-khotbah' ilmiah si jenius masa kini, Stephen Walking Hawking, yang telah memopulerkan teori bahwa dunia ini ujung-ujungnya memang akan berakhir dan tersedot ke dalam sebuah lubang hitam: black hole. Dan, pesan inilah yang kini juga terasa hingga kawasan Arafah. Dunia tetap saja punya umur. Tak ada yang abadi di dunia ini.

Hawking secara jenius mengisahkan bagaimana cara alam ini masuk dalam masa kiamat. Bila saat itu warna matahari sudah berubah merah pertanda siap menjadi bintang mati, daya gravitasinya pun naik berlipat-lipat. Seluruh planet yang semenjak masa Galileo dan Copernicus dipercayai mengitarinya menjadi tersedot ke arahnya. Dan, sedotan ini makin dahsyat ketika matahari benar-benar menjadi bintang mati. Saat itulah sistem tata surya ini masuk ke dalam lorong yang berwarna gelap. Hawking menyebutnya lubang hitam (black hole). Setelah itu terjadilah ledakan sangat besar: big bang!

Pada menjelang fase itulah, di mana ciri-ciri kiamat seperti yang diwartakan Alquran ketika bumi dan matahari berguncang serta langit runtuh atau matahari tinggal sejengkal dari kepala, terasa bersesuaian dengan pikiran ilmiah. Stephen Hawking memang hingga kini masih tetap agnostik dengan mengatakan bahwa Tuhan tidak ikut campur dalam masalah di alam semesta. Namun, dia ternyata yakin bahwa alam semesta ini pun akan berakhir.

Dalam banyak bukunya, Hawking jelas menyebutkan betapa dahsyatnya kiamat ala black hole itu. Menurut dia, pada suatu waktu ketika di angkasa terjadi sebuah pemusatan masa yang cukup besar, saat itu pulalah muncul sebuah gaya gravitasi yang sangat besar. Medan gravitasi ini begitu kuat sehingga kecepatan lepas di dekatnya mendekati kecepatan cahaya. Tak ada sesuatu, termasuk radiasi elektromagnetik sekali pun, dapat lolos dari sedotan gravitasinya. Bahkan, cahaya hanya dapat masuk tetapi tidak dapat keluar atau melewatinya. Bumi masuk ke dalam lubang hitam sebelum meledak bersama planet-planet lainnya.

"Saya ingin tahu bagaimana jalan pikiran Tuhan ketika hendak menciptakan alam semesta," begitu kata Hawking ketika ditanya mendiang Paus Johanes Paulus II mengapa sampai sibuk berpikir mengenai soal perlunya mencari tahu tentang eksistensi Tuhan bagi alam semesta. Paus saat itu tidak berkenan ketika Hawking tetap berkeras menyatakan bahwa agama hanya ekspresi dari budaya manusia.

Menyadari semua itu, sembari berzikir dan melihat langit di atas Arafah, maka terbayanglah segala kedhaifan manusia. Melalui dua lembar kain ihram diajarkan bahwa segala kemegahan dunia tak ada artinya bila kiamat tiba. Bayangkan, Hawking meskipun tak percaya Tuhan itu ada, dia sangat yakin bila hari akhir dunia akan terjadi.

Maka, nikmat Tuhan kamu (Allah SWT) yang manakah yang kamu dustakan? (QS ar-Rahman).

Jumat, 04 November 2011

Antara Sunnatullah, Takdir, Syari'ah, Ikhtiar, dan Nasib

Sumber : Spiritual Sinergi Semesta 


Sunatullah
Sunnatullah adalah KEHENDAK ALLAH yang berupa Konsep-Ketetapan Ilahi Yang Tak Bisa Diubah . Sunnatullah berlaku kepada siapa pun, dimana pun, dan kapan pun. Sunnatullah ada yang sudah dipahami manusia, tapi BUANYAK yang masih belum atau bahkan tidak akan pernah mampu dipahami oleh manusia. Kalau ada manusia yang memahami SEMUA SUNNATULLAHNYA maka dikhawatirkan manusia itu menjadi sombong dan menganggap diri sebagai Tuhan.

Taqdir
Taqdir adalah KEHENDAK ALLAH yang berupa Kejadian-Kejadian yang berlaku berdasarkan Konsep Ilahi, yakni berdasarkan Sunnatullah. Jika Sunnatullah itu sebuah Ketentuan yang berupa RUMUS, maka TAKDIR itu adalah AKSI dari RUMUS yang berlaku.

Syariah
Syari’ah adalah KEHENDAK ALLAH yang berupa Konsep-Ketetapan Ilahi yang diujikan kepada manusia secara bebas, apakah manusia mau menggunakannya ataukah tidak. MUSLIM artinya BERSERAH kepada ALLAH, yakni menurut-ta'at atas syari'ah yang telah ditetapkan untuknya. Dan sebagai MUKMIN artinya YAKIN bahwa syari'ah dari ALLAH adalah yang terBAIK untuknya.

Ikhtiar
Ikhtiar atau Ikhtiyar (artinya : atas kemauan-kehendak sendiri) dan Istikhoroh (artinya : mencari pilihan) berasal dari kata yang sama yaitu "Khoiron" yang artinya Kebaikan. Jadi secara sederhana IKHTIAR dapat diartikan sebagai USAHA DIRI "YANG PENUH KEMAUAN" untuk MENCARI dan MELAKUKAN PILIHAN TERBAIK.

Jadi, jika SUNNATULLAH, TAKDIR, dan SYARI'AH merupakan KEHENDAK ALLAH maka IKHTIAR adalah KEHENDAK diri. Intinya ALLAH berkehendak agar kita memiliki kehendak. Disinilah "ruang" ikhtiar. Itu sebabnya kelak kita bertanggung jawab atas ikhtiar-ikhtiar kita.

Nasib
Nasib adalah Hasil dari ikhtiar kita atas Syari'ah, Sunnatullah, dan Takdir . Hari ini banyak yang mengkonotasikan Nasib dengan sesuatu yang tidak baik, padahal tidak selalu demikian, bahkan bagi orang-orang yang berTAQWA maka NASIB BAIK akan nyaris selalu menyertainya.

Epistemologi Makrifat

Sumber : Republika Online

Prof Dr Nasaruddin Umar
Guru Besar Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah, Wakil Menteri Agama RI



Pengetahuan yang diperoleh melalui olah nalar disebut dengan ilmu ('ilm) dan pengetahuan yang diperoleh melalui olah batin disebut makrifat (ma'rifah). Secara kebahasaan, kata 'ilm berasal dari akar kata alima-ya'lamu, berarti mengetahui. Seakar kata dengan 'alam, berarti tanda, petunjuk, bendera.'Alamah berarti alamat atau suatu tanda yang melalui dirinya dapat diketahui sesuatu yang lain (ma bihi ya'lamu al-syai). Dalam pembahasan terdahulu tentang alam dijelaskan segala sesuatu selain Allah (ma siwa Allah) adalah alam. Alam adalah tanda menunjuk kepada (adanya) Allah SWT. Alam juga sekaligus memberikan kesadaran dan pengetahuan tentang Allah SWT. Dari segi kebahasaan dapat ditangkap makna 'ilm dan 'alam memiliki konotasi fisik dan mekanik (hushuli).

Sedangkan, makrifah berasal dari kata 'arafa-yurif, memiliki berbagai makna yang lahir dari padanya, antara lain, mengetahui dan mengenal lebih dalam (i'rfah), pengakuan dosa (i'tiraf), wukuf di Arafah ('arrafah al-hujjaj), Padang Arafah ('arafat), tempat antara surga dan neraka (a'raf), bersetubuh ('arafah al-ma'ah), saling mengenal satu sama lain (ta'aruf), warisan tradisi lama yang positif ('urf), terkenal, masyhur (ma'ruf), ilmu pengetahuan luas (ma'arif), dan pengetahuan yang mendalam dan komprehensif ('irfan/ma'rifah). Dari segi kebahasaan dapat dipahami makna makrifat memiliki konotasi lebih tinggi dan agung (hudhuri).

Dengan perbedaan tersebut, dengan sendirinya antara ilmu dan makrifat memiliki ontologi, epistemologi, dan aksiologi yang berbeda satu sama lain. Perbedaan ini bisa dipahami melalui perbedaan antara ilmu-ilmu hushuli dan ilmu-ilmu hudhuri (lebih lanjut mengenai hal ini lihat artikel terdahulu: "Antara Ilmu Hudhuri dan Ilmu Hushuli").

Secara ontologi, ilmu ('ilm) masih lebih banyak berkutat pada wilayah logika manusia. Referensi yang digunakan untuk memahami ilmu juga masih bersifat fisik dan visual, meskipun dalam tingkatannya yang lebih tinggi, khususnya dalam level filsafat makna, sudah ada yang mulai bertumpang tindih dengan level awal ontologi makrifat. Ontologi makrifat, sebagaimana arti dasarnya, lebih mengacu pada wilayah-wilayah yang dapat dikatakan asing bagi para ahli ilmu pengetahuan (saintis).

Meskipun demikian, sesungguhnya para saintis tidak bisa serta-merta menafikan keberadaan ontologi keilmuan makrifat karena secara de facto banyak peristiwa yang diungkap oleh pengetahuan makrifat sulit dibantah oleh para saintis. Sebutlah contoh tentang efek keberadaan Tuhan yang dulu dinafikan oleh para saintis positivisme, tetapi di dalam era posmodernisme mulai diberi ruang. Terakhir para saintis dalam era new age tidak bisa menyembunyikan adanya Godspot di dalam diri manusia. Kini para ilmuwan modern, sesekuler apa pun mereka, tidak dapat lagi terus-menerus 'menyerang' kaum agamawan (baca: agnostik) karena mereka sendiri meragukan dirinya sendiri.

Bahkan, di negara-negara maju sekarang sudah mulai demam kajian spiritual. Kabbalah (mistisisme Yahudi) yang dulu diharamkan oleh para Rabbi karena dianggap bid'ah kini laksana cendawan tumbuh di mana-mana. Di New York, tepatnya The Manhattan Center, yang terletak di 155 E/84 St, di jantung Kota New York berdiri tegak Kabbalah Center. Jauh sebelumnya, Karen Berg pernah mendirikan The National Research Institute of Kabbalah di Los Angeles, yang sampai sekarang ramai dikunjungi artis Hollywood dan ilmuwan Yahudi di sana. Di Eropa dan Amerika Latin juga demikian halnya. Lembaga-lembaga meditasi bahkan sudah dibuka di sejumlah universitas terkemuka. Buku-buku new age pernah mendominasi sejumlah toko buku di Amerika dan Eropa. Pusat-pusat sufistik akhir-akhir ini mungkin lebih ramai di Barat daripada di Timur. The Beshara School, sebuah lembaga spiritual yang bertaraf internasional, sudah mulai go public dan merambah hampir di seluruh negara. Begitu pun Ibnu 'Arabi Society, para anggotanya semakin besar, sebagaimana dapat dilihat di webnya. Pengikut Kabbani dan Bawa Muhaiyaddeen di AS juga semakin ramai dikunjungi pengikut. Di antara mereka bukan orang awam, tetapi sangat terdidik dan pejabat.

Meningkatnya gerakan sufisme di berbagai tempat menandakan adanya ketidakpuasan manusia terhadap capaian ilmu pengetahuan selama ini. Paling tidak kehausan intelektualitas manusia ternyata tidak mampu dipuaskan oleh ilmu pengetahuan ('ilm). Manusia menginginkan lebih dari sekadar ilmu yang hanya mampu memberikan kepuasan logika. Kepuasan sejati hanya dapat dirasakan manakala menyentuh aspek hakiki dari manusia yang namanya kepuasan batin. Justru kepuasan batin inilah yang kemudian mendatangkan kesadaran kemanusiaan yang lebih tinggi.

Untuk bisa sampai pada tingkat kepuasan batin ini dibutuhkan pengetahuan tingkat tinggi yang biasa disebut dengan makrifat, yang sesekali disebut irfan atau dalam istilah tasawuf biasa disebut dengan mukasyafah. Mukasyafah berarti penyingkapan tabir-tabir (hijab) yang selama ini menghijab manusia untuk mengakses sebuah dunia yang agung, di mana manusia bisa meraih kepuasan yang luar biasa.

Epistemologi makrifat lebih dari sekadar menempuh epistemologi keilmuan biasa. Persyaratan yang harus ada di dalam menggapai tingkat makrifat Al-Qusyairi ialah penyucian diri dari berbagai dosa dan maksiat, bersih dari urusan dan ketergantungan dunia, terus-menerus bermunajat di hadapan Allah dengan cara sirri, selalu memelihara kelembutan jiwa dan budi pekerti, serta penuh pengendalian dan mawas diri. Bagi orang yang mencapai tingkat mukasyafah (penyingkapan), ia akan berada pada tingkat musyahadah (penyaksian kepada zat Yang Mahamulia). Dalam keadaan seperti ini, manusia bisa memperoleh kepuasan intelektual hakiki yang tak terlukiskan.

Rawaim Ibnu Ahmad pernah menggambarkan orang yang mencapai tingkat makrifat bagaikan seorang menyaksikan cermin. Jika ia melihat cermin itu, akan tampak jelas Tuhannya. Zunnun al-Mishri melukiskan orang-orang yang bergaul dengan penerima makrifah seperti orang-orang yang bergaul dengan Allah SWT. Menurut al-Hallaj, "Jika seorang hamba telah sampai kepada makrifatullah, Allah akan membisikkan kepadanya dengan melalui hatinya dan menjaga hatinya dari kata hati yang tidak benar." Abu Yazid al-Busthami pernah ditanya perihal orang yang mencapai makrifat, ia menjawab, "Orang arif adalah penerbang dan orang zuhud itu pejalan kaki." Selanjutnya, ia menambahkan, "Ketika ia tidur ia tidak melihat selain Allah, ketika ia terjaga ia tidak melihat selain Allah, ia tidak beribadah selain kepada Allah."

Untuk urusan lebih teknik untuk memperoleh makrifat, Ahmad Ibnu Atho' berkomentar: "Makrifat itu memiliki tiga rukun, yaitu takut kepada Allah, malu kepada Allah, dan senang kepada Allah." Jadi, memang tidak gampang mencari dan menemukan makrifat. Hampir seluruh ulama sepakat bahwa cara untuk meraih sukses mencapai makrifat ialah kebersihan batin. Untuk itu, penyucian jiwa (tadzkiyah al-nafs) dan keindahan batin (tanwir al-qulub) serta niat yang tulus merupakan persyaratan mutlak yang harus diwujudkan di dalam diri murid.

Pada dasarnya, manusia itu memiliki kemampuan dan kecerdasan, bahkan makrifat. Hanya, mereka terkontaminasi oleh lingkungan sosial sehingga mereka perlu berzikir (mengingat kembali). Ayat yang sering dilibatkan kelompok ini, antara lain, fas'alu ahl al-dzikr inkuntum la ta'lamun. (Bertanyalah kalian kepada ahli zikir jika kalian tidak tahu); Afala tatadzakkarun (Mengapa kalian tidak mengingat kembali?), dan Aqim al-shala li dzikri (Dirikanlah shalat untuk mengingat Aku). Kelompok ini mengedepankan penyucian diri dalam bentuk tazkirah, tashawwuf, tashwir, dan tazkiah untuk menjernihkan kembali pengetahuan inti yang pernah dibekalinya sejak lahir.

Menuntut ilmu-ilmu makrifat juga diperlukan kesantunan kepada guru (mursyid), sebagaimana dapat dilihat di lembaga-lembaga spiritual, termasuk dalam tradisi pondok pesantren. Ketawadhuan seorang murid dan kesantunan seorang guru atau kiai adalah adanya tradisi keluhuran dalam proses pencarian ilmu pengetahuan. Ini sejalan dengan ayat: "Sebagaimana (Kami telah menyempurnakan nikmat Kami kepadamu) Kami telah mengutus kepadamu Rasul di antara kamu yang membacakan ayat-ayat Kami kepada kamu dan menyucikan kamu dan mengajarkan kepadamu Al-Kitab dan Al-Hikmah (As-Sunah), serta mengajarkan kepada kamu apa yang belum kamu ketahui." (QS al-Baqarah [2]: 151).

Kamis, 03 November 2011

Bersahabat dengan takdir

>Sumber : Nurrudin Al Indunissy

ღبِسْــــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيღ
Kugoreskan pena ini dengan menyebut Asma Nya,
Kuawali dengan salam dari Syurga Nya; "Assalamualaikum Warohmatullahi Wabarokatuh", semoga Kesejahtraan Shalawat serta Salam senantiasa dicurahkan kepada Rasulullah Sholallahu 'Alaihi wa Salam, para Sahabat, tabiin tabiat dan generasi Ash-Salaf As-Shalih, para Ulama pewaris Nabi hingga kita sebagai Ummatnya di akhir Jaman ini.

Semoga Allah meridhai, menyayangi, mencintai dan Merahmati para pejihad yang meninggikan kalimat tauhid dengan tetasan darahnya digaris depan. Semoga Allah meridhai, menyayangi, mencintai dan merahmati para Ulama pejihad Dakwah yang mewarisi Ilmu Nabi yang dishalawati Allah dan semua mahluk Nya, hingga semut semut disarangnya dan ikan ikan dilautan.

Semoga Allah meridhai, menyayangi, mencintai dan Merahmatimu wahai saudara saudariku yang tengah menyingsingkan lengan bajunya, meneguhkan hati dan berbaur dengan jemaah di taman taman Ilmu di semesta Nya. Semoga Allah menajamkan hatimu dalam menangkap Hikmah Hikmah Nya, memberkati jalananmu sebagai Jihad untuk ikut serta mengikis pemikiran pemikiran batil yang bermula dari kebodohan dan memperturutkan hawa nafsu tanpa Ilmu dan Iman..

Semoga hati kita senantiasa bersih dan terjaga,
Sehingga langkah langkah kita diwarnai keyakinan, terhindar dari kesesatan serta mampu menapaki jalanan yang bercabang cabang ini dengan cahaya al Islam yang lurus. Agar kita tidak tergolong sebagai mahluk mahluk yang hanya bisa membuat kegaduhan di semesta ini. Mari kita bersama sama melangkah, berpegangan tangan saling menguatkan.
Saling menasihati dalam kebaikan, meluruskan ketika salah dan memaafkan ketika khilaf. Agar hati kita terarah dan bersahaja, mampu mengaitkan keseluruhan peristiwa peristiwa yang kita hadapi dengan Allah Aza wa Jalla. Sehingga spectrum Iman dihati kita konstan dan cahayanya membahagiakan seluruh tubuh kita.


Sahabat pena yang diridhai,
Saya sedikit risau menanggapi sebuah pertanyaan classic mengenai takdir;
"Apakah takdir bisa dirubah?"

Subhanallah..
Maha Suci Allah dari segala prasangka buruk hamba hamba Nya.
Bagai mana seorang Manusia bisa bersahabat dengan Takdir-Nya, jika ia tidak berkeinginan untuk mengenalinya sedikit saja?

Insya Allah Catatan berikut,
Berupaya mennggapai pemahaman kepada Taqdir dari sisi yang berbeda dan sesedehana mungkin. Hingga diharapkan semua pertanyaan dan keraguan itu sirna dari hati kita, agar persinggahan kita yang sesaat ini tidak dipenuhi kekhawatiran, keraguan dan kegundahan yang membuat tubuh kita sengsara.

Seperti kita ketahui,
Iman kepada Takdir Allah adalah salah satu dari enam Pilar Pilar Iman,
Rasulullah saw, seperti diriwayatkan Abu Hurairah - dalam Sahih Muslim No. 10 tentang Iman, Islam dan Ihsan - yang kemudian dengan Ijtihad para Ulama ditetapkan sebagai Rukum Islam dan Rukun Iman, mereka meletakan Iman kepada Qadha dan Qadar ini di urutan ke-6 sebagai penyempurna.

Insya Allah,
Dengan menyempurnakan Iman hingga tahapan 6 ini, pohon Iman dihati kita akan menjadi tegap. Jiwa kita kokoh, pribadi kita tangguh dan tidak mudah mengeluh dengan hal hal remeh seperti Dunia ini.

Sebelum menjawab pertanyaan diatas,
Mari kita terlebih dahulu menjenguk hati kita, disana ada suara hati. Ia menyerupai "bisikan" yang terdengar sayup sayup didalam nuansa istana hati kita. Ia menyerupai aktifitas obrolan, sesaat tenang kemudian gaduh. Kadang kadang menenangkan jiwa kadang kadang membuat kita merasa terbakar menahan dua pertentangan yang saling mengalahkan.

Pernahkah bertanya,
Darimana sumber bisikan bisikan itu?.

Hal ini penting untuk diketahui, karena dari hati inilah awal mula aktifitas berfikir manusia diarahkan. Pengaruh dari hati ini mendominasi kinerja fikiran kita, dari otak ini kemudian berbagai komando diperintahkan kepada Indra Indra tubuh yang menghasilkan reaksi reaksi tubuh dalam menyikapi masalah.

Tubuhlah yang kemudian menanggung resikonya,
Indra indra tubuh tidak bisa membantah perintah otak dari otak. Bahkan, tak jarang tubuh itu menjadi sengsara dan kelelahan. Ini karena reaksi reaksi yang dihasilkan itu tidak direstui fitrahnya manusia yang tertanam didalam Hati.

Dalam setiap hati Manusia terdapat dua kekuatan, keberadaannya seperti kontrol konstan yang mempengaruhi keseluruhan aktifitas tubuh Manusia. Biar saya sederhanakan, kedua hal tersebut adalah pengaruh baik dan pengaruh jahat.

Pengaruh baik yang menjadi sumber kebaikan itu, terdiri dari fitrah dan keberadaan Malaikat Malaikat pendamping yang Allah anugerahkan kepada setiap Hamba Nya, Manusia.

Didalam tubuh kita ada malaikat malaikat penjaga,
Al Qur'an menyebutnya Qarin. Qarin ini terdiri dari dua jenis, dari Malaikat penjaga dan Jin. Jenis Jin yang dimaksud adalah Jin Kuffar yang merupakan cucu cucu Iblis Laknatullah, mereka terlahir kedunia bersamaan dengan kelahiran seorang Manusia.

Agar mudah dipahami,
Selanjutnya Iblis diatas saya sebut dengan Qarin Jahat dan Malaikat Penjaga ini sebagai Qarin baik.

Qarin jahat inilah yang harus kita waspadai.
Karena ia mulai hidup sedari manusia itu masih bayi, hingga manusia itu dewasa. Iblis itu tetap hidup ketika Manusia itu meninggal. Bayangkanlah ketika uasia manusia itu mencapai 70 tahun, anak Adam itu meninggal sementara Iblis-nya tetap hidup, bukankah ia berpotensi besar dan berpengalaman untuk menjerumuskan Manusia lain?

Hingga tidak heran jika Iblis memiliki manajemen marketing yang suksesnya luar biasa, dagangannya yang berupa Neraka terjual laris kepada manusia. Bahkan, banyak dari manusia yang membelinya dengan sukarela. Nauzubillah.

Lihat saja sepak terjang musuh manusia terbesar yang sering kita manjakan ini.
Mereka tak segan segan menggiring satu Kampung kepada kemuyrikan sekaligus, termasuk Kyainya sekalipun. Contoh keci saja, dalam peristiwa "tahlilan" kadang si Iblis ini juga membuat onar. Ia merasuk ke dalam jiwa salah satu Manusia yang imannya paling lemah dan mengendalikannya, lalu orang menyebutnya kesurupan roh yang meninggal.

Ketika Manusia menaruh perhatian, Iblis semakin semangat. Ia lalu berpura pura bertingkah laku persis seperti prilaku orang yang telah meninggal. Manusia yang kesurupan itu meminta Coffe Hitam kesukaan manusia yang telah meninggal itu, atau berwasiat dusta kepada yang ditinggalnya. Si Iblis cerdik ini telah menghafal dengan baik suara, cara bicara, bahasa dan mengetahui dengan baik nama nama orang disekitarnya. Karena dia telah hidup bersamaan dengan orang yang telah meninggal tadi.

Lalu masyarakat tersebut percaya, bahwa roh si A masuk dan mebuat cucunya bernama si B sakit. Lalu fitnah teresebar, dan masyarakat awam Percaya bahwa roh yang mati bisa mengendalikan yang hidup. Ujung ujungnya mereka ramai ramai meminta do'a ke kuburan. Naudzubillah.

Inilah, salah satu kesuksesan marketing Iblis.
Nah, selama manusia itu hidup si Iblis ditugasi oleh kakek moyang Iblis untuk menjerat Manusia dengan berbagai cara. Allah telah memberi tangguh usia kepada Jin jenis Iblis ini, Allah ta'la juga memberi mereka kewenangan untuk masuk kedalam aliran darah Manusia dan berdiam dihati Manusia.

Dari hati inilah Iblis membisikan kejahatan.
Bagi orang yang beriman, pengetahuan sederhana ini bisa menambah keimanan dan memberinya kesimpulan besar. Diantaranya menjawab pertanyaan batil yang memfitnah ke Maha Suci-an Allah aza wajalla, pemikiran batil tersebut adalah berupa pertanyaan; "Apakah Allah juga menciptakan kejahatan?"

Seorang scientist Atheis, mengatakan bahwa Kejahatan itu seperti Kegelapan.
Kegelapan itu muncul karena ketiadaan "Cahaya". Dengan demikian, Tuhan tidak menciptakan Kejahatan, namun ketiadaan cahaya Tuhan dihati Manusia menyebabkan kegelapan/kejahatan itu muncul.

Subhanallah!
Bukankah Al Qur'an dalam surah Azzukruf ayat 36 telah menginformasikan hal ini jauh jauh agar Musimin Muslimah berhati hati dengan Iblis yang menyertai Manusia dan mebisikan kegelapan dihatinya?

Allah Subhana Huwwa Ta'ala berfirman:
“Barangsiapa yang berpaling dari pengajaran Tuhan Yang Maha Pemurah (Al-Quran), kami adakan baginya syaitan (yang menyesatkan) maka syaitan itulah yang menjadi teman yang selalu menyertainya". (Az Zukhruf 43:36)

Ayat ini telah dibaca oleh Milyaran Ummat Islam dari masa kemasa.
Syaitan yang dimaksud dalam ayat tersebut adalah Iblis pendamping. Dalam bahasa Arab kata قَرِينٌ (baca=Qarin) adalah pendamping/teman. Inilah dalil yang menjadi fakta tidak terbantahkan mengenai keberadaan si Jahat ini.

Keberadaan si Qarin ini dikuatkan juga oleh sebuah Hadts,
Dari Abdullah bin Mas’ud r.a, beliau meriwayatkan dahwa Rasulullah saw bersadba: ”Tidak seorangpun di antara kamu melainkan telah ada jin yang ditugaskan pemimpinnya untuk selalu menggodanya". Para sahabat bertanya: ”Anda juga ya Rasulullah?” Jawab baginda: ”Ya. Aku juga. Tetapi Allah selalu melindungiku dari godaan mereka sehingga mereka yang menggodaku akhirnya Islam (menyerah). Karena itu mereka tidak berani menyuruhku melainkan untuk kebaikan.” (HR Muslim)

Qarin jahat itu ikut mengalir dalam darah Manusia bersama Syahwat dan Nafsu. Ia juga ikut mempengaruhi bahkan sering mendominasi bisikan di hati Manusia, berupaya mengalahkan bisikan Qarin baik dari malaikat malaikat penjaga manusia dan Fitrah manusia itu sendiri.

Terjawablah lagi satu pertanyaan berikutnya.

HATI YANG 'GUNDAH'

Bukankah sesekali atau sering hati kita "gundah?"
Misalnya ketika dihati kita seperti ada suara, menyerupai adu argumentasi yang gaduh antara memaafkan dan tidak memaafkan atau ketika ada bisikan kedengkian, iri, sombong, ingin riya dan segala penyakit lainnya dihati yang kemudian diucapkan bibir atau tertahan dihati.

Ketika bibir kita menahannya, hati kita sesak dan suara berisik memenuhi istana hati kita seakan berkata "tak usah memaafkan, ia menghianatimu" bisikan lainnya berkata "maafkanlah itu baik bagimu, itu saudaramu"..

Inilah yang saya maksud aktifitas bisikan yang diakibatkan Qarin jahat dan Qarin baik, keduanya berperang saling mengalahkan. Keduanya bisikan itu tidak terlepas dari aktifitas Qarin ini. Seorang yang sering mengikuti bisikan Qarin jahat, hidupnya tidak tenang dan jiwanya sengsara karena ia melawan fitrahnya sendiri sebagai manusia.

Pertanyaan lain kemudian muncul, apa itu Fitrah Manusia?
Mari sejenak luangkan waktu untuk memahami kata "Fitrah" ini, agar presepsi kita sama dan melahirkan pemahaman bersama.

FITRAH MANUSIA,

Sering kita mendengarnya, namun benarkah kita telah memahaminya?

Fitrah merupakan ketetapan Allah yang tertanam dihati manusia sejak awal penciptaannya, ia merupakan kecendrungan alami yang keberadaannya mutlak tidak bisa diubah dihapus atau di modifikasi. Keberadaannya menyerupai sebuah kontrol lembut yang mengendalikan berbagai warna perasaan manusia, ia adalah sumber utama yang mempengaruhi dorongan untuk berfikir dan bertindak agar ummat manusia ini lestari dari masa kemasa.

Allah Subhana Huwwa ta'ala berfirman:
"Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Allah); (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui", (Qs Ar Rum 30)

Taqiyuddin an-Nabhani,
Dalam tulisannya yang berjudul "Hakikat Berfikir" menyebutkan fitrah itu dengan kata naluri. Beliau mendefinisikan fitrah sebagai daya kehidupan yang mendasar yang merupakan bagian integral dari hakikat manusia yang tidak mungkin diubah (dimodifikasi), dihapus, dan dibendung.

Beliau mengklasifikasikan Fitrah/Naluri/Gharâ’iz/Natural Tendency yang ada dalam hati manusia itu terdiri dari tiga jenis saja, yaitu: (1) Naluri Mempertahankan diri (gharîzah al-baqâ’), (2) Naluri Melestarikan Jenis (gharîzah an-nau‘) dan (3) Naluri Beragama (gharîzah at-tadayyun) atau pensakralan (at-taqdis).

Dari fitrah fitrah itu kemudian muncul berbagai penampakan (penjelmaan). Seperti cinta, benci, sedih, senang menolong, senang ibadah, iri, dll. Banyak dari kita yang memahami Cinta itu fitrah, padahal ia adalah penjelmaan dari Naluri manusia untuk melestarikan jenis sehingga Allah menanamkan rasa Cinta dan kasih sayang antara Manusia.

Yang harus kita perhatikan disini adalah fitrah Beragama, atau bahasa sederhananya fitrah manusia yang tunduk dan patuh dan ingin beribadah kepada Rabbnya, sehingga mendorong manusia untuk zuhud kepada dunia dan mempersiapkan kerinduannya kepada Akhirat.

Itulah salah satu fitrah baik Manusia yang menjadi manifestasi yang tidak bisa diubah oleh apapun, namun keberadaan fitrah ini kemudian dipengaruhi Akal, Nafsu dan Syahwat yang juga ditanamkan Allah ta'ala sebagai penjelmaan Fitrah tersebut.

Beda halnya dengan malaikat,
Allah hanya menganugerahkan kepada mereka kemampuan untuk menjalankan tugasnya dan beribadah saja. Tanpa dibekali Akal dan Nafsu, sehingga jelaslah bahwa Manusia yang tetap taat dan patuh kepada Allah setelah mampu menahan nafsunya maka ia lebih mulia dari Malaikat. Sehingga Allah ta'ala memerintahkan Para Malaikat dan Jin bersujud kepada Adam As ketika manusia pertama ini diciptakan di Syurga.

Sehingga jleaslah..
Alasan kenapa bidadari Syurga cemburu kepada Wanita Shalihah...

Sehingga jelaslah..
Bahwa Manusia yang telah dibekali akal dan kemampuan bicara, lalu durhaka dan membantah kepada perintah perintah Rabbnya adalah lebih hina dari binatang. Bahkan binatang lebih mulia, karena ia yang hanya dibekali nafsu itu hidup dan berkembang biak memberi kemanfaatan untuk Manusia.

Sahabat pena nai yang diridhai.
Seorang yang membiasakan diri mengikuti fitrahnya hati dan bisikan dari Qarin baik, jiwanya insya Allah akan tenang, hatinya tetap kaya meski tekanan dimana mana. Wajahnya teduh dan meneduhkan, senyumnya menyenangkan dan tutur katanya lembut. Pribadinya bijak dan menginginkan kebaikan bagi saudaranya.

Nah bagaimanakah agar Qarin baik ini mendominasi dan Cahaya-Nya yang berbentuk fitrah itu menyinari hati dan menyilaukan si Iblis Iblis jelek itu?

THE DZIKR PERSONALITY

Jawabannya begitu sederhana.
Pribadi tangguh yang insya Allah terhindari dari bisikan jahat dihati itu terlahir dari Pribadi Dzikrullah..

The Dzikr Personality atau Pribadi Dzikir tidak harus dicerminkan oleh panjangnya tasbih yang selalu membelit diantara jarinya, atau ikat kepala dan sorbannya. Tidak juga mereka yang selama hidupnya diam digua atau di masjid masjid dan melantunkan dzikr. Menjiharkan dzikir tentu lebih baik, dimana bibir dan hati ikut beribadah.

Namun, sebagai manusia yang tidak lepas dari kewajiban berusaha. Dzikir bisa dilakukan dimana saja dan kapan saja. Bahkan dalam aktifitas Hati, disana dzikir menjadi amaliyah hati yang murni dan terbebas dari riya.

Dzikrullah adalah mengingat Allah dengan MemujiNya, MentauhidkanNya, MenyucikanNya dan MengagungkanNya. Ini bisa dilakukan juga dengan memperhatikan atau diam mentafaquri hamparan Ayat Ayat Nya yang bertebaran di alam ini, atau merenungi semesta Nya yang senantiasa Ramai bertasbih MemujiNya. Ditengah tengah aktifitas kita, ruh kita bisa bergabung dengan semesta dan berdzikir.

Ketika hati kita terbiasa dengan Dzikir.
Kita akan mampu dengan mudah mengaitkan seluruh peristiwa yang menemui dan menghentak bathin kita dengan Allah aza wajalla yang telah mengirimkan pesan Rahmat Nya melewati mediasi Alam semesta ini.

Subhanallah..
Wajah tenang itulah cerminan dari pribadi Dzikr.
Wajah menjadi tenang karena hatinya tenang. Kebahagiaan seperti apalagikah yang engkau cari selain ketenangan jiwa?

Hati yang tenang itu muncul karena berkurangnya insensitas Qarin jahat. Sehingga Qarin baik dapat dengan leluasa membisikan kebaikan dan disambut dengan manusia yang berada dalam Fitrahnya. Fitrah itu kemudian mendominasi suasana hati dan aktifitas berfikirnya. Dengan demikian, perasaan "gundah" yang banyak menginspirasi seniman jadi jadian itu, tentu hiang jika "kegaduhan" itu sirna dari hatinya.

Karena kegaduhan itu terjadi dari adu argumentasi Qarin baik dan Qarin Jahat.

THE MIRACLE OF DZIKR

Inilah salah satu rahasia mengagumkan dari Dzikrullah.
Lantunan suara dzikir didalam hati adalah satu satunya cara untuk mengusir Qarin jahat dari istana hati kita, sehingga Cahaya-Nya yang berbentuk fitrah itu kembali muncul. Dengan demikian spectrum iman disana konstan dan menerangi kegelapan hati.

Hidup ini pilihan saudaraku,
Silahkan engkau memilih untuk bahagia atau sengsara.
Kebahagiaan sesaat atau kebahagiaan abadi.
Tentu kita berharap kebahagiaan di dunia yang sesaat dan juga kebahagiaan yang berkekalan disana, bukan menukar kebahagiaan sesaat dengan kesengsaraan abadi.

Jika kita ingin memilih bahagia,
Maka peliharalah hati kita, jaga ia dari pengaruh yang mengotorinya.
Sering memohon kepada Nya, minimal dengna mengingat Nya.
Karena si Qarin ini memang ada dalam diri kita, Jin berjenis Iblis ini mendiami tubuh seluruh umat Manusia dibumi, termasuk juga para Nabi Allah.

Aisyah radiyallahu anha,
Meriwayatkan Hadits tentang dirinya,
Suatu malam Rasulullah saw keluar dari rumahnya.
Aisyah berkata; “Maka akupun menjadi cemburu kepada beliau sekiranya beliau mendatangi istri yang lain. Kemudian Rasulullah saw kembali lagi dan melihat apa yang terjadi pada diriku.

”Apakah engkau sedang cemburu?” tanya beliau.
”Apakah orang semacam aku ini tidak layak cemburu terhadap orang seperti engkau ?” Jawab Aisyah ra.

“Rupanya syetan telah datang kepadamu”, sabda beliau

”Apakah ada syetan besertaku?’ tanya Aisyah ra

Rasulullah bersabda; “Tak seorangpun melainkan bersamanya ada syetan”

”Besertamu pula?” tanya Aisyah.

“Ya, hanya saja Allah menolongku untuk mengalahkannya sehingga aku selamat”, jawab Rasulullah saw. (Hadits ini ditakrij Muslim dan Nasa’i)

Alhamdulillahirabbil'alamiin..
Mari kita langsung kebahasan pokok, untuk memperkokoh kembali Pilar Iman kita yang ke 6 yaitu Iman kepada Takdir Allah dengan bekal bahasan konfrehensif diatas.

BERSAHABAT DENGAN TAKDIR-NYA

Banyak manusia beriman yang ragu tentang kekuatan taqdir ini.
Bagaimana mau bersahabat dengan Takdir-Nya jika kita tidak mengenalinya?
Keraguan tentang Takdir ini tak lain karena lemahnya pengetahuan atau sedikitnya perbendaharaan Ilmu difikiran kita, sehingga logika akal itu bekerja sendiri mengikuti nafsu duniawiyah saja. Sehingga kemampuan mata hati untuk melihat hikmah hikmah Nya yang bertebaran disemesta ini melemah. Lemahnya ilmu itu melemahkan Iman yang telah bersemayam.

Alasan lain keraguan terhadap takdir adalah bentuk nyata kesuksesan usaha Iblis yang intensif untuk menyesatkan manusia. Keraguan terhadap takdir, dan pertanyaan pertanyaan yang mengikutinya adalah cerminan lemahnya keimanan dan pengetahuan kita tentang Nya.

Untuk apa bibir berkata cinta jika tak ada kepercayaan?

Subhanallah.
Jika kita beriman, bukankah harus mengimani keseluruhannya?
Apakah mungkin meminum segelas air yang setengahnya air putih dan setengahnya lagi bensin? Tentu setetes bensin saja yang kita letakan didalam satu gelas air akan mengubah rasa air putih yang nikmat itu.

Begitulah, Iman.
Iman kepada Takdir Allah itu adalah 1dari 6 Pilar Iman yang harus tegap dalam hati kita. Jika tidak, maka jiwa akan lemah dan keropos. Tidak bahagia.

Telah menjadi pengetahuan umum, bahwasannya Taqdir manusia telah ditetapkan sebelum manusia diciptakan. Ada juga Hadits Hadits yang diriwayatkan bahwa Taqdir manusia ditetapkan ketika manusia ditiupkan Ruh kedaam janin di rahim ibu.

Tidak ada pertentangan tentang hal ini, yang ada hanya kesalahan manusia dalam menyikapinya. Sehingga ada manusia yang berkata dengan gegabah: "Bukankah takdir telah ditentukan, lalu untuk apa bersusah payah mengubahnya?"

Subhanallah..
Mahasuci Allah dari prasangka hamba hamba Nya yang hina.
Bukankah Usaha itu telah diperintahkan Allah ta'ala dan RasullNya?
Tidakkah terfikirkan, jika Allah ta'ala mampu menciptakan semesta yang menakjubkan ini, bukankah mudah saja bagi-Nya untuk mengubah takdirmu?

Berusaha dan Berdo'a lah.
Karena keputusan itu berada di Allah ta'ala.

JAWABANNYA ADALAH DOA

Rasulullah saw bersabda:
"Tidak ada gunanya waspada menghadapi Takdir, namun do'a bermanfaat menghadapi takdir, sebelum dan sesudah ia turun. Dan sesungguhnya setelah musibah itu ditakdirkan turun (dari Langit). Maka ia segera disambut oleh Do'a (dari bumi) lalu keduanya bertarung sampai Hari Kiamat". (HR Hakim, Imam Ahmad, Bazaar dan Ath Thabrani)

Ibnu Al Qayyim Azzawjiah menjelaskan:"Jika prisai do'amu lebih kuat dari musibah, ia akan menolaknya. Tetapi jika musibah lebih kuat dari prisai Do'a mu maka ia akan menimpamu. Namun sedikitnya tetap akan mengurangi effect-nya. Adapun jika prisai doamu seimbang dengan kekuatan Musibah. Maka keduanya akan bertarung".

Maka berusahalah, tunjukan kualitas usahamu dan berdo'alah.
Jika takdirmu tetap buruk, sesungguhnya bukan takdir itu yang buruk tapi pemahamanmu yang harus diperbaiki. Tentu semua yang terjadi adalah yang terbaik dari Nya untukmu, untukku dan untuk kita semua.

Sering kita memaknai musibah musibah dan kegagalan itu sebagai kesialan. Benarkah demikian? Mungkinkah Allah yang Maha Pengasih dan Penyayang menginginkan keburukan bagimu?

Mungkinkah seorang kekasih membuatmu kecewa?
Ya, mungkin saja jika kamu membuatnya cemburu.

Apakah kamu kecewa saat dia terbakar api cemburu?
Tidak, Kekasih apakah namnya jika ia tidak cemburu?
Besarnya gejolak api cemburu dihatinya adalah cerminan betapa besar rasa kasih sayangnya kepada kita.

Benar,
Dan Allahlah yang paling besar Kasih Sayang Nya, karena Dia Maha Pengasih dan Maha Penyayang.

KETAHUILAH BAHWA RABB-MU PUN CEMBURU

Dari Abu Hurairah r.a. dari Nabi s.a.w., sabdanya: "Sesungguhnya Allah Ta'ala itu cemburu dan kecemburuan Allah Ta'ala itu ialah apabila seorang manusia mendatangi -mengerjakan- apa-apa yang diharamkan oleh Allah atasnya." (Muttafaq 'alaih, Riyadhussalihin V/Muraqabah)

Aisyah radiyallahu anha meriwayatkan Sabda Rasulullah saw:
"...Hai umat Muhammad, tidak seorang pun lebih cemburu daripada Allah, bila hambanya, lelaki maupun perempuan, berbuat zina. Hai umat Muhammad, demi Allah, seandainya kalian tahu apa yang kuketahui, tentu kalian banyak menangis dan sedikit tertawa. Ingatlah! Bukankah aku telah menyampaikan. (Kutifan Shahih Muslim, Bab Gerhana Hadits No. 1499)

Bukankah Allah ta'ala Cemburu kepadamu saat kamu berbuat keharaman?

Bukankah Allah ta'la beda dengan Mahluk Nya?
Iya, tentu saja Sangat beda dan Dialah yang Maha Sempurna dan Maha Segala Galanya. Kecemburuan itu tidak begitu saja berubah menjadi Murka, sungguh Rahmat Nya yang memenuhi semesta ini telah menerjemahkan murka itu kedalam bentuk Kasih Sayang-Nya yang lain.

BENCANA...
Musibah Musibah yang menimpa kita adalah bentuk Kasih Sayang Nya, sebuah sentuhan lembut bagi manusia yang mampu melihat Hikmah Hikmah dibalik semua peristiwa dan pandai mengaitkannya untuk Memuji Rabb Nya.

Sa'ad bin Abi Waqqash berkata,
"Aku bertanya kepada Rasulullah Saw, Ya Rasulullah, siapakah orang yang paling berat ujian dan cobaannya?" Rasulullah saw menjawab: "Para nabi kemudian yang meniru (menyerupai) mereka dan yang meniru (menyerupai) mereka. Seseorang diuji menurut kadar agamanya. Kalau agamnya tipis (lemah) dia diuji sesuai dengan itu (ringan) dan bila imannya kokoh dia diuji sesuai itu (keras). Seorang diuji terus-menerus sehingga dia berjalan di muka bumi bersih dari dosa-dosa". (HR. Bukhari)

SUBHANALAH..
Mungkin hal buruk yang menimpamu itu adalah cicilan..
Agar adzab kita tidak begitu berat di akhirat Nya. Bukankah Api di dunia ini hanya 1 percikan dari 70 kali panasnya Neraka?

Bukankah Azab neraka yang paling ringan itu -- seperti Hadis riwayat Nukman bin Basyir ra, Muslim No.313 -- Bahwa "Ahli neraka yang paling ringan siksanya pada hari kiamat, adalah seseorang yang pada lekukan telapak kakinya diberi dua bara yang menyebabkan otaknya mendidih". ?

Sungguh Musibah demi Musibah itu adalah peringan Azab Nya yang berat, sehingga mereka yang beriman seharusnya tetap bersyukur dengan keringanan tersebut. Mengarahkan sekuat tenaga hati, fikiran dan bibir kita untuk beristighfar dan Memuji Nya.

Begitulah sahabat pena yang diridhai,
Afwan Jazilan Bahasannya melebar, ini semua adalah usaha kecil saja untuk ikut serta dalam memerangi pemikiran pemikiran Batil. Semoga Hidayah Allah senantiasa bersama kita dan semua Umat Muslimin Muslimat yang mengharap ampunan dan keridhaan Nya.

"Agar semesta Raya Ramai Bertasbih Memuji Nya"

^_^
Salam Bahagia dan Salam santunku,

Al Faqir Ilallah
Nuruddin Al Indunissy
RIYADH 2011