Sabtu, 18 Desember 2010

Kisah Nabi Ayyub AS

Dalam Al Qur'an dijelaskan, Nabi Ayyub AS adalah seorang utusan Allah yang sangat sabar. Ia disebut-sebut sebagai seorang hamba yang paling baik karena kesabarannya itu. Sebagaimana diketahui, Nabi Ayyub AS dulunya adalah seorang yang sangat kaya dan taat beribadah kepada Allah. Siang dan malam ia pergunakan untuk beribadah. Siangnya berpuasa dan malamnya digunakan untuk bermunajat kepada Allah. Harta kekayaan yang dimilikinya, tak membuat ia kufur. Sebaliknya, ia selalu mensyukuri atas seluruh karunia Allah tersebut.

Iblis, tak senang dengan ibadah Nabi Ayyub AS. Ia memohon izin kepada Allah untuk menggoda dan menjerumuskannya ke dalam golongan orang-orang yang sesat dan ingkar. Iblis mengira, ibadah yang dikerjakan ibadah yang dikerjakan Nabi Ayyub As itu karena ia diberikan kekayaan melimpah dan anak yang banyak serta istri yang selalu setia. Oleh karena itu, iblis ingin menggodanya agar Ayyub tersesat.

Allah pun memberikan izin kepada kepada iblis untuk menggoda Nabi Ayyub. Dan, Allah juga mengujinya dengan sakit yang sangat parah dan menjijikkan. Di antaranya penyakit kulit. Ulat-ulat pun banyak yang menikmati penderitaan Nabi Ayyub itu.

Secara perlahan, harta-hartanya berkurang dan akhirnya habis. Anak-anaknya diwafatkan oleh Allah. Istrinya pun meninggalkan Nabi Ayyub karena tak sanggup dengan bau yang diderita suaminya. Semua ujian itu tak menggoyahkan Nabi Ayyub AS. Bukannya menghentikan ibadah, Nabi Ayyub AS malah semakin giat melaksanakan semua ajaran Allah. Nabi Ayyub yakin bahwa semua itu adalah ujian Allah untuk menguji kesabarannya.

Ayyub mengadukan ujian dari setan yang ingin menyesatkannya. Ia berkata :"Sesungguhnya aku diganggu setan dengan kepayahan dan siksaan" (QS Shad [38]:41). Kepayahan disini, karena setan tak henti-hentinya menggoda padahal ia sudah dalam keadaan lemah karena sakit. Setan selalu menggoda kesabarannya dalam menghadapi musibah yang menimpanya. Menurut sejumlah ulama, sakit yang dialami berlangsung selama 18 tahun.

Maka Allah pun menolongnya. Melepaskan semua belenggu yang dideritanya. Kekayaannya dikembalikan, konon anak-anaknya dihidupkan, dan istrinya kembali ke pangkuannya. Kisah selengkapnya dapat dilihat pada surah Shad [38]: 41-44, Al Anbiyaa' [21]: 83-84.