Sabtu, 15 Desember 2012

Mengasah mata batin (bashirah)

Sebagaimana halnya telinga batin (sama'), mata batin (bashirah) juga membutuhkan pengasahan supaya bisa melihat lebih tajam dan mampu melihat sesuatu yang sulit diamati oleh mata kepala. Mata batin yang lebih tajam bisa melihat dan menyaksikan hal-hal yang gaib.


Untuk mengasah mata batin, diperlukan juga berbagai latihan, seperti halnya ketika kita mengasah telinga batin. Orang-orang yang rajin melakukan mujahadah, riyadhah, muraqabah, dan berbagai bentuk pendekatan diri lainnya kepada Allah SWT, maka dapat menyingkap tabir (hijab) yang menghalangi seseorang untuk melihat dan menyaksikan sesuatu yang gaib. Para salikin yang sudah mampu membuka tabir lalu menyingkap kegaiban maka ia sudah berada di tingkat mukasyafah, suatu prestasi spiritual yang mampu menyingkap rahasia dan alam gaib.

Menyaksikan sesuatu yang gaib sesungguhnya biasa dijelaskan dan tidak perlu kita ragu. Karena, hampir semua orang pernah mengalami mimpi. Mimpi itu sesungguhnya adalah salah satu bentuk penyaksian sesuatu yang gaib. Hanya saja mimpi kebanyakan hanya bunga-bunga tidur seperti yang sering dialami banyak orang.

Yang dimaksud dengan mengasah mata batin dalam hal ini bukan latihan untuk meningkatkan frekuensi kejadian mimpi, tetapi juga bagaimana meningkatkan tingkat kesadaran kita bisa mencapai derajat yang lebih tinggi. Dan menyebabkan mata batin kita menjadi lebih sensitif.

Penglihatan mata batin ada persamaannya dengan mimpi, tidak bisa diidentikkan dengan mimpi biasa. Mimpi biasa (al-hilm) bisa dialami oleh semua orang tanpa dibedakan tingkat kesadaran spiritualnya. Mata batin yang tajam hanya mungkin dimiliki oleh orang yang betul-betul mencapai tingkat kedekatan khusus dengan Allah SWT, sepert yang dialami para Nabi dan para Wali (auliya'). Nabi pernah menjelaskan hal ini dengan mengatakan "Mimpi baik berasal dari Allah SWT dan mimpi buruk dari setan," kitab Bukhari.

Dalam kitab-kitab tasawuf, cerita tentang ketajaman mata batin sering ditemukan. Sebagai contoh suatu ketika Imam al Ghazali (1058 - 1111 M) ditanya muridnya, "Mengapa engkau sering mengutip hadis-hadis ahad (tidak populer) di dalam kitab 'Ihya 'Ulumuddin?".

Lalu ia menjawab,"Saya tidak pernah menulis satu hadis di dalam buku ini sebelum saya konfirmasikan pada Rasulullah SAW. Bila  diteliti selisih masanya, pernyataan al-Ghazali tak wajar, Rasulullah SAW wafat 632M dan al-Ghazali wafat 1111 M selisih 479 tahun. Kitab Ihya' 'Ulumuddin merupakan materpiece al-Ghazali yang ditulis di puncak menara Masjid Damaskus. Ini adalah berkat mimpi dari al-Ghazali.

Kejadian lain, Ibn al-Arabi (1165 - 1240 M), seorang sufi besar, ditanya seorang muridnya perihal bukunya, Fushush al-Hikam, yang dirasakan seperti ada misteri. Kata muridnya, "Setiap kali saya baca buku ini, setiap itu pula saya mendapatkan sesuatu yang baru." Lalu dijawab,"Buku itu memang pemberian Rasulullah, langsung kepada saya, bahkan judul bukunya pun dari Rasulullah (khudz, hadza kitab Fusush al-Hikam). Padahal selisih masa hidup Rasulullah dan ibn al Arabi terpaut 608 tahun.

Sumber : Republika, Jum'at 14 Desember 2012

11 komentar:

Arya Devi mengatakan...

saya beri G+ untuk sharing tulisan ini....membuat motivasi untuk beribadah semakin giat..

Ratnawati Utami mengatakan...

Terima kasih mas Arya

MUXLIMO mengatakan...

Ya, perjumpaan dengan Rasulullah memang SANGAT MUNGKIN.. sayang sekali banyak muslim kalangan tertentu yang mengatakan itu sesat atau bidah. :P

Ratnawati Utami mengatakan...

Pengalaman spiritual pasti berbeda-beda tiap orang.

Aku pernah cerita tentang seperti mendengar dari jauh Rasulullah SAW bersabda dikomentari temenku "kalo itu setan yang menyaru gimana". Padahal dia mengaku ketemu Wali Songo.

Semenjak itu aku lebih mudah hapal hadits, dan seperti menangis bila membaca hadits, sangat menyentuh hati. Gak kayak Mario T... (maaf), dengerin bentar kalimatnya, langsung ilang gak berbekas

Cantrik mengatakan...

Mario T**** tentu berbeda Mbak, meski dibungkus relijius sekalipun, acara motivasi tetap bersandar pada kemareman napsu.

Segala usaha hanya dikembalikan ke self-power bukan The God-Power. Pada titik batas tertentu, self-power akan berhadapan pada limitnya. Saat itulah kegagalan2 tak menemukan jawabannya dan berakhir pada kegelisahan.

Sebalik, keberhasilan2 akan ditanggapi sebagai kekuatan yg muncul dari potensi yg tersimpan dalam diri. Ini adalah ketakaburan.

Sebagai penutup, saya ucapkan banyak terima kasih Mbak, tulisannya amat sangat bagus.

daniel rami mengatakan...

tulisanx bagus bs menambah wawasan sy,thank's

chaerul amin mengatakan...

Nek mimpi melihat ka'bah apa tu artinya???

54M11DD mengatakan...

saya pernah setelah shollat malam mendengar suara sebarkan salam sampai tiga kali dan dalam dirimu siapakah dikau beliau pun menjawab aku Muhammad dan hati ku tersentuh dan air mataku bercucurkan.
wahai saudaraku sesama muslim tebarkan salam ke selauruh dunia ini

herman kamil mengatakan...

Uraian yang cukup menarik.

Bila ada waktu, silakan mengunjungi blog saya di:

http://wirid-al-quran.blogspot.com/

salaam

Budiy Ono mengatakan...

Ingin taubat

Anonim mengatakan...

Apakah bertanya mengenai permasalah rumah tangga kpd orang2 yang diberikan kelebihan oleh ALlah bs jd musyrik apa syirik