Jakarta - Anggota Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) Pusat Bidang Isi Siaran, Ezki Suyanto meminta kepada pihak Trans TV untuk merasionalisasikan program siaran "Indigo" Trans TV. Ezki menyarankan agar program "Indigo" Trans TV menggunakan pendamping untuk menjelaskan secara logis fenomena yang ada dalam acara tersebut.
"Indigo harus dibuat rasional dengan menggunakan pendamping yang bisa menjelaskan secara logis, jika ada mistik ya sebut saja acaranya mistik. Penggunaan illustrasi jika memang harus ada maka harus hati-hati, jangan sampai ilustrasi justru mengarahkan acara tersebut menjadi berbau mistik dan horor," ujar Ezki.
Dalam dialog antara komunitas indigo (Indigo Community) dengan Trans TV yang difasilitasi oleh KPI Rabu, 18 Januari 2012 di Kantor KPI Pusat, Dicky Zaenal Arifin dari Indigo Community menyampaikan bahwa sebelumnya ia terlibat dalam program siaran "Indigo" Trans TV dan menjadi co-pilot namun ujungnya program menjadi berbau mistik dan tidak ada penjelasan logis, kebanyakan yang sering ditampilkan adalah horornya, bukan dari sisi prestasi dari anak-anak Indigo.
"Musik dan suasananya dibuat horor, kami khawatir Indigo ter-branding menjadi sesuatu yang horor," ungkap Aditya dari Indigo Community. Awalnya, Aditya berharap program ini dapat mengangkat komunitas anak-anak dengan indigo sehingga masyarakat mengenal apakah indigo tersebut.
Dicky Zaenal menyarankan agar dalam penyajiannya harus ada unsur pendidikannya sekaligus menghibur. Menurut Dicky, yang harus diperhatikan juga adalah dampaknya kepada masyarakat, Dicky khawatir anak-anak dengan indigo yang menjadi sorotan masyarakat.
Di sisi lain, Satrio Arismunandar Produser Eksekutif Trans TV sejak awal Trans TV tidak memasukkan program ini ke dalam program mistik. Menurut Satrio, Trans TV sangat terbuka dengan berbagai masukan dan berharap juga ada bimbingan yang lebih jelas lagi tentang indigo.
Wakil Ketua KPI Pusat Nina Mutmainnah berharap ada perbaikan dari program "Indigo" Trans TV dan masukan dari Indigo Community agar diperhatikan oleh Trans TV sehingga masyarakat dapat gambaran yang tepat dan utuh terhadap Indigo.
Sumber dari sini
Kamis, 26 Januari 2012
Senin, 23 Januari 2012
Hati yang sehat, sakit dan mati
Sumber dari sini
Peran hati bagi seluruh anggota badan ibarat raja bagi seluruh prajuritnya. Semua bekerja berdasarkan perintahnya. Semua tunduk kepadanya. Karena perintah hatilah, istiqamah dan penyelewengan itu ada. Begitu pula dengan semangat untuk bekerja. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Ketahuilah, di dalam tubuh itu ada segumpal daging. Bila ia baik, maka baik pulalah seluruh tubuh. Dan apabila ia rusak, maka rusak pulalah seluruh tubuh. Ketahuilah itu adalah hati.” (HR. Bukhari-Muslim).
Macam-Macam Hati
Hati itu bisa hidup dan mati. Sehubungan dengan itu, hati dapat dikelompokkan menjadi:
1. Hati yang sehat
2. Hati yang mati
3. Hati yang sakit
Hati yang sehat adalah hati yang selamat. Barangsiapa─pada hari Kiamat nanti─menghadap Allah tanpa membawa hati yang sehat, maka ia akan celaka. Allah Ta’ala berfirman, “Adalah hari, yang mana harta dan anak-anak tidak bermanfaat, kecuali orang yang datang kepada Allah dengan hati yang selamat.” (QS. As-Syu’ara: 88-89).
Hati yang selamat didefinisikan sebagai hati yang terbebas dari setiap syahwat, keinginan yang bertentangan dengan perintah Allah, dan dari setiap syubhat (keraguan), ketidakjelasan yang menyeleweng dari kebenaran.
Hati yang mati adalah hati yang tidak mengenal siapa Rabb-nya. Ia tidak beribadah kepada-Nya, enggan menjalankan perintah-Nya, atau menghadirkan sesuatu yang dicintai dan diridhai-Nya. Hati seperti itu selalu berjalan bersama dengan hawa nafsu dan kenikmatan duniawi, walaupun itu dibenci dan dimurkai Allah. Ia tidak peduli kepada keridhaan dan kemurkaan Allah.
Hati yang sakit adalah hati yang hidup namun mengandung peyakit. Ia akan mengikuti unsur yang kuat. Kadang-kadang ia cenderung kepada “kehidupan”, dan kadang-kadang pula cenderung kepada “penyakit”. Padanya terdapat kecintaan, keimanan, keikhlasan, dan tawakkal kepada Allah, yang merupakan sumber kehidupan. Namun padanya pula ada kecintaan dan ketamakan terhadap syahwat, hasad, kibr (sombong), dan sifat ujub (tinggi hati), yang merupakan sumber bencana dan kehancurannya. Ia ada di antara dua penyeru; penyeru kepada Allah, rasul, hari Akhir, dan penyeru kepada kehidupan duniawi.
Indikasi Sakit dan Sehatnya Hati
Hati itu bisa sakit. Di antara tanda sakitnya hati adalah keengganan mengonsumsi “makanan” yang bermanfaat. Hati yang sehat selalu mengutamakan “makanan” yang bermanfaat daripada racun yang mematikan. Makanan yang terbaik adalah keimanan. Obat yang terbaik adalah Al-Qur’an.
Adapun tanda sehatnya hati adalah “kepergiannya” dari (kehidupan) duniawi menuju ukhrawi. Di dunia ini, ia ibarat orang asing yang mengambil kebutuhannya, lalu kembali kepada negerinya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berpesan kepada Abdullah bin Umar, “Di dunia ini, hendaknya kamu berlaku seperti orang asing, atau orang yang lewat.” (HR. Bukhari)
Empat Racun Hati
Perlu diketahui bahwa setiap kemaksiatan adalah racun bagi hati. Ia menjadi penyebab sakit dan kehancurannya. Yang dimaksud dengan empat racun hati adalah
1. Banyak bicara
2. Banyak makan
3. Banyak memandang
4. Banyak bergaul
Banyak Bicara
Abu Hurairah meriwayatkan, “Yang paling banyak menjerumuskan manusia kedalam neraka adalah dua lubang, mulut dan kemaluan.” (HR. At-Tirmidzi)
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari Akhir, hendaklah ia berkata yang baik atau diam.” (HR. Bukhari-Muslim)
Bencana lisan yang paling sedikit mudharat (dampak buruk)nya adalah berbicara tentang sesuatu yang tidak berfaedah (bermanfaat). Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Merupakan kebaikan keislaman seseorang, jika ia meninggalkan sesauatu yang tidak berfaedah baginya.” (HR. Tirmidzi, Ahmad)
Banyak Makan
Sedikit makan dapat melembutkan hati, menguatkan daya pikir, membuka diri, serta melemahkan hawa nafsu dan sifat marah. Sedangkan banyak makan akan mengakibatkan kebalikannya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Tidak ada bejana yang diisi oleh anak Adam yang lebih buruk daripada perutnya. Cukuplah bagi anak Adam beberapa suap untuk menegakkan tulang punggungnya. Jika tidak bisa, maka sepertiga dari perutnya diisi untuk makannya, sepertiga untuk minumnya, dan sepertiga untuk nafasnya.” (HR. Ahmad, Tirmidzi)
Berlebihan Dalam Bergaul
Dalam bergaul, ada baiknya kita mengklasifikasikan manusia menjadi empat. Ketidakmampuan kita membedakan masing-masing kelompok akan membawa bencana.
1. Kelompok yang apabila bergaul dengan mereka seperti mengonsumsi makanan yang bergizi. Ia dibutuhkan siang dan malam. Jika seseorang telah menyelesaikan keperluannya, ia ditinggal, dan jika diperlukan lagi, maka ia didatangi. Mereka adalah ulama, orang-orang yang setia kepada Allah, kitab-Nya, dan rasul-Nya. Bergaul dengan mereka adalah keuntungan yang nyata.
2. Kelompok yang apabila bergaul dengan mereka seperti mengonsumsi obat. Ia dibutuhkan dikala sakit. Selama Anda sehat, Anda tidak memerlukan pergaulan dengan mereka. Mereka adalah professional dalam urusan muamalat, bisnis, dan semisalnya.
3. Kelompok yang bergaul dengan mereka berarti mengonsumsi penyakit. Mereka adalah orang-orang yang tidak membawa keuntungan, dunia ataupun akhirat.
4. Kelompok yang bergaul dengan mereka adalah kebinasaan total. Mereka ibarat racun. Mereka adalah ahli kesesatan, penghalang dari sunnah Rasulullah. Seorang yang berakal tidaklah pantas bergaul dan berteman dengan mereka. Kalaupun itu dilakukan, niscaya hatinya akan mati, bahkan mati.
Banyak Memandang
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Pandangan itu adalah panah beracun iblis. Barangsiapa menundukkan pandangannya karena Allah, Dia akan memberikan kepadanya kenikmatan dalam hatinya yang akan ia rasakan sampai bertemu dengan-Nya.” (HR. At-Thabrani, Al-Hakim, Ahmad)
Al-Baihaqy menjelaskan bahwa maksudnya adalah pandangan yang jatuh kepada wanita (bukan mahram-red) yang tidak sengaja (dilihat-red) kemudian ia berpaling dalam rangka wara’ (menjauh dari hal-hal yang meragukan)
Masuknya setan ketika seseorang memandang melebihi kecepatan aliran udara ke ruang hampa. Setan akan menjadikan wujud yang dipandang seakan-akan indah, menjadikannya sebagai berhala tautan hati, kemudian mengobral janji dan angan-angan. Lalu setan akan menyalakan api syahwat, dan ia lemparkan kayu bakat maksiat.
Barangsiapa yang membiarkan pandangannya bebas lepas, berarti memasukkan kegelapan ke dalam hati. Sebagaimana menundukkan pandangan karena Allah Ta’ala berarti memasukkan cahaya ke dalamnya. Bila hati telah bersinar, berbagai amal kebaikan akan berdatangan dari berbagai penjuru untuk dilaksanakan. Sebagaimana ia gelap, berbagai bencana dan keburukan pun akan berdatangan dari berbagai tempat.
Daftar Pustaka
Al-Hambali, ibnu Rajab, Ibnu Qayyim Al-Jauziyah, Imam Al-Ghazali. 2004. Tazkiyatun Nafs terjemahan: Imtihan Asy-Syafi’i. Pustaka Arafah: Solo
Diambil dari Buletin An-Nafs
Peran hati bagi seluruh anggota badan ibarat raja bagi seluruh prajuritnya. Semua bekerja berdasarkan perintahnya. Semua tunduk kepadanya. Karena perintah hatilah, istiqamah dan penyelewengan itu ada. Begitu pula dengan semangat untuk bekerja. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Ketahuilah, di dalam tubuh itu ada segumpal daging. Bila ia baik, maka baik pulalah seluruh tubuh. Dan apabila ia rusak, maka rusak pulalah seluruh tubuh. Ketahuilah itu adalah hati.” (HR. Bukhari-Muslim).
Macam-Macam Hati
Hati itu bisa hidup dan mati. Sehubungan dengan itu, hati dapat dikelompokkan menjadi:
1. Hati yang sehat
2. Hati yang mati
3. Hati yang sakit
Hati yang sehat adalah hati yang selamat. Barangsiapa─pada hari Kiamat nanti─menghadap Allah tanpa membawa hati yang sehat, maka ia akan celaka. Allah Ta’ala berfirman, “Adalah hari, yang mana harta dan anak-anak tidak bermanfaat, kecuali orang yang datang kepada Allah dengan hati yang selamat.” (QS. As-Syu’ara: 88-89).
Hati yang selamat didefinisikan sebagai hati yang terbebas dari setiap syahwat, keinginan yang bertentangan dengan perintah Allah, dan dari setiap syubhat (keraguan), ketidakjelasan yang menyeleweng dari kebenaran.
Hati yang mati adalah hati yang tidak mengenal siapa Rabb-nya. Ia tidak beribadah kepada-Nya, enggan menjalankan perintah-Nya, atau menghadirkan sesuatu yang dicintai dan diridhai-Nya. Hati seperti itu selalu berjalan bersama dengan hawa nafsu dan kenikmatan duniawi, walaupun itu dibenci dan dimurkai Allah. Ia tidak peduli kepada keridhaan dan kemurkaan Allah.
Hati yang sakit adalah hati yang hidup namun mengandung peyakit. Ia akan mengikuti unsur yang kuat. Kadang-kadang ia cenderung kepada “kehidupan”, dan kadang-kadang pula cenderung kepada “penyakit”. Padanya terdapat kecintaan, keimanan, keikhlasan, dan tawakkal kepada Allah, yang merupakan sumber kehidupan. Namun padanya pula ada kecintaan dan ketamakan terhadap syahwat, hasad, kibr (sombong), dan sifat ujub (tinggi hati), yang merupakan sumber bencana dan kehancurannya. Ia ada di antara dua penyeru; penyeru kepada Allah, rasul, hari Akhir, dan penyeru kepada kehidupan duniawi.
Indikasi Sakit dan Sehatnya Hati
Hati itu bisa sakit. Di antara tanda sakitnya hati adalah keengganan mengonsumsi “makanan” yang bermanfaat. Hati yang sehat selalu mengutamakan “makanan” yang bermanfaat daripada racun yang mematikan. Makanan yang terbaik adalah keimanan. Obat yang terbaik adalah Al-Qur’an.
Adapun tanda sehatnya hati adalah “kepergiannya” dari (kehidupan) duniawi menuju ukhrawi. Di dunia ini, ia ibarat orang asing yang mengambil kebutuhannya, lalu kembali kepada negerinya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berpesan kepada Abdullah bin Umar, “Di dunia ini, hendaknya kamu berlaku seperti orang asing, atau orang yang lewat.” (HR. Bukhari)
Empat Racun Hati
Perlu diketahui bahwa setiap kemaksiatan adalah racun bagi hati. Ia menjadi penyebab sakit dan kehancurannya. Yang dimaksud dengan empat racun hati adalah
1. Banyak bicara
2. Banyak makan
3. Banyak memandang
4. Banyak bergaul
Banyak Bicara
Abu Hurairah meriwayatkan, “Yang paling banyak menjerumuskan manusia kedalam neraka adalah dua lubang, mulut dan kemaluan.” (HR. At-Tirmidzi)
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari Akhir, hendaklah ia berkata yang baik atau diam.” (HR. Bukhari-Muslim)
Bencana lisan yang paling sedikit mudharat (dampak buruk)nya adalah berbicara tentang sesuatu yang tidak berfaedah (bermanfaat). Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Merupakan kebaikan keislaman seseorang, jika ia meninggalkan sesauatu yang tidak berfaedah baginya.” (HR. Tirmidzi, Ahmad)
Banyak Makan
Sedikit makan dapat melembutkan hati, menguatkan daya pikir, membuka diri, serta melemahkan hawa nafsu dan sifat marah. Sedangkan banyak makan akan mengakibatkan kebalikannya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Tidak ada bejana yang diisi oleh anak Adam yang lebih buruk daripada perutnya. Cukuplah bagi anak Adam beberapa suap untuk menegakkan tulang punggungnya. Jika tidak bisa, maka sepertiga dari perutnya diisi untuk makannya, sepertiga untuk minumnya, dan sepertiga untuk nafasnya.” (HR. Ahmad, Tirmidzi)
Berlebihan Dalam Bergaul
Dalam bergaul, ada baiknya kita mengklasifikasikan manusia menjadi empat. Ketidakmampuan kita membedakan masing-masing kelompok akan membawa bencana.
1. Kelompok yang apabila bergaul dengan mereka seperti mengonsumsi makanan yang bergizi. Ia dibutuhkan siang dan malam. Jika seseorang telah menyelesaikan keperluannya, ia ditinggal, dan jika diperlukan lagi, maka ia didatangi. Mereka adalah ulama, orang-orang yang setia kepada Allah, kitab-Nya, dan rasul-Nya. Bergaul dengan mereka adalah keuntungan yang nyata.
2. Kelompok yang apabila bergaul dengan mereka seperti mengonsumsi obat. Ia dibutuhkan dikala sakit. Selama Anda sehat, Anda tidak memerlukan pergaulan dengan mereka. Mereka adalah professional dalam urusan muamalat, bisnis, dan semisalnya.
3. Kelompok yang bergaul dengan mereka berarti mengonsumsi penyakit. Mereka adalah orang-orang yang tidak membawa keuntungan, dunia ataupun akhirat.
4. Kelompok yang bergaul dengan mereka adalah kebinasaan total. Mereka ibarat racun. Mereka adalah ahli kesesatan, penghalang dari sunnah Rasulullah. Seorang yang berakal tidaklah pantas bergaul dan berteman dengan mereka. Kalaupun itu dilakukan, niscaya hatinya akan mati, bahkan mati.
Banyak Memandang
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Pandangan itu adalah panah beracun iblis. Barangsiapa menundukkan pandangannya karena Allah, Dia akan memberikan kepadanya kenikmatan dalam hatinya yang akan ia rasakan sampai bertemu dengan-Nya.” (HR. At-Thabrani, Al-Hakim, Ahmad)
Al-Baihaqy menjelaskan bahwa maksudnya adalah pandangan yang jatuh kepada wanita (bukan mahram-red) yang tidak sengaja (dilihat-red) kemudian ia berpaling dalam rangka wara’ (menjauh dari hal-hal yang meragukan)
Masuknya setan ketika seseorang memandang melebihi kecepatan aliran udara ke ruang hampa. Setan akan menjadikan wujud yang dipandang seakan-akan indah, menjadikannya sebagai berhala tautan hati, kemudian mengobral janji dan angan-angan. Lalu setan akan menyalakan api syahwat, dan ia lemparkan kayu bakat maksiat.
Barangsiapa yang membiarkan pandangannya bebas lepas, berarti memasukkan kegelapan ke dalam hati. Sebagaimana menundukkan pandangan karena Allah Ta’ala berarti memasukkan cahaya ke dalamnya. Bila hati telah bersinar, berbagai amal kebaikan akan berdatangan dari berbagai penjuru untuk dilaksanakan. Sebagaimana ia gelap, berbagai bencana dan keburukan pun akan berdatangan dari berbagai tempat.
Daftar Pustaka
Al-Hambali, ibnu Rajab, Ibnu Qayyim Al-Jauziyah, Imam Al-Ghazali. 2004. Tazkiyatun Nafs terjemahan: Imtihan Asy-Syafi’i. Pustaka Arafah: Solo
Diambil dari Buletin An-Nafs
Sabtu, 21 Januari 2012
Ciri-ciri manusia dikuasai jin
Sumber dari Muxlimo's Lair
Adalah sebuah keniscayaan jika manusia sering tidak sadar telah berada dalam perangkap setan. Soalnya, kita tidak bisa melihat mereka, sedangkan mereka asyik ajojing di depan kita.
Dalam salah satu bukunya, Muhyiddin Ibnu Arabi menyatakan beberapa ciri manusia yang dikuasai jin fasik (setan).
Mereka ialah orang-orang yang seperti ini:
Tidak menerima eksistensi jin alias tidak percaya jin itu ada.
Meskipun mereka mengatakan bahwa inilah yang mereka yakini dengan alasan bahwa orang-orang telah bodoh menerima konsep jin sebagai ide yang dipaksakan agama. Padahal justru jin mengajari mereka mengingkari adanya jin. Itu agar orang yang dikuasainya tidak menyadari penyimpangan pola pikirnya. Permainan logika di sini:
"Kalau Jin itu tidak ada, buat apa dilawan. Karena Jin itu tidak ada, bisikan-bisikan yang kudengar dari dalam diriku pasti bukan dari Jin, makhluk laknat itu."
Tidak menyadari; tidak merasa sedang berhubungan secara intens dengan jin.
Biasanya ini terjadi pada orang-orang yang merasa telah mengalami "pengamalan spiritual". Mereka selalu beranggapan bahwa segala pengalaman luar biasa yang mereka miliki adalah hasil dari berbagai keunggulan mereka sendiri.
Merasa sebagai "orang pilihan", hehehehehe…
Hanya karena alasan inilah sehingga semua orang yang menjalin hubungan dengan jin-jin tidak pernah menerima keberadaan (eksistensi) makhluk jin.
Lalu dengan cara apa para setan berupaya menguasai manusia?
Cara paling rendah yang ditempuh bangsa jin adalah dengan mengupayakan “mukjizat-mukjizat” sambil menyamar sebagai sosok-sosok agung masa lalu (wali anu, haji anu, syaikh anu, atau eyang sepuh leluhur seseorang.)
Dengan cara ini, mereka (para setan) berpura-pura memberikan beberapa bimbingan dan arahan sebagai solusi atas masalah atau misteri tentang masa depan yang didasarkan pada kalkulasi-kalkulasi (perhitungan) yang mungkin alias masuk akal.
Mengapa para setan melakukan itu?
Di mana saja Anda bertemu dengan seseorang yang berupaya menjauhkan Anda dari pengetahuan tentang ke-ESA-an (Tauhid) dan Takdir, maka dapat dipastikan bahwa orang tersebut telah diintervensi oleh setan.
Alasan utama para setan berusaha menjauhkan manusia dari dua ajaran pokok tersebut adalah karena kedua ajaran pokok itulah yang merupakan benteng kuat yang menyelamatkan manusia dari bayangan tuhan-tuhan ilusi sehingga cepat atau lambat manusia akan mampu menyadari akan Tuhan yang sebenarnya. Jadi, sebenarnya setiap manusia berpotensi besar untuk menjadi pemilik tauhid sejati.
Setan menghalangi manusia mengakses energi spiritual paling ultimat, yaitu menjadi wakil Tuhan di bumi yang menebarkan rahmat bagi seluruh alam.
وَلَقَدْ عَلِمَتِ الْجِنَّةُ إِنَّهُمْ لَمُحْضَرُونَ
Dan sesungguhnya jin mengetahui bahwa mereka benar-benar akan diseret (ke neraka). (Ash-Shaffaat:158)
وَمَا كَانَ لَهُ عَلَيْهِم مِّن سُلْطَانٍ إِلَّا لِنَعْلَمَ مَن يُؤْمِنُ بِالْآخِرَةِ مِمَّنْ هُوَ مِنْهَا فِي شَكٍّ وَرَبُّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ حَفِيظٌ
Dan tidak adalah kekuasaan iblis terhadap mereka, melainkan hanyalah agar Kami dapat membedakan siapa yang beriman kepada adanya kehidupan akhirat dari siapa yang ragu-ragu tentang itu. Dan Tuhanmu Maha Memelihara segala sesuatu. (Saba:21)
Jin amat takut manusia memahami tauhid karena itu orang-orang tauhid paling sulit digoyahkan akidahnya dari sisi akal maupun keimanan. Dan ini berarti semakin sedikit golongan manusia yang akan menemani mereka di neraka.
Wew… attuuutt… ogah banget deh!
Siasat setan kelas “jenderal” terhadap para muslim:
Seorang pemimpin spiritual palsu biasanya menunjukkan bahwa dirinya paham benar ajaran Islam (terlepas apakah dia itu mengaku muslim atau terang-terangan mengaku bukan muslim yang simpatik).
Awalnya, mereka menganjurkan khalayak untuk mendirikan salat lima waktu, bersedekah, berbakti pada orang tua, menyantuni orang miskin, dan lain-lain.
Lalu, mengait-kaitkan Islam dengan konsep-konsep "luhur" kemanusiaan yang tidak bersumber dari Islam, seperti pluralisme, humanisme, feminisme, liberalisme, dll. Ini dengan tujuan menunjukkan ilmu sang guru itu trendi, aktual, sesuai dengan tuntutan zaman. (orang kampungan selalu menganggap Quran itu ketinggalan zaman)
وَقَيَّضْنَا لَهُمْ قُرَنَاء فَزَيَّنُوا لَهُم مَّا بَيْنَ أَيْدِيهِمْ
Dan Kami tetapkan bagi mereka teman-teman yang menjadikan mereka memandang bagus apa yang ada di hadapan dan di belakang mereka (Fushshilat:25)
Ujung-ujungnya, perlahan tapi pasti mereka menghubungkan pengetahuan “rahasia” Islam yang "disesuaikan" dengan konsep kebenaran universal (semua agama sama), konsep reinkarnasi, dan konsep Wahdat al-Wujud palsu (kesatuan eksistensi) yang sebenarnya lebih menyerupai konsep pantheisme; sebuah konsep yang tidak ada hubungannya kesatuan eksistensi! Dengan melakukan ini, guru palsu membuat pengikutnya percaya bahwa mereka sendiri adalah “Allah.”
Nauzubillah!!!
(Disarikan dari International Best Seller karya Ahmed Hulusi, UFO: RUH, MANUSIA, ATAU JIN? endekatan Agama dan Saintifik atas Jin dan Fenomena Alien,
PT Bina Ilmu, 2007)
Adalah sebuah keniscayaan jika manusia sering tidak sadar telah berada dalam perangkap setan. Soalnya, kita tidak bisa melihat mereka, sedangkan mereka asyik ajojing di depan kita.
Dalam salah satu bukunya, Muhyiddin Ibnu Arabi menyatakan beberapa ciri manusia yang dikuasai jin fasik (setan).
Mereka ialah orang-orang yang seperti ini:
Tidak menerima eksistensi jin alias tidak percaya jin itu ada.
Meskipun mereka mengatakan bahwa inilah yang mereka yakini dengan alasan bahwa orang-orang telah bodoh menerima konsep jin sebagai ide yang dipaksakan agama. Padahal justru jin mengajari mereka mengingkari adanya jin. Itu agar orang yang dikuasainya tidak menyadari penyimpangan pola pikirnya. Permainan logika di sini:
"Kalau Jin itu tidak ada, buat apa dilawan. Karena Jin itu tidak ada, bisikan-bisikan yang kudengar dari dalam diriku pasti bukan dari Jin, makhluk laknat itu."
Tidak menyadari; tidak merasa sedang berhubungan secara intens dengan jin.
Biasanya ini terjadi pada orang-orang yang merasa telah mengalami "pengamalan spiritual". Mereka selalu beranggapan bahwa segala pengalaman luar biasa yang mereka miliki adalah hasil dari berbagai keunggulan mereka sendiri.
Merasa sebagai "orang pilihan", hehehehehe…
Hanya karena alasan inilah sehingga semua orang yang menjalin hubungan dengan jin-jin tidak pernah menerima keberadaan (eksistensi) makhluk jin.
Lalu dengan cara apa para setan berupaya menguasai manusia?
Cara paling rendah yang ditempuh bangsa jin adalah dengan mengupayakan “mukjizat-mukjizat” sambil menyamar sebagai sosok-sosok agung masa lalu (wali anu, haji anu, syaikh anu, atau eyang sepuh leluhur seseorang.)
Dengan cara ini, mereka (para setan) berpura-pura memberikan beberapa bimbingan dan arahan sebagai solusi atas masalah atau misteri tentang masa depan yang didasarkan pada kalkulasi-kalkulasi (perhitungan) yang mungkin alias masuk akal.
Mengapa para setan melakukan itu?
Di mana saja Anda bertemu dengan seseorang yang berupaya menjauhkan Anda dari pengetahuan tentang ke-ESA-an (Tauhid) dan Takdir, maka dapat dipastikan bahwa orang tersebut telah diintervensi oleh setan.
Alasan utama para setan berusaha menjauhkan manusia dari dua ajaran pokok tersebut adalah karena kedua ajaran pokok itulah yang merupakan benteng kuat yang menyelamatkan manusia dari bayangan tuhan-tuhan ilusi sehingga cepat atau lambat manusia akan mampu menyadari akan Tuhan yang sebenarnya. Jadi, sebenarnya setiap manusia berpotensi besar untuk menjadi pemilik tauhid sejati.
Setan menghalangi manusia mengakses energi spiritual paling ultimat, yaitu menjadi wakil Tuhan di bumi yang menebarkan rahmat bagi seluruh alam.
وَلَقَدْ عَلِمَتِ الْجِنَّةُ إِنَّهُمْ لَمُحْضَرُونَ
Dan sesungguhnya jin mengetahui bahwa mereka benar-benar akan diseret (ke neraka). (Ash-Shaffaat:158)
وَمَا كَانَ لَهُ عَلَيْهِم مِّن سُلْطَانٍ إِلَّا لِنَعْلَمَ مَن يُؤْمِنُ بِالْآخِرَةِ مِمَّنْ هُوَ مِنْهَا فِي شَكٍّ وَرَبُّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ حَفِيظٌ
Dan tidak adalah kekuasaan iblis terhadap mereka, melainkan hanyalah agar Kami dapat membedakan siapa yang beriman kepada adanya kehidupan akhirat dari siapa yang ragu-ragu tentang itu. Dan Tuhanmu Maha Memelihara segala sesuatu. (Saba:21)
Jin amat takut manusia memahami tauhid karena itu orang-orang tauhid paling sulit digoyahkan akidahnya dari sisi akal maupun keimanan. Dan ini berarti semakin sedikit golongan manusia yang akan menemani mereka di neraka.
Wew… attuuutt… ogah banget deh!
Siasat setan kelas “jenderal” terhadap para muslim:
Seorang pemimpin spiritual palsu biasanya menunjukkan bahwa dirinya paham benar ajaran Islam (terlepas apakah dia itu mengaku muslim atau terang-terangan mengaku bukan muslim yang simpatik).
Awalnya, mereka menganjurkan khalayak untuk mendirikan salat lima waktu, bersedekah, berbakti pada orang tua, menyantuni orang miskin, dan lain-lain.
Lalu, mengait-kaitkan Islam dengan konsep-konsep "luhur" kemanusiaan yang tidak bersumber dari Islam, seperti pluralisme, humanisme, feminisme, liberalisme, dll. Ini dengan tujuan menunjukkan ilmu sang guru itu trendi, aktual, sesuai dengan tuntutan zaman. (orang kampungan selalu menganggap Quran itu ketinggalan zaman)
وَقَيَّضْنَا لَهُمْ قُرَنَاء فَزَيَّنُوا لَهُم مَّا بَيْنَ أَيْدِيهِمْ
Dan Kami tetapkan bagi mereka teman-teman yang menjadikan mereka memandang bagus apa yang ada di hadapan dan di belakang mereka (Fushshilat:25)
Ujung-ujungnya, perlahan tapi pasti mereka menghubungkan pengetahuan “rahasia” Islam yang "disesuaikan" dengan konsep kebenaran universal (semua agama sama), konsep reinkarnasi, dan konsep Wahdat al-Wujud palsu (kesatuan eksistensi) yang sebenarnya lebih menyerupai konsep pantheisme; sebuah konsep yang tidak ada hubungannya kesatuan eksistensi! Dengan melakukan ini, guru palsu membuat pengikutnya percaya bahwa mereka sendiri adalah “Allah.”
Nauzubillah!!!
(Disarikan dari International Best Seller karya Ahmed Hulusi, UFO: RUH, MANUSIA, ATAU JIN? endekatan Agama dan Saintifik atas Jin dan Fenomena Alien,
PT Bina Ilmu, 2007)
Minggu, 15 Januari 2012
Bangga sebagai muslim
Sumber : Republika Online
Kita hidup pada zaman ketika Islam tidak dalam masa keemasannya atau katakanlah kita hidup pada masa 'kekalahan' dari sisi materi dan ilmu pengetahuan dibanding agama lain. Ada teori sosial berlaku pada semua zaman, yakni yang kalah cenderung mencontoh kepada yang menang.
Tanpa ada tambahan tuduhan pun, bangsa yang bermental kalah atau merasa hina di hadapan pemenang, maka ia sudah menghakimi dirinya sendiri dengan sederet tuduhan negatif.
Eropa dan Amerika yang menjadi negara adikuasa saat ini berkiblat pada sistem hidup materialisme kapitalis, maka bangsa-bangsa kalah dengan serta-merta mencontoh gaya hidup pemenang. Namun, seiring dengan peredaran zaman suatu hari nanti, teori kebenaran akan terbukti bahwa yang benar akan muncul dan gemilang, sementara yang batil akan hancur dan terlempar dari roda zaman.
Ketika menerima kunci Baitul Maqdis, Umar bin Khattab, sang pemimpin dua pertiga dunia ini, pernah berkata, "Kami adalah kaum yang telah dimuliakan Allah dengan al-Islam, jika kami menghendaki kemuliaan dari selain Islam maka Allah akan hinakan kami."
Ungkapan seorang amirulmukminin ini tentu berdasarkan pemahaman dan kesadaran yang benar terhadap Islam. Lebih dari itu, beliau sudah merasakan betul keunggulan sistem hidup Islam yang diterapkannya itu. Allah SWT berfirman, "Sesungguhnya, agama (yang diridai) di sisi Allah hanyalah Islam." (QS Ali Imran [3]: 19).
Untuk mengembalikan kebanggaan umat Islam terhadap Islamnya, ada sebuah ungkapan bijak yang patut direnungkan, "Jangan perlihatkan keindahan alam pada orang buta, jangan perdengarkan mutiara-mutiara nasihat pada orang tuli. Sembuhkan mata dan telinga mereka, maka mereka akan merasakan keindahan Islam dengan matanya dan keistimewaan pesan Islam dengan telinganya."
Karena, bukan mata ini yang buta, tetapi mata yang dalam hati itulah yang buta. Caranya adalah dengan membacakan ayat-ayat Allah di telinga umat Islam dan memperlihatkan kebesaran ayat-ayat Allah di matanya, berdakwahlah dengan mengajak umat ini kepada Allah tiada henti, hal-hal itulah yang akan membuka mata hati umat ini.
Kita hidup pada zaman ketika Islam tidak dalam masa keemasannya atau katakanlah kita hidup pada masa 'kekalahan' dari sisi materi dan ilmu pengetahuan dibanding agama lain. Ada teori sosial berlaku pada semua zaman, yakni yang kalah cenderung mencontoh kepada yang menang.
Tanpa ada tambahan tuduhan pun, bangsa yang bermental kalah atau merasa hina di hadapan pemenang, maka ia sudah menghakimi dirinya sendiri dengan sederet tuduhan negatif.
Eropa dan Amerika yang menjadi negara adikuasa saat ini berkiblat pada sistem hidup materialisme kapitalis, maka bangsa-bangsa kalah dengan serta-merta mencontoh gaya hidup pemenang. Namun, seiring dengan peredaran zaman suatu hari nanti, teori kebenaran akan terbukti bahwa yang benar akan muncul dan gemilang, sementara yang batil akan hancur dan terlempar dari roda zaman.
Ketika menerima kunci Baitul Maqdis, Umar bin Khattab, sang pemimpin dua pertiga dunia ini, pernah berkata, "Kami adalah kaum yang telah dimuliakan Allah dengan al-Islam, jika kami menghendaki kemuliaan dari selain Islam maka Allah akan hinakan kami."
Ungkapan seorang amirulmukminin ini tentu berdasarkan pemahaman dan kesadaran yang benar terhadap Islam. Lebih dari itu, beliau sudah merasakan betul keunggulan sistem hidup Islam yang diterapkannya itu. Allah SWT berfirman, "Sesungguhnya, agama (yang diridai) di sisi Allah hanyalah Islam." (QS Ali Imran [3]: 19).
Untuk mengembalikan kebanggaan umat Islam terhadap Islamnya, ada sebuah ungkapan bijak yang patut direnungkan, "Jangan perlihatkan keindahan alam pada orang buta, jangan perdengarkan mutiara-mutiara nasihat pada orang tuli. Sembuhkan mata dan telinga mereka, maka mereka akan merasakan keindahan Islam dengan matanya dan keistimewaan pesan Islam dengan telinganya."
Karena, bukan mata ini yang buta, tetapi mata yang dalam hati itulah yang buta. Caranya adalah dengan membacakan ayat-ayat Allah di telinga umat Islam dan memperlihatkan kebesaran ayat-ayat Allah di matanya, berdakwahlah dengan mengajak umat ini kepada Allah tiada henti, hal-hal itulah yang akan membuka mata hati umat ini.
Sabtu, 14 Januari 2012
Membiasakan diri membawa kabar gembira untuk orang sekitar termasuk dari kesempurnaan Iman
Sumber : Republika Online
Oleh Nashih Nashrullah
Ka'ab bin Malik ra, salah seorang sahabat yang dikenal piawai merangkai syair dan berdebat itu, pernah mendapat hukuman berupa pengasingan. Ia dikucilkan oleh seluruh warga Madinah selama 40 hari. Sanksi itu ia peroleh lantaran pengakuannya yang jujur kepada Rasulullah, bahwa ia tidak ikut pergi berperang saat peristiwa Tabuk terjadi.
Ketidakikutsertaannya itu bukan atas sebab yang diperbolehkan oleh syariat, selama perang berkecamuk, ia tidak melakukan aktivitas apa pun, selain berdirim diri di rumah. "Ketika aku duduk seperti yang telah disebutkan Allah, jiwaku terasa sempit dan bumi yang kupijak seakan tidak kukenali," ucapnya dalam sebuah riwayat. Hukuman yang ia jalani, dirasakannya berat, ia pun bersungguh-sungguh menuju pertaubatan.
Di suatu fajar, betapa gembiranya sosok yang berasal dari suku Khazraj itu. Ia mendengar berita gembira, meski samar. Suara itu ia dengar dari ketinggian bukit Sala' yang menyuruhnya bergembira, bahwa Rasulullah telah memberitahukan pertaubatannya telah diterima oleh Allah. Kurang yakin pada informasi tersebut, ia pun lantas bergegas menghadap Rasulullah dengan segala keterbatasan. Bahkan dikisahkan, ia sempat meminjam dua helai pakaian kala itu.
Sepanjang perjalanan, orang-orang menemuinya secara berkelompok. Mereka mengucapkan selamat atas diterimanya taubat. Sesampainya di Masjid Nabawi, ia mendapati Rasulullah sedang duduk dikelilingi sahabat lainnya. Thalhah bin Ubaidillah berdiri lalu menyalaminya sembari memberikan ucapan selamat. Rasulullah menyerukan ke Ka'ab agar bergembira di hari yang paling baik tersebut. "Bukan dariku, melainkan dari Allah," titah Rasulullah dengan menampakkan wajah yang berseri-seri.
Kabar gembira serupa, meski dalam konteks dan kasus berbeda, juga diterima oleh orang-orang terdekat Rasulullah. Kabar gembira pernah diterima oleh Khadijah, berupa rumah di surga yang terbuat dari mutiara. Istri termuda Rasulullah, Aisyah, memperoleh berita gembira saat Allah SWT membebaskannya dari hadits al ifki, fitnah tentang perselingkuhan yang pernah dituduhkan padanya, padahal tudingan itu sama sekali tidak benar. Selain mereka berdua, sahabat Abu Bakar, Ali bin Abi Thalib, dan Bilal bin Rabah, pernah mendapat kehormatan dengan berita-berita gembira dari Rasulullah.
Bisyarah, atau kabar gembira sesuai dengan arti harfiahnya. Dalam Mu'jam Maqayis al-Lughah, Ibnu Faris menyebutkan arti kata itu bermakna terlihatnya sesuatu dengan indah. Bisa pula berarti member kabar gembira. Hal yang sama juga ditekankan oleh ar-Razi, secara umum, arti kata bisyarah digunakan untuk kabar baik. Jika kata tersebut dimaksudkan untuk keburukan dalam sebuah ayat, biasanya akan selalu disertai dengan keterangan tertentu, misal, ayat ke-21 surah Ali Imran.
Dalam Ensiklopedia Akhlak Muhammad, Mahmud al-Mishri menjelaskan, membiasakan diri untuk membawa kabar gembira untuk orang sekitar termasuk dari kesempurnaan iman. Menyebarkan berita gembira tersebut di antara amal baik yang mendatangkan kebahagiaan kepada Muslim lainnya. Dalam sebuah riwayat oleh Thabrani, dijelaskan bahwa manusia yang paling disukai allah adalah manusia yang paling bermanfaat dan amal yang paling disukai Allah adalah kamu mendatangkan kebahagiaan kepada Muslim.
Dalam Islam, anjuran menyampaikan kabar gembira tersebut sangat ditekankan. Berbagi kabar gembira kepada orang lain-sekalipun dalam praktiknya, sering kali penerimaan orang berbeda- memiliki manfaat yang banyak. Berbagi berita gembira mampu melapangkan dada dan membahagiakan hati, selain pula dapat menjadi ciri iman dan keislaman yang baik, memperkuat tali silaturahim antara pemberi dan penerima kabar, serta dapat mendatangkan ketenangan dan meningkatkan kualitas spiritual.
Anjuran menyampaikan berita gembira tersebut tersurat dari amar-amar, atau perintah yang banyak termaktub berulang-ulang, baik dalam Alquran ataupun hadis. Banyak ayat Alquran yang berisi bisyarah yang ditujukan kepada hamba-hambanya. Salah satunya ialah ayat berikut: "Dan orang-orang yang menjauhi thaghut (yaitu) tidak menyembah-nya dan kembali kepada Allah, bagi mereka berita gembira; sebab itu sampaikanlah berita itu kepada hamba- hamba-Ku." (QS. Az-Zumar [39] : 17).
Tidak hanya Alquran, hadis-hadis pun tak sedikit memuat kabar gembira untuk umat. Di antaranya, kabar gembira yang tertera dalam hadis riwayat Abu Dawud dan Turmudzi. Dalam hadis tersebut Rasulullah meminta agar memberikan kabar gembira akan cahaya yang sempurna di hari kiamat kepada orang-orang yang berjalan dalam kegelapan menuju masjid.
Akhlak para nabi
Memberi kabar gembira adalah bagian dari sifat para nabi dan rasul. Allah mengutus mereka sebagai penyampai risalah sekaligus berita gembira tentang nikmat bila mereka menjawab ajakan tersebut. Allah SWT berfirman: "Mereka Kami utus selaku rasul-rasul pembawa berita gembira dan pemberi peringatan agar supaya tidak ada alasan bagi manusia membantah Allah sesudah diutusnya rasul-rasul itu. Dan adalah Allah Mahaperkasa lagi Mahabijaksana." (QS an-Nisaa' [4] : 165).
Aktivitas berbagi bisyarah juga termasuk unsur tak terpisahkan dari akhlak Rasulullah SAW. Allah mengutusnya dengan kebenaran dan ditunjuk sebagai pembawa berita gembira. "Dan, Kami tidak mengutus kamu, melainkan kepada umat manusia seluruhnya sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan, tetapi kebanyakan manusia tiada mengetahui." (QS Saba' [34] : 28).
Oleh Nashih Nashrullah
Ka'ab bin Malik ra, salah seorang sahabat yang dikenal piawai merangkai syair dan berdebat itu, pernah mendapat hukuman berupa pengasingan. Ia dikucilkan oleh seluruh warga Madinah selama 40 hari. Sanksi itu ia peroleh lantaran pengakuannya yang jujur kepada Rasulullah, bahwa ia tidak ikut pergi berperang saat peristiwa Tabuk terjadi.
Ketidakikutsertaannya itu bukan atas sebab yang diperbolehkan oleh syariat, selama perang berkecamuk, ia tidak melakukan aktivitas apa pun, selain berdirim diri di rumah. "Ketika aku duduk seperti yang telah disebutkan Allah, jiwaku terasa sempit dan bumi yang kupijak seakan tidak kukenali," ucapnya dalam sebuah riwayat. Hukuman yang ia jalani, dirasakannya berat, ia pun bersungguh-sungguh menuju pertaubatan.
Di suatu fajar, betapa gembiranya sosok yang berasal dari suku Khazraj itu. Ia mendengar berita gembira, meski samar. Suara itu ia dengar dari ketinggian bukit Sala' yang menyuruhnya bergembira, bahwa Rasulullah telah memberitahukan pertaubatannya telah diterima oleh Allah. Kurang yakin pada informasi tersebut, ia pun lantas bergegas menghadap Rasulullah dengan segala keterbatasan. Bahkan dikisahkan, ia sempat meminjam dua helai pakaian kala itu.
Sepanjang perjalanan, orang-orang menemuinya secara berkelompok. Mereka mengucapkan selamat atas diterimanya taubat. Sesampainya di Masjid Nabawi, ia mendapati Rasulullah sedang duduk dikelilingi sahabat lainnya. Thalhah bin Ubaidillah berdiri lalu menyalaminya sembari memberikan ucapan selamat. Rasulullah menyerukan ke Ka'ab agar bergembira di hari yang paling baik tersebut. "Bukan dariku, melainkan dari Allah," titah Rasulullah dengan menampakkan wajah yang berseri-seri.
Kabar gembira serupa, meski dalam konteks dan kasus berbeda, juga diterima oleh orang-orang terdekat Rasulullah. Kabar gembira pernah diterima oleh Khadijah, berupa rumah di surga yang terbuat dari mutiara. Istri termuda Rasulullah, Aisyah, memperoleh berita gembira saat Allah SWT membebaskannya dari hadits al ifki, fitnah tentang perselingkuhan yang pernah dituduhkan padanya, padahal tudingan itu sama sekali tidak benar. Selain mereka berdua, sahabat Abu Bakar, Ali bin Abi Thalib, dan Bilal bin Rabah, pernah mendapat kehormatan dengan berita-berita gembira dari Rasulullah.
Bisyarah, atau kabar gembira sesuai dengan arti harfiahnya. Dalam Mu'jam Maqayis al-Lughah, Ibnu Faris menyebutkan arti kata itu bermakna terlihatnya sesuatu dengan indah. Bisa pula berarti member kabar gembira. Hal yang sama juga ditekankan oleh ar-Razi, secara umum, arti kata bisyarah digunakan untuk kabar baik. Jika kata tersebut dimaksudkan untuk keburukan dalam sebuah ayat, biasanya akan selalu disertai dengan keterangan tertentu, misal, ayat ke-21 surah Ali Imran.
Dalam Ensiklopedia Akhlak Muhammad, Mahmud al-Mishri menjelaskan, membiasakan diri untuk membawa kabar gembira untuk orang sekitar termasuk dari kesempurnaan iman. Menyebarkan berita gembira tersebut di antara amal baik yang mendatangkan kebahagiaan kepada Muslim lainnya. Dalam sebuah riwayat oleh Thabrani, dijelaskan bahwa manusia yang paling disukai allah adalah manusia yang paling bermanfaat dan amal yang paling disukai Allah adalah kamu mendatangkan kebahagiaan kepada Muslim.
Dalam Islam, anjuran menyampaikan kabar gembira tersebut sangat ditekankan. Berbagi kabar gembira kepada orang lain-sekalipun dalam praktiknya, sering kali penerimaan orang berbeda- memiliki manfaat yang banyak. Berbagi berita gembira mampu melapangkan dada dan membahagiakan hati, selain pula dapat menjadi ciri iman dan keislaman yang baik, memperkuat tali silaturahim antara pemberi dan penerima kabar, serta dapat mendatangkan ketenangan dan meningkatkan kualitas spiritual.
Anjuran menyampaikan berita gembira tersebut tersurat dari amar-amar, atau perintah yang banyak termaktub berulang-ulang, baik dalam Alquran ataupun hadis. Banyak ayat Alquran yang berisi bisyarah yang ditujukan kepada hamba-hambanya. Salah satunya ialah ayat berikut: "Dan orang-orang yang menjauhi thaghut (yaitu) tidak menyembah-nya dan kembali kepada Allah, bagi mereka berita gembira; sebab itu sampaikanlah berita itu kepada hamba- hamba-Ku." (QS. Az-Zumar [39] : 17).
Tidak hanya Alquran, hadis-hadis pun tak sedikit memuat kabar gembira untuk umat. Di antaranya, kabar gembira yang tertera dalam hadis riwayat Abu Dawud dan Turmudzi. Dalam hadis tersebut Rasulullah meminta agar memberikan kabar gembira akan cahaya yang sempurna di hari kiamat kepada orang-orang yang berjalan dalam kegelapan menuju masjid.
Akhlak para nabi
Memberi kabar gembira adalah bagian dari sifat para nabi dan rasul. Allah mengutus mereka sebagai penyampai risalah sekaligus berita gembira tentang nikmat bila mereka menjawab ajakan tersebut. Allah SWT berfirman: "Mereka Kami utus selaku rasul-rasul pembawa berita gembira dan pemberi peringatan agar supaya tidak ada alasan bagi manusia membantah Allah sesudah diutusnya rasul-rasul itu. Dan adalah Allah Mahaperkasa lagi Mahabijaksana." (QS an-Nisaa' [4] : 165).
Aktivitas berbagi bisyarah juga termasuk unsur tak terpisahkan dari akhlak Rasulullah SAW. Allah mengutusnya dengan kebenaran dan ditunjuk sebagai pembawa berita gembira. "Dan, Kami tidak mengutus kamu, melainkan kepada umat manusia seluruhnya sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan, tetapi kebanyakan manusia tiada mengetahui." (QS Saba' [34] : 28).
Kamis, 12 Januari 2012
Dari bahan apa manusia diciptakan menurut Al Qur'an?
Bismillahhrirrahmannirrahim....
Non-Muslim berkata bahwa Al-Qur'an terdapat pertentangan...
diantaranya...
Dari manakah manusia itu diciptakan? Dari Segumpal Darah (Qs.96:1-2).
Hal ini bertentangan dgn:
* Manusia diciptakan dari air (Qs.21:30, 24:45, 25:54).
* Manusia diciptakan dari tanah liat kering yg berasal dari Lumpur hitam (Qs.15:26).
* Manusia diciptakan dari debu tanah (Qs.3:59, 30:20, 35:11).
* Manusia diciptakan dari bahan yg tidak ada sama sekali (Qs.19:67).
* Manusia diciptakan dari bumi (Qs.11:61).
* Manusia diciptakan dari mani/sperma (Qs.75:37).
Mari kita coba jelaskan , Yang Insya Allah dengan bantuan Allah ta'ala....
Penciptaan manusia ada 4 macam:
(1) Langsung dari tanah dan unsur-unsurnya (Adam),
(2) dari seorang laki-laki (Hawa),
(3) dari seorang perempuan saja (Isa Al-Masih), dan
(4) dari hasil hubungan antara laki-laki dan perempuan (bani Adam pada umumnya).
Quran 19:
9. Tuhan berfirman: "Demikianlah." Tuhan berfirman: "Hal itu adalah mudah bagi-Ku; dan sesunguhnya telah Aku CIPTAKAN KAMU (Zakariya) sebelum itu, padahal KAMU (DI WAKTU ITU) BELUM ADA SAMA SEKALI."
67. Dan tidakkah manusia itu memikirkan bahwa sesungguhnya Kami telah MENCIPTAKANNYA dahulu, sedang IA TIDAK ADA SAMA SEKALI?
Quran 24:45.
Dan Allah telah MENCIPTAKAN SEMUA JENIS HEWAN DARI AIR, maka sebagian dari hewan itu ada yg berjalan di atas perutnya dan sebagian berjalan dgn dua kaki sedang sebagian (yg lain) berjalan dgn empat kaki. Allah menciptakan apa yg dikehendaki-Nya, sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.
DARI AIR = MIN MAA-IN
Quran 25:54.
Dan Dia (pula) yg MENCIPTAKAN MANUSIA DARI AIR lalu dia jadikan manusia itu (punya) keturunan dan mushaharah dan adalah Tuhanmu Maha Kuasa.
DARI AIR = MINAL MAA-I
Quran 11:61.
Dan kpd Tsamud (Kami utus) saudara mereka Shaleh. Shaleh berkata: "Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada bagimu Tuhan selain Dia. Dia telah MENCIPTAKAN KAMU DARI BUMI (TANAH) dan menjadikan kamu pemakmurnya, karena itu mohonlah ampunan-Nya, kemudian bertobatlah kpd-Nya, Sesungguhnya Tuhanku amat dekat (rahmat-Nya) lagi memperkenankan (doa hamba-Nya)."
DARI BUMI (TANAH) = MINAL ARDHI
Quran 30:20.
Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia MENCIPTAKAN KAMU DARI TANAH, kemudian tiba-tiba kamu (menjadi) manusia yg berkembang biak.
Quran 3:59.
Sesungguhnya misal (penciptaan) Isa di sisi AllAh, adalah seperti (penciptaan) Adam. Allah MENCIPTAKAN ADAM DARI TANAH, kemudian Allah berfirman kpdnya: "Jadilah" (seorang manusia), maka jadilah dia.
DARI TANAH = MIN TURAABIN
Quran 37:11.
Maka tanyakanlah kpd mereka (musyrik Mekah): "Apakah mereka yg lebih kukuh kejadiannya ataukah apa yg telah Kami ciptakan itu?" Sesungguhnya Kami telah MENCIPTAKAN MEREKA DARI TANAH LIAT.
DARI TANAH LIAT = MIN THIINIL LAAZIB
Quran 15:26.
Dan sesungguhnya Kami telah MENCIPTAKAN MANUSIA (ADAM) dari TANAH LIAT KERING (yg berasal) dari LUMPUR HITAM YG DIBENTUK. 27. Dan Kami telah menciptakan jin sebelum (Adam) dari api yg sangat panas. 28. Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu berfirman kpd para malaikat: "Sesungguhnya Aku akan menciptakan seorang manusia dari TANAH LIAT KERING (yg berasal) dari LUMPUR HITAM YG DIBERI BENTUK”.
TANAH LIAT KERING (yg berasal) dari LUMPUR HITAM YG DIBENTUK = MIN SHALSHAALIN MIN HAMA-IN MASNUUN
Quran 55:14.
Dia MENCIPTAKAN MANUSIA DARI TANAH KERING SEPERTI TEMBIKAR, 15. dan Dia menciptakan jin dari nyala api.
DARI TANAH KERING SEPERTI TEMBIKAR = MIN SHALSHAALIN KAL-FAKHKHAAR
Quran 75:
36. Apakah manusia mengira, bahwa ia akan dibiarkan begitu saja (tanpa pertanggung jawaban)?
37. Bukankah dia dahulu SETETES MANI YG DITUMPAHKAN (ke dlm rahim),
38. kemudian MANI ITU MENJADI SEGUMPAL DARAH, lalu Allah menciptakannya, dan menyempurnakannya,
39. lalu Allah menjadikan daripadanya sepasang: laki-laki dan perempuan.
SETETES MANI YG DITUMPAHKAN = NUTHFATAN MIN MANIYYIN YUMNA
SEGUMPAL DARAH = ‘ALAQAH
Quran 96:
1. Bacalah dgn (menyebut) nama Tuhanmu Yg menciptakan,
2. Dia telah MENCIPTAKAN MANUSIA DARI SEGUMPAL DARAH.
DARI SEGUMPAL DARAH = MIN ‘ALAQATIN
Quran 23:
12. dan Sesungguhnya Kami telah MENCIPTAKAN MANUSIA DARI SUATU SARIPATI (BERASAL) DARI TANAH
13. kemudian Kami jadikan SARIPATI ITU AIR MANI (yg disimpan) dlm tempat yg kokoh (rahim).
14. kemudian AIR MANI ITU KAMI JADIKAN SEGUMPAL DARAH, lalu SEGUMPAL DARAH ITU KAMI JADIKAN SEGUMPAL DAGING, dan SEGUMPAL DAGING itu KAMI JADIKAN TULANG BELULANG, lalu TULANG BELULANG KAMI BUNGKUS DGN DAGING, kemudian Kami jadikan Dia makhluk yg (berbentuk) lain. Maka Maha sucilah Allah, Pencipta yg paling baik.
DARI SUATU SARIPATI (BERASAL) DARI TANAH = MIN SALSAALATIN MIN THIIN
Quran 15:29.
Maka apabila Aku telah MENYEMPURNAKAN KEJADIANNYA, dan telah MENIUPKAN KE DLMNYA RUH (CIPTAAN)-KU, maka tunduklah kamu kpdnya dgn bersujud.
Ayat-ayat ttg penciptaan manusia di atas TIDAK SALING BERTENTANGAN tetapi SALING MELENGKAPI. Ayat-ayat tersebut menerangkan sepotong-sepotong ttg PROSES PENCIPTAAN MANUSIA.
Penciptaan manusia Adam dapat diringkaskan sebagai berikut:
TIDAK ADA => AIR => BUMI => TANAH => LUMPUR HITAM YG DIBENTUK => TANAH LIAT => TANAH KERING SEPERTI TEMBIKAR => DITIUPKAN RUH => MANUSIA ADAM
Sedangkan penciptaan manusia bani Adam dapat diringkaskan sebagai berikut:
TIDAK ADA => SARIPATI TANAH (MAKANAN YG DIMAKAN OLEH CALON AYAH) => AIR MANI DLM RAHIM => SEGUMPAL DARAH => SEGUMPAL DAGING => TULANG BELULANG => TULANG DAN DAGING => MAKHLUK LAIN (JANIN YG SEMPURNA) => BANI ADAM
K.H. Bahaudin Mudhary menerangkan apa yg dimaksud oleh ayat-ayat (Quran 55:14 = SHALSHAAL & FAKHKHAAR, 15:28 = SHALSHAALIN & HAMA-IN, 32:7 = THIIN, 37:11 = THIINIL LAAZIB 3:59, 15:29 = ROH DARI ALLAH) kpd Antonius Widuri sebagai berikut:
AW: Kami telah membaca ayat-ayat Al-Quran mengenai asal kejadian manusia dlm kitab terjemahan Al-Quran bahasa Indonesia, dlm sebuah surat yg nampaknya antara satu ayat dgn ayat yg lain ada berselisihan sehingga timbul dlm pikiran saya bukan Bibel saja yg berselisih ayat-ayatnya, tetapi kitab Al-Quran demikian juga.
BM: Silahkan saudara sebutkan ayat-ayat Al-Quran yg akan ditanyakan, Insya Allah yg diragukan oleh saudara itu akan terhapus.
AW: Baiklah, Saya mencatat ayat-ayatnya, saya akan baca. Dikitab Al-Quran:
1. Surat Ar-Rahman ayat 14 menyebutkan bahwa Allah menjadikan manusia berasal dari TANAH YG DIBAKAR.
2. Di surat Al-Hijr ayat 28 menyebutkan: "Dan ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kpd Malaikat; sesungguhnya Aku (Allah) hendak menciptakan seorang manusia (Adam) dari TANAH KERING DAN LUMPUR HITAM YG BERBENTUK (berupa)."
3. Disurat As-Sajadah ayat 7 menyebutkan: "dan Tuhan menciptakan manusia dari TANAH."
4. Di Surat Ash-Shafaat ayat 11 menyebutkan: "Sesungguhnya Aku (Allah) menciptakan manusia berasal dari TANAH LIAT."
5. Disurat Ali Imran ayat 59 menyebutkan: "Sesungguhnya Aku menciptakan manusia daripada TANAH."
Lima ayat yg saya sebutkan ini antara satu dgn ayat yg lain terdapat perselisihan. Cobalah kita teliti. Di ayat ketiga menyebutkan dari "tanah,"di ayat keempat menyebutkan daripada "tanah liat." Di ayat kelima menyebutkan dari pada "tanah." Bukankah ayat-ayat Al-Quran nyata-nyata berselisihan antara yg satu dgn yg lain.
BM: Ya, nampaknya memang demikian. Saya tidak akan mengecewakan saudara. Teruskan pertanyaan saudara.
AW: Kami ingin bertanya; yg manakah yg benar tentang asal kejadian manusia itu. Apakah dari TANAH YG DIBAKAR, apakah dari TANAH KERING DAN LUMPUR, atau dari pada TANAH BIASA, atau dari TANAH LIAT kah?. Jadi menurut pendapat saya, ayat-ayat Al-Quran terdapat perselisihan antara satu ayat dgn ayat yg lain. Bukan ayat-ayat Injil atau di Bibel saja terdapat perselisihan. Kiranya Bapak bisa menerangkan dgn jelas dan tepat.
BM: Di kitab Al-Quran ada menyebutkan bahwa asal kejadian manusia terdiri dari 7 (tujuh) macam kejadian. Agar diketahui juga oleh saudara-saudara yg hadir disini, saya sebutkan susunan ayat-ayatnya satu demi satu, sebagaimana yg saudara bacakan artinya tadi.
1. Di Surat Ar Rahman ayat 14: "Dia (Allah) menjadikan manusia seperti TEMBIKAR, (tanah yg dibakar)." Yg dimaksudkan dgn kata "Shal-shal" di ayat ini ialah: Tanah kering atau setengah kering yakni "Zat pembakar" atau OKSIGEN.
2. Di ayat itu disebutkan juga kata "Fakhkhar," yg maksudnya ialah "Zat Arang" atau CARBONIUM.
3. Di surat Al Hijr, ayat 28: "Dan ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kpd malaikat; sesungguhnya Aku (Allah) hendak menciptakan seorang manusia (Adam) dari TANAH KERING DAN LUMPUR HITAM YG BERBENTUK (berupa)" . Di ayat ini. Tersebut juga "shal-shal," telah saya terangkan, sedangkan kata "Hamaa-in" di ayat tersebut ialah "Zat Lemas" atau NITROGENIUM.
4. Di surat As Sajadah ayat 7: "Dan (Allah) membuat manusia berasal dari pada 'TANAH'." Yg dimaksud dgn kata "thien" (tanah) di ayat ini ialah "Atom zat air" atau HIDROGENIUM.
5. Di Surat Ash Shaffaat ayat 11: "Sesungguhnya Aku (Allah) menjadikan manusia dari pada TANAH LIAT." Yg dimaksud dgn kata "lazib" (tanah liat) di ayat ini ialah "Zat besi" atau FERRUM.
6. Di Surat Ali Imran ayat 59: "Dia (Allah) menjadikan Adam dari TANAH kemudian Allah berfirman kpdnya 'jadilah engkau,' lalu berbentuk manusia." Yg dimaksud dgn kata "turab" (tanah) di ayat ini ialah: "Unsur-unsur zat asli yg terdapat di dlm tanah" yg dinamai "ZAT-ZAT ANORGANIS"
7. Di surat Al Hijr ayat 28: "Maka setelah Aku (Allah) sempurnakan (bentuknya), lalu Kutiupkan RUH-KU kpdnya (Ruh daripada-Ku)."
Ketujuh ayat Al-Quran yg saya baca ini Allah telah menunjukkan tentang proses kejadiannya Nabi Adam sehingga berbentuk manusia, lalu ditiupkan ruh kpdnya sehingga manusia bernyawa (bertubuh jasmani dan rohani). Sebagaimana disebutkan pada ayat yg keenam tentang kata "turab" (tanah) ialah zat-zat asli yg terdapat didlm tanah yg dinamai zat anorganis. Zat Anorganis ini baru terjadi setelah melalui proses persenyawaan antara "Fakhkhar" yakni Carbonium (zat arang) dgn "shal-shal" yakni Oksigenium (zat pembakar) dan "hamaa-in" yaitu Nitrogenium (zat lemas) dan Thien yakni Hidrogenium (Zat air). Jelasnya adalah persenyawaan antara: Fachchar (Carbonium = zat arang) dlm surat Ar Rahman ayat 14. Shalshal (Oksigenium = zat pembakar) juga dlm surat Ar Rahman ayat 14. Hamaa-in (Nitrogenium = zat lemas) dlm surat Al Hijr ayat 28. Thien (Hidrogenium = Zat Air) dlm surat As Sajadah, ayat 7. Kemudian bersenyawa dgn zat besi (Ferrum), Yodium, Kalium, Silcum dan Mangaan, yg disebut "laazib" (zat-zat anorganis) dlm surat As Shafaat ayat 11. Dlm proses persenyawaan tersebut, lalu terbentuklah zat yg dinamai protein. Inilah yg disebut "Turab" (zat-zat anorganis) dlm surat Ali Imran ayat 59. Salah satu diantara zat-zat anorganis yg terpandang penting ialah "Zat Kalium," yg banyak terdapat dlm jaringan tubuh, teristimewa di dlm otot-otot. Zat Kalium ini dipandang terpenting oleh karena mempunyai aktivitas dlm proses hayati, yakni dlm pembentukan badan halus. Dgn berlangsungnya "Proteinisasi," menjelmakan "proses penggantian" yg disebut "Substitusi." Setelah selesai mengalami substitusi, lalu menggempurlah electron-electron cosmic yg mewujudkan sebab pembentukan (Formasi), dinamai juga "sebab ujud" atau Causa Formatis. Adapun Sinar Cosmic itu ialah suatu sinar mempunyai kemampuan untuk merubah sifat-sifat zat yg berasal dari tanah. Maka dgn mudah sinar cosmic dapat mewujudkan pembentukan tubuh manusia (Adam) berupa badan kasar (jasmaniah), yg terdiri dari badan, kepala, tangan, mata, hidung telinga dan seterusnya. Sampai disinilah ilmu pengetahuan exact dapat menganalisa tentang pembentukan tubuh kasar (jasmaniah, jasmani manusia/Adam). Sedangkan tentang rohani (abstract wetenschap) tentu dibutuhkan ilmu pengetahuan yg serba rohaniah pula, yg sangat erat hubungannya dgn ilmu Metafisika. Cukup jelas tentang ayat-ayat Al-Quran yg saudara sangka berselisih antara satu ayat dgn ayat yg lain dlm hal kejadian manusia (Adam), pada hakikatnya bukanlah berselisih, melainkan menunjukkan proses asal kejadian tubuh jasmani Adam (visible), hingga pada badan halusnya (invisible), sampai berujud manusia. Apakah belum jelas penafsiran ayat-ayat Al-Quran yg saya sampaikan pada saudara? Kalau ada waktu saya akan terangkan juga proses asal kejadian tubuh rohani dari segi ilmu metafisika.”
Kesimpulan: Allah menjelaskan kpd kita bahwa manusia secara umum diciptakan dari air/H2O, setitik sperma, segumpal darah, segumpal daging, dan seterusnya (al. QURAN 23:14). Secara khusus manusia pertama Adam diciptakan dari persenyawaan: tanah keras seperti tembikar/oksigenium dan zat arang/carbonium (QURAN 55:14), tanah kering dan lumpur hitam/nitrogenium (QURAN 15:28), "thin"/tanah/hidrogenium (QURAN 32:7), tanah liat/ferum (QURAN 37:11), "turab"/tanah/zat anorganik (QURAN 3:59), dan setelah sempurna bentuknya diberikan roh (QURAN 15:29). Hawa diciptakan dari bagian tubuh Adam (QURAN 4:1). Isa/Yesus diciptakan hanya dengan kalimat "Kun" di dlm rahim Maryam (QURAN 3:45,59). Sedangkan QURAN 19:67 berbicara tentang penciptaan roh manusia yg mendahului penciptaan fisik manusia (sebagai perbandingan, baca kembali nubuat-nubuat Perjanjian Lama, khususnya mengenai ramalan kedatangan seorang nabi yg seperti Musa [Ulangan 18:18], tentu saja, roh nabi ini sudah ada sebelum fisiknya).
Maha suci Allah dengan segala firmannya...
selalu ada jawaban meski kalian mencari-cari kesalahan dalam Islam!
semoga bermanfaat....
wassalam....
Sumber dari MuhammadTaufikIslam
Non-Muslim berkata bahwa Al-Qur'an terdapat pertentangan...
diantaranya...
Dari manakah manusia itu diciptakan? Dari Segumpal Darah (Qs.96:1-2).
Hal ini bertentangan dgn:
* Manusia diciptakan dari air (Qs.21:30, 24:45, 25:54).
* Manusia diciptakan dari tanah liat kering yg berasal dari Lumpur hitam (Qs.15:26).
* Manusia diciptakan dari debu tanah (Qs.3:59, 30:20, 35:11).
* Manusia diciptakan dari bahan yg tidak ada sama sekali (Qs.19:67).
* Manusia diciptakan dari bumi (Qs.11:61).
* Manusia diciptakan dari mani/sperma (Qs.75:37).
Mari kita coba jelaskan , Yang Insya Allah dengan bantuan Allah ta'ala....
Penciptaan manusia ada 4 macam:
(1) Langsung dari tanah dan unsur-unsurnya (Adam),
(2) dari seorang laki-laki (Hawa),
(3) dari seorang perempuan saja (Isa Al-Masih), dan
(4) dari hasil hubungan antara laki-laki dan perempuan (bani Adam pada umumnya).
Quran 19:
9. Tuhan berfirman: "Demikianlah." Tuhan berfirman: "Hal itu adalah mudah bagi-Ku; dan sesunguhnya telah Aku CIPTAKAN KAMU (Zakariya) sebelum itu, padahal KAMU (DI WAKTU ITU) BELUM ADA SAMA SEKALI."
67. Dan tidakkah manusia itu memikirkan bahwa sesungguhnya Kami telah MENCIPTAKANNYA dahulu, sedang IA TIDAK ADA SAMA SEKALI?
Quran 24:45.
Dan Allah telah MENCIPTAKAN SEMUA JENIS HEWAN DARI AIR, maka sebagian dari hewan itu ada yg berjalan di atas perutnya dan sebagian berjalan dgn dua kaki sedang sebagian (yg lain) berjalan dgn empat kaki. Allah menciptakan apa yg dikehendaki-Nya, sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.
DARI AIR = MIN MAA-IN
Quran 25:54.
Dan Dia (pula) yg MENCIPTAKAN MANUSIA DARI AIR lalu dia jadikan manusia itu (punya) keturunan dan mushaharah dan adalah Tuhanmu Maha Kuasa.
DARI AIR = MINAL MAA-I
Quran 11:61.
Dan kpd Tsamud (Kami utus) saudara mereka Shaleh. Shaleh berkata: "Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada bagimu Tuhan selain Dia. Dia telah MENCIPTAKAN KAMU DARI BUMI (TANAH) dan menjadikan kamu pemakmurnya, karena itu mohonlah ampunan-Nya, kemudian bertobatlah kpd-Nya, Sesungguhnya Tuhanku amat dekat (rahmat-Nya) lagi memperkenankan (doa hamba-Nya)."
DARI BUMI (TANAH) = MINAL ARDHI
Quran 30:20.
Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia MENCIPTAKAN KAMU DARI TANAH, kemudian tiba-tiba kamu (menjadi) manusia yg berkembang biak.
Quran 3:59.
Sesungguhnya misal (penciptaan) Isa di sisi AllAh, adalah seperti (penciptaan) Adam. Allah MENCIPTAKAN ADAM DARI TANAH, kemudian Allah berfirman kpdnya: "Jadilah" (seorang manusia), maka jadilah dia.
DARI TANAH = MIN TURAABIN
Quran 37:11.
Maka tanyakanlah kpd mereka (musyrik Mekah): "Apakah mereka yg lebih kukuh kejadiannya ataukah apa yg telah Kami ciptakan itu?" Sesungguhnya Kami telah MENCIPTAKAN MEREKA DARI TANAH LIAT.
DARI TANAH LIAT = MIN THIINIL LAAZIB
Quran 15:26.
Dan sesungguhnya Kami telah MENCIPTAKAN MANUSIA (ADAM) dari TANAH LIAT KERING (yg berasal) dari LUMPUR HITAM YG DIBENTUK. 27. Dan Kami telah menciptakan jin sebelum (Adam) dari api yg sangat panas. 28. Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu berfirman kpd para malaikat: "Sesungguhnya Aku akan menciptakan seorang manusia dari TANAH LIAT KERING (yg berasal) dari LUMPUR HITAM YG DIBERI BENTUK”.
TANAH LIAT KERING (yg berasal) dari LUMPUR HITAM YG DIBENTUK = MIN SHALSHAALIN MIN HAMA-IN MASNUUN
Quran 55:14.
Dia MENCIPTAKAN MANUSIA DARI TANAH KERING SEPERTI TEMBIKAR, 15. dan Dia menciptakan jin dari nyala api.
DARI TANAH KERING SEPERTI TEMBIKAR = MIN SHALSHAALIN KAL-FAKHKHAAR
Quran 75:
36. Apakah manusia mengira, bahwa ia akan dibiarkan begitu saja (tanpa pertanggung jawaban)?
37. Bukankah dia dahulu SETETES MANI YG DITUMPAHKAN (ke dlm rahim),
38. kemudian MANI ITU MENJADI SEGUMPAL DARAH, lalu Allah menciptakannya, dan menyempurnakannya,
39. lalu Allah menjadikan daripadanya sepasang: laki-laki dan perempuan.
SETETES MANI YG DITUMPAHKAN = NUTHFATAN MIN MANIYYIN YUMNA
SEGUMPAL DARAH = ‘ALAQAH
Quran 96:
1. Bacalah dgn (menyebut) nama Tuhanmu Yg menciptakan,
2. Dia telah MENCIPTAKAN MANUSIA DARI SEGUMPAL DARAH.
DARI SEGUMPAL DARAH = MIN ‘ALAQATIN
Quran 23:
12. dan Sesungguhnya Kami telah MENCIPTAKAN MANUSIA DARI SUATU SARIPATI (BERASAL) DARI TANAH
13. kemudian Kami jadikan SARIPATI ITU AIR MANI (yg disimpan) dlm tempat yg kokoh (rahim).
14. kemudian AIR MANI ITU KAMI JADIKAN SEGUMPAL DARAH, lalu SEGUMPAL DARAH ITU KAMI JADIKAN SEGUMPAL DAGING, dan SEGUMPAL DAGING itu KAMI JADIKAN TULANG BELULANG, lalu TULANG BELULANG KAMI BUNGKUS DGN DAGING, kemudian Kami jadikan Dia makhluk yg (berbentuk) lain. Maka Maha sucilah Allah, Pencipta yg paling baik.
DARI SUATU SARIPATI (BERASAL) DARI TANAH = MIN SALSAALATIN MIN THIIN
Quran 15:29.
Maka apabila Aku telah MENYEMPURNAKAN KEJADIANNYA, dan telah MENIUPKAN KE DLMNYA RUH (CIPTAAN)-KU, maka tunduklah kamu kpdnya dgn bersujud.
Ayat-ayat ttg penciptaan manusia di atas TIDAK SALING BERTENTANGAN tetapi SALING MELENGKAPI. Ayat-ayat tersebut menerangkan sepotong-sepotong ttg PROSES PENCIPTAAN MANUSIA.
Penciptaan manusia Adam dapat diringkaskan sebagai berikut:
TIDAK ADA => AIR => BUMI => TANAH => LUMPUR HITAM YG DIBENTUK => TANAH LIAT => TANAH KERING SEPERTI TEMBIKAR => DITIUPKAN RUH => MANUSIA ADAM
Sedangkan penciptaan manusia bani Adam dapat diringkaskan sebagai berikut:
TIDAK ADA => SARIPATI TANAH (MAKANAN YG DIMAKAN OLEH CALON AYAH) => AIR MANI DLM RAHIM => SEGUMPAL DARAH => SEGUMPAL DAGING => TULANG BELULANG => TULANG DAN DAGING => MAKHLUK LAIN (JANIN YG SEMPURNA) => BANI ADAM
K.H. Bahaudin Mudhary menerangkan apa yg dimaksud oleh ayat-ayat (Quran 55:14 = SHALSHAAL & FAKHKHAAR, 15:28 = SHALSHAALIN & HAMA-IN, 32:7 = THIIN, 37:11 = THIINIL LAAZIB 3:59, 15:29 = ROH DARI ALLAH) kpd Antonius Widuri sebagai berikut:
AW: Kami telah membaca ayat-ayat Al-Quran mengenai asal kejadian manusia dlm kitab terjemahan Al-Quran bahasa Indonesia, dlm sebuah surat yg nampaknya antara satu ayat dgn ayat yg lain ada berselisihan sehingga timbul dlm pikiran saya bukan Bibel saja yg berselisih ayat-ayatnya, tetapi kitab Al-Quran demikian juga.
BM: Silahkan saudara sebutkan ayat-ayat Al-Quran yg akan ditanyakan, Insya Allah yg diragukan oleh saudara itu akan terhapus.
AW: Baiklah, Saya mencatat ayat-ayatnya, saya akan baca. Dikitab Al-Quran:
1. Surat Ar-Rahman ayat 14 menyebutkan bahwa Allah menjadikan manusia berasal dari TANAH YG DIBAKAR.
2. Di surat Al-Hijr ayat 28 menyebutkan: "Dan ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kpd Malaikat; sesungguhnya Aku (Allah) hendak menciptakan seorang manusia (Adam) dari TANAH KERING DAN LUMPUR HITAM YG BERBENTUK (berupa)."
3. Disurat As-Sajadah ayat 7 menyebutkan: "dan Tuhan menciptakan manusia dari TANAH."
4. Di Surat Ash-Shafaat ayat 11 menyebutkan: "Sesungguhnya Aku (Allah) menciptakan manusia berasal dari TANAH LIAT."
5. Disurat Ali Imran ayat 59 menyebutkan: "Sesungguhnya Aku menciptakan manusia daripada TANAH."
Lima ayat yg saya sebutkan ini antara satu dgn ayat yg lain terdapat perselisihan. Cobalah kita teliti. Di ayat ketiga menyebutkan dari "tanah,"di ayat keempat menyebutkan daripada "tanah liat." Di ayat kelima menyebutkan dari pada "tanah." Bukankah ayat-ayat Al-Quran nyata-nyata berselisihan antara yg satu dgn yg lain.
BM: Ya, nampaknya memang demikian. Saya tidak akan mengecewakan saudara. Teruskan pertanyaan saudara.
AW: Kami ingin bertanya; yg manakah yg benar tentang asal kejadian manusia itu. Apakah dari TANAH YG DIBAKAR, apakah dari TANAH KERING DAN LUMPUR, atau dari pada TANAH BIASA, atau dari TANAH LIAT kah?. Jadi menurut pendapat saya, ayat-ayat Al-Quran terdapat perselisihan antara satu ayat dgn ayat yg lain. Bukan ayat-ayat Injil atau di Bibel saja terdapat perselisihan. Kiranya Bapak bisa menerangkan dgn jelas dan tepat.
BM: Di kitab Al-Quran ada menyebutkan bahwa asal kejadian manusia terdiri dari 7 (tujuh) macam kejadian. Agar diketahui juga oleh saudara-saudara yg hadir disini, saya sebutkan susunan ayat-ayatnya satu demi satu, sebagaimana yg saudara bacakan artinya tadi.
1. Di Surat Ar Rahman ayat 14: "Dia (Allah) menjadikan manusia seperti TEMBIKAR, (tanah yg dibakar)." Yg dimaksudkan dgn kata "Shal-shal" di ayat ini ialah: Tanah kering atau setengah kering yakni "Zat pembakar" atau OKSIGEN.
2. Di ayat itu disebutkan juga kata "Fakhkhar," yg maksudnya ialah "Zat Arang" atau CARBONIUM.
3. Di surat Al Hijr, ayat 28: "Dan ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kpd malaikat; sesungguhnya Aku (Allah) hendak menciptakan seorang manusia (Adam) dari TANAH KERING DAN LUMPUR HITAM YG BERBENTUK (berupa)" . Di ayat ini. Tersebut juga "shal-shal," telah saya terangkan, sedangkan kata "Hamaa-in" di ayat tersebut ialah "Zat Lemas" atau NITROGENIUM.
4. Di surat As Sajadah ayat 7: "Dan (Allah) membuat manusia berasal dari pada 'TANAH'." Yg dimaksud dgn kata "thien" (tanah) di ayat ini ialah "Atom zat air" atau HIDROGENIUM.
5. Di Surat Ash Shaffaat ayat 11: "Sesungguhnya Aku (Allah) menjadikan manusia dari pada TANAH LIAT." Yg dimaksud dgn kata "lazib" (tanah liat) di ayat ini ialah "Zat besi" atau FERRUM.
6. Di Surat Ali Imran ayat 59: "Dia (Allah) menjadikan Adam dari TANAH kemudian Allah berfirman kpdnya 'jadilah engkau,' lalu berbentuk manusia." Yg dimaksud dgn kata "turab" (tanah) di ayat ini ialah: "Unsur-unsur zat asli yg terdapat di dlm tanah" yg dinamai "ZAT-ZAT ANORGANIS"
7. Di surat Al Hijr ayat 28: "Maka setelah Aku (Allah) sempurnakan (bentuknya), lalu Kutiupkan RUH-KU kpdnya (Ruh daripada-Ku)."
Ketujuh ayat Al-Quran yg saya baca ini Allah telah menunjukkan tentang proses kejadiannya Nabi Adam sehingga berbentuk manusia, lalu ditiupkan ruh kpdnya sehingga manusia bernyawa (bertubuh jasmani dan rohani). Sebagaimana disebutkan pada ayat yg keenam tentang kata "turab" (tanah) ialah zat-zat asli yg terdapat didlm tanah yg dinamai zat anorganis. Zat Anorganis ini baru terjadi setelah melalui proses persenyawaan antara "Fakhkhar" yakni Carbonium (zat arang) dgn "shal-shal" yakni Oksigenium (zat pembakar) dan "hamaa-in" yaitu Nitrogenium (zat lemas) dan Thien yakni Hidrogenium (Zat air). Jelasnya adalah persenyawaan antara: Fachchar (Carbonium = zat arang) dlm surat Ar Rahman ayat 14. Shalshal (Oksigenium = zat pembakar) juga dlm surat Ar Rahman ayat 14. Hamaa-in (Nitrogenium = zat lemas) dlm surat Al Hijr ayat 28. Thien (Hidrogenium = Zat Air) dlm surat As Sajadah, ayat 7. Kemudian bersenyawa dgn zat besi (Ferrum), Yodium, Kalium, Silcum dan Mangaan, yg disebut "laazib" (zat-zat anorganis) dlm surat As Shafaat ayat 11. Dlm proses persenyawaan tersebut, lalu terbentuklah zat yg dinamai protein. Inilah yg disebut "Turab" (zat-zat anorganis) dlm surat Ali Imran ayat 59. Salah satu diantara zat-zat anorganis yg terpandang penting ialah "Zat Kalium," yg banyak terdapat dlm jaringan tubuh, teristimewa di dlm otot-otot. Zat Kalium ini dipandang terpenting oleh karena mempunyai aktivitas dlm proses hayati, yakni dlm pembentukan badan halus. Dgn berlangsungnya "Proteinisasi," menjelmakan "proses penggantian" yg disebut "Substitusi." Setelah selesai mengalami substitusi, lalu menggempurlah electron-electron cosmic yg mewujudkan sebab pembentukan (Formasi), dinamai juga "sebab ujud" atau Causa Formatis. Adapun Sinar Cosmic itu ialah suatu sinar mempunyai kemampuan untuk merubah sifat-sifat zat yg berasal dari tanah. Maka dgn mudah sinar cosmic dapat mewujudkan pembentukan tubuh manusia (Adam) berupa badan kasar (jasmaniah), yg terdiri dari badan, kepala, tangan, mata, hidung telinga dan seterusnya. Sampai disinilah ilmu pengetahuan exact dapat menganalisa tentang pembentukan tubuh kasar (jasmaniah, jasmani manusia/Adam). Sedangkan tentang rohani (abstract wetenschap) tentu dibutuhkan ilmu pengetahuan yg serba rohaniah pula, yg sangat erat hubungannya dgn ilmu Metafisika. Cukup jelas tentang ayat-ayat Al-Quran yg saudara sangka berselisih antara satu ayat dgn ayat yg lain dlm hal kejadian manusia (Adam), pada hakikatnya bukanlah berselisih, melainkan menunjukkan proses asal kejadian tubuh jasmani Adam (visible), hingga pada badan halusnya (invisible), sampai berujud manusia. Apakah belum jelas penafsiran ayat-ayat Al-Quran yg saya sampaikan pada saudara? Kalau ada waktu saya akan terangkan juga proses asal kejadian tubuh rohani dari segi ilmu metafisika.”
Kesimpulan: Allah menjelaskan kpd kita bahwa manusia secara umum diciptakan dari air/H2O, setitik sperma, segumpal darah, segumpal daging, dan seterusnya (al. QURAN 23:14). Secara khusus manusia pertama Adam diciptakan dari persenyawaan: tanah keras seperti tembikar/oksigenium dan zat arang/carbonium (QURAN 55:14), tanah kering dan lumpur hitam/nitrogenium (QURAN 15:28), "thin"/tanah/hidrogenium (QURAN 32:7), tanah liat/ferum (QURAN 37:11), "turab"/tanah/zat anorganik (QURAN 3:59), dan setelah sempurna bentuknya diberikan roh (QURAN 15:29). Hawa diciptakan dari bagian tubuh Adam (QURAN 4:1). Isa/Yesus diciptakan hanya dengan kalimat "Kun" di dlm rahim Maryam (QURAN 3:45,59). Sedangkan QURAN 19:67 berbicara tentang penciptaan roh manusia yg mendahului penciptaan fisik manusia (sebagai perbandingan, baca kembali nubuat-nubuat Perjanjian Lama, khususnya mengenai ramalan kedatangan seorang nabi yg seperti Musa [Ulangan 18:18], tentu saja, roh nabi ini sudah ada sebelum fisiknya).
Maha suci Allah dengan segala firmannya...
selalu ada jawaban meski kalian mencari-cari kesalahan dalam Islam!
semoga bermanfaat....
wassalam....
Sumber dari MuhammadTaufikIslam
Selasa, 10 Januari 2012
Do'a dan optimisme
Sumber dari Republika Online
oleh Ustaz Toto Tasmara
Ketika semua jalan terasa buntu. Pandangan ke masa depan terasa suram, di mendung awan gelap tanpa harapan. Hidup didera berbagai persoalan yang mengharu biru, maka seorang hamba yang merindu cinta Ilahi, bersegera mengadukan seluruh persoalannya kepada Dia yang Maha Penolong. Dengan sebongkah hati penuh iman dan optimisme, ia berhusnuzan (berprasangka baik) kepada Allah, bahwa hanya dengan rida dan iradah-Nya, segala awan gelap kehidupan mampu disingkirkan. Tidak ada yang mustahil bagi Allah, karena bagi-Nya cukuplah berucap, ”Kun faya kun, maka jadilah.”
Dalam melafalkan doanya, ia pun memintal sejuta sesal seraya bertobat membersihkan diri dari dosa. Karena, ia sadar bahwa dosa adalah kabut penghalang untuk memandang wajah Ilahi. Rasulullah SAW bersabda, "Tidak ada yang dapat menolak ketentuan takdir (qadha) kecuali doa. Dan, tidaklah ada yang menambah umur kecuali berbuat kebajikan. Dan, seseorang diharamkan rezekinya, karena perbuatan dosanya.” (HR Tirmidzi dan Ibnu Hibban).
Ketika ia berdoa tumbuh keyakinan bahwa cepat atau lambat permohonannya akan dikabulkan Allah. Dia tidak akan menyalahkan siapa pun bila doanya belum terkabul, bahkan sebaliknya, ia akan terus melakukan introspeksi dan melakukan islah (perbaikan diri), melakukan penyucian jiwa (tazkiyatun nafs) dan memperbanyak berbuat kebajikan (fastabiqul khairat). Karena, ia sadar setiap doa ada syarat-syaratnya. Tidaklah seseorang disebut sebagai orang baik, kecuali ia memang selalu berbuat baik. Tidaklah seseorang disebut beriman, kecuali ia penuhi kriteria untuk diakui sebagai seorang yang beriman. Demikian juga dengan doa. Tidaklah doa dikabulkan kecuali ia dipenuhi kehendak Ilahi dengan rasa penuh cinta.
Rasulullah SAW telah memberikan tuntunan bahwa salah satu syarat berdoa adalah sikap optimistis dan yakin bahwa apa yang ia harapkan akan dikabulkan. Rasulullah bersabda, "Jika kamu berdoa kepada Allah Azza wa Jalla, wahai manusia mohonlah kehadirat-Nya dengan penuh keyakinan bahwa doamu akan dikabulkan, karena Allah tidak akan mengabulkan doa dari hati yang lalai." (HR Ahmad).
Doa sesungguhnya akan melahirkan kekuatan batin yang luar biasa. Karena, sikap percaya diri dan optimisme merupakan pedang paling tajam dalam menebas segala ilalang semak belukar yang mengotori perjalanan.
Orang yang berdoa itu bersikap optimistis penuh prasangka baik (husnuzhan) kepada Allah SWT. Orang optimistis mampu melihat kesempatan di antara begitu banyak kesempitan. Sedangkan orang pesimistis melihat begitu banyak kesempitan di antara semua kesempatan.
Optimisme adalah sebuah keyakinan yang akan membawa pada pencapaian hasil. Tidak ada yang bisa diperbuat tanpa harapan dan percaya diri. Salah satu sifat seorang mukmin adalah sikapnya yang optimistis, tidak ada rasa duka cita atau merasa cemas dalam memandang masa depan. "Dan, janganlah kamu merasa lemah dan jangan bersedih hati, karena kamulah orang-orang yang paling unggul, jika kamu beriman.” (QS Ali Imran [3]: 139). Wallahu a’lam bish shawab.
oleh Ustaz Toto Tasmara
Ketika semua jalan terasa buntu. Pandangan ke masa depan terasa suram, di mendung awan gelap tanpa harapan. Hidup didera berbagai persoalan yang mengharu biru, maka seorang hamba yang merindu cinta Ilahi, bersegera mengadukan seluruh persoalannya kepada Dia yang Maha Penolong. Dengan sebongkah hati penuh iman dan optimisme, ia berhusnuzan (berprasangka baik) kepada Allah, bahwa hanya dengan rida dan iradah-Nya, segala awan gelap kehidupan mampu disingkirkan. Tidak ada yang mustahil bagi Allah, karena bagi-Nya cukuplah berucap, ”Kun faya kun, maka jadilah.”
Dalam melafalkan doanya, ia pun memintal sejuta sesal seraya bertobat membersihkan diri dari dosa. Karena, ia sadar bahwa dosa adalah kabut penghalang untuk memandang wajah Ilahi. Rasulullah SAW bersabda, "Tidak ada yang dapat menolak ketentuan takdir (qadha) kecuali doa. Dan, tidaklah ada yang menambah umur kecuali berbuat kebajikan. Dan, seseorang diharamkan rezekinya, karena perbuatan dosanya.” (HR Tirmidzi dan Ibnu Hibban).
Ketika ia berdoa tumbuh keyakinan bahwa cepat atau lambat permohonannya akan dikabulkan Allah. Dia tidak akan menyalahkan siapa pun bila doanya belum terkabul, bahkan sebaliknya, ia akan terus melakukan introspeksi dan melakukan islah (perbaikan diri), melakukan penyucian jiwa (tazkiyatun nafs) dan memperbanyak berbuat kebajikan (fastabiqul khairat). Karena, ia sadar setiap doa ada syarat-syaratnya. Tidaklah seseorang disebut sebagai orang baik, kecuali ia memang selalu berbuat baik. Tidaklah seseorang disebut beriman, kecuali ia penuhi kriteria untuk diakui sebagai seorang yang beriman. Demikian juga dengan doa. Tidaklah doa dikabulkan kecuali ia dipenuhi kehendak Ilahi dengan rasa penuh cinta.
Rasulullah SAW telah memberikan tuntunan bahwa salah satu syarat berdoa adalah sikap optimistis dan yakin bahwa apa yang ia harapkan akan dikabulkan. Rasulullah bersabda, "Jika kamu berdoa kepada Allah Azza wa Jalla, wahai manusia mohonlah kehadirat-Nya dengan penuh keyakinan bahwa doamu akan dikabulkan, karena Allah tidak akan mengabulkan doa dari hati yang lalai." (HR Ahmad).
Doa sesungguhnya akan melahirkan kekuatan batin yang luar biasa. Karena, sikap percaya diri dan optimisme merupakan pedang paling tajam dalam menebas segala ilalang semak belukar yang mengotori perjalanan.
Orang yang berdoa itu bersikap optimistis penuh prasangka baik (husnuzhan) kepada Allah SWT. Orang optimistis mampu melihat kesempatan di antara begitu banyak kesempitan. Sedangkan orang pesimistis melihat begitu banyak kesempitan di antara semua kesempatan.
Optimisme adalah sebuah keyakinan yang akan membawa pada pencapaian hasil. Tidak ada yang bisa diperbuat tanpa harapan dan percaya diri. Salah satu sifat seorang mukmin adalah sikapnya yang optimistis, tidak ada rasa duka cita atau merasa cemas dalam memandang masa depan. "Dan, janganlah kamu merasa lemah dan jangan bersedih hati, karena kamulah orang-orang yang paling unggul, jika kamu beriman.” (QS Ali Imran [3]: 139). Wallahu a’lam bish shawab.
Langganan:
Postingan (Atom)