Sumber : Republika Online
Rasulullah dan para sahabat beliau tidak menggunakan gelar haji di depan nama mereka padahal mereka telah berhaji. Tetapi, itu tidak berarti menggunakan gelar haji atau hajjah di depan nama seseorang merupakan bidah. Penggunaan gelar keilmuan seperti profesor, doktor, MA, atau keulamaan seperti kiai haji, buya, syekh, imam, atau allamah juga tak dikenal pada zaman Nabi.
Apakah itu berarti penggunaan gelar keulamaan semacam itu juga bidah dan dilarang? Berapa banyak ulama yang kita kenal mendapatkan sebutan imam atau syekh di depan namanya seperti Imam Bukhari, Imam Syafi'i, Syekh Yusuf al-Qaradhawi, dan Syekh Abd al-'Aziz bin Baz? Ibnu Taimiyah bahkan bergelar hujjat al-Islam dan tidak ada seorang sahabat Nabi pun yang bergelar hujjat al-Islam.
Pada dasarnya tidak ada perintah dan larangan menggunakan gelar haji, yang dilarang memberikan gelar jelek bagi seseorang, baik dia suka atau tidak. ".… Dan janganlah suka mencela dirimu sendiri dan jangan memanggil dengan gelar yang mengandung ejekan. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) buruk sesudah iman dan barang siapa yang tidak bertobat, mereka itulah orang-orang yang zalim (QS al-Hujurat [49]: 11).
Yang dikhawatirkan, gelar haji itu menjadi tujuan dalam melaksanakan ibadah haji agar dengan gelar tersebut memperoleh kehormatan dalam masyarakat, sehingga menimbulkan riya dalam beribadah. Semuanya, bergantung pada niat. Jika ada orang sengaja memakai gelar agar dipuji, itu bertentangan dengan akhlak Islam.
Tetapi, kalau penggunaan gelar untuk mengingatkan diri sendiri agar tidak lagi melakukan perbuatan maksiat yang akhirnya menimbulkan rasa malu kepada Allah, tentu baik. Jadi, tidak selamanya gelar haji mengandung konotasi negatif semacam riya, kesombongan, dan sebagainya namun bisa juga mengandung nilai-nilai positif seperti selalu bermuhasabah dan berdakwah di jalan Allah.
Menjadi tidak bijak bila kita langsung menyamaratakan setiap masalah dengan satu sikap, semuanya mesti kita dudukkan persoalannya secara baik dan proporsional. Wallahu a'lam bish shawab.
Selasa, 15 November 2011
Jumat, 11 November 2011
Membantu orang miskin (memberi kail lebih baik daripada memberi ikan)
SUMBER : REPUBLIKA ONLINE
Oleh Khofifah Indar Parawansa
Suatu hari ada seseorang datang meminta-minta kepada Rasulullah SAW yang sedang berkumpul dengan para sahabat. Melihat kehadiran pengemis itu, Rasulullah lantas bertanya, "Apakah kamu mempunyai sesuatu di rumahmu?"
Dia menjawab, "Tentu, saya mempunyai pakaian yang biasa dipakai sehari-hari dan sebuah cangkir." Rasulullah lalu berkata, "Ambil dan serahkan ke saya!"
Pengemis itu langsung bergegas pulang dan kembali dengan membawa cangkir. Rasulullah kemudian menawarkan cangkir itu kepada para sahabat, "Adakah di antara kalian yang ingin membeli ini?" Seorang sahabat menyahut, "Saya beli dengan satu dirham."
Rasulullah lalu menawarkannya kepada sahabat yang lain. Seorang sahabat yang sanggup membelinya dengan harga dua dirham. Rasulullah kemudian memberikan dua dirham itu kepada si pengemis. Rasul mengharapkan agar uang itu digunakan untuk membeli makanan buat keluarganya, dan sisa uangnya digunakan untuk membeli kapak. "Carilah kayu yang banyak dan juallah, selama dua minggu ini aku tidak ingin melihatmu," kata Rasulullah.
Dua minggu kemudian, pengemis itu datang kembali menghadap Rasulullah SAW, tapi tidak untuk mengemis. Ia datang kepada Rasullah membawa uang 10 dirham hasil dari berjualan kayu. Rasulullah SAW kemudian menyuruhnya untuk membeli pakaian dan makanan untuk keluarganya.
Rasulullah berkata, "Hal ini lebih baik bagi kamu, karena meminta-meminta hanya akan membuat noda di wajahmu di akhirat nanti. Tidak layak bagi seseorang meminta-minta kecuali dalam tiga hal, fakir miskin yang benar-benar tidak mempunyai sesuatu, utang yang tidak bisa terbayar, dan penyakit yang membuat seseorang tidak bisa berusaha."
Kisah ini menggambarkan sifat Rasulullah yang gemar membantu orang yang tidak mampu. Bantuan tidak hanya berupa uang, tapi juga "kail" atau pekerjaan agar kelak orang yang tidak mampu itu bisa hidup mandiri.
Tidak dapat dimungkiri, jumlah pengemis dan pengangguran di Indonesia saat ini masih sangat tinggi. Alangkah indahnya, jika setiap orang mampu (secara ekonomi) di negeri ini mau meniru perilaku Rasulullah tersebut. Dengan memberi sedekah dan pekerjaan, setidaknya jumlah anak jalanan dan pengangguran bisa diminimalisasi.
Rasullullah memberikan contoh bahwa kesalehan spiritual belum dikatakan sempurna, sebelum dibarengi dengan kesalehan sosial (to be sensitive to the reality).
Dalam Alquran disebutkan bahwa orang yang bertakwa yaitu: "Orang-orang yang menafkahkan hartanya, baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan kesalahan orang (QS Ali Imran [3]: 134).
Saatnya kita berbagi dengan orang di sekeliling kita yang fakir dan miskin. Jika orang yang diberi kecukupan ekonomi di negeri ini mau peduli terhadap yang miskin, pasti perempuan Indonesia tidak akan berbondong-bondong menjadi tenaga kerja dan pembantu rumah tangga di negeri orang. Jika orang kaya di negeri ini mau membantu yang lemah dan fakir, tentu tidak banyak anak negeri ini yang putus sekolah. "Sesungguhnya kefakiran (kemiskinan) itu bisa menjerumuskan ke jurang kekafiran."
Oleh Khofifah Indar Parawansa
Suatu hari ada seseorang datang meminta-minta kepada Rasulullah SAW yang sedang berkumpul dengan para sahabat. Melihat kehadiran pengemis itu, Rasulullah lantas bertanya, "Apakah kamu mempunyai sesuatu di rumahmu?"
Dia menjawab, "Tentu, saya mempunyai pakaian yang biasa dipakai sehari-hari dan sebuah cangkir." Rasulullah lalu berkata, "Ambil dan serahkan ke saya!"
Pengemis itu langsung bergegas pulang dan kembali dengan membawa cangkir. Rasulullah kemudian menawarkan cangkir itu kepada para sahabat, "Adakah di antara kalian yang ingin membeli ini?" Seorang sahabat menyahut, "Saya beli dengan satu dirham."
Rasulullah lalu menawarkannya kepada sahabat yang lain. Seorang sahabat yang sanggup membelinya dengan harga dua dirham. Rasulullah kemudian memberikan dua dirham itu kepada si pengemis. Rasul mengharapkan agar uang itu digunakan untuk membeli makanan buat keluarganya, dan sisa uangnya digunakan untuk membeli kapak. "Carilah kayu yang banyak dan juallah, selama dua minggu ini aku tidak ingin melihatmu," kata Rasulullah.
Dua minggu kemudian, pengemis itu datang kembali menghadap Rasulullah SAW, tapi tidak untuk mengemis. Ia datang kepada Rasullah membawa uang 10 dirham hasil dari berjualan kayu. Rasulullah SAW kemudian menyuruhnya untuk membeli pakaian dan makanan untuk keluarganya.
Rasulullah berkata, "Hal ini lebih baik bagi kamu, karena meminta-meminta hanya akan membuat noda di wajahmu di akhirat nanti. Tidak layak bagi seseorang meminta-minta kecuali dalam tiga hal, fakir miskin yang benar-benar tidak mempunyai sesuatu, utang yang tidak bisa terbayar, dan penyakit yang membuat seseorang tidak bisa berusaha."
Kisah ini menggambarkan sifat Rasulullah yang gemar membantu orang yang tidak mampu. Bantuan tidak hanya berupa uang, tapi juga "kail" atau pekerjaan agar kelak orang yang tidak mampu itu bisa hidup mandiri.
Tidak dapat dimungkiri, jumlah pengemis dan pengangguran di Indonesia saat ini masih sangat tinggi. Alangkah indahnya, jika setiap orang mampu (secara ekonomi) di negeri ini mau meniru perilaku Rasulullah tersebut. Dengan memberi sedekah dan pekerjaan, setidaknya jumlah anak jalanan dan pengangguran bisa diminimalisasi.
Rasullullah memberikan contoh bahwa kesalehan spiritual belum dikatakan sempurna, sebelum dibarengi dengan kesalehan sosial (to be sensitive to the reality).
Dalam Alquran disebutkan bahwa orang yang bertakwa yaitu: "Orang-orang yang menafkahkan hartanya, baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan kesalahan orang (QS Ali Imran [3]: 134).
Saatnya kita berbagi dengan orang di sekeliling kita yang fakir dan miskin. Jika orang yang diberi kecukupan ekonomi di negeri ini mau peduli terhadap yang miskin, pasti perempuan Indonesia tidak akan berbondong-bondong menjadi tenaga kerja dan pembantu rumah tangga di negeri orang. Jika orang kaya di negeri ini mau membantu yang lemah dan fakir, tentu tidak banyak anak negeri ini yang putus sekolah. "Sesungguhnya kefakiran (kemiskinan) itu bisa menjerumuskan ke jurang kekafiran."
Kepahlawanan dalam Islam
SUMBER : REPUBLIKA.CO.ID
oleh : Ustaz Bachtiar Nasir
Dalam suatu kesempatan, di satu rumah di Madinah, Amirul Mukminin Umar bin Khattab duduk bersama para sahabatnya dan berkata kepada mereka, "Berobsesilah kalian semua!" Salah seorang dari mereka lalu berkata: "Saya berangan-angan seandainya rumah ini dipenuhi oleh emas yang akan saya infakkan di jalan Allah."
Kemudian, Umar meminta lagi kepada yang lain, maka berkata lagi seseorang dari mereka, "Saya berangan-angan seandainya rumah ini dipenuhi oleh mutiara dan intan berlian yang akan saya infakkan dan sedekahkan di jalan Allah. Umar meminta lagi kepada mereka, tapi mereka lalu mengatakan tidak tahu lagi apa yang akan dikatakan.
Umar berkata, "Kalau saya berangan-angan agar rumah ini dipenuhi orang-orang seperti Abu Ubaidah bin al-Jarrah, Mu'az bin Jabal, dan Salim budak Abu Huzaifah dan saya akan bahu membahu dengan mereka untuk meninggikan kalimat Allah SWT.'' Umar sangat mengagumi kepahlawanan Abu Ubaidah dan para sahabatnya.
Keikhlasan pengorbanan dan pengabdian serta kesetiaan yang mereka berikanlah yang membuat Umar mampu memimpin dan membangkitkan peradaban Islam ke penjuru dunia. Memang dalam perjuangan dan membuat perubahan membutuhkan harta banyak. Tetapi, apalah artinya harta jika tidak memiliki pribadi-pribadi terbaik yang berjuang untuk menjalankan misi dan menciptakan perubahan.
Rasulullah bersabda, "Manusia itu hanyalah seperti seratus ekor unta, hampir-hampir dari seratus ekor tersebut engkau tidak dapatkan satu ekor pun yang bagus untuk ditunggangi." (HR al-Bukhari). Hadis ini menggambarkan mayoritas manusia itu kurang berkualitas jika dilihat dari sudut pandang kualitas kepahlawanan.
Pribadi yang berjiwa kepahlawanan ini dapat sebanding dengan seratus orang bahkan satu bangsa. Islam mengajarkan, pribadi terbaik itu adalah yang berpegang teguh pada keyakinannya, berjuang, dan berdakwah dengan harta serta jiwanya. Wallahu a'lam bish shawab.
oleh : Ustaz Bachtiar Nasir
Dalam suatu kesempatan, di satu rumah di Madinah, Amirul Mukminin Umar bin Khattab duduk bersama para sahabatnya dan berkata kepada mereka, "Berobsesilah kalian semua!" Salah seorang dari mereka lalu berkata: "Saya berangan-angan seandainya rumah ini dipenuhi oleh emas yang akan saya infakkan di jalan Allah."
Kemudian, Umar meminta lagi kepada yang lain, maka berkata lagi seseorang dari mereka, "Saya berangan-angan seandainya rumah ini dipenuhi oleh mutiara dan intan berlian yang akan saya infakkan dan sedekahkan di jalan Allah. Umar meminta lagi kepada mereka, tapi mereka lalu mengatakan tidak tahu lagi apa yang akan dikatakan.
Umar berkata, "Kalau saya berangan-angan agar rumah ini dipenuhi orang-orang seperti Abu Ubaidah bin al-Jarrah, Mu'az bin Jabal, dan Salim budak Abu Huzaifah dan saya akan bahu membahu dengan mereka untuk meninggikan kalimat Allah SWT.'' Umar sangat mengagumi kepahlawanan Abu Ubaidah dan para sahabatnya.
Keikhlasan pengorbanan dan pengabdian serta kesetiaan yang mereka berikanlah yang membuat Umar mampu memimpin dan membangkitkan peradaban Islam ke penjuru dunia. Memang dalam perjuangan dan membuat perubahan membutuhkan harta banyak. Tetapi, apalah artinya harta jika tidak memiliki pribadi-pribadi terbaik yang berjuang untuk menjalankan misi dan menciptakan perubahan.
Rasulullah bersabda, "Manusia itu hanyalah seperti seratus ekor unta, hampir-hampir dari seratus ekor tersebut engkau tidak dapatkan satu ekor pun yang bagus untuk ditunggangi." (HR al-Bukhari). Hadis ini menggambarkan mayoritas manusia itu kurang berkualitas jika dilihat dari sudut pandang kualitas kepahlawanan.
Pribadi yang berjiwa kepahlawanan ini dapat sebanding dengan seratus orang bahkan satu bangsa. Islam mengajarkan, pribadi terbaik itu adalah yang berpegang teguh pada keyakinannya, berjuang, dan berdakwah dengan harta serta jiwanya. Wallahu a'lam bish shawab.
Selasa, 08 November 2011
Penjahat hakiki bertudung sorban
Sumber : Muxlimo's Lair
Salaam, Sobat...
Jika dulu ada istilah "penjahat berdasi" yang mengacu pada para penipu yang berdandan seperti orang baik-baik, kini tampaknya kita perlu waspada pada para "penjahat hakiki bertudung sorban", yaitu para tukang sihir yang mengklaim ilmunya berdasarkan Alquran dan hadis. Ini adalah masalah yang krusial karena menyangkut masalah hakiki akidah Islam, Sobat.
Muslim yang paling awam sekali pun, pasti tahu bahwa pergi berobat ke tukang sihir, dukun atau paranormal itu hukumnya syirik dan tergolong dosa besar tak berampun. Akan tetapi, tampaknya masih banyak yang tertipu oleh para tukang sihir yang berkedok agama: pengobatan alternatif Islami (kata mereka). Bahkan, ada sebagian besar tabib pengobatan alternatif yang menjadikan terapi penyembuhan ini sebagai lahan bisnis. Mereka menentukan harga tertentu bagi para pasien. Sebagian besar kaum muslimin tidak bisa membedakan antara pengobatan Qurani dengan pengobatan sihir. Jenis pengobatan yang pertama bersifat imani, sedangkan yang kedua adalah syaithani.
Yang menambah runyamnya permasalahan ini bagi orang-orang awam adalah bahwa sebagian paranormal ketika membaca mantra-mantra yang mengandung kekufuran, dibaca dengan suara yang pelan dan tidak kedengaran dan melantangkan suaranya ketika membaca sebagian ayat-ayat Alquran (yang diselipkan di antara mantra-mantra musyrik tersebut. Inilah ciri utama para penjahat hakiki bertudung sorban itu.
Hendaknya para pasien tidak tertipu dengan simbol-simbol dan penampilan luar sebuah terapi pengobatan, tetapi hendaknya mereka mencari para pemberi terapi Qurani (ahli ruqyah) yang bertakwa. Nah, bagaimana cara kita mengetahui wak haji, ustaz, atau santri penyembuh alternatif yang kita jumpai itu tukang sihir atau bukan? Selain ciri utama yang sudah ditandai di atas, berikut ini beberapa ciri sekundernya:
menanyakan kepada si penderita siapa namanya dan nama ibunya;
mengambil salah satu benda bekas yang dipakai oleh si penderita, seperti baju, peci, sapu tangan, dan lain-lain; terkadang meminta kepada si penderita seekor binatang dengan sifat-sifat tertentu, untuk disembelih dengan tidak menyebutkan nama Allah ﷻﷻ lalu mengoleskan darahnya kepada bagian-bagian tubuh si penderita yang sakit atau membuang bangkainya pada tempat-tempat yang sepi; menuliskan rajah; memberikan jimat penangkal yang berbentuk persegi empat kepada si penderita. Jimat it mengandung rajah yang berupa huruf-huruf atau angka-angka meminta si penderita untuk menghindari orang ('uzlah) selama masa tertentu dalam ruang yang gelap dan tidak dimasuki sinar matahari. Orang awam menyebutnya dengan menyepi atau bersemedi; terkadang meminta si penderita agar tidak menyentuh air selama masa tertentu, biasanya selama empat puluh hari; memberikan kepada si penderita benda-benda yang harus ditanam di dalam tanah; memberikan kepada si penderita lembaran-lembaran kertas yang harus dibakar kemudian dihirup asapnya; berkomat-kamit membaca sesuatu yang tidak bisa dipahami; terkadang si tabib dapat menebak dengan benar tentang nama si penderita, tempat asalnya, dan persoalan-persoalan yang akan ia tanyakan kepadanya; menuliskan untuk si penderita huruf-huruf potongan di atas sebuah kertas atau di atas piring dari tembikar putih lalu memerintahkan si penderita untuk melarutkannya dengan air dan meminumnya.
Jika Anda sudah tahu bahwa seseorang itu adalah penyihir (meskipun ia adalah ulama terpandang, punya banyak massa, dan kehidupan sehari-harinya tampak begitu islami), jangan sekali-kali mendatanginya. Apalagi jika ulama tersebut terkenal dapat memerintah jin! Bukankah seseorang yang bisa memerintah jin itu berarti ia adalah pemimpin para jin? Berarti pula ia bagian dari keluarga besar jin yang berwujud manusia? Waspadalah, tidak ada seorang pun yang berhak mengklaim ilmunya setaraf Nabi Sulaiman a.s. atau para nabi lainnya.
Bila Anda tetap berkeras dan tetap mendatangi ulama-ulama semacam ini, Anda akan terkena sabda Rasulullah ﷺ
"Barang siapa mendatangi tukang ramal, atau tukang sihir, atau tukang tenung lalu ia bertanya kepadanya tentang sesuatu kemudian membenarkan apa yang dikatakan olehnya, maka sesungguhnya ia telah kafir terhadap wahyu yang telah diturunkan kepada Nabi Muhammad ﷺ."
(Imam Al-Hafizh Al-Mundziri dalam At-Targhib, IV/53 berkata,"Hadis ini diriwayatkan oleh Al-Bazzar dan Abu Ya'la dengan sanad baik dan mauquf (hanya sampai kepada sahabat saja).
Nasihat bagi para muslim yang melakukan praktik pengobatan alternatif. Hendaknya Anda hanya menggunakan metode yang disyariatkan saja. Hendaknya Anda tidak meluaskan praktiknya ke mana-mana, yang pada akhirnya menjerumuskan Anda dan pasien Anda ke dalam hal-hal yang dilarang. Hal ini jika diumpamakan, seperti penggembala yang menggembala gembalaannya di sekitar tempat yang terlarang sebab dikhawatirkan gembalaannya akan masuk ke tempat tersebut.
Allahua'lam.
{Sebuah penyajian ulang dari tulisan Wahid Abdussalam Bali, seorang ulama Mesir sekaligus dosen fikih perbandingan, dalam bukunya yang berjudul asli Ash-Shârimul Battar fît Tashaddy Lis Saharatil Asyrâr (digubah ke dalam bahasa Indonesia menjadi Tolak Sihir Cara Islam oleh Penerbit Aqwam, Solo, 2008).
The Confession: A Novel Sudoku The Gift The 7th Victim The UnionThe Incredible MachineO Holy Night (CD/DVD)
Salaam, Sobat...
Jika dulu ada istilah "penjahat berdasi" yang mengacu pada para penipu yang berdandan seperti orang baik-baik, kini tampaknya kita perlu waspada pada para "penjahat hakiki bertudung sorban", yaitu para tukang sihir yang mengklaim ilmunya berdasarkan Alquran dan hadis. Ini adalah masalah yang krusial karena menyangkut masalah hakiki akidah Islam, Sobat.
Muslim yang paling awam sekali pun, pasti tahu bahwa pergi berobat ke tukang sihir, dukun atau paranormal itu hukumnya syirik dan tergolong dosa besar tak berampun. Akan tetapi, tampaknya masih banyak yang tertipu oleh para tukang sihir yang berkedok agama: pengobatan alternatif Islami (kata mereka). Bahkan, ada sebagian besar tabib pengobatan alternatif yang menjadikan terapi penyembuhan ini sebagai lahan bisnis. Mereka menentukan harga tertentu bagi para pasien. Sebagian besar kaum muslimin tidak bisa membedakan antara pengobatan Qurani dengan pengobatan sihir. Jenis pengobatan yang pertama bersifat imani, sedangkan yang kedua adalah syaithani.
Yang menambah runyamnya permasalahan ini bagi orang-orang awam adalah bahwa sebagian paranormal ketika membaca mantra-mantra yang mengandung kekufuran, dibaca dengan suara yang pelan dan tidak kedengaran dan melantangkan suaranya ketika membaca sebagian ayat-ayat Alquran (yang diselipkan di antara mantra-mantra musyrik tersebut. Inilah ciri utama para penjahat hakiki bertudung sorban itu.
Hendaknya para pasien tidak tertipu dengan simbol-simbol dan penampilan luar sebuah terapi pengobatan, tetapi hendaknya mereka mencari para pemberi terapi Qurani (ahli ruqyah) yang bertakwa. Nah, bagaimana cara kita mengetahui wak haji, ustaz, atau santri penyembuh alternatif yang kita jumpai itu tukang sihir atau bukan? Selain ciri utama yang sudah ditandai di atas, berikut ini beberapa ciri sekundernya:
menanyakan kepada si penderita siapa namanya dan nama ibunya;
mengambil salah satu benda bekas yang dipakai oleh si penderita, seperti baju, peci, sapu tangan, dan lain-lain; terkadang meminta kepada si penderita seekor binatang dengan sifat-sifat tertentu, untuk disembelih dengan tidak menyebutkan nama Allah ﷻﷻ lalu mengoleskan darahnya kepada bagian-bagian tubuh si penderita yang sakit atau membuang bangkainya pada tempat-tempat yang sepi; menuliskan rajah; memberikan jimat penangkal yang berbentuk persegi empat kepada si penderita. Jimat it mengandung rajah yang berupa huruf-huruf atau angka-angka meminta si penderita untuk menghindari orang ('uzlah) selama masa tertentu dalam ruang yang gelap dan tidak dimasuki sinar matahari. Orang awam menyebutnya dengan menyepi atau bersemedi; terkadang meminta si penderita agar tidak menyentuh air selama masa tertentu, biasanya selama empat puluh hari; memberikan kepada si penderita benda-benda yang harus ditanam di dalam tanah; memberikan kepada si penderita lembaran-lembaran kertas yang harus dibakar kemudian dihirup asapnya; berkomat-kamit membaca sesuatu yang tidak bisa dipahami; terkadang si tabib dapat menebak dengan benar tentang nama si penderita, tempat asalnya, dan persoalan-persoalan yang akan ia tanyakan kepadanya; menuliskan untuk si penderita huruf-huruf potongan di atas sebuah kertas atau di atas piring dari tembikar putih lalu memerintahkan si penderita untuk melarutkannya dengan air dan meminumnya.
Jika Anda sudah tahu bahwa seseorang itu adalah penyihir (meskipun ia adalah ulama terpandang, punya banyak massa, dan kehidupan sehari-harinya tampak begitu islami), jangan sekali-kali mendatanginya. Apalagi jika ulama tersebut terkenal dapat memerintah jin! Bukankah seseorang yang bisa memerintah jin itu berarti ia adalah pemimpin para jin? Berarti pula ia bagian dari keluarga besar jin yang berwujud manusia? Waspadalah, tidak ada seorang pun yang berhak mengklaim ilmunya setaraf Nabi Sulaiman a.s. atau para nabi lainnya.
Bila Anda tetap berkeras dan tetap mendatangi ulama-ulama semacam ini, Anda akan terkena sabda Rasulullah ﷺ
"Barang siapa mendatangi tukang ramal, atau tukang sihir, atau tukang tenung lalu ia bertanya kepadanya tentang sesuatu kemudian membenarkan apa yang dikatakan olehnya, maka sesungguhnya ia telah kafir terhadap wahyu yang telah diturunkan kepada Nabi Muhammad ﷺ."
(Imam Al-Hafizh Al-Mundziri dalam At-Targhib, IV/53 berkata,"Hadis ini diriwayatkan oleh Al-Bazzar dan Abu Ya'la dengan sanad baik dan mauquf (hanya sampai kepada sahabat saja).
Nasihat bagi para muslim yang melakukan praktik pengobatan alternatif. Hendaknya Anda hanya menggunakan metode yang disyariatkan saja. Hendaknya Anda tidak meluaskan praktiknya ke mana-mana, yang pada akhirnya menjerumuskan Anda dan pasien Anda ke dalam hal-hal yang dilarang. Hal ini jika diumpamakan, seperti penggembala yang menggembala gembalaannya di sekitar tempat yang terlarang sebab dikhawatirkan gembalaannya akan masuk ke tempat tersebut.
Allahua'lam.
{Sebuah penyajian ulang dari tulisan Wahid Abdussalam Bali, seorang ulama Mesir sekaligus dosen fikih perbandingan, dalam bukunya yang berjudul asli Ash-Shârimul Battar fît Tashaddy Lis Saharatil Asyrâr (digubah ke dalam bahasa Indonesia menjadi Tolak Sihir Cara Islam oleh Penerbit Aqwam, Solo, 2008).
The Confession: A Novel Sudoku The Gift The 7th Victim The UnionThe Incredible MachineO Holy Night (CD/DVD)
Minggu, 06 November 2011
Teringat BLACK HOLE di Arafah
SUMBER : REPUBLIKA ONLINE
Oleh Muhammad Subarkah
"Seperti apa rasanya Padang Mahsyar?" Jawabnya, sebelum mati pergilah haji dan berwukuflah di Arafah. Di sini, meski masih di atas tanah, panasnya juga tak ketulungan. Bayangkan saja, kalau jarak bumi ke matahari yang sekitar 149.600.000 kilometer (92,96 juta mil) tiba-tiba dipangkas hingga hanya tinggal sejengkal. Apa jadinya makhluk yang bernama latin Homosapiens ini? Semua jelas akan menjadi sebutir debu atau sekadar zarah (partikel).
"Arafah adalah padang kesadaran," tulis cendikiawan Iran, Ali Syariati, dalam bukunya yang memukau mengenai haji itu. Menurut dia, saat wukuf di Arafah yang dimulai tepat tengah hari tanggal 9 Dzulhijah, di kala matahari bersinar sangat terik, maka carilah kesadaran diri, wawasan, pengetahuan, dan cinta Ilahi. Dia pun menyerukan agar semua orang yang ada di tempat itu keluar dari tendanya: "Hai manusia, keluarlah dari tenda dan terjunlah ke dalam kesadaran manusia. Biarkanlah 'ego' terbakar terik matahari!"
Kesadaran akan Arafah yang identik sebuah dusun percobaan untuk alam Mahsyar pada hari kiamat memang sudah lama dipompakan dalam pelajaran manasik haji. Di tempat itulah dahulu Rasulallah SAW mengucapkan khotbah haji wadanya yang sangat fenomenal. Inti pesannya adalah kesucian dan kehormatan Ilahiah dari setiap anak manusia serta pernyataan konkret bahwa semua manusia sama kecuali amal baiknya.
Tapi, di balik seruan khotbah Amirul Haj di Arafah dan di antara dengung talbiah dan zikir, saat itu juga mendenging 'khotbah-khotbah' ilmiah si jenius masa kini, Stephen Walking Hawking, yang telah memopulerkan teori bahwa dunia ini ujung-ujungnya memang akan berakhir dan tersedot ke dalam sebuah lubang hitam: black hole. Dan, pesan inilah yang kini juga terasa hingga kawasan Arafah. Dunia tetap saja punya umur. Tak ada yang abadi di dunia ini.
Hawking secara jenius mengisahkan bagaimana cara alam ini masuk dalam masa kiamat. Bila saat itu warna matahari sudah berubah merah pertanda siap menjadi bintang mati, daya gravitasinya pun naik berlipat-lipat. Seluruh planet yang semenjak masa Galileo dan Copernicus dipercayai mengitarinya menjadi tersedot ke arahnya. Dan, sedotan ini makin dahsyat ketika matahari benar-benar menjadi bintang mati. Saat itulah sistem tata surya ini masuk ke dalam lorong yang berwarna gelap. Hawking menyebutnya lubang hitam (black hole). Setelah itu terjadilah ledakan sangat besar: big bang!
Pada menjelang fase itulah, di mana ciri-ciri kiamat seperti yang diwartakan Alquran ketika bumi dan matahari berguncang serta langit runtuh atau matahari tinggal sejengkal dari kepala, terasa bersesuaian dengan pikiran ilmiah. Stephen Hawking memang hingga kini masih tetap agnostik dengan mengatakan bahwa Tuhan tidak ikut campur dalam masalah di alam semesta. Namun, dia ternyata yakin bahwa alam semesta ini pun akan berakhir.
Dalam banyak bukunya, Hawking jelas menyebutkan betapa dahsyatnya kiamat ala black hole itu. Menurut dia, pada suatu waktu ketika di angkasa terjadi sebuah pemusatan masa yang cukup besar, saat itu pulalah muncul sebuah gaya gravitasi yang sangat besar. Medan gravitasi ini begitu kuat sehingga kecepatan lepas di dekatnya mendekati kecepatan cahaya. Tak ada sesuatu, termasuk radiasi elektromagnetik sekali pun, dapat lolos dari sedotan gravitasinya. Bahkan, cahaya hanya dapat masuk tetapi tidak dapat keluar atau melewatinya. Bumi masuk ke dalam lubang hitam sebelum meledak bersama planet-planet lainnya.
"Saya ingin tahu bagaimana jalan pikiran Tuhan ketika hendak menciptakan alam semesta," begitu kata Hawking ketika ditanya mendiang Paus Johanes Paulus II mengapa sampai sibuk berpikir mengenai soal perlunya mencari tahu tentang eksistensi Tuhan bagi alam semesta. Paus saat itu tidak berkenan ketika Hawking tetap berkeras menyatakan bahwa agama hanya ekspresi dari budaya manusia.
Menyadari semua itu, sembari berzikir dan melihat langit di atas Arafah, maka terbayanglah segala kedhaifan manusia. Melalui dua lembar kain ihram diajarkan bahwa segala kemegahan dunia tak ada artinya bila kiamat tiba. Bayangkan, Hawking meskipun tak percaya Tuhan itu ada, dia sangat yakin bila hari akhir dunia akan terjadi.
Maka, nikmat Tuhan kamu (Allah SWT) yang manakah yang kamu dustakan? (QS ar-Rahman).
Oleh Muhammad Subarkah
"Seperti apa rasanya Padang Mahsyar?" Jawabnya, sebelum mati pergilah haji dan berwukuflah di Arafah. Di sini, meski masih di atas tanah, panasnya juga tak ketulungan. Bayangkan saja, kalau jarak bumi ke matahari yang sekitar 149.600.000 kilometer (92,96 juta mil) tiba-tiba dipangkas hingga hanya tinggal sejengkal. Apa jadinya makhluk yang bernama latin Homosapiens ini? Semua jelas akan menjadi sebutir debu atau sekadar zarah (partikel).
"Arafah adalah padang kesadaran," tulis cendikiawan Iran, Ali Syariati, dalam bukunya yang memukau mengenai haji itu. Menurut dia, saat wukuf di Arafah yang dimulai tepat tengah hari tanggal 9 Dzulhijah, di kala matahari bersinar sangat terik, maka carilah kesadaran diri, wawasan, pengetahuan, dan cinta Ilahi. Dia pun menyerukan agar semua orang yang ada di tempat itu keluar dari tendanya: "Hai manusia, keluarlah dari tenda dan terjunlah ke dalam kesadaran manusia. Biarkanlah 'ego' terbakar terik matahari!"
Kesadaran akan Arafah yang identik sebuah dusun percobaan untuk alam Mahsyar pada hari kiamat memang sudah lama dipompakan dalam pelajaran manasik haji. Di tempat itulah dahulu Rasulallah SAW mengucapkan khotbah haji wadanya yang sangat fenomenal. Inti pesannya adalah kesucian dan kehormatan Ilahiah dari setiap anak manusia serta pernyataan konkret bahwa semua manusia sama kecuali amal baiknya.
Tapi, di balik seruan khotbah Amirul Haj di Arafah dan di antara dengung talbiah dan zikir, saat itu juga mendenging 'khotbah-khotbah' ilmiah si jenius masa kini, Stephen Walking Hawking, yang telah memopulerkan teori bahwa dunia ini ujung-ujungnya memang akan berakhir dan tersedot ke dalam sebuah lubang hitam: black hole. Dan, pesan inilah yang kini juga terasa hingga kawasan Arafah. Dunia tetap saja punya umur. Tak ada yang abadi di dunia ini.
Hawking secara jenius mengisahkan bagaimana cara alam ini masuk dalam masa kiamat. Bila saat itu warna matahari sudah berubah merah pertanda siap menjadi bintang mati, daya gravitasinya pun naik berlipat-lipat. Seluruh planet yang semenjak masa Galileo dan Copernicus dipercayai mengitarinya menjadi tersedot ke arahnya. Dan, sedotan ini makin dahsyat ketika matahari benar-benar menjadi bintang mati. Saat itulah sistem tata surya ini masuk ke dalam lorong yang berwarna gelap. Hawking menyebutnya lubang hitam (black hole). Setelah itu terjadilah ledakan sangat besar: big bang!
Pada menjelang fase itulah, di mana ciri-ciri kiamat seperti yang diwartakan Alquran ketika bumi dan matahari berguncang serta langit runtuh atau matahari tinggal sejengkal dari kepala, terasa bersesuaian dengan pikiran ilmiah. Stephen Hawking memang hingga kini masih tetap agnostik dengan mengatakan bahwa Tuhan tidak ikut campur dalam masalah di alam semesta. Namun, dia ternyata yakin bahwa alam semesta ini pun akan berakhir.
Dalam banyak bukunya, Hawking jelas menyebutkan betapa dahsyatnya kiamat ala black hole itu. Menurut dia, pada suatu waktu ketika di angkasa terjadi sebuah pemusatan masa yang cukup besar, saat itu pulalah muncul sebuah gaya gravitasi yang sangat besar. Medan gravitasi ini begitu kuat sehingga kecepatan lepas di dekatnya mendekati kecepatan cahaya. Tak ada sesuatu, termasuk radiasi elektromagnetik sekali pun, dapat lolos dari sedotan gravitasinya. Bahkan, cahaya hanya dapat masuk tetapi tidak dapat keluar atau melewatinya. Bumi masuk ke dalam lubang hitam sebelum meledak bersama planet-planet lainnya.
"Saya ingin tahu bagaimana jalan pikiran Tuhan ketika hendak menciptakan alam semesta," begitu kata Hawking ketika ditanya mendiang Paus Johanes Paulus II mengapa sampai sibuk berpikir mengenai soal perlunya mencari tahu tentang eksistensi Tuhan bagi alam semesta. Paus saat itu tidak berkenan ketika Hawking tetap berkeras menyatakan bahwa agama hanya ekspresi dari budaya manusia.
Menyadari semua itu, sembari berzikir dan melihat langit di atas Arafah, maka terbayanglah segala kedhaifan manusia. Melalui dua lembar kain ihram diajarkan bahwa segala kemegahan dunia tak ada artinya bila kiamat tiba. Bayangkan, Hawking meskipun tak percaya Tuhan itu ada, dia sangat yakin bila hari akhir dunia akan terjadi.
Maka, nikmat Tuhan kamu (Allah SWT) yang manakah yang kamu dustakan? (QS ar-Rahman).
Jumat, 04 November 2011
Antara Sunnatullah, Takdir, Syari'ah, Ikhtiar, dan Nasib
Sumber : Spiritual Sinergi Semesta
Sunatullah
Sunnatullah adalah KEHENDAK ALLAH yang berupa Konsep-Ketetapan Ilahi Yang Tak Bisa Diubah . Sunnatullah berlaku kepada siapa pun, dimana pun, dan kapan pun. Sunnatullah ada yang sudah dipahami manusia, tapi BUANYAK yang masih belum atau bahkan tidak akan pernah mampu dipahami oleh manusia. Kalau ada manusia yang memahami SEMUA SUNNATULLAHNYA maka dikhawatirkan manusia itu menjadi sombong dan menganggap diri sebagai Tuhan.
Taqdir
Taqdir adalah KEHENDAK ALLAH yang berupa Kejadian-Kejadian yang berlaku berdasarkan Konsep Ilahi, yakni berdasarkan Sunnatullah. Jika Sunnatullah itu sebuah Ketentuan yang berupa RUMUS, maka TAKDIR itu adalah AKSI dari RUMUS yang berlaku.
Syariah
Syari’ah adalah KEHENDAK ALLAH yang berupa Konsep-Ketetapan Ilahi yang diujikan kepada manusia secara bebas, apakah manusia mau menggunakannya ataukah tidak. MUSLIM artinya BERSERAH kepada ALLAH, yakni menurut-ta'at atas syari'ah yang telah ditetapkan untuknya. Dan sebagai MUKMIN artinya YAKIN bahwa syari'ah dari ALLAH adalah yang terBAIK untuknya.
Ikhtiar
Ikhtiar atau Ikhtiyar (artinya : atas kemauan-kehendak sendiri) dan Istikhoroh (artinya : mencari pilihan) berasal dari kata yang sama yaitu "Khoiron" yang artinya Kebaikan. Jadi secara sederhana IKHTIAR dapat diartikan sebagai USAHA DIRI "YANG PENUH KEMAUAN" untuk MENCARI dan MELAKUKAN PILIHAN TERBAIK.
Jadi, jika SUNNATULLAH, TAKDIR, dan SYARI'AH merupakan KEHENDAK ALLAH maka IKHTIAR adalah KEHENDAK diri. Intinya ALLAH berkehendak agar kita memiliki kehendak. Disinilah "ruang" ikhtiar. Itu sebabnya kelak kita bertanggung jawab atas ikhtiar-ikhtiar kita.
Nasib
Nasib adalah Hasil dari ikhtiar kita atas Syari'ah, Sunnatullah, dan Takdir . Hari ini banyak yang mengkonotasikan Nasib dengan sesuatu yang tidak baik, padahal tidak selalu demikian, bahkan bagi orang-orang yang berTAQWA maka NASIB BAIK akan nyaris selalu menyertainya.
Sunatullah
Sunnatullah adalah KEHENDAK ALLAH yang berupa Konsep-Ketetapan Ilahi Yang Tak Bisa Diubah . Sunnatullah berlaku kepada siapa pun, dimana pun, dan kapan pun. Sunnatullah ada yang sudah dipahami manusia, tapi BUANYAK yang masih belum atau bahkan tidak akan pernah mampu dipahami oleh manusia. Kalau ada manusia yang memahami SEMUA SUNNATULLAHNYA maka dikhawatirkan manusia itu menjadi sombong dan menganggap diri sebagai Tuhan.
Taqdir
Taqdir adalah KEHENDAK ALLAH yang berupa Kejadian-Kejadian yang berlaku berdasarkan Konsep Ilahi, yakni berdasarkan Sunnatullah. Jika Sunnatullah itu sebuah Ketentuan yang berupa RUMUS, maka TAKDIR itu adalah AKSI dari RUMUS yang berlaku.
Syariah
Syari’ah adalah KEHENDAK ALLAH yang berupa Konsep-Ketetapan Ilahi yang diujikan kepada manusia secara bebas, apakah manusia mau menggunakannya ataukah tidak. MUSLIM artinya BERSERAH kepada ALLAH, yakni menurut-ta'at atas syari'ah yang telah ditetapkan untuknya. Dan sebagai MUKMIN artinya YAKIN bahwa syari'ah dari ALLAH adalah yang terBAIK untuknya.
Ikhtiar
Ikhtiar atau Ikhtiyar (artinya : atas kemauan-kehendak sendiri) dan Istikhoroh (artinya : mencari pilihan) berasal dari kata yang sama yaitu "Khoiron" yang artinya Kebaikan. Jadi secara sederhana IKHTIAR dapat diartikan sebagai USAHA DIRI "YANG PENUH KEMAUAN" untuk MENCARI dan MELAKUKAN PILIHAN TERBAIK.
Jadi, jika SUNNATULLAH, TAKDIR, dan SYARI'AH merupakan KEHENDAK ALLAH maka IKHTIAR adalah KEHENDAK diri. Intinya ALLAH berkehendak agar kita memiliki kehendak. Disinilah "ruang" ikhtiar. Itu sebabnya kelak kita bertanggung jawab atas ikhtiar-ikhtiar kita.
Nasib
Nasib adalah Hasil dari ikhtiar kita atas Syari'ah, Sunnatullah, dan Takdir . Hari ini banyak yang mengkonotasikan Nasib dengan sesuatu yang tidak baik, padahal tidak selalu demikian, bahkan bagi orang-orang yang berTAQWA maka NASIB BAIK akan nyaris selalu menyertainya.
Epistemologi Makrifat
Sumber : Republika Online
Prof Dr Nasaruddin Umar
Guru Besar Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah, Wakil Menteri Agama RI
Pengetahuan yang diperoleh melalui olah nalar disebut dengan ilmu ('ilm) dan pengetahuan yang diperoleh melalui olah batin disebut makrifat (ma'rifah). Secara kebahasaan, kata 'ilm berasal dari akar kata alima-ya'lamu, berarti mengetahui. Seakar kata dengan 'alam, berarti tanda, petunjuk, bendera.'Alamah berarti alamat atau suatu tanda yang melalui dirinya dapat diketahui sesuatu yang lain (ma bihi ya'lamu al-syai). Dalam pembahasan terdahulu tentang alam dijelaskan segala sesuatu selain Allah (ma siwa Allah) adalah alam. Alam adalah tanda menunjuk kepada (adanya) Allah SWT. Alam juga sekaligus memberikan kesadaran dan pengetahuan tentang Allah SWT. Dari segi kebahasaan dapat ditangkap makna 'ilm dan 'alam memiliki konotasi fisik dan mekanik (hushuli).
Sedangkan, makrifah berasal dari kata 'arafa-yurif, memiliki berbagai makna yang lahir dari padanya, antara lain, mengetahui dan mengenal lebih dalam (i'rfah), pengakuan dosa (i'tiraf), wukuf di Arafah ('arrafah al-hujjaj), Padang Arafah ('arafat), tempat antara surga dan neraka (a'raf), bersetubuh ('arafah al-ma'ah), saling mengenal satu sama lain (ta'aruf), warisan tradisi lama yang positif ('urf), terkenal, masyhur (ma'ruf), ilmu pengetahuan luas (ma'arif), dan pengetahuan yang mendalam dan komprehensif ('irfan/ma'rifah). Dari segi kebahasaan dapat dipahami makna makrifat memiliki konotasi lebih tinggi dan agung (hudhuri).
Dengan perbedaan tersebut, dengan sendirinya antara ilmu dan makrifat memiliki ontologi, epistemologi, dan aksiologi yang berbeda satu sama lain. Perbedaan ini bisa dipahami melalui perbedaan antara ilmu-ilmu hushuli dan ilmu-ilmu hudhuri (lebih lanjut mengenai hal ini lihat artikel terdahulu: "Antara Ilmu Hudhuri dan Ilmu Hushuli").
Secara ontologi, ilmu ('ilm) masih lebih banyak berkutat pada wilayah logika manusia. Referensi yang digunakan untuk memahami ilmu juga masih bersifat fisik dan visual, meskipun dalam tingkatannya yang lebih tinggi, khususnya dalam level filsafat makna, sudah ada yang mulai bertumpang tindih dengan level awal ontologi makrifat. Ontologi makrifat, sebagaimana arti dasarnya, lebih mengacu pada wilayah-wilayah yang dapat dikatakan asing bagi para ahli ilmu pengetahuan (saintis).
Meskipun demikian, sesungguhnya para saintis tidak bisa serta-merta menafikan keberadaan ontologi keilmuan makrifat karena secara de facto banyak peristiwa yang diungkap oleh pengetahuan makrifat sulit dibantah oleh para saintis. Sebutlah contoh tentang efek keberadaan Tuhan yang dulu dinafikan oleh para saintis positivisme, tetapi di dalam era posmodernisme mulai diberi ruang. Terakhir para saintis dalam era new age tidak bisa menyembunyikan adanya Godspot di dalam diri manusia. Kini para ilmuwan modern, sesekuler apa pun mereka, tidak dapat lagi terus-menerus 'menyerang' kaum agamawan (baca: agnostik) karena mereka sendiri meragukan dirinya sendiri.
Bahkan, di negara-negara maju sekarang sudah mulai demam kajian spiritual. Kabbalah (mistisisme Yahudi) yang dulu diharamkan oleh para Rabbi karena dianggap bid'ah kini laksana cendawan tumbuh di mana-mana. Di New York, tepatnya The Manhattan Center, yang terletak di 155 E/84 St, di jantung Kota New York berdiri tegak Kabbalah Center. Jauh sebelumnya, Karen Berg pernah mendirikan The National Research Institute of Kabbalah di Los Angeles, yang sampai sekarang ramai dikunjungi artis Hollywood dan ilmuwan Yahudi di sana. Di Eropa dan Amerika Latin juga demikian halnya. Lembaga-lembaga meditasi bahkan sudah dibuka di sejumlah universitas terkemuka. Buku-buku new age pernah mendominasi sejumlah toko buku di Amerika dan Eropa. Pusat-pusat sufistik akhir-akhir ini mungkin lebih ramai di Barat daripada di Timur. The Beshara School, sebuah lembaga spiritual yang bertaraf internasional, sudah mulai go public dan merambah hampir di seluruh negara. Begitu pun Ibnu 'Arabi Society, para anggotanya semakin besar, sebagaimana dapat dilihat di webnya. Pengikut Kabbani dan Bawa Muhaiyaddeen di AS juga semakin ramai dikunjungi pengikut. Di antara mereka bukan orang awam, tetapi sangat terdidik dan pejabat.
Meningkatnya gerakan sufisme di berbagai tempat menandakan adanya ketidakpuasan manusia terhadap capaian ilmu pengetahuan selama ini. Paling tidak kehausan intelektualitas manusia ternyata tidak mampu dipuaskan oleh ilmu pengetahuan ('ilm). Manusia menginginkan lebih dari sekadar ilmu yang hanya mampu memberikan kepuasan logika. Kepuasan sejati hanya dapat dirasakan manakala menyentuh aspek hakiki dari manusia yang namanya kepuasan batin. Justru kepuasan batin inilah yang kemudian mendatangkan kesadaran kemanusiaan yang lebih tinggi.
Untuk bisa sampai pada tingkat kepuasan batin ini dibutuhkan pengetahuan tingkat tinggi yang biasa disebut dengan makrifat, yang sesekali disebut irfan atau dalam istilah tasawuf biasa disebut dengan mukasyafah. Mukasyafah berarti penyingkapan tabir-tabir (hijab) yang selama ini menghijab manusia untuk mengakses sebuah dunia yang agung, di mana manusia bisa meraih kepuasan yang luar biasa.
Epistemologi makrifat lebih dari sekadar menempuh epistemologi keilmuan biasa. Persyaratan yang harus ada di dalam menggapai tingkat makrifat Al-Qusyairi ialah penyucian diri dari berbagai dosa dan maksiat, bersih dari urusan dan ketergantungan dunia, terus-menerus bermunajat di hadapan Allah dengan cara sirri, selalu memelihara kelembutan jiwa dan budi pekerti, serta penuh pengendalian dan mawas diri. Bagi orang yang mencapai tingkat mukasyafah (penyingkapan), ia akan berada pada tingkat musyahadah (penyaksian kepada zat Yang Mahamulia). Dalam keadaan seperti ini, manusia bisa memperoleh kepuasan intelektual hakiki yang tak terlukiskan.
Rawaim Ibnu Ahmad pernah menggambarkan orang yang mencapai tingkat makrifat bagaikan seorang menyaksikan cermin. Jika ia melihat cermin itu, akan tampak jelas Tuhannya. Zunnun al-Mishri melukiskan orang-orang yang bergaul dengan penerima makrifah seperti orang-orang yang bergaul dengan Allah SWT. Menurut al-Hallaj, "Jika seorang hamba telah sampai kepada makrifatullah, Allah akan membisikkan kepadanya dengan melalui hatinya dan menjaga hatinya dari kata hati yang tidak benar." Abu Yazid al-Busthami pernah ditanya perihal orang yang mencapai makrifat, ia menjawab, "Orang arif adalah penerbang dan orang zuhud itu pejalan kaki." Selanjutnya, ia menambahkan, "Ketika ia tidur ia tidak melihat selain Allah, ketika ia terjaga ia tidak melihat selain Allah, ia tidak beribadah selain kepada Allah."
Untuk urusan lebih teknik untuk memperoleh makrifat, Ahmad Ibnu Atho' berkomentar: "Makrifat itu memiliki tiga rukun, yaitu takut kepada Allah, malu kepada Allah, dan senang kepada Allah." Jadi, memang tidak gampang mencari dan menemukan makrifat. Hampir seluruh ulama sepakat bahwa cara untuk meraih sukses mencapai makrifat ialah kebersihan batin. Untuk itu, penyucian jiwa (tadzkiyah al-nafs) dan keindahan batin (tanwir al-qulub) serta niat yang tulus merupakan persyaratan mutlak yang harus diwujudkan di dalam diri murid.
Pada dasarnya, manusia itu memiliki kemampuan dan kecerdasan, bahkan makrifat. Hanya, mereka terkontaminasi oleh lingkungan sosial sehingga mereka perlu berzikir (mengingat kembali). Ayat yang sering dilibatkan kelompok ini, antara lain, fas'alu ahl al-dzikr inkuntum la ta'lamun. (Bertanyalah kalian kepada ahli zikir jika kalian tidak tahu); Afala tatadzakkarun (Mengapa kalian tidak mengingat kembali?), dan Aqim al-shala li dzikri (Dirikanlah shalat untuk mengingat Aku). Kelompok ini mengedepankan penyucian diri dalam bentuk tazkirah, tashawwuf, tashwir, dan tazkiah untuk menjernihkan kembali pengetahuan inti yang pernah dibekalinya sejak lahir.
Menuntut ilmu-ilmu makrifat juga diperlukan kesantunan kepada guru (mursyid), sebagaimana dapat dilihat di lembaga-lembaga spiritual, termasuk dalam tradisi pondok pesantren. Ketawadhuan seorang murid dan kesantunan seorang guru atau kiai adalah adanya tradisi keluhuran dalam proses pencarian ilmu pengetahuan. Ini sejalan dengan ayat: "Sebagaimana (Kami telah menyempurnakan nikmat Kami kepadamu) Kami telah mengutus kepadamu Rasul di antara kamu yang membacakan ayat-ayat Kami kepada kamu dan menyucikan kamu dan mengajarkan kepadamu Al-Kitab dan Al-Hikmah (As-Sunah), serta mengajarkan kepada kamu apa yang belum kamu ketahui." (QS al-Baqarah [2]: 151).
Prof Dr Nasaruddin Umar
Guru Besar Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah, Wakil Menteri Agama RI
Pengetahuan yang diperoleh melalui olah nalar disebut dengan ilmu ('ilm) dan pengetahuan yang diperoleh melalui olah batin disebut makrifat (ma'rifah). Secara kebahasaan, kata 'ilm berasal dari akar kata alima-ya'lamu, berarti mengetahui. Seakar kata dengan 'alam, berarti tanda, petunjuk, bendera.'Alamah berarti alamat atau suatu tanda yang melalui dirinya dapat diketahui sesuatu yang lain (ma bihi ya'lamu al-syai). Dalam pembahasan terdahulu tentang alam dijelaskan segala sesuatu selain Allah (ma siwa Allah) adalah alam. Alam adalah tanda menunjuk kepada (adanya) Allah SWT. Alam juga sekaligus memberikan kesadaran dan pengetahuan tentang Allah SWT. Dari segi kebahasaan dapat ditangkap makna 'ilm dan 'alam memiliki konotasi fisik dan mekanik (hushuli).
Sedangkan, makrifah berasal dari kata 'arafa-yurif, memiliki berbagai makna yang lahir dari padanya, antara lain, mengetahui dan mengenal lebih dalam (i'rfah), pengakuan dosa (i'tiraf), wukuf di Arafah ('arrafah al-hujjaj), Padang Arafah ('arafat), tempat antara surga dan neraka (a'raf), bersetubuh ('arafah al-ma'ah), saling mengenal satu sama lain (ta'aruf), warisan tradisi lama yang positif ('urf), terkenal, masyhur (ma'ruf), ilmu pengetahuan luas (ma'arif), dan pengetahuan yang mendalam dan komprehensif ('irfan/ma'rifah). Dari segi kebahasaan dapat dipahami makna makrifat memiliki konotasi lebih tinggi dan agung (hudhuri).
Dengan perbedaan tersebut, dengan sendirinya antara ilmu dan makrifat memiliki ontologi, epistemologi, dan aksiologi yang berbeda satu sama lain. Perbedaan ini bisa dipahami melalui perbedaan antara ilmu-ilmu hushuli dan ilmu-ilmu hudhuri (lebih lanjut mengenai hal ini lihat artikel terdahulu: "Antara Ilmu Hudhuri dan Ilmu Hushuli").
Secara ontologi, ilmu ('ilm) masih lebih banyak berkutat pada wilayah logika manusia. Referensi yang digunakan untuk memahami ilmu juga masih bersifat fisik dan visual, meskipun dalam tingkatannya yang lebih tinggi, khususnya dalam level filsafat makna, sudah ada yang mulai bertumpang tindih dengan level awal ontologi makrifat. Ontologi makrifat, sebagaimana arti dasarnya, lebih mengacu pada wilayah-wilayah yang dapat dikatakan asing bagi para ahli ilmu pengetahuan (saintis).
Meskipun demikian, sesungguhnya para saintis tidak bisa serta-merta menafikan keberadaan ontologi keilmuan makrifat karena secara de facto banyak peristiwa yang diungkap oleh pengetahuan makrifat sulit dibantah oleh para saintis. Sebutlah contoh tentang efek keberadaan Tuhan yang dulu dinafikan oleh para saintis positivisme, tetapi di dalam era posmodernisme mulai diberi ruang. Terakhir para saintis dalam era new age tidak bisa menyembunyikan adanya Godspot di dalam diri manusia. Kini para ilmuwan modern, sesekuler apa pun mereka, tidak dapat lagi terus-menerus 'menyerang' kaum agamawan (baca: agnostik) karena mereka sendiri meragukan dirinya sendiri.
Bahkan, di negara-negara maju sekarang sudah mulai demam kajian spiritual. Kabbalah (mistisisme Yahudi) yang dulu diharamkan oleh para Rabbi karena dianggap bid'ah kini laksana cendawan tumbuh di mana-mana. Di New York, tepatnya The Manhattan Center, yang terletak di 155 E/84 St, di jantung Kota New York berdiri tegak Kabbalah Center. Jauh sebelumnya, Karen Berg pernah mendirikan The National Research Institute of Kabbalah di Los Angeles, yang sampai sekarang ramai dikunjungi artis Hollywood dan ilmuwan Yahudi di sana. Di Eropa dan Amerika Latin juga demikian halnya. Lembaga-lembaga meditasi bahkan sudah dibuka di sejumlah universitas terkemuka. Buku-buku new age pernah mendominasi sejumlah toko buku di Amerika dan Eropa. Pusat-pusat sufistik akhir-akhir ini mungkin lebih ramai di Barat daripada di Timur. The Beshara School, sebuah lembaga spiritual yang bertaraf internasional, sudah mulai go public dan merambah hampir di seluruh negara. Begitu pun Ibnu 'Arabi Society, para anggotanya semakin besar, sebagaimana dapat dilihat di webnya. Pengikut Kabbani dan Bawa Muhaiyaddeen di AS juga semakin ramai dikunjungi pengikut. Di antara mereka bukan orang awam, tetapi sangat terdidik dan pejabat.
Meningkatnya gerakan sufisme di berbagai tempat menandakan adanya ketidakpuasan manusia terhadap capaian ilmu pengetahuan selama ini. Paling tidak kehausan intelektualitas manusia ternyata tidak mampu dipuaskan oleh ilmu pengetahuan ('ilm). Manusia menginginkan lebih dari sekadar ilmu yang hanya mampu memberikan kepuasan logika. Kepuasan sejati hanya dapat dirasakan manakala menyentuh aspek hakiki dari manusia yang namanya kepuasan batin. Justru kepuasan batin inilah yang kemudian mendatangkan kesadaran kemanusiaan yang lebih tinggi.
Untuk bisa sampai pada tingkat kepuasan batin ini dibutuhkan pengetahuan tingkat tinggi yang biasa disebut dengan makrifat, yang sesekali disebut irfan atau dalam istilah tasawuf biasa disebut dengan mukasyafah. Mukasyafah berarti penyingkapan tabir-tabir (hijab) yang selama ini menghijab manusia untuk mengakses sebuah dunia yang agung, di mana manusia bisa meraih kepuasan yang luar biasa.
Epistemologi makrifat lebih dari sekadar menempuh epistemologi keilmuan biasa. Persyaratan yang harus ada di dalam menggapai tingkat makrifat Al-Qusyairi ialah penyucian diri dari berbagai dosa dan maksiat, bersih dari urusan dan ketergantungan dunia, terus-menerus bermunajat di hadapan Allah dengan cara sirri, selalu memelihara kelembutan jiwa dan budi pekerti, serta penuh pengendalian dan mawas diri. Bagi orang yang mencapai tingkat mukasyafah (penyingkapan), ia akan berada pada tingkat musyahadah (penyaksian kepada zat Yang Mahamulia). Dalam keadaan seperti ini, manusia bisa memperoleh kepuasan intelektual hakiki yang tak terlukiskan.
Rawaim Ibnu Ahmad pernah menggambarkan orang yang mencapai tingkat makrifat bagaikan seorang menyaksikan cermin. Jika ia melihat cermin itu, akan tampak jelas Tuhannya. Zunnun al-Mishri melukiskan orang-orang yang bergaul dengan penerima makrifah seperti orang-orang yang bergaul dengan Allah SWT. Menurut al-Hallaj, "Jika seorang hamba telah sampai kepada makrifatullah, Allah akan membisikkan kepadanya dengan melalui hatinya dan menjaga hatinya dari kata hati yang tidak benar." Abu Yazid al-Busthami pernah ditanya perihal orang yang mencapai makrifat, ia menjawab, "Orang arif adalah penerbang dan orang zuhud itu pejalan kaki." Selanjutnya, ia menambahkan, "Ketika ia tidur ia tidak melihat selain Allah, ketika ia terjaga ia tidak melihat selain Allah, ia tidak beribadah selain kepada Allah."
Untuk urusan lebih teknik untuk memperoleh makrifat, Ahmad Ibnu Atho' berkomentar: "Makrifat itu memiliki tiga rukun, yaitu takut kepada Allah, malu kepada Allah, dan senang kepada Allah." Jadi, memang tidak gampang mencari dan menemukan makrifat. Hampir seluruh ulama sepakat bahwa cara untuk meraih sukses mencapai makrifat ialah kebersihan batin. Untuk itu, penyucian jiwa (tadzkiyah al-nafs) dan keindahan batin (tanwir al-qulub) serta niat yang tulus merupakan persyaratan mutlak yang harus diwujudkan di dalam diri murid.
Pada dasarnya, manusia itu memiliki kemampuan dan kecerdasan, bahkan makrifat. Hanya, mereka terkontaminasi oleh lingkungan sosial sehingga mereka perlu berzikir (mengingat kembali). Ayat yang sering dilibatkan kelompok ini, antara lain, fas'alu ahl al-dzikr inkuntum la ta'lamun. (Bertanyalah kalian kepada ahli zikir jika kalian tidak tahu); Afala tatadzakkarun (Mengapa kalian tidak mengingat kembali?), dan Aqim al-shala li dzikri (Dirikanlah shalat untuk mengingat Aku). Kelompok ini mengedepankan penyucian diri dalam bentuk tazkirah, tashawwuf, tashwir, dan tazkiah untuk menjernihkan kembali pengetahuan inti yang pernah dibekalinya sejak lahir.
Menuntut ilmu-ilmu makrifat juga diperlukan kesantunan kepada guru (mursyid), sebagaimana dapat dilihat di lembaga-lembaga spiritual, termasuk dalam tradisi pondok pesantren. Ketawadhuan seorang murid dan kesantunan seorang guru atau kiai adalah adanya tradisi keluhuran dalam proses pencarian ilmu pengetahuan. Ini sejalan dengan ayat: "Sebagaimana (Kami telah menyempurnakan nikmat Kami kepadamu) Kami telah mengutus kepadamu Rasul di antara kamu yang membacakan ayat-ayat Kami kepada kamu dan menyucikan kamu dan mengajarkan kepadamu Al-Kitab dan Al-Hikmah (As-Sunah), serta mengajarkan kepada kamu apa yang belum kamu ketahui." (QS al-Baqarah [2]: 151).
Langganan:
Postingan (Atom)