Senin, 06 Februari 2012

Ibadah haji itu seharusnya membersihkan hati dan mensucikan jiwa terlebih dahulu

Kritik Tentang Haji
Menarik dicermati kritik Imam Al-Ghazali dalam karya magnum opus-nya, Ihya’ Ulumuddin. Dengan keras dan lantang, hujjatul Islam itu mengkritik habis-habisan para haji, baik yang melakukannya kali pertama (haji wajib), maupun yang berkehendak mengulanginya untuk kali kedua dan seterusnya (haji sunnah).

Terhadap mereka yang berangkat haji untuk kali pertama, Al-Ghazali melontarkan kritiknya, diantara mereka banyak yang berangkat tanpa lebih dulu membersihkan jiwa dan hatinya. Mereka banyak yang mengabaikan aspek-aspek ibadah haji yang berdimensi psikis maupun etis, sehingga setiap sampai di Tanah Suci mereka tidak mampu menjaga kesucian diri untuk tidak menghujat, mengolok-ngolok, dan berkata keji.

Sedang bagi mereka yang Ahlul Haj (berkali kali naik haji), dengan menukil sebuah kisah spiritual bernuansa sufistik, Al-Ghazali menyebut orang-orang yang lebih antausias menjalankan ibadah sunnah berulang-ulang daripada memberi sedekah kepada para tetangganya yang menggelepar kelaparan dan hidup dalam penderitaan, sebagai orang yang terpedaya (ghurur) karena mengabaikan skala prioritas dalam beribadah.

Kritik yang disampaikan Al-Ghazali itu sebenarnya sangat relevan dan signifikan bagi kondisi bangsa kita yang kini dihadapkan pada persoalan kemiskinan akibat krisis berkepanjangan. Menurut hemat saya, untaian hikmah yang sering dibentangkan kaum sufi itu, sebenarnya merupakan reaktualisasi suatu ibadah yang telah lama berkarat karena terbungkus lumpur kepicikan egoisme sendiri dan arogansi personal yang telah merasa “paling Islam”.

Pertanyaannya kemudian, bila saja 10.000 calon haji ulang bersepakat mendayagunakan dana haji ulangnya, sehingga terkumpul cash money sekitar Rp. 250 milyar, lalu dana itu dimanfaatkan untuk mengentaskan rakyat miskin yang kini berjumlah lebih dari 30 juta, apakah pahalanya sama dengan melaksanakan ibadah haji?
Mungkinkah hukum ibadah haji ulang bergeser dari sunnah menjadi makruh, atau bahkan haram?

Tiga Kategori
Secara umum, ada tiga kategori pengulangan pelaksanaan ibadah haji, yaitu :

  1. Mengulangi karena haji yang terdahulu (yang pertama) belum sah, lantaran ada beberapa syarat dan rukun yang mungkin tidak sempat (lupa) dijalankan.
  2. Mengulangi karena haji yang terdahulu tidak memenuhi syarat dan rukun secara sempurna, tetapi si pelaksana tidak justru merasa belum pas karena ibadahnya tidak dilakukan dengan khusuk, misalnya.
  3. Mengulangi semata-mata untuk memperbanyak amalan sunnah.
Dua kategori yang disebut belakangan itulah yang menurut hemat saya relevan dengan kritik Al-Ghazali kepada orang-orang yang kemaruk melaksanakan ibadah haji. Mayoritas umat Islam Indonesia, bahkan yang hidup di tengah komunitas Muslim mancanegara, sampaisaat ini masih memutlakkan wajibnya haji pertama, dan sunnah bagi yang bermaksud mengulangi untuk kali kedua dan seterusnya. Pandangan semacam ini, tampaknya disebabkan karena mayoritas umat Islam tidak memiliki pengetahuan cukup memadai tentang thuruq al-istimbath al-ahkam (metode-metode pengambilam hukum), sering ketidakberdayaan mereka dalam memahami ajaran Islam secara benar, integral, dan komprehensif. Maka selama ini yang diketahui masyarakat, ibadah haji itu hukumnya wajib dan sunnah bagi mereka yang mengulanginya. Mereka belum menjumpai hukum haji itu makruh, atau bahkan haram, misalnya.

Para ulama menetapkan hukum wajib dan sunnah itu karena mendasarkan pikirannya pada nash yang dianggapnya qath’i (pasti). Ini sebagaimana platform-Nya : ”Allah mewajibkan atas manusia untuk menyengaja bait (pergi ke Baitullah menunaikan ibadah haji) bagi yang mampu mengadakan perjalanan ke sana” (QS.3:97).

Sedangkan penetapan hukum sunnah didasarkan pada hadits yang diriwayatkan Imam Ahmad, yang artinya : “Barang siapa ingin menambah atau mengulangi ibadah haji itu hukumnya sunnah”.

Haji makruh
Lalu kapan haji itu dihukumi makruh? Seorang ahli fikih Irak, Ibrahim bin Yazid al-Nakha’i, yang lahir tahun 46 H (666 M) dan hidup pada era pemerintahan Bani Umayah, pernah mengeluarkan sebuah fatwa hukum, bahwa sedekah itu lebih baik daripada haji sunnah. Artinya,mengulangi ibadah haji sesudah haji yang pertama itu makruh hukumnya (Moh Rowas, Mausu’ah Fiqh Ibrahim al-Nakha’i).
Melihat fatwa hukum makruh haji ulang itu, persoalan yang segera muncul adalah, apa yang dijadikan pertimbangan dalam menetapkan hukum (istimbath al-ahkam) haji makruh itu?
Sebagaimana diketahui, dalam menetapkan hukum Islam jika mujtahid memperoleh petunjuk dalam nash, maka operasionalisasi kaidah-kaidah kebahasaan menjadi perhatian utama bagi mereka, seperti hukum wajibnya haji yang ditunjuk Al Qur’an S. 3:97 itu.

Namun, hukum dasar wajib seperti tersurat dalam nash itu, bisa mengalami perubahan ketika dijumpai illat (alasan hukum) dasar itu. Dari sini lalu muncul sebuah kaidah hukum, al-hukmu yaduru ma’a ‘illatihi wujudan wa ‘adaman. Artinya, ada atau tidaknya suatu hukum itu amat tergantung pada sebab-sebab yang mempengaruhinya.

Berdasar kaidah itu, maka bisa saja hukum ibadah haji yang pada asalnya wajib bagi umat Islam yang mampu, berubah menjadi haram, misalnya. Dihukumi haram, bila pelaksanaan ibadah haji itu justru akan menghancurkan sisi kemaslahatan sebagai landasan pokok pembentukan sebuah rumusan hukum Islam. Contohnya mengadakan biaya naik haji dengan berutang, sementara persediaan atau potensi untuk membayar utang tidak ada. Demikian juga, bila biaya pelaksanaan ibadah haji merupakan komponen fundamental yang amat dibutuhkan bagi kelangsungan hidup dan kehidupan keluarga, sementara tidak ada sumber lain yang dapat dijadikan sarana meraih kebutuhan primer.

Hukum haram ini memang tidak didasarkan pada dalil yang qah’i, tetapi disandarkan pada kaidah fikih, man ista’jala syai’an qabla awanihi uqiba bihirmanihi. Artinya, barangsiapa mempercepat sesuatu sebelum masanya, maka dihukumi haram melaksanakannya.

Perubahan hukum seperti itu, tentu saja tidak diperoleh penjelasannya secara rinci dalam Al-Qur’an. Karena itu, dalam memberi dan mengkonstruksi hukum dalam Islam, penggunaan kaidah-kaidah fiqhiyyah, ushuliyah, dan lughawiyah menjadi amat urgen untuk merumuskan kesimpulan-kesimpul an metodologis.

Pengentasan Kemiskinan
Sebagaimana halnya pengulangan ibadah haji yang disebut oleh hadits di muka sebagi “sunnah”, maka hukum sunnah ini bisa saja bergeser menjadi “makruh” dan atau bahkan “haram”, apabila nyata-nyata bertentangan dengan maslahat (kebaikan) yang ditetapkan secara qath’i (pasti).
Memelihara anak yatim dan menyantuni fakir miskin, yang disebut berkali-kali sebagi program pengentasan kemiskinan oleh Al-Qur’an, hemat saya, merupakan maslahat yang qath’i dan amat mendesak dilaksanakan ketimbang menunaikan ibadah haji sunnah (haji ulang) yang disandarkan dalil zanny (hadits).

Imam Malik, sang pencetus metode maslahah mursalah mengungkapkan, tiap maslahat sebenarnya merupakan takhshish (pengkhususan) terhadap keumuman nash yang zanny (Abu Zahrah, Ushul Fiqh). Jadi dalam konteks ini, menyerahkan dan mendayagunakan dana haji ulang (haji sunnah) untuk mengentaskan kemiskinan memberi beasiswa kepada mereka yang tak mampu, bahkan pemberian modal kepada mereka yang miskin agar mampu menciptakan lapangan kerja, misalnya, hemat saya merupakan maslahat yang amat mungkin nilainya lebih baik dan lebih panjang dibanding ibadah haji sunnah.

Prinsip kemaslahatan inilah yang oleh Ibrahim al-Nakha’i dijadikan sebagai asas untuk istimbath al-ahkam (pengambilan hukum), sehingga ia berkesimpulan, haji ulang itu hukumnya makruh. Dengan demikian, hukum makruh ibadah haji ini adalah hukum yang bergerak dari hukum sunnah karena adanya suatu sebab (illat), yaitu kebutuhan dana bagi orang-orang tertentu yang secara ekonomis dan politis tidak beruntung, seperti biaya pendidikan, pemberian modal kerja, dan kebutuhan-kebutuhan lain yang mendesak bagi fakir miskin.
Dengan kata lain, atas dasar pertimbangan etika dan kemaslahatan serta perubahan illat (alasan hukum) berupa kebutuhan yang bersifat urgen dan mendesak pada sementara bangsa kita yang kini menderita akibat krisis multidimensi, seperti penciptaan lapangan kerja baru, bantuan bagi korban bencana alam, biaya rehabilitasi tempat-tempat ibadah dan perumahan akibat kerusuhan.

Maka, sekali lagi, hukum haji ulang yang semula “sunnah” hemat saya, bisa bergeser menjadi “makruh”, dalam arti lebih baik ditangguhkan, bahkan ditinggalkan. Tetapi harus dipahami, yang menyebabkan makruh itu adalah sikap meninggalkan kemaslahatan yang qath’i dengan mendahulukan ibadah sunnah yang penetapan hukumnya berdasarkan dalil zanny. Jadi bukan hajinya itu sendiri.

Menyerahkan dan mendayagunakan haji sunnah (haji ulang) bagi mereka yang membutuhkan, jelas merupakan maslahat yang berimplikasi positif bagi dinamika sosial komunitas Muslim dalam skala luas. Ini amat relevan dan signifikan buat kondisi bangsa Indonesia yang kini secara obyektif sedang dihadapkan pada persoalan kemiskinan akibat krisis yang berkepanjangan.

Mengingat secara kuantitatif umat Islam Indonesia menempati mayoritas, maka problem kemiskinan merupakan urusan umat Islam itu sendiri yang menuntut perhatian dari kita yang mengklaim diri sebagai Muslim. Bukankah Nabi Muhammad SAW telah mengingatkan secara keras kepada kita, “Barang siapa tidak mau memperhatikan urusan kaum Muslim, maka ia tidak termasuk kelompok mereka”. Beliau juga memberikan sinyalemen : “Tidak beriman orang yang tidur kenyang, sementara tetangganya menggelepar kelaparan (padahal ia mengetahui kondisi tetangganya itu)”.

Karena itu, sebagai epilog tulisan ini, saya mengimbau kepada kaum Muslim yang telah meraih gelar haji dan berkeinginan untuk melaksanakan lagi untuk kali kedua dan seterusnya, urungkan niat itu. Ikhlaskan dan serahkan saja dana dana haji ulang itu kepada mereka yang tertindas baik secara ekonomis maupun politis untuk karya-karya yang produktif dan monumental.

Kalau saja kita berhaji tiga kali kemudian meninggal, maka tidak ada lagi nilai tambah (added value) atau pahala bagi ibadah kita. Berbeda bila kita cukup berhaji sekali saja, lalu dana yang dua kali itu, misalnya, didayagunakan untuk beasiswa bagi mereka yang miskin, dan orang-orang yang ada di dalamnya menjadi kreatif dan produktif kita akan tetap memperoleh pahala yang selalu berkesinambungan, meski kita telah terbujur kaku di liang kubur.

Rukun Islam urutannya adalah final
Rukun Islam ada 5 dan urutannya adalah final. Artinya rukun Islam tidak bisa ditukar atau dibolak-balik urutannya. Urutan ini memiliki tujuan skala prioritas. Orang yang berkewajiban sholat, membayar zakat, puasa ramadhan, dan haji adalah orang Islam artinya orang yang telah membaca syahadat dan benar syahadatnya.
Jadi apa maksudnya? Maksudnya, Syahadat dulu dengan benar baru Sholat, Sholat dulu dengan benar baru Zakat, Zakat dulu dengan benar baru Puasa, dan Puasa dulu dengan benar baru Haji. Banyak orang yang mengaku Muslim dalam menjalankan Rukun Islamnya loncat-lancat karena tidak memahami Rukun Islam itu sendiri yang final urutannya yang sekaligus mengandung makna skala prioritas. Loncatnya banyak yang tidak tanggung-tanggung, Syahadat belum benar saja sudah langsung naik haji, sehingga hajinya percuma.

Contohnya: Syarat haji mabrur itu salah satunya adalah biaya yang digunakan adalah halal. Tetapi karena Syahadat yang belum benar, mereka kadang memperoleh uang dari hasil yang tidak benar misalnya bohong sana-bohong sini dan curang sana-curang sini dalam berdagang, korupsi sana korupsi sini sebagai pegawai dan pejabat, bahkan ada yang berasal dari keyakinan menyekutukan- Nya, misalnya memelihara tuyul, minta ke simbah A yang telah meninggal, dan lain-lain. Semua ini bertentangan dengan yang Allah tetapkan dan Rosul contohkan.

Salah satu syarat dalam menunaikan ibadah haji adalah bila mampu. Mampu disini jangan dimaknai dengan dipersempit. Mampu disini secara ekonomi bukan hanya mampu sebatas biaya yang akan digunakan untuk biaya perjalanan, tetapi juga mampu secara ekonomi untuk keluarga yang ditinggalkan selama ditinggal ibadah haji. Keluarga disini banyak orang Muslim salah mengartikan. Keluarga itu ada keluarga satu rumah atau keluarga ikatan darah, keluarga sesama Muslim yang meliputi satu rumah, RT, RW, Desa/Kelurahan, Kecamatan, Kabupaten/Kota, Propinsi dan Negara, bahkan keluarga Non-Muslim karena Islam adalah agama rahmatan lil ‘alamin.

Benar sekali bila jaman Bani Umayah dulu, naik Haji ke-2 dimakruhkan karena kondisi Negara sedang pailit. Maka untuk Indonesia masalah Haji perlu dikaji lagi. Tolong MUI. Mungkinkah di Indonesia karena keadaan Negara haji ke-2 dan seterusnya Makruh, Umroh haram, dan seterusnya? Dengan melihat kondisi Indonesia yang banyak bencana, terutama bencana kelaparan seperti busung lapar, penulis sangat sedih bila mendengar kuwota haji naik dan peserta haji setiap tahun naik. Bahkan ada yang lebih menyedihkan lagi apabila mereka itu haji ke-2, ke-3, ke-5, dan seterusnya. Atau bahkan itu hanya sekedar umroh yang banyak orang menganggap itu hanya wisata religius. Penulis sangat sedih pula bila melihat pamflet yang dipasang strategis dan bertuliskan besar dengan tulisan, “Umroh bersama KH. Fulan” yang seharusnya Beliau ini lebih tahu tentang semua ini.

Bila kita cermati, trend orang naik haji di Indonesia banyak ragamnya. Antara lain sebagai berikut:

Ibadah
Ini ibadah hajinya untuk orang-orang yang benar-benar mampu secara lahir batin.

Kehormatan
Inilah naik yang tidak pernah turun. Tidak ada turun haji. Dan inilah di Indonesia ibadah rukun Islam yang titelnya ditulis, bahkan ditulis didepan namanya. Kalau kita mau adil, seharusnya rukun Islam sebelum yang ke-5 juga ditulis. Misalnya, Syahadat (Sy) Fulan, Sholat (Sh) Fulan, Zakat (Z) Fulan, Puasa (P) Fulan, dan Haji (H) Fulan. Atau semuanya, Syahadat.Sholat. Zakat.Puasa. Haji Fulan atau SyShZPH Fulan. Naik haji agar terhormat (Kajen-Jawa), agar disebut pak haji atau bu haji.

Meledek Allah
Kalau kita cermati, banyak orang berulang kali haji. Katanya untuk bertobat. Tapi setiap kali pulang haji kelakuannya bejat lagi. Apakah tidak meledek Tuhannya?

Mencari Kekayaan
Melempar jumrah adalah symbol melempar syetan. Batu sejumlah 7 buah harus untuk melempar semuanya. Tetapi ada orang yang melempar tidak semuanya, untuk dibawa pulang untuk tujuan pesugihan. Apabila tidak dilemparkan semua berarti dia sayang dengan syetan.

Bunuh diri
Adalagi haji memaksakan diri, baik secara fisik dan materi. Secara fisik, katanya biar mati di Mekah. Secara ekonomi, belum saatnya memaksakan dengan menjual harta bendanya sehingga saat dia pulang haji sudah tidak punya apa-apa. Padahal di Islam memanen yang belum saatnya itu dilarang. Apa hukumnya menyiksa diri dan bunuh diri?

Beribadah yang Sombong
Indonesia ini sebenarnya secara ekonomi tidak mengalami krisis. Tetapi adalah krisis moral. Tahukah Anda penduduk Indonesia mayoritas (±85%) Muslim? Apabila menganut Teori Probabilitas siapakah yang sebenarnya mempunyai peran banyak terhadap bangsa ini atau yang tidak bermoral? Jangan heran. Banyak di Indonesia orang yang mengaku Muslim sangat sombong, riya dan lain-lain. Bahkan sombong atau riya tidak tanggung-tanggung, bukan hanya dalam kehidupan umum saja, tetapi bahkan dalam beribadah pun sombong. Contohnya ibadah Haji. Anda tahu Indonesia tidak krisis ekonomi? Salah satunya adalah jalanan semakin macet, dan bila anda perhatikan disana banyak mobil pribadi bukan mobil umum. Sejak tahun 1998 jamaah haji semakin naik pesertanya.

Kasus Haji kelaparan pada musim haji 2006-2007 bisa jadi ini merupakan peringatan sekaligus hukuman. Itulah rasanya bila terlantar, itulah rasanya bila kelaparan seperti saudara-saudara kita yang kelaparan dan busung lapar yang anda tinggalkan di tanah air. Bila anda cermat dan jeli, tahu rukun Islam secara final dan prioritas untuk memperoleh pelajaran dan hikmah seperti itu tidak perlu sampai naik haji dengan biaya mahal. Tetapi bila kita menjalankan puasa dengan sungguh-sungguh anda bisa petik semua pelajaran itu dari puasa sehingga tidak perlu sampai mekah. Sudahkah anda menjalankan puasa sungguh-sungguh? Sudah saatnya kah anda naik haji?

Indonesia ini sebenarnya memang makmur bila orangnya bermoral. Kekayaan ini cukup bila merata. Selama ini kekayaan hanya menumpuk di tempat tertentu. Dan yang lebih menyedihkan mereka yang diberi amanah ingkar. Anda pernah menonton acara TV dengan judul acara Rumah Antik? Kebanyakan itu bukan rumah antik, tapi rumah kesombongan dan keangkuhan, karena disana tertumpak barang-barang yang mewah dan mahal harganya. Coba bila itu semua digunakan untuk usaha yang bisa menghidupi orang banyak. Apa yang terjadi? Dan coba anda hitung, bila biaya naik haji itu 30 juta dan orang yang naik haji 300 ribu orang. Bisa untuk membuat usaha/industri apa sajakah? Bisa menghidupi orang Muslim berapakah?

Apabila uang untuk haji anda gunakan untuk usaha, berapakah pahalanya? Lebih besarkah daripada untuk naik haji dengan kondisi Negara seperti ini? Bila anda memiliki usaha dan memiliki karyawan, misalnya 10 orang. Berapa pahalanya? Dari 10 karyawan anda, mereka memiliki 1 istri dan 2 anak, artinya anda telah menghidupi 40 orang. Bagaimana bila anda memilki 1000 karyawan? Berapa pahalanya? Selama ini bila kita cermati masalah sosial berangkat dari masalah ekonomi, artinya anda telah sukses membuat banyak orang menjadi orang yang lebih baik. Berapakah pahalanya? Kemudian dari sekian banyak karyawan anda jadi bisa beribadah dengan baik, beramal dengan baik, apakah ini tidak seperti amal jariyah anda? Dan berapakah pahala amal jariyah? Allahu akbar.

Orang Islam Harus Kaya
Ingat orang Islam harus kaya. Banyak masalah social dan kejahatan hidup berangkat dari masalah ekonomi, bukan hanya masalah iman. Dan hanya orang kaya yang mampu membatu dengan optimal secara ekonomi. Orang miskin membantu orang miskin adalah tambal sulam. Ingat Fakir tipis bedanya dengan Kafir, bila tidak kuat imannya. Secara tulisan tinggal membalik huruf. Banyak orang miskin menyalahkan Tuhannya, sehingga dia mencari Tuhan lain, seperti ke Gunung Kawi, pohon Besar, batu, kuburan, dan lain-lain. Bila umat Islam Nusantara ini benar-benar bersatu, amanah, tidak sombong, rukun Islamnya benar, dan lain-lain tidak ada orang miskin, tidak ada membangun masjid seperti pengemis, dan lain-lain.

Kesimpulannya:
Mari interopeksi Islam kita, apakah sudah benar rukun Islam yang kita jalankan?
Mari kita lihat kembali konsep dan niat haji kita
Mari kita buat Muslim Indonesia makmur agar tidak mudah geser Tauhidnya, aman dan tentram.
Semoga bisa ditangkap esensinya dan bisa jadi bahan diskusi.
Semoga bermanfaat. Amin.

Sumber dari sini

Minggu, 05 Februari 2012

Kisah sukses pemilik rumah makan Cibiuk "daripada membakar uang untuk rokok lebih baik untuk sedekah"

Sumber : Harian Republika, Jum'at 3 Februari 2012

Namanya kecanduan, memang susah berhenti. Seperti kecanduan rokok. Menurut Lembaga Menanggulangi Masalah Merokok (LM3), dari beberapa penelitian sekitar 70-80 persen perokok ingin berhenti merokok, tapi hanya 3 persen yang berhasil.

Di Amerika Serikat, dalam periode 1964-1974 sebanyak 40 juta orang berusaha berhenti merokok. Tapi hanya sekitar 25 persen yang berhasil (Ambros Prechtl, N.D., Portrait of An Ex Smoker, Abul-Qasim Publishing House, Jeddah 1413 H.

Pun demikian yang pernah dialami Haji Iyus Ruslan (46), bos jaringan 33 Rumah Makan Cibiuk di 19 kota. Sebelum Berjaya dengan usaha rumah makan dan pabrik coklat saat ini, Iyus sukses menuai sukses bisnis beras warisan orang tuanya.

Seperti jamaknya pengusaha, Iyus dulu juga “ahli hisap” alias “ahlul udud”. Terlebih setelah juragan beras asal Cibiuk, Garut ini bangkrut. Stress, maka ngebulnya makin kenceng.
Putra ketiga dari 7 bersaudara keturunan (alm) H Ali Muchtar dan Hj Umayah ini berkisah, pada 1999 usaha berasnya bangkrut tak ketulungan. Padahal bisnis itu sudah berkembang, hingga menjangkau pasar DKI Jakarta, Jawa Barat, hingga Jawa Timur, Iyus juga memiliki sebuah pabrik penggilingan padi besar seluas 2-3 ribu m2, sejumlah truk, jaringan di sejumlah gerai, dengan 30-40 karyawan.

Namun, semua itu tak tersisa pada 1999. “Saya salah langkah,” kenang Iyus. Saat itu utangnya menumpuk, dan ia diuber-uber banyak pihak yang bermaksud menagih pembayaran. Padahal hartanya yang tersisa “tinggal hanya baju di badan”.

Beberapa bulan kemudian, Iyus mulai menggeliat bangkit. Dengan dukungan keluarganya, ia coba mengandalkan sambal Cibiuk dalam usaha warung makan lesehan. Sebuah rumah kumuh seluas 200m2 di jalan Ciledug pinggiran Garut, dia sewa untuk dijadikan warung makan sederhana.

Dari warung makan Cibiuk perdana itulah, usaha Iyus berkembang dan beranak pinak. Cabang pertamanya di jalan Otista Garut, kemudian merambah ke Bandung. Setelah membiak di kota Kembang, lalu merambah Bekasi, Bogor, Depok, Jakarta, Aceh, dan seterusnya hingga lebih dari 20 outlet kini.

Semua itu, dirasa Haji Iyus sebagai sebuah miracle. Keajaiban. Bayangkan, katanya, “Saya ini memulainya sebagai pengusaha kategori keempat menurut Ustadz Yusuf Mansur, yaitu tak punya modal, pengalaman, dan tak punya keahilian,” kenang Haji Iyus sambil terkekeh.

Suami dari Rossalina ingat betul, sewaktu membuka warung makan pertama ia memanen cibiran dan pesismisme. Pasalnya, lokasi Cibiuk di dekat pemukiman penduduk yang sepi dan rawan keamanan. Pelintas bakal takut mampir karena takut mampir karena khawatir kendaraannya hilang. Tapi bismillah, dengan dukungan keluarga dan terutama do’a restu orangtuanya, Iyus jalan terus hingga kemudian sukses besar.

Ia mengungkapkan, suksesnya diraih dengan ikhtiar manajerial dan spiritual. Prinsip usahanya adalah fokus, kreativitas yang unik, kerja keras, serta system administrasi yang baik. Misalnya sambal Cibiuk, menu andalan usahanya, kini dimoifikasi dengan 10 macam varian.

Tapi itu saja tidak cukup. Harus dibarengi laku spiritual, yaitu riyadhoh dan sedekah. Pengusaha kelahiran 5 Desember 1966 ini mengaku mendapat pencerahan sedekah dan riyadhoh setelah mengenal dan berhubungan akrab dengan ustadz Yusuf Mansur selama tiga tahun terakhir.

“Saya bersama keluarga berusaha giat melakukan riyadhoh, meningkatkan ibadah wajib atau sunnah,” ungkap ayahanda dari Galih Ruslan (20), Fani Prawesty (17), Ratu Vilia (16), Zahira Gaitsa (9), dan Nazwa Revalina (6).

Secara berkala, Iyus bersedekah kepada pelanggan rumah makannya dalam bentuk hadiah undian. Misalnya berupa motor. Juga berupa diskon.

Sedekah juga jadi kunci sukses bisnis Iyus. Salah satu keputusan besarnya adalah berhenti merokok, lalu menyalurkan anggaran rokok untuk menghidupi anak dhuafa termasuk membiayai pendidikannya.

Jumat, 03 Februari 2012

Cinta dan keakraban Ilahi

Sumber : Republika

Keakraban adalah kebersamaan yang dicapai dengan cinta. Begitu banyaknya kesamaan diri kita dengan Allah sehingga kita akan merasakan begitu dekat dengan-Nya. Diri kita memang tidak bisa dipisahkan dengan-Nya karena kita semua berasal dari-Nya, Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un.

Seperti laut dan gelombangnya, lampu dan cahayanya, api dan panasnya; berbeda tetapi tidak dapat dipisahkan. Allah dan makhluk-Nya, berbeda tetapi tak bisa dipisahkan. Kita tidak bisa mengatakan bahwa laut sama dengan gelombang, lampu sama dengan cahaya, atau api sama dengan bara, demikian pula kita tidak bisa mengatakan bahwa makhluk sama dengan Khaliq.

Lautan cinta pada diri seseorang akan mengimbas pada seluruh ruang. Jika cinta sudah terpatri dalam seluruh jaringan badan kita maka vibrasinya akan menghapus semua kebencian. Sebagai manifestasinya dalam kehidupan, begitu bertemu dengan seseorang, ia tersenyumm, sebagai ungkapan dan tanda rasa cinta.

Nikmat sekali bermesraan dengan Allah SWT. Kadang tidak terasa air mata meleleh. Air mata kerinduan dan air mata tobat inilah yang kelak akan memadamkan api neraka. Air mata cinta akan memutihkan noda-noda hitam dan menjadikannya suci.

Cinta tidak bisa diterangkan, hanya bisa dirasakan. Terkadang terasa tidak cukup kosakata yang tersedia untuk menggambarkan bagaimana nikmatnya cinta. Kosakata yang tersedia didominasi oleh kebutuhan fisik sehingga untuk mencari kata yang bisa memfasilitasi keinginan rohani tidak cukup.

Terminologi dan kota kata yang tersedia lebih banyak berkonotasi cinta kepada fisik materi, tetapi terlalu sedikit kosa kata cinta secara spiritual. Mungkin itulah sebabnya mengapa Allah Swt memilih bahasa Arab sebagai bahasa Al-Qur'an karena kosa kata spiritualnya lebih kaya. Kosa kata cinta dalam Al-Qur'an menurut ulama tafsir ada 14 kosa kata, mulai dari cinta monyet sampai kepada cinta Ilahi.

Cinta Allah bersifat primer, sementara cinta hamba sekunder. Primer itu inti, substansi. Yang sekunder itu tidak substansial. Pemilik cinta sesungguhnya hanya Allah SWT. Hakikat cinta yang sesungguhnya adalah unconditional love (cinta tanpa syarat). Tanpa pamrih ini cinta primer. Ini berbeda dengan cinta kita yang memiliki kepentingan.

Ketika sebelum kawin, masya Allah, kita sampai kehabisan kata-kata melukiskan kebaikan pujaan kita. Akan tetapi sesudah kawin, kata-kata paling kasar pun tak jarang kita lontarkan.

Unconditional love pernah ditunjukan Rasulullah Muhammad SAW ketika dilempari batu sampai tumitnya berdarah-darah oleh orang Thaif. Rasul hanya tersenyum. "Aduh umatku, seandainya engkau tahu visi misi yang kubawa, engkau pasti tidak akan melakukan ini", demikian bisiknya,.

Bahkan ketika datang malaikat penjaga gunung Thaif menawarkan bantuan untuk membalas perbuatan orang Thaif itu, Nabi berucap, "Terima kasih. Allah lebih kuasa daripada makhluk. Jangan diapa-apakan. Mereka hanya tidak tahu. Kelak kalau mereka sadar, mereka akan mencintai saya".

Nabi Nuh AS pernah menyesal sejadi-jadinya kenapa ia pernah mendoakan umatnya binasa. 950 tahun ia berdakwah mengajak kaumnya ke jalan Allah, namun hanya segelintir yang mengikuti ajakannya. Yang lainnya ingkar sehingga Nabi Nuh berdoa kepada Allah agar dikirimkan bencana kepada kaumnya yang ingkar itu. Maka datanglah banjir besar yang menenggelamkan mereka, sedangkan Nuh dan para pengikutnya sudah mempersiapkan diri dengan membuat perahu.

Ada sebuah ungkapan dari ahli hakekat: "Kalau cinta sudah meliputi, maka tak ada lagi ruang kebencian di dalam diri seseorang. Sejelek apapun dan kasarnya orang lain, ia tak akan membalas dengan kejelekan."

Banyak ulama besar kita telah mencapai tingkatan itu. Imam Syafi'i pernah "dikerjai" oleh seorang tukang jahit saat memesan pembuatan baju. Lengan kanan baju itu lebih besar/longgar dibanding lengan kirinya yang kecil dan sempit. Imam Syafi'i bukannya komplain dan marah kepada tukang jahit itu, malah berterima kasih.

Kata Imam Syafi'i, "Kebetulan, saya suka menulis dan lengan yang lebih longgar ini memudahkan saya untuk menulis sebab lebih leluasa bergerak".

Indah hidup ini kalau tidak ada benci. Ini bukan berarti kita harus menahan marah. Yang kita lakukan adalah bagaimana menjadikan diri ini penuh cinta sehingga potensi kemarahan kita berkurang. Kita punya hak untuk marah, dan itu harus diungkapkan dengan proporsional.

Jangan karena makanan sedikit kurang enak lalu marah. Istri salah sedikit marah. Banyak hal yang membuat kita marah. Akan tetapi, selesaikah persoalan dengan marah?

Semakin meningkat kadar cinta maka semakin mesra pula belaian Allah SWT. Bagaimanakah nikmatnya belaian Allah SWT? Bayangkanlah seorang bayi yang dibelai ibunya. Tersenyum, dan sekelilingnya menggoda. Itu baru belaian makhluk. Apalagi belaian Sang Pencipta.

Kita pun akan semakin akrab dengan Allah, dan semakin tipis garis pembatas alam gaib di hadapan kita sehingga semua rahasia akan terkuak dan semakin banyak keajaiban yang kita lihat. Seperti sepasang kekasih yang saling mencintai, masih adakah rahasia antara keduanya?

Ruh sifatnya tinggi dan cenderung dekat dengan Allah. Raga sifatnya rendah dan jauh dari Allah. Ruh itu terang, sedangkan raga gelap. Para sufi mengungkapkan, "Wahai raga, sibukkan dirimu dengan shalat dan puasa. Wahai kalbu, sibukkan dirimu dengan bisikan munajat kepada Allah. Wahai raga, ungkapkan iyyâka na'budu. Wahai kalbu, ungkapkan iyyâka nasta'în."

Ta'abbud mendaki ke atas, sedangkan isti'ânah turun ke bawah. Yang melakukan ta'abbud adalah hamba, sedangkan isti'ânah adalah Tuhan. Siapa yang naik akan memancing yang di atas untuk turun menyambut. Kalau tidak pernah naik, jangan harap akan ada yang turun.
Indah perjumpaan itu.

Ada ketakutan dan ada harapan. Kadang kita takut kepada Allah, tetapi juga kita berharap. Ada al-khasya dan ada al-raja'. Di balik ketakutan sehabis berdosa ada harapan bahwa kita akan diampuni, ada keinginan bersama Allah kembali. Maka lahirlah tobat. Seperti pendaki gunung yang tak pernah bosan, naik ke atas, terperosok ke bawah, naik lagi, terperosok, dan naik lagi. Semakin tinggi pendakian itu semakin licin dan sulit. Begitulah cobaan bagi manusia. Semakin tinggi kedudukan seseorang maka cobaannya semakin berat. Namun, cobaan itu jangan membuat kita putus asa. Jika kita terus mendaki, pasti kita akan sampai ke puncak.

Ada ketakjuban dan ada keakraban. Ketakjuban itu ada jarak. Untuk mengagumi suatu objek, kita harus mengambil jarak dari objek itu. Indahnya sebuah lukisan hanya akan terasa jika kita agak jauh dari lukisan itu. Keakraban itu tidak ada jarak, atau sangat dekat sekali. Inilah kita dengan Tuhan. Akrab tetapi takjub.

Ada pemusatan dan ada penyebaran. Allah Maha Esa. Kita fokus ke situ. Akan tetapi, apa yang dilihat pancaindera itu beragam dan beraneka. Namun, semuanya terhubungkan dengan Allah. Warna-warni yang kita lihat di alam semesta ini sumbernya satu, Allah Yang Esa. Ada kehadiran dan ada ketiadaan. Ini lebih menukik. Satu sisi kita merasakan Allah hadir dalam diri kita, di sisi lain hampa. Kadang kita kosong, kadang penuh. Kadang Dia muncul, kadang tiada. Dia adalah Mahaada, meski tak terlihat. Dan yang terlihat ini sebetulnya adalah manifestasi dari Yang Ada. Ketiadaan di sini bukan berarti menafikan.

Ada kemabukan dan ada kewarasan. Yang bisa memabukkan bukan hanya alkohol dan narkoba. Ada mabuk positif dan ada mabuk negatif. Mabuk bagi seorang sufi adalah supersadar (di atas kesadaran). Kesadaran seperti ini susah dijelaskan. Ketika kita sedang bermesraan dengan Allah, menangis di atas sajadah, terisak-isak, orang lain mungkin melihat kita sedang tidak sadar. Akan tetapi, sebenarnya kita sangat sadar, bahkan kita sedang berada di puncak bersama Allah.

Ketika mencintai seseorang saja kita bisa mabuk, begadang semalaman, membuat surat, dan lain-lain. Berkhayal, berimajinasi, membayangkan si dia hadir bersama kita. Bagaimana mabuknya kalau kita mencintai Allah?

Seorang sufi yang sedang mabuk kepada Allah, suka mengungkapkan ucapan-ucapan yang terdengar aneh di mata orang lain (syathahat). Misalnya "tak ada di dalam jubahku ini selain Allah". Berarti dalam jubah itu ada dua sosok yang bergumul menjadi satu, hamba dan Tuhan. Atau ungkapan subhânî subhânî (Maha Suci aku). Aku adalah Allah, Allah adalah aku. Aku ini siapa? Tak ada. Yang ada hanyalah Allah. Hanya Allahlah yang wujud. Selain itu hanya efek dari yang wujud.

Ada penafian dan ada penetapan. Kadang kita ragu, benarkah yang datang di dalam kalbu ini Allah? Jangan-jangan bukan, tetapi hanya imajinasi saja. Di sini terjadi pertentangan antara rasio dan rasa. Maka untuk meyakinkannya, kecilkan rasio dan besarkan rasa. Yakinilah bahwa kita telah mendaki, dan kita sudah sampai puncak. Maka yang kita jumpai pastilah Allah. Maka akan ada penampakan. Dan segala rahasia gaib pun tersibak

Jumat, 27 Januari 2012

Penyucian dan pembersihan hati & jiwa

Penyucian dan pembersihan diri dari segala keburukan serta mengangkatnya ke tingkat moralitas yang luhur merupakan tugas penting para Rasul yang memang diutus untuk membawa misi demikian. Sebagian besar hidup Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pun diabdikan untuk misi yang sama karena moralitas yang luhur merupakan salah satu pokok dasar untuk memulai kehidupan secara islami menurut manhaj kenabian. Orang yang hendak merancang tujuan tentu dia akan menyiapkan pula sarananya. Dalam analogi yang sama, Allah subhanahu wa ta’ala telah menyediakan berbagai macam sarana penyucian diri. Dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sudah menjelaskannya secara rinci kepada umatnya agar mereka bisa mencapai tujuan dimaksud. Oleh karena itu, penyucian diri tidak memiliki amalan-amalan khusus selain syi’ar-syi’ar islam.

Ketika menyimpulkan syi’ar-syiar islam dan mengaitkannya dengan tujuan moralitas luhur ini maka akan tampak jelas bahwa proses penyucian diri tidak memiliki amalan-amalan khusus.

Tauhid merupakan sarana penyucian diri

Kesadaran diri terhadap kebenaran adalah pangkal kemuliaan dan induk moralitas yang luhur. Pangkal hikmah adalah ma’rifat (penganalan), menyembah, dan takut kepada Allah ta’ala. Tak ada kebenaran yang lebih besar dan lebih jelas menurut orang yang berakal, selain Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Oleh karena itu menyekutukan Allah merupakan tindakan kotor lagi najis, sebagaimana yang difirmankan Allah :”Sesungguhnya orang-orang yang musyrik itu najis”. (At-Taubah:28).

Demikianlah ungkapan Al-Qur’an yang menilai ruh orang-orang musyrik itu najis dan jiwa mereka pun kotor. Ruh dan jiwa mereka itu menjadi ukuran penilaian seberapa bagus kualitas manusia itu. Dengan demikian, manusia secara keseluruhan adalah najis, menjijikkan dan dijauhi oleh orang-orang yang menyucikan diri.

Ibnu Katsir berpendapat, ayat di atas menunjukkan bahwa orang musyrik itu najis sebagaimana ditegaskan dalam haits shahih,”Orang Mukmin itu tidak najis”. (HR Bukhari Muslim). Adapun najis badan, maka menurut jumhur, orang mukmin itu tidak najis fisik maupun non-fisik, mengingat, Allah saja masih menghalalkan makanan ahlul kitab bagi orang-orang mukmin. Tapi sebagian pengikut paham zahiriyah menajiskan badan orang mukmin. Hati mereka (para pengikut zahiriyah) telah kotor, dan Allah subhanahu wa ta’ala tidak hendak membersihkannya. Mereka telah tercebur ke dalam kotoran dan berkubang dalam najis.

Dengan demikian jelas sudah bahwa islam secara keseluruhan adalah kesucian, penyucian diri, dan pengembangan dan keutamaan. Siapa saja yang berpedoman padanya maka keimanan akan semakin jernih dan mendapatkan Nur dari Rabb-nya.
“Barangsiapa yang dikehendaki Allah untuk diberi petunjuk, niscaya Dia melapangkan dadanya untuk (memeluk agama) Islam. Dan barangsiapa yang dikehendaki Allah kesesatannya, niscaya Allah menjadikan dadanya sesak lagi sempit, seolah-olah dia sedang mendaki ke langit. Begitulah Allah menimpakan siksa kepada orang-orang yang tidak beriman”. (Al-An’am:125).

Wudhu termasuk penyucian diri

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:”Di dalamnya ada orang-orang yang ingin membersihkan diri. Dan Allah menyukai orang-orang yang bersih”. (At-Taubah:108).

Mandi dan tayamum bagian dari penyucian diri

Allah berfirman:”Hai orang-orang yang beriman, apabila kalian hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah muka kalian dan tangan kalian sampai siku, dan sapulah kepala kalian dan(basuh) kaki kalian sampai kedua mata kaki, dan jika kalian sakit atau dalam perjalanan atau kembali dari tempat buang air (kakus) atau menyentuh perempuan, lalu kalian tidak memperoleh air, maka bertayamumlah dengan tanah yang baik (bersih); sapulah wajah kalian dan tangan kalian dengan tangan itu. Allah tidak hendak menyulitkan kalian, tetapi Dia hendak membersihkan kalian dan menyempurnakan nikmat-Nya bagi kalian, supaya kalian bersyukur”. (Al-Maidah:6)

Menjauhi istri pada saat haid dan nifas termasuk penyucian diri

Allah subhanahu wata’ala berfirman:”Mereka bertanaya kepadamu tentang haid. Katakanlah,’Haid itu adalah suatu kotoran’. Oleh karena itu hendaklah kalian menjauhkan diri dari wanitapada waktu haid, dan janganlah kalian mendekati mereka, sebelum mereka suci, maka campurilah mereka itu ditempat yang diperintahkan Allah kepada kalian. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang taubat dan menyukai orang-orang yang menyucikan diri”. (Al-Baqoroh:53).

Penyucian anggota badan harus dibarengi dengan penyucian hati. Itulah sebabnya penyucian anggota badan diikuti dengan pemberian perlindungan kepada mereka dari godaan syetan dan peneguhan hati serta pengokohan pendirian. Hal ini terkanduing dalam firman-Nya:”Dan menghilangkan dari kalian gangguan-ganguan syaitan dan uuntuk menguatkan hati kalian dan memperteguh dengannya telapak kaki (kalian)”. (Al-Anfal:11).

Menyucikan hati telah dijelaskan dalm Al-Qur’an:”Cara yang demikian itu lebih suci bagi hati kalian dan hati mereka”. (Al-Ahzab:53).
Sedangkan menyucikan anggota badan, firman-Nya:”Dan allah menurunkan kepadamu hujan dari langit untuk menyucikan kalian dengan hujan itu”.(Al-Anfal:11)

Antara hati dan pakianpun ada kaitan,”Dan pakaianmu bersihkanlah”. (Al-Muddatstsir:4)
Ibnu Abbas mengemukakan:”Jangan engkau tutupi jiwamu dengan pakaian kemaksiatan dan hal yang menjijikkan”.
Bagaimanapun membersihkan pakaian dari kotoran dan meminimalkan kotoran yang mungkin melekat pada pakaian merupakan satu sekian perintah membersihkan pakaian. Karena pakaian yang bersih dapat menyempurnakan amalan dan perangai diri. Badan dan pakaian yang najis bisa menyebabkan batin menjadi najis. Itulah sebabnya mengapa kotoran yang menempel di pakaian atau badan harus segera dihilangkan dan dijauhi.

Shalat sebagai sarana penyucian diri

Shalat berfungsi menyucikan diri dan anggota badan dari perbuatan keji dan mungkar. Firman Allah:”Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan) keji dan mungkar”. (Al-Ankabut:45).

Sebab dalam shalat terdapat tiga perangai, yaitu ikhlas, rasa takut, dan dzikir kepada Allah. Ikhlas menyuruh kpeda kebaikan, rasa takuit mencegah diri diri dari kemungkaran, dan dzikir kepada Allah membuat cerdas jiwa.

Shalat adalah wujud kebersamaan dengan Allah sekaligus sebagai sarana berkomunikasi dengan-Nya, yang secara psikologis akan menciptakan perasaan malu bila saat bersama dengan-Nya masih saja melakukan dosa-dosa besar dan kekejian.

Shalat merupakan bentuk pelepasan diri. Dengan shalat (yang benar-red) jiwa tidak lagi berani melakukan kekejian dan kemungkaran.

Zakat merupakan saran penyucian dan pembersihan diri

Firman Allah Subhanahu wata’ala :”Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan menyucikan mereka, dan berdo’alah untuk mereka. Sesungguhnya do’a kamu itu ( menjadi) ketentraman jiwa bagi mereka. Dan Allah Mahamendengar lagi Mahmengetahui”. (At-Taubah:103).

Zakat fitrah merupakan bentuk penyucian diri bagi orang yang berpuasa dari perbuatan dan perkataan yang tidak berguna serta hal-hal yang tidak senonoh. Sebagaimana hadits Ibnu Abbas ,”Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mewajibkan zakat fitrah sebagai penyucian bagi orang yang berpuasa dari hal-hal yang tidak berguna, tindakan tidak senonoh dan memberi makan kepada orang-orang miskin.”(hadits Hasan)

Dengan demikian dapat diartikan, menginfakkan harta untuk mencari keridhoan Allah merupakan sarana untuk membersihkan, menyucikan, mengembangkan dan membenahi jiwa. Mengenai masalah ini Allah telah berfirman:”Dan kelak akan dijauhkan orang yang paling taqwa dari neraka itu, yang menafkahkan hartanya (dijalan Allah) untuk membersihkannya, padahal tidak ada seseorangpun memberikan suatu nikmat kepadanya yang harus dibalasnya, tetapi (dia memberikan itu semata-mata) karena mencari keridhoan Tuhannya yang Mahatinggi. Dan kelak dia benar-benar mendapatkan kepuasan”.(Al-Lail:17-21).

Puasa sebagai sarana penyucian dan pembersihan diri

Firman Allah:”Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kalian bertaqwa”. (Al-Baqoroh:183).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam juga menjelaskan bahwa puasa merupakan salah satu sebab pemberian ampunan, pembebasan dari neraka, dan masuk surga. Puasa adalah perisai, obat dan benteng dari hawa nafsu. Sebab puasa dapat mengagungkan jiwa, menindas dan memenjarakan hawa nafsu. Sehingga jiwa benar-benar terang dan tenteram.

Sumber dari My Qalbu

Kamis, 26 Januari 2012

Komunitas indigo memprotes acara INDIGO TRANS TV, indigo bukan horor dan mistik!!!

Jakarta - Anggota Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) Pusat Bidang Isi Siaran, Ezki Suyanto meminta kepada pihak Trans TV untuk merasionalisasikan program siaran "Indigo" Trans TV. Ezki menyarankan agar program "Indigo" Trans TV menggunakan pendamping untuk menjelaskan secara logis fenomena yang ada dalam acara tersebut.

"Indigo harus dibuat rasional dengan menggunakan pendamping yang bisa menjelaskan secara logis, jika ada mistik ya sebut saja acaranya mistik. Penggunaan illustrasi jika memang harus ada maka harus hati-hati, jangan sampai ilustrasi justru mengarahkan acara tersebut menjadi berbau mistik dan horor," ujar Ezki.

Dalam dialog antara komunitas indigo (Indigo Community) dengan Trans TV yang difasilitasi oleh KPI Rabu, 18 Januari 2012 di Kantor KPI Pusat, Dicky Zaenal Arifin dari Indigo Community menyampaikan bahwa sebelumnya ia terlibat dalam program siaran "Indigo" Trans TV dan menjadi co-pilot namun ujungnya program menjadi berbau mistik dan tidak ada penjelasan logis, kebanyakan yang sering ditampilkan adalah horornya, bukan dari sisi prestasi dari anak-anak Indigo.

"Musik dan suasananya dibuat horor, kami khawatir Indigo ter-branding menjadi sesuatu yang horor," ungkap Aditya dari Indigo Community. Awalnya, Aditya berharap program ini dapat mengangkat komunitas anak-anak dengan indigo sehingga masyarakat mengenal apakah indigo tersebut.

Dicky Zaenal menyarankan agar dalam penyajiannya harus ada unsur pendidikannya sekaligus menghibur. Menurut Dicky, yang harus diperhatikan juga adalah dampaknya kepada masyarakat, Dicky khawatir anak-anak dengan indigo yang menjadi sorotan masyarakat.

Di sisi lain, Satrio Arismunandar Produser Eksekutif Trans TV sejak awal Trans TV tidak memasukkan program ini ke dalam program mistik. Menurut Satrio, Trans TV sangat terbuka dengan berbagai masukan dan berharap juga ada bimbingan yang lebih jelas lagi tentang indigo.

Wakil Ketua KPI Pusat Nina Mutmainnah berharap ada perbaikan dari program "Indigo" Trans TV dan masukan dari Indigo Community agar diperhatikan oleh Trans TV sehingga masyarakat dapat gambaran yang tepat dan utuh terhadap Indigo.

Sumber dari sini

Senin, 23 Januari 2012

Hati yang sehat, sakit dan mati

Sumber dari sini

Peran hati bagi seluruh anggota badan ibarat raja bagi seluruh prajuritnya. Semua bekerja berdasarkan perintahnya. Semua tunduk kepadanya. Karena perintah hatilah, istiqamah dan penyelewengan itu ada. Begitu pula dengan semangat untuk bekerja. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Ketahuilah, di dalam tubuh itu ada segumpal daging. Bila ia baik, maka baik pulalah seluruh tubuh. Dan apabila ia rusak, maka rusak pulalah seluruh tubuh. Ketahuilah itu adalah hati.” (HR. Bukhari-Muslim).

Macam-Macam Hati

Hati itu bisa hidup dan mati. Sehubungan dengan itu, hati dapat dikelompokkan menjadi:

1. Hati yang sehat

2. Hati yang mati

3. Hati yang sakit

Hati yang sehat adalah hati yang selamat. Barangsiapa─pada hari Kiamat nanti─menghadap Allah tanpa membawa hati yang sehat, maka ia akan celaka. Allah Ta’ala berfirman, “Adalah hari, yang mana harta dan anak-anak tidak bermanfaat, kecuali orang yang datang kepada Allah dengan hati yang selamat.” (QS. As-Syu’ara: 88-89).

Hati yang selamat didefinisikan sebagai hati yang terbebas dari setiap syahwat, keinginan yang bertentangan dengan perintah Allah, dan dari setiap syubhat (keraguan), ketidakjelasan yang menyeleweng dari kebenaran.

Hati yang mati adalah hati yang tidak mengenal siapa Rabb-nya. Ia tidak beribadah kepada-Nya, enggan menjalankan perintah-Nya, atau menghadirkan sesuatu yang dicintai dan diridhai-Nya. Hati seperti itu selalu berjalan bersama dengan hawa nafsu dan kenikmatan duniawi, walaupun itu dibenci dan dimurkai Allah. Ia tidak peduli kepada keridhaan dan kemurkaan Allah.

Hati yang sakit adalah hati yang hidup namun mengandung peyakit. Ia akan mengikuti unsur yang kuat. Kadang-kadang ia cenderung kepada “kehidupan”, dan kadang-kadang pula cenderung kepada “penyakit”. Padanya terdapat kecintaan, keimanan, keikhlasan, dan tawakkal kepada Allah, yang merupakan sumber kehidupan. Namun padanya pula ada kecintaan dan ketamakan terhadap syahwat, hasad, kibr (sombong), dan sifat ujub (tinggi hati), yang merupakan sumber bencana dan kehancurannya. Ia ada di antara dua penyeru; penyeru kepada Allah, rasul, hari Akhir, dan penyeru kepada kehidupan duniawi.

Indikasi Sakit dan Sehatnya Hati

Hati itu bisa sakit. Di antara tanda sakitnya hati adalah keengganan mengonsumsi “makanan” yang bermanfaat. Hati yang sehat selalu mengutamakan “makanan” yang bermanfaat daripada racun yang mematikan. Makanan yang terbaik adalah keimanan. Obat yang terbaik adalah Al-Qur’an.

Adapun tanda sehatnya hati adalah “kepergiannya” dari (kehidupan) duniawi menuju ukhrawi. Di dunia ini, ia ibarat orang asing yang mengambil kebutuhannya, lalu kembali kepada negerinya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berpesan kepada Abdullah bin Umar, “Di dunia ini, hendaknya kamu berlaku seperti orang asing, atau orang yang lewat.” (HR. Bukhari)

Empat Racun Hati

Perlu diketahui bahwa setiap kemaksiatan adalah racun bagi hati. Ia menjadi penyebab sakit dan kehancurannya. Yang dimaksud dengan empat racun hati adalah

1. Banyak bicara

2. Banyak makan

3. Banyak memandang

4. Banyak bergaul

Banyak Bicara

Abu Hurairah meriwayatkan, “Yang paling banyak menjerumuskan manusia kedalam neraka adalah dua lubang, mulut dan kemaluan.” (HR. At-Tirmidzi)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari Akhir, hendaklah ia berkata yang baik atau diam.” (HR. Bukhari-Muslim)

Bencana lisan yang paling sedikit mudharat (dampak buruk)nya adalah berbicara tentang sesuatu yang tidak berfaedah (bermanfaat). Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Merupakan kebaikan keislaman seseorang, jika ia meninggalkan sesauatu yang tidak berfaedah baginya.” (HR. Tirmidzi, Ahmad)

Banyak Makan

Sedikit makan dapat melembutkan hati, menguatkan daya pikir, membuka diri, serta melemahkan hawa nafsu dan sifat marah. Sedangkan banyak makan akan mengakibatkan kebalikannya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Tidak ada bejana yang diisi oleh anak Adam yang lebih buruk daripada perutnya. Cukuplah bagi anak Adam beberapa suap untuk menegakkan tulang punggungnya. Jika tidak bisa, maka sepertiga dari perutnya diisi untuk makannya, sepertiga untuk minumnya, dan sepertiga untuk nafasnya.” (HR. Ahmad, Tirmidzi)

Berlebihan Dalam Bergaul

Dalam bergaul, ada baiknya kita mengklasifikasikan manusia menjadi empat. Ketidakmampuan kita membedakan masing-masing kelompok akan membawa bencana.

1. Kelompok yang apabila bergaul dengan mereka seperti mengonsumsi makanan yang bergizi. Ia dibutuhkan siang dan malam. Jika seseorang telah menyelesaikan keperluannya, ia ditinggal, dan jika diperlukan lagi, maka ia didatangi. Mereka adalah ulama, orang-orang yang setia kepada Allah, kitab-Nya, dan rasul-Nya. Bergaul dengan mereka adalah keuntungan yang nyata.

2. Kelompok yang apabila bergaul dengan mereka seperti mengonsumsi obat. Ia dibutuhkan dikala sakit. Selama Anda sehat, Anda tidak memerlukan pergaulan dengan mereka. Mereka adalah professional dalam urusan muamalat, bisnis, dan semisalnya.

3. Kelompok yang bergaul dengan mereka berarti mengonsumsi penyakit. Mereka adalah orang-orang yang tidak membawa keuntungan, dunia ataupun akhirat.

4. Kelompok yang bergaul dengan mereka adalah kebinasaan total. Mereka ibarat racun. Mereka adalah ahli kesesatan, penghalang dari sunnah Rasulullah. Seorang yang berakal tidaklah pantas bergaul dan berteman dengan mereka. Kalaupun itu dilakukan, niscaya hatinya akan mati, bahkan mati.

Banyak Memandang

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Pandangan itu adalah panah beracun iblis. Barangsiapa menundukkan pandangannya karena Allah, Dia akan memberikan kepadanya kenikmatan dalam hatinya yang akan ia rasakan sampai bertemu dengan-Nya.” (HR. At-Thabrani, Al-Hakim, Ahmad)

Al-Baihaqy menjelaskan bahwa maksudnya adalah pandangan yang jatuh kepada wanita (bukan mahram-red) yang tidak sengaja (dilihat-red) kemudian ia berpaling dalam rangka wara’ (menjauh dari hal-hal yang meragukan)

Masuknya setan ketika seseorang memandang melebihi kecepatan aliran udara ke ruang hampa. Setan akan menjadikan wujud yang dipandang seakan-akan indah, menjadikannya sebagai berhala tautan hati, kemudian mengobral janji dan angan-angan. Lalu setan akan menyalakan api syahwat, dan ia lemparkan kayu bakat maksiat.

Barangsiapa yang membiarkan pandangannya bebas lepas, berarti memasukkan kegelapan ke dalam hati. Sebagaimana menundukkan pandangan karena Allah Ta’ala berarti memasukkan cahaya ke dalamnya. Bila hati telah bersinar, berbagai amal kebaikan akan berdatangan dari berbagai penjuru untuk dilaksanakan. Sebagaimana ia gelap, berbagai bencana dan keburukan pun akan berdatangan dari berbagai tempat.

Daftar Pustaka

Al-Hambali, ibnu Rajab, Ibnu Qayyim Al-Jauziyah, Imam Al-Ghazali. 2004. Tazkiyatun Nafs terjemahan: Imtihan Asy-Syafi’i. Pustaka Arafah: Solo

Diambil dari Buletin An-Nafs

Sabtu, 21 Januari 2012

Ciri-ciri manusia dikuasai jin

Sumber dari Muxlimo's Lair

Adalah sebuah keniscayaan jika manusia sering tidak sadar telah berada dalam perangkap setan. Soalnya, kita tidak bisa melihat mereka, sedangkan mereka asyik ajojing di depan kita.

Dalam salah satu bukunya, Muhyiddin Ibnu Arabi menyatakan beberapa ciri manusia yang dikuasai jin fasik (setan).
Mereka ialah orang-orang yang seperti ini:
Tidak menerima eksistensi jin alias tidak percaya jin itu ada.
Meskipun mereka mengatakan bahwa inilah yang mereka yakini dengan alasan bahwa orang-orang telah bodoh menerima konsep jin sebagai ide yang dipaksakan agama. Padahal justru jin mengajari mereka mengingkari adanya jin. Itu agar orang yang dikuasainya tidak menyadari penyimpangan pola pikirnya. Permainan logika di sini:


"Kalau Jin itu tidak ada, buat apa dilawan. Karena Jin itu tidak ada, bisikan-bisikan yang kudengar dari dalam diriku pasti bukan dari Jin, makhluk laknat itu."


Tidak menyadari; tidak merasa sedang berhubungan secara intens dengan jin.
Biasanya ini terjadi pada orang-orang yang merasa telah mengalami "pengamalan spiritual". Mereka selalu beranggapan bahwa segala pengalaman luar biasa yang mereka miliki adalah hasil dari berbagai keunggulan mereka sendiri.
Merasa sebagai "orang pilihan", hehehehehe…

Hanya karena alasan inilah sehingga semua orang yang menjalin hubungan dengan jin-jin tidak pernah menerima keberadaan (eksistensi) makhluk jin.


Lalu dengan cara apa para setan berupaya menguasai manusia?
Cara paling rendah yang ditempuh bangsa jin adalah dengan mengupayakan “mukjizat-mukjizat” sambil menyamar sebagai sosok-sosok agung masa lalu (wali anu, haji anu, syaikh anu, atau eyang sepuh leluhur seseorang.)

Dengan cara ini, mereka (para setan) berpura-pura memberikan beberapa bimbingan dan arahan sebagai solusi atas masalah atau misteri tentang masa depan yang didasarkan pada kalkulasi-kalkulasi (perhitungan) yang mungkin alias masuk akal.

Mengapa para setan melakukan itu?
Di mana saja Anda bertemu dengan seseorang yang berupaya menjauhkan Anda dari pengetahuan tentang ke-ESA-an (Tauhid) dan Takdir, maka dapat dipastikan bahwa orang tersebut telah diintervensi oleh setan.

Alasan utama para setan berusaha menjauhkan manusia dari dua ajaran pokok tersebut adalah karena kedua ajaran pokok itulah yang merupakan benteng kuat yang menyelamatkan manusia dari bayangan tuhan-tuhan ilusi sehingga cepat atau lambat manusia akan mampu menyadari akan Tuhan yang sebenarnya. Jadi, sebenarnya setiap manusia berpotensi besar untuk menjadi pemilik tauhid sejati.
Setan menghalangi manusia mengakses energi spiritual paling ultimat, yaitu menjadi wakil Tuhan di bumi yang menebarkan rahmat bagi seluruh alam.
وَلَقَدْ عَلِمَتِ الْجِنَّةُ إِنَّهُمْ لَمُحْضَرُونَ
Dan sesungguhnya jin mengetahui bahwa mereka benar-benar akan diseret (ke neraka). (Ash-Shaffaat:158)

وَمَا كَانَ لَهُ عَلَيْهِم مِّن سُلْطَانٍ إِلَّا لِنَعْلَمَ مَن يُؤْمِنُ بِالْآخِرَةِ مِمَّنْ هُوَ مِنْهَا فِي شَكٍّ وَرَبُّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ حَفِيظٌ
Dan tidak adalah kekuasaan iblis terhadap mereka, melainkan hanyalah agar Kami dapat membedakan siapa yang beriman kepada adanya kehidupan akhirat dari siapa yang ragu-ragu tentang itu. Dan Tuhanmu Maha Memelihara segala sesuatu. (Saba:21)

Jin amat takut manusia memahami tauhid karena itu orang-orang tauhid paling sulit digoyahkan akidahnya dari sisi akal maupun keimanan. Dan ini berarti semakin sedikit golongan manusia yang akan menemani mereka di neraka.
Wew… attuuutt… ogah banget deh!

Siasat setan kelas “jenderal” terhadap para muslim:
Seorang pemimpin spiritual palsu biasanya menunjukkan bahwa dirinya paham benar ajaran Islam (terlepas apakah dia itu mengaku muslim atau terang-terangan mengaku bukan muslim yang simpatik).

Awalnya, mereka menganjurkan khalayak untuk mendirikan salat lima waktu, bersedekah, berbakti pada orang tua, menyantuni orang miskin, dan lain-lain.

Lalu, mengait-kaitkan Islam dengan konsep-konsep "luhur" kemanusiaan yang tidak bersumber dari Islam, seperti pluralisme, humanisme, feminisme, liberalisme, dll. Ini dengan tujuan menunjukkan ilmu sang guru itu trendi, aktual, sesuai dengan tuntutan zaman. (orang kampungan selalu menganggap Quran itu ketinggalan zaman)

وَقَيَّضْنَا لَهُمْ قُرَنَاء فَزَيَّنُوا لَهُم مَّا بَيْنَ أَيْدِيهِمْ
Dan Kami tetapkan bagi mereka teman-teman yang menjadikan mereka memandang bagus apa yang ada di hadapan dan di belakang mereka (Fushshilat:25)

Ujung-ujungnya, perlahan tapi pasti mereka menghubungkan pengetahuan “rahasia” Islam yang "disesuaikan" dengan konsep kebenaran universal (semua agama sama), konsep reinkarnasi, dan konsep Wahdat al-Wujud palsu (kesatuan eksistensi) yang sebenarnya lebih menyerupai konsep pantheisme; sebuah konsep yang tidak ada hubungannya kesatuan eksistensi! Dengan melakukan ini, guru palsu membuat pengikutnya percaya bahwa mereka sendiri adalah “Allah.”
Nauzubillah!!!

(Disarikan dari International Best Seller karya Ahmed Hulusi, UFO: RUH, MANUSIA, ATAU JIN? endekatan Agama dan Saintifik atas Jin dan Fenomena Alien,
PT Bina Ilmu, 2007)