Sumber : Republika Online
Oleh Prof Dr Yunahar Ilyas
Setelah Pemilihan Umum Pertama (1955), Hamka terpilih menjadi anggota Dewan Konstituante dari Masyumi mewakili Jawa Tengah. Setelah Konstituante dan Masyumi dibubarkan, Hamka memusatkan kegiatannya pada dakwah Islamiah dan memimpin jamaah Masjid Agung Al-Azhar, di samping tetap aktif di Muhammadiyah. Dari ceramah-ceramah di Masjid Agung itu lah lahir sebagian dari karya monumental Hamka, Tafsir Al-Azhar.
Zaman demokrasi terpimpin, Hamka pernah ditahan dengan tuduhan melanggar Penpres Anti-Subversif. Dia berada di tahanan Orde Lama itu selama dua tahun (1964-1966). Dalam tahanan itulah Hamka menyelesaikan penulisan Tafsir Al-Azhar.
Waktu menulis Tafsir Al-Azhar, Hamka memasukkan beberapa pengalamannya saat berada di tahanan. Salah satunya berhubungan de ngan ayat 36 Surah az-Zumar, “Bukan kah Allah cukup sebagai Pelindung hamba-Nya...”. Pangkal ayat ini menjadi perisai bagi hamba Allah yang beriman dan Allah jadi pelindung sejati.
Sehubungan dengan maksud ayat di atas, Hamka menceritakan pengalaman beliau dalam tahanan di Sukabumi, akhir Maret 1964. Berikut kutipan lengkapnya. “Inspektur polisi yang memeriksa sambil memaksa agar saya mengakui suatu kesalahan yang difitnahkan ke atas diri, padahal saya tidak pernah berbuatnya. Inspektur itu masuk kembali ke dalam bilik tahanan saya membawa sebuah bungkusan, yang saya pandang sepintas lalu saya menyangka bahwa itu adalah sebuah tape recorder buat menyadap pengakuan saya.”
“Dia masuk dengan muka garang sebagai kebiasaan selama ini. Dan, saya menunggu dengan penuh tawakal kepada Tuhan dan memohon kekuatan kepada-Nya semata-mata. Setelah mata yang garang itu melihat saya dan saya sambut dengan sikap tenang pula, tiba-tiba kegarangan itu mulai menurun.”
“Setelah menanyakan apakah saya sudah makan malam, apakah saya sudah sembahyang, dan pertanyaan lain tentang penyelenggaraan makan minum saya, tiba-tiba dilihatnya arlojinya dan dia berkata, Biar besok saja dilanjutkan pertanyaan. Saudara istirahatlah dahulu malam ini, ujarnya dan dia pun keluar membawa bungkusan itu kembali.
Setelah dia agak jauh, masuklah polisi muda (agen polisi) yang ditugaskan menjaga saya, yang usianya baru kira-kira 25 tahun. Dia melihat terlebih dahulu kiri kanan. Setelah jelas tidak ada orang yang melihat, dia bersalam dengan saya sambil menangis, diciumnya tangan saya, lalu dia berkata, Alhamdulillah bapak selamat! Alhamdulillah! Mengapa, tanya saya. Bungkusan yang dibawa oleh Inspektur M itu adalah setrum. Kalau dikontakkan ke badan bapak, bapak bisa pingsan dan kalau sampai maksimum bisa mati.
Demikian jawaban polisi muda yang ditugaskan menjaga saya itu dengan berlinang air mata. Bapak sangka tape recorder, jawabku sedikit tersirap, tetapi saya bertambah ingat kepada Tu han. Moga-moga Allah memelihara diri Bapak. Ah! Bapak orang baik, kata anak itu.
Dalam menghadapi paksaan, hinaan, dan hardikan di dalam tahanan, Hamka selalu berserah diri kepada Allah SWT. Termasuk ketika Inspektur M datang membawa bungkusan malam itu, Hamka tetap dengan pendirian. Bukankah Allah cukup sebagai pelindung hamba-Nya.
Rabu, 23 November 2011
Jumat, 18 November 2011
Orang Islam haram mengikuti dan mengamini doa yang dipimpin non-Muslim
Sumber : Republika online
Bagi umat Islam, doa bersama bukan sesuatu yang baru. Sejak belasan abad silam, bahkan sejak agama Islam disampaikan oleh Nabi Muhammad SAW hingga sekarang, mereka sudah terbiasa melakukannya, baik setelah shalat berjamaah maupun pada acara-acara tertentu.
Doa adalah suatu bentuk kegiatan berupa permohonan manusia kepada Allah SWT semata (lihat antara lain QS al-Naml [27]: 62). Dalam sejumlah ayat Alquran (antara lain surah al-Mu'min [40]: 60), Allah memerintahkan hamba-Nya untuk berdoa. Karena itu, kedudukan doa dalam ajaran Islam adalah ibadah. Bahkan, Nabi Muhammad SAW menyebutnya sebagai otak atau intisari ibadah (mukhkh al-ibadah). Sebagai sebuah ibadah, pelaksanaan doa wajib mengikuti ketentuan atau aturan yang digariskan Islam. Di antara ketentuan yang paling penting dalam berdoa adalah doa hanya dipanjatkan kepada Allah SWT. Dengan demikian, di dalam doa sebenarnya terkandung juga unsur akidah, yakni hal yang paling fundamental dalam agama.
Di Indonesia, dalam acara-acara resmi kemasyarakatan dan kenegaraan, umat Islam terkadang melakukan doa bersama dengan pemeluk agama lain pada satu tempat yang sama. Doa dengan bentuk seperti itulah yang dimaksud dengan doa bersama. Sedangkan, doa yang dilakukan hanya oleh umat Islam sebagaimana disinggung di atas tidak masuk dalam pengertian ini.
Kegiatan doa bersama menimbulkan pertanyaan di kalangan umat Islam, terutama tentang status hukumnya. Atas dasar itu, Majelis Ulama Indonesia (MUI) telah menetapkan fatwa tentang doa bersama. Fatwa tersebut terbagi dalam enam butir. Pertama, doa bersama yang dilakukan oleh orang Islam dan non-Muslim tidak dikenal dalam Islam. Karena itu termasuk bidah.
Kedua, doa bersama dalam bentuk setiap pemuka agama berdoa secara bergiliran, maka orang Islam haram mengikuti dan mengamini doa yang dipimpin oleh non-Muslim. Mengapa haram mengamini doa non-Muslim? Sebab, menurut MUI, mengamini sama dengan berdoa. Dan ketika yang berdoa adalah non-Muslim, orang Islam yang mengamini tersebut berarti ia berdoa kepada Tuhan yang kepadanya non-Muslim berdoa. Padahal, konsep dan akidah mereka tentang Tuhan, menurut Alquran, berbeda dengan akidah orang Islam (lihat antara lain dalam QS al-Maidah [5]: 73). Dengan demikian, menurut MUI, orang Islam yang mengamini doa yang dipanjatkan oleh non-Muslim dapat dikategorikan kafir atau musyrik.
Lantas, bagaimana dengan orang Islam yang karena alasan tertentu harus mengikuti doa bersama? "Maka ketika non-Muslim memanjatkan doa, ia wajib dalam hati haram mengamininya," lanjut MUI dalam penjelasannya atas fatwa doa bersama.
Ketiga, doa bersama dalam bentuk Muslim dan non-Muslim berdoa secara serentak (misalnya, mereka membaca teks doa bersama-sama), hukumnya haram. Artinya, orang Islam tak boleh melakukannya. Sebab, doa seperti ini dipandang telah mencampuradukkan antara ibadah (dalam hal doa) yang haq (sah, benar) dengan ibadah yang batil. Hal ini dilarang oleh agama (lihat antara lain dalam QS al-Baqarah [2]: 42).
MUI juga menilai, doa bersama bentuk ini sangat berpotensi mengancam akidah orang Islam yang awam. Cepat atau lambat mereka akan menisbikan status doa yang dalam ajaran Islam merupakan ibadah, serta dapat pula menimbulkan anggapan bagi mereka bahwa akidah ketuhanan non-Muslim sama dengan akidah ketuhanan orang Islam.
Keempat, doa bersama dalam bentuk seorang non-Islam memimpin doa. Dalam doa bersama seperti ini, orang Islam haram mengikuti dan mengamininya. Kelima, doa bersama dalam bentuk seorang tokoh Islam memimpin doa. Doa bersama bentuk ini hukumnya mubah.Keenam, doa dalam bentuk setiap orang berdoa menurut agama masing-masing. Yang ini hukumnya juga mubah. wachidah handasah
Bagi umat Islam, doa bersama bukan sesuatu yang baru. Sejak belasan abad silam, bahkan sejak agama Islam disampaikan oleh Nabi Muhammad SAW hingga sekarang, mereka sudah terbiasa melakukannya, baik setelah shalat berjamaah maupun pada acara-acara tertentu.
Doa adalah suatu bentuk kegiatan berupa permohonan manusia kepada Allah SWT semata (lihat antara lain QS al-Naml [27]: 62). Dalam sejumlah ayat Alquran (antara lain surah al-Mu'min [40]: 60), Allah memerintahkan hamba-Nya untuk berdoa. Karena itu, kedudukan doa dalam ajaran Islam adalah ibadah. Bahkan, Nabi Muhammad SAW menyebutnya sebagai otak atau intisari ibadah (mukhkh al-ibadah). Sebagai sebuah ibadah, pelaksanaan doa wajib mengikuti ketentuan atau aturan yang digariskan Islam. Di antara ketentuan yang paling penting dalam berdoa adalah doa hanya dipanjatkan kepada Allah SWT. Dengan demikian, di dalam doa sebenarnya terkandung juga unsur akidah, yakni hal yang paling fundamental dalam agama.
Di Indonesia, dalam acara-acara resmi kemasyarakatan dan kenegaraan, umat Islam terkadang melakukan doa bersama dengan pemeluk agama lain pada satu tempat yang sama. Doa dengan bentuk seperti itulah yang dimaksud dengan doa bersama. Sedangkan, doa yang dilakukan hanya oleh umat Islam sebagaimana disinggung di atas tidak masuk dalam pengertian ini.
Kegiatan doa bersama menimbulkan pertanyaan di kalangan umat Islam, terutama tentang status hukumnya. Atas dasar itu, Majelis Ulama Indonesia (MUI) telah menetapkan fatwa tentang doa bersama. Fatwa tersebut terbagi dalam enam butir. Pertama, doa bersama yang dilakukan oleh orang Islam dan non-Muslim tidak dikenal dalam Islam. Karena itu termasuk bidah.
Kedua, doa bersama dalam bentuk setiap pemuka agama berdoa secara bergiliran, maka orang Islam haram mengikuti dan mengamini doa yang dipimpin oleh non-Muslim. Mengapa haram mengamini doa non-Muslim? Sebab, menurut MUI, mengamini sama dengan berdoa. Dan ketika yang berdoa adalah non-Muslim, orang Islam yang mengamini tersebut berarti ia berdoa kepada Tuhan yang kepadanya non-Muslim berdoa. Padahal, konsep dan akidah mereka tentang Tuhan, menurut Alquran, berbeda dengan akidah orang Islam (lihat antara lain dalam QS al-Maidah [5]: 73). Dengan demikian, menurut MUI, orang Islam yang mengamini doa yang dipanjatkan oleh non-Muslim dapat dikategorikan kafir atau musyrik.
Lantas, bagaimana dengan orang Islam yang karena alasan tertentu harus mengikuti doa bersama? "Maka ketika non-Muslim memanjatkan doa, ia wajib dalam hati haram mengamininya," lanjut MUI dalam penjelasannya atas fatwa doa bersama.
Ketiga, doa bersama dalam bentuk Muslim dan non-Muslim berdoa secara serentak (misalnya, mereka membaca teks doa bersama-sama), hukumnya haram. Artinya, orang Islam tak boleh melakukannya. Sebab, doa seperti ini dipandang telah mencampuradukkan antara ibadah (dalam hal doa) yang haq (sah, benar) dengan ibadah yang batil. Hal ini dilarang oleh agama (lihat antara lain dalam QS al-Baqarah [2]: 42).
MUI juga menilai, doa bersama bentuk ini sangat berpotensi mengancam akidah orang Islam yang awam. Cepat atau lambat mereka akan menisbikan status doa yang dalam ajaran Islam merupakan ibadah, serta dapat pula menimbulkan anggapan bagi mereka bahwa akidah ketuhanan non-Muslim sama dengan akidah ketuhanan orang Islam.
Keempat, doa bersama dalam bentuk seorang non-Islam memimpin doa. Dalam doa bersama seperti ini, orang Islam haram mengikuti dan mengamininya. Kelima, doa bersama dalam bentuk seorang tokoh Islam memimpin doa. Doa bersama bentuk ini hukumnya mubah.Keenam, doa dalam bentuk setiap orang berdoa menurut agama masing-masing. Yang ini hukumnya juga mubah. wachidah handasah
Selasa, 15 November 2011
Penggunaan gelar HAJI
Sumber : Republika Online
Rasulullah dan para sahabat beliau tidak menggunakan gelar haji di depan nama mereka padahal mereka telah berhaji. Tetapi, itu tidak berarti menggunakan gelar haji atau hajjah di depan nama seseorang merupakan bidah. Penggunaan gelar keilmuan seperti profesor, doktor, MA, atau keulamaan seperti kiai haji, buya, syekh, imam, atau allamah juga tak dikenal pada zaman Nabi.
Apakah itu berarti penggunaan gelar keulamaan semacam itu juga bidah dan dilarang? Berapa banyak ulama yang kita kenal mendapatkan sebutan imam atau syekh di depan namanya seperti Imam Bukhari, Imam Syafi'i, Syekh Yusuf al-Qaradhawi, dan Syekh Abd al-'Aziz bin Baz? Ibnu Taimiyah bahkan bergelar hujjat al-Islam dan tidak ada seorang sahabat Nabi pun yang bergelar hujjat al-Islam.
Pada dasarnya tidak ada perintah dan larangan menggunakan gelar haji, yang dilarang memberikan gelar jelek bagi seseorang, baik dia suka atau tidak. ".… Dan janganlah suka mencela dirimu sendiri dan jangan memanggil dengan gelar yang mengandung ejekan. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) buruk sesudah iman dan barang siapa yang tidak bertobat, mereka itulah orang-orang yang zalim (QS al-Hujurat [49]: 11).
Yang dikhawatirkan, gelar haji itu menjadi tujuan dalam melaksanakan ibadah haji agar dengan gelar tersebut memperoleh kehormatan dalam masyarakat, sehingga menimbulkan riya dalam beribadah. Semuanya, bergantung pada niat. Jika ada orang sengaja memakai gelar agar dipuji, itu bertentangan dengan akhlak Islam.
Tetapi, kalau penggunaan gelar untuk mengingatkan diri sendiri agar tidak lagi melakukan perbuatan maksiat yang akhirnya menimbulkan rasa malu kepada Allah, tentu baik. Jadi, tidak selamanya gelar haji mengandung konotasi negatif semacam riya, kesombongan, dan sebagainya namun bisa juga mengandung nilai-nilai positif seperti selalu bermuhasabah dan berdakwah di jalan Allah.
Menjadi tidak bijak bila kita langsung menyamaratakan setiap masalah dengan satu sikap, semuanya mesti kita dudukkan persoalannya secara baik dan proporsional. Wallahu a'lam bish shawab.
Rasulullah dan para sahabat beliau tidak menggunakan gelar haji di depan nama mereka padahal mereka telah berhaji. Tetapi, itu tidak berarti menggunakan gelar haji atau hajjah di depan nama seseorang merupakan bidah. Penggunaan gelar keilmuan seperti profesor, doktor, MA, atau keulamaan seperti kiai haji, buya, syekh, imam, atau allamah juga tak dikenal pada zaman Nabi.
Apakah itu berarti penggunaan gelar keulamaan semacam itu juga bidah dan dilarang? Berapa banyak ulama yang kita kenal mendapatkan sebutan imam atau syekh di depan namanya seperti Imam Bukhari, Imam Syafi'i, Syekh Yusuf al-Qaradhawi, dan Syekh Abd al-'Aziz bin Baz? Ibnu Taimiyah bahkan bergelar hujjat al-Islam dan tidak ada seorang sahabat Nabi pun yang bergelar hujjat al-Islam.
Pada dasarnya tidak ada perintah dan larangan menggunakan gelar haji, yang dilarang memberikan gelar jelek bagi seseorang, baik dia suka atau tidak. ".… Dan janganlah suka mencela dirimu sendiri dan jangan memanggil dengan gelar yang mengandung ejekan. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) buruk sesudah iman dan barang siapa yang tidak bertobat, mereka itulah orang-orang yang zalim (QS al-Hujurat [49]: 11).
Yang dikhawatirkan, gelar haji itu menjadi tujuan dalam melaksanakan ibadah haji agar dengan gelar tersebut memperoleh kehormatan dalam masyarakat, sehingga menimbulkan riya dalam beribadah. Semuanya, bergantung pada niat. Jika ada orang sengaja memakai gelar agar dipuji, itu bertentangan dengan akhlak Islam.
Tetapi, kalau penggunaan gelar untuk mengingatkan diri sendiri agar tidak lagi melakukan perbuatan maksiat yang akhirnya menimbulkan rasa malu kepada Allah, tentu baik. Jadi, tidak selamanya gelar haji mengandung konotasi negatif semacam riya, kesombongan, dan sebagainya namun bisa juga mengandung nilai-nilai positif seperti selalu bermuhasabah dan berdakwah di jalan Allah.
Menjadi tidak bijak bila kita langsung menyamaratakan setiap masalah dengan satu sikap, semuanya mesti kita dudukkan persoalannya secara baik dan proporsional. Wallahu a'lam bish shawab.
Jumat, 11 November 2011
Membantu orang miskin (memberi kail lebih baik daripada memberi ikan)
SUMBER : REPUBLIKA ONLINE
Oleh Khofifah Indar Parawansa
Suatu hari ada seseorang datang meminta-minta kepada Rasulullah SAW yang sedang berkumpul dengan para sahabat. Melihat kehadiran pengemis itu, Rasulullah lantas bertanya, "Apakah kamu mempunyai sesuatu di rumahmu?"
Dia menjawab, "Tentu, saya mempunyai pakaian yang biasa dipakai sehari-hari dan sebuah cangkir." Rasulullah lalu berkata, "Ambil dan serahkan ke saya!"
Pengemis itu langsung bergegas pulang dan kembali dengan membawa cangkir. Rasulullah kemudian menawarkan cangkir itu kepada para sahabat, "Adakah di antara kalian yang ingin membeli ini?" Seorang sahabat menyahut, "Saya beli dengan satu dirham."
Rasulullah lalu menawarkannya kepada sahabat yang lain. Seorang sahabat yang sanggup membelinya dengan harga dua dirham. Rasulullah kemudian memberikan dua dirham itu kepada si pengemis. Rasul mengharapkan agar uang itu digunakan untuk membeli makanan buat keluarganya, dan sisa uangnya digunakan untuk membeli kapak. "Carilah kayu yang banyak dan juallah, selama dua minggu ini aku tidak ingin melihatmu," kata Rasulullah.
Dua minggu kemudian, pengemis itu datang kembali menghadap Rasulullah SAW, tapi tidak untuk mengemis. Ia datang kepada Rasullah membawa uang 10 dirham hasil dari berjualan kayu. Rasulullah SAW kemudian menyuruhnya untuk membeli pakaian dan makanan untuk keluarganya.
Rasulullah berkata, "Hal ini lebih baik bagi kamu, karena meminta-meminta hanya akan membuat noda di wajahmu di akhirat nanti. Tidak layak bagi seseorang meminta-minta kecuali dalam tiga hal, fakir miskin yang benar-benar tidak mempunyai sesuatu, utang yang tidak bisa terbayar, dan penyakit yang membuat seseorang tidak bisa berusaha."
Kisah ini menggambarkan sifat Rasulullah yang gemar membantu orang yang tidak mampu. Bantuan tidak hanya berupa uang, tapi juga "kail" atau pekerjaan agar kelak orang yang tidak mampu itu bisa hidup mandiri.
Tidak dapat dimungkiri, jumlah pengemis dan pengangguran di Indonesia saat ini masih sangat tinggi. Alangkah indahnya, jika setiap orang mampu (secara ekonomi) di negeri ini mau meniru perilaku Rasulullah tersebut. Dengan memberi sedekah dan pekerjaan, setidaknya jumlah anak jalanan dan pengangguran bisa diminimalisasi.
Rasullullah memberikan contoh bahwa kesalehan spiritual belum dikatakan sempurna, sebelum dibarengi dengan kesalehan sosial (to be sensitive to the reality).
Dalam Alquran disebutkan bahwa orang yang bertakwa yaitu: "Orang-orang yang menafkahkan hartanya, baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan kesalahan orang (QS Ali Imran [3]: 134).
Saatnya kita berbagi dengan orang di sekeliling kita yang fakir dan miskin. Jika orang yang diberi kecukupan ekonomi di negeri ini mau peduli terhadap yang miskin, pasti perempuan Indonesia tidak akan berbondong-bondong menjadi tenaga kerja dan pembantu rumah tangga di negeri orang. Jika orang kaya di negeri ini mau membantu yang lemah dan fakir, tentu tidak banyak anak negeri ini yang putus sekolah. "Sesungguhnya kefakiran (kemiskinan) itu bisa menjerumuskan ke jurang kekafiran."
Oleh Khofifah Indar Parawansa
Suatu hari ada seseorang datang meminta-minta kepada Rasulullah SAW yang sedang berkumpul dengan para sahabat. Melihat kehadiran pengemis itu, Rasulullah lantas bertanya, "Apakah kamu mempunyai sesuatu di rumahmu?"
Dia menjawab, "Tentu, saya mempunyai pakaian yang biasa dipakai sehari-hari dan sebuah cangkir." Rasulullah lalu berkata, "Ambil dan serahkan ke saya!"
Pengemis itu langsung bergegas pulang dan kembali dengan membawa cangkir. Rasulullah kemudian menawarkan cangkir itu kepada para sahabat, "Adakah di antara kalian yang ingin membeli ini?" Seorang sahabat menyahut, "Saya beli dengan satu dirham."
Rasulullah lalu menawarkannya kepada sahabat yang lain. Seorang sahabat yang sanggup membelinya dengan harga dua dirham. Rasulullah kemudian memberikan dua dirham itu kepada si pengemis. Rasul mengharapkan agar uang itu digunakan untuk membeli makanan buat keluarganya, dan sisa uangnya digunakan untuk membeli kapak. "Carilah kayu yang banyak dan juallah, selama dua minggu ini aku tidak ingin melihatmu," kata Rasulullah.
Dua minggu kemudian, pengemis itu datang kembali menghadap Rasulullah SAW, tapi tidak untuk mengemis. Ia datang kepada Rasullah membawa uang 10 dirham hasil dari berjualan kayu. Rasulullah SAW kemudian menyuruhnya untuk membeli pakaian dan makanan untuk keluarganya.
Rasulullah berkata, "Hal ini lebih baik bagi kamu, karena meminta-meminta hanya akan membuat noda di wajahmu di akhirat nanti. Tidak layak bagi seseorang meminta-minta kecuali dalam tiga hal, fakir miskin yang benar-benar tidak mempunyai sesuatu, utang yang tidak bisa terbayar, dan penyakit yang membuat seseorang tidak bisa berusaha."
Kisah ini menggambarkan sifat Rasulullah yang gemar membantu orang yang tidak mampu. Bantuan tidak hanya berupa uang, tapi juga "kail" atau pekerjaan agar kelak orang yang tidak mampu itu bisa hidup mandiri.
Tidak dapat dimungkiri, jumlah pengemis dan pengangguran di Indonesia saat ini masih sangat tinggi. Alangkah indahnya, jika setiap orang mampu (secara ekonomi) di negeri ini mau meniru perilaku Rasulullah tersebut. Dengan memberi sedekah dan pekerjaan, setidaknya jumlah anak jalanan dan pengangguran bisa diminimalisasi.
Rasullullah memberikan contoh bahwa kesalehan spiritual belum dikatakan sempurna, sebelum dibarengi dengan kesalehan sosial (to be sensitive to the reality).
Dalam Alquran disebutkan bahwa orang yang bertakwa yaitu: "Orang-orang yang menafkahkan hartanya, baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan kesalahan orang (QS Ali Imran [3]: 134).
Saatnya kita berbagi dengan orang di sekeliling kita yang fakir dan miskin. Jika orang yang diberi kecukupan ekonomi di negeri ini mau peduli terhadap yang miskin, pasti perempuan Indonesia tidak akan berbondong-bondong menjadi tenaga kerja dan pembantu rumah tangga di negeri orang. Jika orang kaya di negeri ini mau membantu yang lemah dan fakir, tentu tidak banyak anak negeri ini yang putus sekolah. "Sesungguhnya kefakiran (kemiskinan) itu bisa menjerumuskan ke jurang kekafiran."
Kepahlawanan dalam Islam
SUMBER : REPUBLIKA.CO.ID
oleh : Ustaz Bachtiar Nasir
Dalam suatu kesempatan, di satu rumah di Madinah, Amirul Mukminin Umar bin Khattab duduk bersama para sahabatnya dan berkata kepada mereka, "Berobsesilah kalian semua!" Salah seorang dari mereka lalu berkata: "Saya berangan-angan seandainya rumah ini dipenuhi oleh emas yang akan saya infakkan di jalan Allah."
Kemudian, Umar meminta lagi kepada yang lain, maka berkata lagi seseorang dari mereka, "Saya berangan-angan seandainya rumah ini dipenuhi oleh mutiara dan intan berlian yang akan saya infakkan dan sedekahkan di jalan Allah. Umar meminta lagi kepada mereka, tapi mereka lalu mengatakan tidak tahu lagi apa yang akan dikatakan.
Umar berkata, "Kalau saya berangan-angan agar rumah ini dipenuhi orang-orang seperti Abu Ubaidah bin al-Jarrah, Mu'az bin Jabal, dan Salim budak Abu Huzaifah dan saya akan bahu membahu dengan mereka untuk meninggikan kalimat Allah SWT.'' Umar sangat mengagumi kepahlawanan Abu Ubaidah dan para sahabatnya.
Keikhlasan pengorbanan dan pengabdian serta kesetiaan yang mereka berikanlah yang membuat Umar mampu memimpin dan membangkitkan peradaban Islam ke penjuru dunia. Memang dalam perjuangan dan membuat perubahan membutuhkan harta banyak. Tetapi, apalah artinya harta jika tidak memiliki pribadi-pribadi terbaik yang berjuang untuk menjalankan misi dan menciptakan perubahan.
Rasulullah bersabda, "Manusia itu hanyalah seperti seratus ekor unta, hampir-hampir dari seratus ekor tersebut engkau tidak dapatkan satu ekor pun yang bagus untuk ditunggangi." (HR al-Bukhari). Hadis ini menggambarkan mayoritas manusia itu kurang berkualitas jika dilihat dari sudut pandang kualitas kepahlawanan.
Pribadi yang berjiwa kepahlawanan ini dapat sebanding dengan seratus orang bahkan satu bangsa. Islam mengajarkan, pribadi terbaik itu adalah yang berpegang teguh pada keyakinannya, berjuang, dan berdakwah dengan harta serta jiwanya. Wallahu a'lam bish shawab.
oleh : Ustaz Bachtiar Nasir
Dalam suatu kesempatan, di satu rumah di Madinah, Amirul Mukminin Umar bin Khattab duduk bersama para sahabatnya dan berkata kepada mereka, "Berobsesilah kalian semua!" Salah seorang dari mereka lalu berkata: "Saya berangan-angan seandainya rumah ini dipenuhi oleh emas yang akan saya infakkan di jalan Allah."
Kemudian, Umar meminta lagi kepada yang lain, maka berkata lagi seseorang dari mereka, "Saya berangan-angan seandainya rumah ini dipenuhi oleh mutiara dan intan berlian yang akan saya infakkan dan sedekahkan di jalan Allah. Umar meminta lagi kepada mereka, tapi mereka lalu mengatakan tidak tahu lagi apa yang akan dikatakan.
Umar berkata, "Kalau saya berangan-angan agar rumah ini dipenuhi orang-orang seperti Abu Ubaidah bin al-Jarrah, Mu'az bin Jabal, dan Salim budak Abu Huzaifah dan saya akan bahu membahu dengan mereka untuk meninggikan kalimat Allah SWT.'' Umar sangat mengagumi kepahlawanan Abu Ubaidah dan para sahabatnya.
Keikhlasan pengorbanan dan pengabdian serta kesetiaan yang mereka berikanlah yang membuat Umar mampu memimpin dan membangkitkan peradaban Islam ke penjuru dunia. Memang dalam perjuangan dan membuat perubahan membutuhkan harta banyak. Tetapi, apalah artinya harta jika tidak memiliki pribadi-pribadi terbaik yang berjuang untuk menjalankan misi dan menciptakan perubahan.
Rasulullah bersabda, "Manusia itu hanyalah seperti seratus ekor unta, hampir-hampir dari seratus ekor tersebut engkau tidak dapatkan satu ekor pun yang bagus untuk ditunggangi." (HR al-Bukhari). Hadis ini menggambarkan mayoritas manusia itu kurang berkualitas jika dilihat dari sudut pandang kualitas kepahlawanan.
Pribadi yang berjiwa kepahlawanan ini dapat sebanding dengan seratus orang bahkan satu bangsa. Islam mengajarkan, pribadi terbaik itu adalah yang berpegang teguh pada keyakinannya, berjuang, dan berdakwah dengan harta serta jiwanya. Wallahu a'lam bish shawab.
Selasa, 08 November 2011
Penjahat hakiki bertudung sorban
Sumber : Muxlimo's Lair
Salaam, Sobat...
Jika dulu ada istilah "penjahat berdasi" yang mengacu pada para penipu yang berdandan seperti orang baik-baik, kini tampaknya kita perlu waspada pada para "penjahat hakiki bertudung sorban", yaitu para tukang sihir yang mengklaim ilmunya berdasarkan Alquran dan hadis. Ini adalah masalah yang krusial karena menyangkut masalah hakiki akidah Islam, Sobat.
Muslim yang paling awam sekali pun, pasti tahu bahwa pergi berobat ke tukang sihir, dukun atau paranormal itu hukumnya syirik dan tergolong dosa besar tak berampun. Akan tetapi, tampaknya masih banyak yang tertipu oleh para tukang sihir yang berkedok agama: pengobatan alternatif Islami (kata mereka). Bahkan, ada sebagian besar tabib pengobatan alternatif yang menjadikan terapi penyembuhan ini sebagai lahan bisnis. Mereka menentukan harga tertentu bagi para pasien. Sebagian besar kaum muslimin tidak bisa membedakan antara pengobatan Qurani dengan pengobatan sihir. Jenis pengobatan yang pertama bersifat imani, sedangkan yang kedua adalah syaithani.
Yang menambah runyamnya permasalahan ini bagi orang-orang awam adalah bahwa sebagian paranormal ketika membaca mantra-mantra yang mengandung kekufuran, dibaca dengan suara yang pelan dan tidak kedengaran dan melantangkan suaranya ketika membaca sebagian ayat-ayat Alquran (yang diselipkan di antara mantra-mantra musyrik tersebut. Inilah ciri utama para penjahat hakiki bertudung sorban itu.
Hendaknya para pasien tidak tertipu dengan simbol-simbol dan penampilan luar sebuah terapi pengobatan, tetapi hendaknya mereka mencari para pemberi terapi Qurani (ahli ruqyah) yang bertakwa. Nah, bagaimana cara kita mengetahui wak haji, ustaz, atau santri penyembuh alternatif yang kita jumpai itu tukang sihir atau bukan? Selain ciri utama yang sudah ditandai di atas, berikut ini beberapa ciri sekundernya:
menanyakan kepada si penderita siapa namanya dan nama ibunya;
mengambil salah satu benda bekas yang dipakai oleh si penderita, seperti baju, peci, sapu tangan, dan lain-lain; terkadang meminta kepada si penderita seekor binatang dengan sifat-sifat tertentu, untuk disembelih dengan tidak menyebutkan nama Allah ﷻﷻ lalu mengoleskan darahnya kepada bagian-bagian tubuh si penderita yang sakit atau membuang bangkainya pada tempat-tempat yang sepi; menuliskan rajah; memberikan jimat penangkal yang berbentuk persegi empat kepada si penderita. Jimat it mengandung rajah yang berupa huruf-huruf atau angka-angka meminta si penderita untuk menghindari orang ('uzlah) selama masa tertentu dalam ruang yang gelap dan tidak dimasuki sinar matahari. Orang awam menyebutnya dengan menyepi atau bersemedi; terkadang meminta si penderita agar tidak menyentuh air selama masa tertentu, biasanya selama empat puluh hari; memberikan kepada si penderita benda-benda yang harus ditanam di dalam tanah; memberikan kepada si penderita lembaran-lembaran kertas yang harus dibakar kemudian dihirup asapnya; berkomat-kamit membaca sesuatu yang tidak bisa dipahami; terkadang si tabib dapat menebak dengan benar tentang nama si penderita, tempat asalnya, dan persoalan-persoalan yang akan ia tanyakan kepadanya; menuliskan untuk si penderita huruf-huruf potongan di atas sebuah kertas atau di atas piring dari tembikar putih lalu memerintahkan si penderita untuk melarutkannya dengan air dan meminumnya.
Jika Anda sudah tahu bahwa seseorang itu adalah penyihir (meskipun ia adalah ulama terpandang, punya banyak massa, dan kehidupan sehari-harinya tampak begitu islami), jangan sekali-kali mendatanginya. Apalagi jika ulama tersebut terkenal dapat memerintah jin! Bukankah seseorang yang bisa memerintah jin itu berarti ia adalah pemimpin para jin? Berarti pula ia bagian dari keluarga besar jin yang berwujud manusia? Waspadalah, tidak ada seorang pun yang berhak mengklaim ilmunya setaraf Nabi Sulaiman a.s. atau para nabi lainnya.
Bila Anda tetap berkeras dan tetap mendatangi ulama-ulama semacam ini, Anda akan terkena sabda Rasulullah ﷺ
"Barang siapa mendatangi tukang ramal, atau tukang sihir, atau tukang tenung lalu ia bertanya kepadanya tentang sesuatu kemudian membenarkan apa yang dikatakan olehnya, maka sesungguhnya ia telah kafir terhadap wahyu yang telah diturunkan kepada Nabi Muhammad ﷺ."
(Imam Al-Hafizh Al-Mundziri dalam At-Targhib, IV/53 berkata,"Hadis ini diriwayatkan oleh Al-Bazzar dan Abu Ya'la dengan sanad baik dan mauquf (hanya sampai kepada sahabat saja).
Nasihat bagi para muslim yang melakukan praktik pengobatan alternatif. Hendaknya Anda hanya menggunakan metode yang disyariatkan saja. Hendaknya Anda tidak meluaskan praktiknya ke mana-mana, yang pada akhirnya menjerumuskan Anda dan pasien Anda ke dalam hal-hal yang dilarang. Hal ini jika diumpamakan, seperti penggembala yang menggembala gembalaannya di sekitar tempat yang terlarang sebab dikhawatirkan gembalaannya akan masuk ke tempat tersebut.
Allahua'lam.
{Sebuah penyajian ulang dari tulisan Wahid Abdussalam Bali, seorang ulama Mesir sekaligus dosen fikih perbandingan, dalam bukunya yang berjudul asli Ash-Shârimul Battar fît Tashaddy Lis Saharatil Asyrâr (digubah ke dalam bahasa Indonesia menjadi Tolak Sihir Cara Islam oleh Penerbit Aqwam, Solo, 2008).
The Confession: A Novel Sudoku The Gift The 7th Victim The UnionThe Incredible MachineO Holy Night (CD/DVD)
Salaam, Sobat...
Jika dulu ada istilah "penjahat berdasi" yang mengacu pada para penipu yang berdandan seperti orang baik-baik, kini tampaknya kita perlu waspada pada para "penjahat hakiki bertudung sorban", yaitu para tukang sihir yang mengklaim ilmunya berdasarkan Alquran dan hadis. Ini adalah masalah yang krusial karena menyangkut masalah hakiki akidah Islam, Sobat.
Muslim yang paling awam sekali pun, pasti tahu bahwa pergi berobat ke tukang sihir, dukun atau paranormal itu hukumnya syirik dan tergolong dosa besar tak berampun. Akan tetapi, tampaknya masih banyak yang tertipu oleh para tukang sihir yang berkedok agama: pengobatan alternatif Islami (kata mereka). Bahkan, ada sebagian besar tabib pengobatan alternatif yang menjadikan terapi penyembuhan ini sebagai lahan bisnis. Mereka menentukan harga tertentu bagi para pasien. Sebagian besar kaum muslimin tidak bisa membedakan antara pengobatan Qurani dengan pengobatan sihir. Jenis pengobatan yang pertama bersifat imani, sedangkan yang kedua adalah syaithani.
Yang menambah runyamnya permasalahan ini bagi orang-orang awam adalah bahwa sebagian paranormal ketika membaca mantra-mantra yang mengandung kekufuran, dibaca dengan suara yang pelan dan tidak kedengaran dan melantangkan suaranya ketika membaca sebagian ayat-ayat Alquran (yang diselipkan di antara mantra-mantra musyrik tersebut. Inilah ciri utama para penjahat hakiki bertudung sorban itu.
Hendaknya para pasien tidak tertipu dengan simbol-simbol dan penampilan luar sebuah terapi pengobatan, tetapi hendaknya mereka mencari para pemberi terapi Qurani (ahli ruqyah) yang bertakwa. Nah, bagaimana cara kita mengetahui wak haji, ustaz, atau santri penyembuh alternatif yang kita jumpai itu tukang sihir atau bukan? Selain ciri utama yang sudah ditandai di atas, berikut ini beberapa ciri sekundernya:
menanyakan kepada si penderita siapa namanya dan nama ibunya;
mengambil salah satu benda bekas yang dipakai oleh si penderita, seperti baju, peci, sapu tangan, dan lain-lain; terkadang meminta kepada si penderita seekor binatang dengan sifat-sifat tertentu, untuk disembelih dengan tidak menyebutkan nama Allah ﷻﷻ lalu mengoleskan darahnya kepada bagian-bagian tubuh si penderita yang sakit atau membuang bangkainya pada tempat-tempat yang sepi; menuliskan rajah; memberikan jimat penangkal yang berbentuk persegi empat kepada si penderita. Jimat it mengandung rajah yang berupa huruf-huruf atau angka-angka meminta si penderita untuk menghindari orang ('uzlah) selama masa tertentu dalam ruang yang gelap dan tidak dimasuki sinar matahari. Orang awam menyebutnya dengan menyepi atau bersemedi; terkadang meminta si penderita agar tidak menyentuh air selama masa tertentu, biasanya selama empat puluh hari; memberikan kepada si penderita benda-benda yang harus ditanam di dalam tanah; memberikan kepada si penderita lembaran-lembaran kertas yang harus dibakar kemudian dihirup asapnya; berkomat-kamit membaca sesuatu yang tidak bisa dipahami; terkadang si tabib dapat menebak dengan benar tentang nama si penderita, tempat asalnya, dan persoalan-persoalan yang akan ia tanyakan kepadanya; menuliskan untuk si penderita huruf-huruf potongan di atas sebuah kertas atau di atas piring dari tembikar putih lalu memerintahkan si penderita untuk melarutkannya dengan air dan meminumnya.
Jika Anda sudah tahu bahwa seseorang itu adalah penyihir (meskipun ia adalah ulama terpandang, punya banyak massa, dan kehidupan sehari-harinya tampak begitu islami), jangan sekali-kali mendatanginya. Apalagi jika ulama tersebut terkenal dapat memerintah jin! Bukankah seseorang yang bisa memerintah jin itu berarti ia adalah pemimpin para jin? Berarti pula ia bagian dari keluarga besar jin yang berwujud manusia? Waspadalah, tidak ada seorang pun yang berhak mengklaim ilmunya setaraf Nabi Sulaiman a.s. atau para nabi lainnya.
Bila Anda tetap berkeras dan tetap mendatangi ulama-ulama semacam ini, Anda akan terkena sabda Rasulullah ﷺ
"Barang siapa mendatangi tukang ramal, atau tukang sihir, atau tukang tenung lalu ia bertanya kepadanya tentang sesuatu kemudian membenarkan apa yang dikatakan olehnya, maka sesungguhnya ia telah kafir terhadap wahyu yang telah diturunkan kepada Nabi Muhammad ﷺ."
(Imam Al-Hafizh Al-Mundziri dalam At-Targhib, IV/53 berkata,"Hadis ini diriwayatkan oleh Al-Bazzar dan Abu Ya'la dengan sanad baik dan mauquf (hanya sampai kepada sahabat saja).
Nasihat bagi para muslim yang melakukan praktik pengobatan alternatif. Hendaknya Anda hanya menggunakan metode yang disyariatkan saja. Hendaknya Anda tidak meluaskan praktiknya ke mana-mana, yang pada akhirnya menjerumuskan Anda dan pasien Anda ke dalam hal-hal yang dilarang. Hal ini jika diumpamakan, seperti penggembala yang menggembala gembalaannya di sekitar tempat yang terlarang sebab dikhawatirkan gembalaannya akan masuk ke tempat tersebut.
Allahua'lam.
{Sebuah penyajian ulang dari tulisan Wahid Abdussalam Bali, seorang ulama Mesir sekaligus dosen fikih perbandingan, dalam bukunya yang berjudul asli Ash-Shârimul Battar fît Tashaddy Lis Saharatil Asyrâr (digubah ke dalam bahasa Indonesia menjadi Tolak Sihir Cara Islam oleh Penerbit Aqwam, Solo, 2008).
The Confession: A Novel Sudoku The Gift The 7th Victim The UnionThe Incredible MachineO Holy Night (CD/DVD)
Minggu, 06 November 2011
Teringat BLACK HOLE di Arafah
SUMBER : REPUBLIKA ONLINE
Oleh Muhammad Subarkah
"Seperti apa rasanya Padang Mahsyar?" Jawabnya, sebelum mati pergilah haji dan berwukuflah di Arafah. Di sini, meski masih di atas tanah, panasnya juga tak ketulungan. Bayangkan saja, kalau jarak bumi ke matahari yang sekitar 149.600.000 kilometer (92,96 juta mil) tiba-tiba dipangkas hingga hanya tinggal sejengkal. Apa jadinya makhluk yang bernama latin Homosapiens ini? Semua jelas akan menjadi sebutir debu atau sekadar zarah (partikel).
"Arafah adalah padang kesadaran," tulis cendikiawan Iran, Ali Syariati, dalam bukunya yang memukau mengenai haji itu. Menurut dia, saat wukuf di Arafah yang dimulai tepat tengah hari tanggal 9 Dzulhijah, di kala matahari bersinar sangat terik, maka carilah kesadaran diri, wawasan, pengetahuan, dan cinta Ilahi. Dia pun menyerukan agar semua orang yang ada di tempat itu keluar dari tendanya: "Hai manusia, keluarlah dari tenda dan terjunlah ke dalam kesadaran manusia. Biarkanlah 'ego' terbakar terik matahari!"
Kesadaran akan Arafah yang identik sebuah dusun percobaan untuk alam Mahsyar pada hari kiamat memang sudah lama dipompakan dalam pelajaran manasik haji. Di tempat itulah dahulu Rasulallah SAW mengucapkan khotbah haji wadanya yang sangat fenomenal. Inti pesannya adalah kesucian dan kehormatan Ilahiah dari setiap anak manusia serta pernyataan konkret bahwa semua manusia sama kecuali amal baiknya.
Tapi, di balik seruan khotbah Amirul Haj di Arafah dan di antara dengung talbiah dan zikir, saat itu juga mendenging 'khotbah-khotbah' ilmiah si jenius masa kini, Stephen Walking Hawking, yang telah memopulerkan teori bahwa dunia ini ujung-ujungnya memang akan berakhir dan tersedot ke dalam sebuah lubang hitam: black hole. Dan, pesan inilah yang kini juga terasa hingga kawasan Arafah. Dunia tetap saja punya umur. Tak ada yang abadi di dunia ini.
Hawking secara jenius mengisahkan bagaimana cara alam ini masuk dalam masa kiamat. Bila saat itu warna matahari sudah berubah merah pertanda siap menjadi bintang mati, daya gravitasinya pun naik berlipat-lipat. Seluruh planet yang semenjak masa Galileo dan Copernicus dipercayai mengitarinya menjadi tersedot ke arahnya. Dan, sedotan ini makin dahsyat ketika matahari benar-benar menjadi bintang mati. Saat itulah sistem tata surya ini masuk ke dalam lorong yang berwarna gelap. Hawking menyebutnya lubang hitam (black hole). Setelah itu terjadilah ledakan sangat besar: big bang!
Pada menjelang fase itulah, di mana ciri-ciri kiamat seperti yang diwartakan Alquran ketika bumi dan matahari berguncang serta langit runtuh atau matahari tinggal sejengkal dari kepala, terasa bersesuaian dengan pikiran ilmiah. Stephen Hawking memang hingga kini masih tetap agnostik dengan mengatakan bahwa Tuhan tidak ikut campur dalam masalah di alam semesta. Namun, dia ternyata yakin bahwa alam semesta ini pun akan berakhir.
Dalam banyak bukunya, Hawking jelas menyebutkan betapa dahsyatnya kiamat ala black hole itu. Menurut dia, pada suatu waktu ketika di angkasa terjadi sebuah pemusatan masa yang cukup besar, saat itu pulalah muncul sebuah gaya gravitasi yang sangat besar. Medan gravitasi ini begitu kuat sehingga kecepatan lepas di dekatnya mendekati kecepatan cahaya. Tak ada sesuatu, termasuk radiasi elektromagnetik sekali pun, dapat lolos dari sedotan gravitasinya. Bahkan, cahaya hanya dapat masuk tetapi tidak dapat keluar atau melewatinya. Bumi masuk ke dalam lubang hitam sebelum meledak bersama planet-planet lainnya.
"Saya ingin tahu bagaimana jalan pikiran Tuhan ketika hendak menciptakan alam semesta," begitu kata Hawking ketika ditanya mendiang Paus Johanes Paulus II mengapa sampai sibuk berpikir mengenai soal perlunya mencari tahu tentang eksistensi Tuhan bagi alam semesta. Paus saat itu tidak berkenan ketika Hawking tetap berkeras menyatakan bahwa agama hanya ekspresi dari budaya manusia.
Menyadari semua itu, sembari berzikir dan melihat langit di atas Arafah, maka terbayanglah segala kedhaifan manusia. Melalui dua lembar kain ihram diajarkan bahwa segala kemegahan dunia tak ada artinya bila kiamat tiba. Bayangkan, Hawking meskipun tak percaya Tuhan itu ada, dia sangat yakin bila hari akhir dunia akan terjadi.
Maka, nikmat Tuhan kamu (Allah SWT) yang manakah yang kamu dustakan? (QS ar-Rahman).
Oleh Muhammad Subarkah
"Seperti apa rasanya Padang Mahsyar?" Jawabnya, sebelum mati pergilah haji dan berwukuflah di Arafah. Di sini, meski masih di atas tanah, panasnya juga tak ketulungan. Bayangkan saja, kalau jarak bumi ke matahari yang sekitar 149.600.000 kilometer (92,96 juta mil) tiba-tiba dipangkas hingga hanya tinggal sejengkal. Apa jadinya makhluk yang bernama latin Homosapiens ini? Semua jelas akan menjadi sebutir debu atau sekadar zarah (partikel).
"Arafah adalah padang kesadaran," tulis cendikiawan Iran, Ali Syariati, dalam bukunya yang memukau mengenai haji itu. Menurut dia, saat wukuf di Arafah yang dimulai tepat tengah hari tanggal 9 Dzulhijah, di kala matahari bersinar sangat terik, maka carilah kesadaran diri, wawasan, pengetahuan, dan cinta Ilahi. Dia pun menyerukan agar semua orang yang ada di tempat itu keluar dari tendanya: "Hai manusia, keluarlah dari tenda dan terjunlah ke dalam kesadaran manusia. Biarkanlah 'ego' terbakar terik matahari!"
Kesadaran akan Arafah yang identik sebuah dusun percobaan untuk alam Mahsyar pada hari kiamat memang sudah lama dipompakan dalam pelajaran manasik haji. Di tempat itulah dahulu Rasulallah SAW mengucapkan khotbah haji wadanya yang sangat fenomenal. Inti pesannya adalah kesucian dan kehormatan Ilahiah dari setiap anak manusia serta pernyataan konkret bahwa semua manusia sama kecuali amal baiknya.
Tapi, di balik seruan khotbah Amirul Haj di Arafah dan di antara dengung talbiah dan zikir, saat itu juga mendenging 'khotbah-khotbah' ilmiah si jenius masa kini, Stephen Walking Hawking, yang telah memopulerkan teori bahwa dunia ini ujung-ujungnya memang akan berakhir dan tersedot ke dalam sebuah lubang hitam: black hole. Dan, pesan inilah yang kini juga terasa hingga kawasan Arafah. Dunia tetap saja punya umur. Tak ada yang abadi di dunia ini.
Hawking secara jenius mengisahkan bagaimana cara alam ini masuk dalam masa kiamat. Bila saat itu warna matahari sudah berubah merah pertanda siap menjadi bintang mati, daya gravitasinya pun naik berlipat-lipat. Seluruh planet yang semenjak masa Galileo dan Copernicus dipercayai mengitarinya menjadi tersedot ke arahnya. Dan, sedotan ini makin dahsyat ketika matahari benar-benar menjadi bintang mati. Saat itulah sistem tata surya ini masuk ke dalam lorong yang berwarna gelap. Hawking menyebutnya lubang hitam (black hole). Setelah itu terjadilah ledakan sangat besar: big bang!
Pada menjelang fase itulah, di mana ciri-ciri kiamat seperti yang diwartakan Alquran ketika bumi dan matahari berguncang serta langit runtuh atau matahari tinggal sejengkal dari kepala, terasa bersesuaian dengan pikiran ilmiah. Stephen Hawking memang hingga kini masih tetap agnostik dengan mengatakan bahwa Tuhan tidak ikut campur dalam masalah di alam semesta. Namun, dia ternyata yakin bahwa alam semesta ini pun akan berakhir.
Dalam banyak bukunya, Hawking jelas menyebutkan betapa dahsyatnya kiamat ala black hole itu. Menurut dia, pada suatu waktu ketika di angkasa terjadi sebuah pemusatan masa yang cukup besar, saat itu pulalah muncul sebuah gaya gravitasi yang sangat besar. Medan gravitasi ini begitu kuat sehingga kecepatan lepas di dekatnya mendekati kecepatan cahaya. Tak ada sesuatu, termasuk radiasi elektromagnetik sekali pun, dapat lolos dari sedotan gravitasinya. Bahkan, cahaya hanya dapat masuk tetapi tidak dapat keluar atau melewatinya. Bumi masuk ke dalam lubang hitam sebelum meledak bersama planet-planet lainnya.
"Saya ingin tahu bagaimana jalan pikiran Tuhan ketika hendak menciptakan alam semesta," begitu kata Hawking ketika ditanya mendiang Paus Johanes Paulus II mengapa sampai sibuk berpikir mengenai soal perlunya mencari tahu tentang eksistensi Tuhan bagi alam semesta. Paus saat itu tidak berkenan ketika Hawking tetap berkeras menyatakan bahwa agama hanya ekspresi dari budaya manusia.
Menyadari semua itu, sembari berzikir dan melihat langit di atas Arafah, maka terbayanglah segala kedhaifan manusia. Melalui dua lembar kain ihram diajarkan bahwa segala kemegahan dunia tak ada artinya bila kiamat tiba. Bayangkan, Hawking meskipun tak percaya Tuhan itu ada, dia sangat yakin bila hari akhir dunia akan terjadi.
Maka, nikmat Tuhan kamu (Allah SWT) yang manakah yang kamu dustakan? (QS ar-Rahman).
Langganan:
Postingan (Atom)