SUMBER : REPUBLIKA ONLINE
Oleh Khofifah Indar Parawansa
Suatu hari ada seseorang datang meminta-minta kepada Rasulullah SAW yang sedang berkumpul dengan para sahabat. Melihat kehadiran pengemis itu, Rasulullah lantas bertanya, "Apakah kamu mempunyai sesuatu di rumahmu?"
Dia menjawab, "Tentu, saya mempunyai pakaian yang biasa dipakai sehari-hari dan sebuah cangkir." Rasulullah lalu berkata, "Ambil dan serahkan ke saya!"
Pengemis itu langsung bergegas pulang dan kembali dengan membawa cangkir. Rasulullah kemudian menawarkan cangkir itu kepada para sahabat, "Adakah di antara kalian yang ingin membeli ini?" Seorang sahabat menyahut, "Saya beli dengan satu dirham."
Rasulullah lalu menawarkannya kepada sahabat yang lain. Seorang sahabat yang sanggup membelinya dengan harga dua dirham. Rasulullah kemudian memberikan dua dirham itu kepada si pengemis. Rasul mengharapkan agar uang itu digunakan untuk membeli makanan buat keluarganya, dan sisa uangnya digunakan untuk membeli kapak. "Carilah kayu yang banyak dan juallah, selama dua minggu ini aku tidak ingin melihatmu," kata Rasulullah.
Dua minggu kemudian, pengemis itu datang kembali menghadap Rasulullah SAW, tapi tidak untuk mengemis. Ia datang kepada Rasullah membawa uang 10 dirham hasil dari berjualan kayu. Rasulullah SAW kemudian menyuruhnya untuk membeli pakaian dan makanan untuk keluarganya.
Rasulullah berkata, "Hal ini lebih baik bagi kamu, karena meminta-meminta hanya akan membuat noda di wajahmu di akhirat nanti. Tidak layak bagi seseorang meminta-minta kecuali dalam tiga hal, fakir miskin yang benar-benar tidak mempunyai sesuatu, utang yang tidak bisa terbayar, dan penyakit yang membuat seseorang tidak bisa berusaha."
Kisah ini menggambarkan sifat Rasulullah yang gemar membantu orang yang tidak mampu. Bantuan tidak hanya berupa uang, tapi juga "kail" atau pekerjaan agar kelak orang yang tidak mampu itu bisa hidup mandiri.
Tidak dapat dimungkiri, jumlah pengemis dan pengangguran di Indonesia saat ini masih sangat tinggi. Alangkah indahnya, jika setiap orang mampu (secara ekonomi) di negeri ini mau meniru perilaku Rasulullah tersebut. Dengan memberi sedekah dan pekerjaan, setidaknya jumlah anak jalanan dan pengangguran bisa diminimalisasi.
Rasullullah memberikan contoh bahwa kesalehan spiritual belum dikatakan sempurna, sebelum dibarengi dengan kesalehan sosial (to be sensitive to the reality).
Dalam Alquran disebutkan bahwa orang yang bertakwa yaitu: "Orang-orang yang menafkahkan hartanya, baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan kesalahan orang (QS Ali Imran [3]: 134).
Saatnya kita berbagi dengan orang di sekeliling kita yang fakir dan miskin. Jika orang yang diberi kecukupan ekonomi di negeri ini mau peduli terhadap yang miskin, pasti perempuan Indonesia tidak akan berbondong-bondong menjadi tenaga kerja dan pembantu rumah tangga di negeri orang. Jika orang kaya di negeri ini mau membantu yang lemah dan fakir, tentu tidak banyak anak negeri ini yang putus sekolah. "Sesungguhnya kefakiran (kemiskinan) itu bisa menjerumuskan ke jurang kekafiran."
Jumat, 11 November 2011
Kepahlawanan dalam Islam
SUMBER : REPUBLIKA.CO.ID
oleh : Ustaz Bachtiar Nasir
Dalam suatu kesempatan, di satu rumah di Madinah, Amirul Mukminin Umar bin Khattab duduk bersama para sahabatnya dan berkata kepada mereka, "Berobsesilah kalian semua!" Salah seorang dari mereka lalu berkata: "Saya berangan-angan seandainya rumah ini dipenuhi oleh emas yang akan saya infakkan di jalan Allah."
Kemudian, Umar meminta lagi kepada yang lain, maka berkata lagi seseorang dari mereka, "Saya berangan-angan seandainya rumah ini dipenuhi oleh mutiara dan intan berlian yang akan saya infakkan dan sedekahkan di jalan Allah. Umar meminta lagi kepada mereka, tapi mereka lalu mengatakan tidak tahu lagi apa yang akan dikatakan.
Umar berkata, "Kalau saya berangan-angan agar rumah ini dipenuhi orang-orang seperti Abu Ubaidah bin al-Jarrah, Mu'az bin Jabal, dan Salim budak Abu Huzaifah dan saya akan bahu membahu dengan mereka untuk meninggikan kalimat Allah SWT.'' Umar sangat mengagumi kepahlawanan Abu Ubaidah dan para sahabatnya.
Keikhlasan pengorbanan dan pengabdian serta kesetiaan yang mereka berikanlah yang membuat Umar mampu memimpin dan membangkitkan peradaban Islam ke penjuru dunia. Memang dalam perjuangan dan membuat perubahan membutuhkan harta banyak. Tetapi, apalah artinya harta jika tidak memiliki pribadi-pribadi terbaik yang berjuang untuk menjalankan misi dan menciptakan perubahan.
Rasulullah bersabda, "Manusia itu hanyalah seperti seratus ekor unta, hampir-hampir dari seratus ekor tersebut engkau tidak dapatkan satu ekor pun yang bagus untuk ditunggangi." (HR al-Bukhari). Hadis ini menggambarkan mayoritas manusia itu kurang berkualitas jika dilihat dari sudut pandang kualitas kepahlawanan.
Pribadi yang berjiwa kepahlawanan ini dapat sebanding dengan seratus orang bahkan satu bangsa. Islam mengajarkan, pribadi terbaik itu adalah yang berpegang teguh pada keyakinannya, berjuang, dan berdakwah dengan harta serta jiwanya. Wallahu a'lam bish shawab.
oleh : Ustaz Bachtiar Nasir
Dalam suatu kesempatan, di satu rumah di Madinah, Amirul Mukminin Umar bin Khattab duduk bersama para sahabatnya dan berkata kepada mereka, "Berobsesilah kalian semua!" Salah seorang dari mereka lalu berkata: "Saya berangan-angan seandainya rumah ini dipenuhi oleh emas yang akan saya infakkan di jalan Allah."
Kemudian, Umar meminta lagi kepada yang lain, maka berkata lagi seseorang dari mereka, "Saya berangan-angan seandainya rumah ini dipenuhi oleh mutiara dan intan berlian yang akan saya infakkan dan sedekahkan di jalan Allah. Umar meminta lagi kepada mereka, tapi mereka lalu mengatakan tidak tahu lagi apa yang akan dikatakan.
Umar berkata, "Kalau saya berangan-angan agar rumah ini dipenuhi orang-orang seperti Abu Ubaidah bin al-Jarrah, Mu'az bin Jabal, dan Salim budak Abu Huzaifah dan saya akan bahu membahu dengan mereka untuk meninggikan kalimat Allah SWT.'' Umar sangat mengagumi kepahlawanan Abu Ubaidah dan para sahabatnya.
Keikhlasan pengorbanan dan pengabdian serta kesetiaan yang mereka berikanlah yang membuat Umar mampu memimpin dan membangkitkan peradaban Islam ke penjuru dunia. Memang dalam perjuangan dan membuat perubahan membutuhkan harta banyak. Tetapi, apalah artinya harta jika tidak memiliki pribadi-pribadi terbaik yang berjuang untuk menjalankan misi dan menciptakan perubahan.
Rasulullah bersabda, "Manusia itu hanyalah seperti seratus ekor unta, hampir-hampir dari seratus ekor tersebut engkau tidak dapatkan satu ekor pun yang bagus untuk ditunggangi." (HR al-Bukhari). Hadis ini menggambarkan mayoritas manusia itu kurang berkualitas jika dilihat dari sudut pandang kualitas kepahlawanan.
Pribadi yang berjiwa kepahlawanan ini dapat sebanding dengan seratus orang bahkan satu bangsa. Islam mengajarkan, pribadi terbaik itu adalah yang berpegang teguh pada keyakinannya, berjuang, dan berdakwah dengan harta serta jiwanya. Wallahu a'lam bish shawab.
Selasa, 08 November 2011
Penjahat hakiki bertudung sorban
Sumber : Muxlimo's Lair
Salaam, Sobat...
Jika dulu ada istilah "penjahat berdasi" yang mengacu pada para penipu yang berdandan seperti orang baik-baik, kini tampaknya kita perlu waspada pada para "penjahat hakiki bertudung sorban", yaitu para tukang sihir yang mengklaim ilmunya berdasarkan Alquran dan hadis. Ini adalah masalah yang krusial karena menyangkut masalah hakiki akidah Islam, Sobat.
Muslim yang paling awam sekali pun, pasti tahu bahwa pergi berobat ke tukang sihir, dukun atau paranormal itu hukumnya syirik dan tergolong dosa besar tak berampun. Akan tetapi, tampaknya masih banyak yang tertipu oleh para tukang sihir yang berkedok agama: pengobatan alternatif Islami (kata mereka). Bahkan, ada sebagian besar tabib pengobatan alternatif yang menjadikan terapi penyembuhan ini sebagai lahan bisnis. Mereka menentukan harga tertentu bagi para pasien. Sebagian besar kaum muslimin tidak bisa membedakan antara pengobatan Qurani dengan pengobatan sihir. Jenis pengobatan yang pertama bersifat imani, sedangkan yang kedua adalah syaithani.
Yang menambah runyamnya permasalahan ini bagi orang-orang awam adalah bahwa sebagian paranormal ketika membaca mantra-mantra yang mengandung kekufuran, dibaca dengan suara yang pelan dan tidak kedengaran dan melantangkan suaranya ketika membaca sebagian ayat-ayat Alquran (yang diselipkan di antara mantra-mantra musyrik tersebut. Inilah ciri utama para penjahat hakiki bertudung sorban itu.
Hendaknya para pasien tidak tertipu dengan simbol-simbol dan penampilan luar sebuah terapi pengobatan, tetapi hendaknya mereka mencari para pemberi terapi Qurani (ahli ruqyah) yang bertakwa. Nah, bagaimana cara kita mengetahui wak haji, ustaz, atau santri penyembuh alternatif yang kita jumpai itu tukang sihir atau bukan? Selain ciri utama yang sudah ditandai di atas, berikut ini beberapa ciri sekundernya:
menanyakan kepada si penderita siapa namanya dan nama ibunya;
mengambil salah satu benda bekas yang dipakai oleh si penderita, seperti baju, peci, sapu tangan, dan lain-lain; terkadang meminta kepada si penderita seekor binatang dengan sifat-sifat tertentu, untuk disembelih dengan tidak menyebutkan nama Allah ﷻﷻ lalu mengoleskan darahnya kepada bagian-bagian tubuh si penderita yang sakit atau membuang bangkainya pada tempat-tempat yang sepi; menuliskan rajah; memberikan jimat penangkal yang berbentuk persegi empat kepada si penderita. Jimat it mengandung rajah yang berupa huruf-huruf atau angka-angka meminta si penderita untuk menghindari orang ('uzlah) selama masa tertentu dalam ruang yang gelap dan tidak dimasuki sinar matahari. Orang awam menyebutnya dengan menyepi atau bersemedi; terkadang meminta si penderita agar tidak menyentuh air selama masa tertentu, biasanya selama empat puluh hari; memberikan kepada si penderita benda-benda yang harus ditanam di dalam tanah; memberikan kepada si penderita lembaran-lembaran kertas yang harus dibakar kemudian dihirup asapnya; berkomat-kamit membaca sesuatu yang tidak bisa dipahami; terkadang si tabib dapat menebak dengan benar tentang nama si penderita, tempat asalnya, dan persoalan-persoalan yang akan ia tanyakan kepadanya; menuliskan untuk si penderita huruf-huruf potongan di atas sebuah kertas atau di atas piring dari tembikar putih lalu memerintahkan si penderita untuk melarutkannya dengan air dan meminumnya.
Jika Anda sudah tahu bahwa seseorang itu adalah penyihir (meskipun ia adalah ulama terpandang, punya banyak massa, dan kehidupan sehari-harinya tampak begitu islami), jangan sekali-kali mendatanginya. Apalagi jika ulama tersebut terkenal dapat memerintah jin! Bukankah seseorang yang bisa memerintah jin itu berarti ia adalah pemimpin para jin? Berarti pula ia bagian dari keluarga besar jin yang berwujud manusia? Waspadalah, tidak ada seorang pun yang berhak mengklaim ilmunya setaraf Nabi Sulaiman a.s. atau para nabi lainnya.
Bila Anda tetap berkeras dan tetap mendatangi ulama-ulama semacam ini, Anda akan terkena sabda Rasulullah ﷺ
"Barang siapa mendatangi tukang ramal, atau tukang sihir, atau tukang tenung lalu ia bertanya kepadanya tentang sesuatu kemudian membenarkan apa yang dikatakan olehnya, maka sesungguhnya ia telah kafir terhadap wahyu yang telah diturunkan kepada Nabi Muhammad ﷺ."
(Imam Al-Hafizh Al-Mundziri dalam At-Targhib, IV/53 berkata,"Hadis ini diriwayatkan oleh Al-Bazzar dan Abu Ya'la dengan sanad baik dan mauquf (hanya sampai kepada sahabat saja).
Nasihat bagi para muslim yang melakukan praktik pengobatan alternatif. Hendaknya Anda hanya menggunakan metode yang disyariatkan saja. Hendaknya Anda tidak meluaskan praktiknya ke mana-mana, yang pada akhirnya menjerumuskan Anda dan pasien Anda ke dalam hal-hal yang dilarang. Hal ini jika diumpamakan, seperti penggembala yang menggembala gembalaannya di sekitar tempat yang terlarang sebab dikhawatirkan gembalaannya akan masuk ke tempat tersebut.
Allahua'lam.
{Sebuah penyajian ulang dari tulisan Wahid Abdussalam Bali, seorang ulama Mesir sekaligus dosen fikih perbandingan, dalam bukunya yang berjudul asli Ash-Shârimul Battar fît Tashaddy Lis Saharatil Asyrâr (digubah ke dalam bahasa Indonesia menjadi Tolak Sihir Cara Islam oleh Penerbit Aqwam, Solo, 2008).
The Confession: A Novel Sudoku The Gift The 7th Victim The UnionThe Incredible MachineO Holy Night (CD/DVD)
Salaam, Sobat...
Jika dulu ada istilah "penjahat berdasi" yang mengacu pada para penipu yang berdandan seperti orang baik-baik, kini tampaknya kita perlu waspada pada para "penjahat hakiki bertudung sorban", yaitu para tukang sihir yang mengklaim ilmunya berdasarkan Alquran dan hadis. Ini adalah masalah yang krusial karena menyangkut masalah hakiki akidah Islam, Sobat.
Muslim yang paling awam sekali pun, pasti tahu bahwa pergi berobat ke tukang sihir, dukun atau paranormal itu hukumnya syirik dan tergolong dosa besar tak berampun. Akan tetapi, tampaknya masih banyak yang tertipu oleh para tukang sihir yang berkedok agama: pengobatan alternatif Islami (kata mereka). Bahkan, ada sebagian besar tabib pengobatan alternatif yang menjadikan terapi penyembuhan ini sebagai lahan bisnis. Mereka menentukan harga tertentu bagi para pasien. Sebagian besar kaum muslimin tidak bisa membedakan antara pengobatan Qurani dengan pengobatan sihir. Jenis pengobatan yang pertama bersifat imani, sedangkan yang kedua adalah syaithani.
Yang menambah runyamnya permasalahan ini bagi orang-orang awam adalah bahwa sebagian paranormal ketika membaca mantra-mantra yang mengandung kekufuran, dibaca dengan suara yang pelan dan tidak kedengaran dan melantangkan suaranya ketika membaca sebagian ayat-ayat Alquran (yang diselipkan di antara mantra-mantra musyrik tersebut. Inilah ciri utama para penjahat hakiki bertudung sorban itu.
Hendaknya para pasien tidak tertipu dengan simbol-simbol dan penampilan luar sebuah terapi pengobatan, tetapi hendaknya mereka mencari para pemberi terapi Qurani (ahli ruqyah) yang bertakwa. Nah, bagaimana cara kita mengetahui wak haji, ustaz, atau santri penyembuh alternatif yang kita jumpai itu tukang sihir atau bukan? Selain ciri utama yang sudah ditandai di atas, berikut ini beberapa ciri sekundernya:
menanyakan kepada si penderita siapa namanya dan nama ibunya;
mengambil salah satu benda bekas yang dipakai oleh si penderita, seperti baju, peci, sapu tangan, dan lain-lain; terkadang meminta kepada si penderita seekor binatang dengan sifat-sifat tertentu, untuk disembelih dengan tidak menyebutkan nama Allah ﷻﷻ lalu mengoleskan darahnya kepada bagian-bagian tubuh si penderita yang sakit atau membuang bangkainya pada tempat-tempat yang sepi; menuliskan rajah; memberikan jimat penangkal yang berbentuk persegi empat kepada si penderita. Jimat it mengandung rajah yang berupa huruf-huruf atau angka-angka meminta si penderita untuk menghindari orang ('uzlah) selama masa tertentu dalam ruang yang gelap dan tidak dimasuki sinar matahari. Orang awam menyebutnya dengan menyepi atau bersemedi; terkadang meminta si penderita agar tidak menyentuh air selama masa tertentu, biasanya selama empat puluh hari; memberikan kepada si penderita benda-benda yang harus ditanam di dalam tanah; memberikan kepada si penderita lembaran-lembaran kertas yang harus dibakar kemudian dihirup asapnya; berkomat-kamit membaca sesuatu yang tidak bisa dipahami; terkadang si tabib dapat menebak dengan benar tentang nama si penderita, tempat asalnya, dan persoalan-persoalan yang akan ia tanyakan kepadanya; menuliskan untuk si penderita huruf-huruf potongan di atas sebuah kertas atau di atas piring dari tembikar putih lalu memerintahkan si penderita untuk melarutkannya dengan air dan meminumnya.
Jika Anda sudah tahu bahwa seseorang itu adalah penyihir (meskipun ia adalah ulama terpandang, punya banyak massa, dan kehidupan sehari-harinya tampak begitu islami), jangan sekali-kali mendatanginya. Apalagi jika ulama tersebut terkenal dapat memerintah jin! Bukankah seseorang yang bisa memerintah jin itu berarti ia adalah pemimpin para jin? Berarti pula ia bagian dari keluarga besar jin yang berwujud manusia? Waspadalah, tidak ada seorang pun yang berhak mengklaim ilmunya setaraf Nabi Sulaiman a.s. atau para nabi lainnya.
Bila Anda tetap berkeras dan tetap mendatangi ulama-ulama semacam ini, Anda akan terkena sabda Rasulullah ﷺ
"Barang siapa mendatangi tukang ramal, atau tukang sihir, atau tukang tenung lalu ia bertanya kepadanya tentang sesuatu kemudian membenarkan apa yang dikatakan olehnya, maka sesungguhnya ia telah kafir terhadap wahyu yang telah diturunkan kepada Nabi Muhammad ﷺ."
(Imam Al-Hafizh Al-Mundziri dalam At-Targhib, IV/53 berkata,"Hadis ini diriwayatkan oleh Al-Bazzar dan Abu Ya'la dengan sanad baik dan mauquf (hanya sampai kepada sahabat saja).
Nasihat bagi para muslim yang melakukan praktik pengobatan alternatif. Hendaknya Anda hanya menggunakan metode yang disyariatkan saja. Hendaknya Anda tidak meluaskan praktiknya ke mana-mana, yang pada akhirnya menjerumuskan Anda dan pasien Anda ke dalam hal-hal yang dilarang. Hal ini jika diumpamakan, seperti penggembala yang menggembala gembalaannya di sekitar tempat yang terlarang sebab dikhawatirkan gembalaannya akan masuk ke tempat tersebut.
Allahua'lam.
{Sebuah penyajian ulang dari tulisan Wahid Abdussalam Bali, seorang ulama Mesir sekaligus dosen fikih perbandingan, dalam bukunya yang berjudul asli Ash-Shârimul Battar fît Tashaddy Lis Saharatil Asyrâr (digubah ke dalam bahasa Indonesia menjadi Tolak Sihir Cara Islam oleh Penerbit Aqwam, Solo, 2008).
The Confession: A Novel Sudoku The Gift The 7th Victim The UnionThe Incredible MachineO Holy Night (CD/DVD)
Minggu, 06 November 2011
Teringat BLACK HOLE di Arafah
SUMBER : REPUBLIKA ONLINE
Oleh Muhammad Subarkah
"Seperti apa rasanya Padang Mahsyar?" Jawabnya, sebelum mati pergilah haji dan berwukuflah di Arafah. Di sini, meski masih di atas tanah, panasnya juga tak ketulungan. Bayangkan saja, kalau jarak bumi ke matahari yang sekitar 149.600.000 kilometer (92,96 juta mil) tiba-tiba dipangkas hingga hanya tinggal sejengkal. Apa jadinya makhluk yang bernama latin Homosapiens ini? Semua jelas akan menjadi sebutir debu atau sekadar zarah (partikel).
"Arafah adalah padang kesadaran," tulis cendikiawan Iran, Ali Syariati, dalam bukunya yang memukau mengenai haji itu. Menurut dia, saat wukuf di Arafah yang dimulai tepat tengah hari tanggal 9 Dzulhijah, di kala matahari bersinar sangat terik, maka carilah kesadaran diri, wawasan, pengetahuan, dan cinta Ilahi. Dia pun menyerukan agar semua orang yang ada di tempat itu keluar dari tendanya: "Hai manusia, keluarlah dari tenda dan terjunlah ke dalam kesadaran manusia. Biarkanlah 'ego' terbakar terik matahari!"
Kesadaran akan Arafah yang identik sebuah dusun percobaan untuk alam Mahsyar pada hari kiamat memang sudah lama dipompakan dalam pelajaran manasik haji. Di tempat itulah dahulu Rasulallah SAW mengucapkan khotbah haji wadanya yang sangat fenomenal. Inti pesannya adalah kesucian dan kehormatan Ilahiah dari setiap anak manusia serta pernyataan konkret bahwa semua manusia sama kecuali amal baiknya.
Tapi, di balik seruan khotbah Amirul Haj di Arafah dan di antara dengung talbiah dan zikir, saat itu juga mendenging 'khotbah-khotbah' ilmiah si jenius masa kini, Stephen Walking Hawking, yang telah memopulerkan teori bahwa dunia ini ujung-ujungnya memang akan berakhir dan tersedot ke dalam sebuah lubang hitam: black hole. Dan, pesan inilah yang kini juga terasa hingga kawasan Arafah. Dunia tetap saja punya umur. Tak ada yang abadi di dunia ini.
Hawking secara jenius mengisahkan bagaimana cara alam ini masuk dalam masa kiamat. Bila saat itu warna matahari sudah berubah merah pertanda siap menjadi bintang mati, daya gravitasinya pun naik berlipat-lipat. Seluruh planet yang semenjak masa Galileo dan Copernicus dipercayai mengitarinya menjadi tersedot ke arahnya. Dan, sedotan ini makin dahsyat ketika matahari benar-benar menjadi bintang mati. Saat itulah sistem tata surya ini masuk ke dalam lorong yang berwarna gelap. Hawking menyebutnya lubang hitam (black hole). Setelah itu terjadilah ledakan sangat besar: big bang!
Pada menjelang fase itulah, di mana ciri-ciri kiamat seperti yang diwartakan Alquran ketika bumi dan matahari berguncang serta langit runtuh atau matahari tinggal sejengkal dari kepala, terasa bersesuaian dengan pikiran ilmiah. Stephen Hawking memang hingga kini masih tetap agnostik dengan mengatakan bahwa Tuhan tidak ikut campur dalam masalah di alam semesta. Namun, dia ternyata yakin bahwa alam semesta ini pun akan berakhir.
Dalam banyak bukunya, Hawking jelas menyebutkan betapa dahsyatnya kiamat ala black hole itu. Menurut dia, pada suatu waktu ketika di angkasa terjadi sebuah pemusatan masa yang cukup besar, saat itu pulalah muncul sebuah gaya gravitasi yang sangat besar. Medan gravitasi ini begitu kuat sehingga kecepatan lepas di dekatnya mendekati kecepatan cahaya. Tak ada sesuatu, termasuk radiasi elektromagnetik sekali pun, dapat lolos dari sedotan gravitasinya. Bahkan, cahaya hanya dapat masuk tetapi tidak dapat keluar atau melewatinya. Bumi masuk ke dalam lubang hitam sebelum meledak bersama planet-planet lainnya.
"Saya ingin tahu bagaimana jalan pikiran Tuhan ketika hendak menciptakan alam semesta," begitu kata Hawking ketika ditanya mendiang Paus Johanes Paulus II mengapa sampai sibuk berpikir mengenai soal perlunya mencari tahu tentang eksistensi Tuhan bagi alam semesta. Paus saat itu tidak berkenan ketika Hawking tetap berkeras menyatakan bahwa agama hanya ekspresi dari budaya manusia.
Menyadari semua itu, sembari berzikir dan melihat langit di atas Arafah, maka terbayanglah segala kedhaifan manusia. Melalui dua lembar kain ihram diajarkan bahwa segala kemegahan dunia tak ada artinya bila kiamat tiba. Bayangkan, Hawking meskipun tak percaya Tuhan itu ada, dia sangat yakin bila hari akhir dunia akan terjadi.
Maka, nikmat Tuhan kamu (Allah SWT) yang manakah yang kamu dustakan? (QS ar-Rahman).
Oleh Muhammad Subarkah
"Seperti apa rasanya Padang Mahsyar?" Jawabnya, sebelum mati pergilah haji dan berwukuflah di Arafah. Di sini, meski masih di atas tanah, panasnya juga tak ketulungan. Bayangkan saja, kalau jarak bumi ke matahari yang sekitar 149.600.000 kilometer (92,96 juta mil) tiba-tiba dipangkas hingga hanya tinggal sejengkal. Apa jadinya makhluk yang bernama latin Homosapiens ini? Semua jelas akan menjadi sebutir debu atau sekadar zarah (partikel).
"Arafah adalah padang kesadaran," tulis cendikiawan Iran, Ali Syariati, dalam bukunya yang memukau mengenai haji itu. Menurut dia, saat wukuf di Arafah yang dimulai tepat tengah hari tanggal 9 Dzulhijah, di kala matahari bersinar sangat terik, maka carilah kesadaran diri, wawasan, pengetahuan, dan cinta Ilahi. Dia pun menyerukan agar semua orang yang ada di tempat itu keluar dari tendanya: "Hai manusia, keluarlah dari tenda dan terjunlah ke dalam kesadaran manusia. Biarkanlah 'ego' terbakar terik matahari!"
Kesadaran akan Arafah yang identik sebuah dusun percobaan untuk alam Mahsyar pada hari kiamat memang sudah lama dipompakan dalam pelajaran manasik haji. Di tempat itulah dahulu Rasulallah SAW mengucapkan khotbah haji wadanya yang sangat fenomenal. Inti pesannya adalah kesucian dan kehormatan Ilahiah dari setiap anak manusia serta pernyataan konkret bahwa semua manusia sama kecuali amal baiknya.
Tapi, di balik seruan khotbah Amirul Haj di Arafah dan di antara dengung talbiah dan zikir, saat itu juga mendenging 'khotbah-khotbah' ilmiah si jenius masa kini, Stephen Walking Hawking, yang telah memopulerkan teori bahwa dunia ini ujung-ujungnya memang akan berakhir dan tersedot ke dalam sebuah lubang hitam: black hole. Dan, pesan inilah yang kini juga terasa hingga kawasan Arafah. Dunia tetap saja punya umur. Tak ada yang abadi di dunia ini.
Hawking secara jenius mengisahkan bagaimana cara alam ini masuk dalam masa kiamat. Bila saat itu warna matahari sudah berubah merah pertanda siap menjadi bintang mati, daya gravitasinya pun naik berlipat-lipat. Seluruh planet yang semenjak masa Galileo dan Copernicus dipercayai mengitarinya menjadi tersedot ke arahnya. Dan, sedotan ini makin dahsyat ketika matahari benar-benar menjadi bintang mati. Saat itulah sistem tata surya ini masuk ke dalam lorong yang berwarna gelap. Hawking menyebutnya lubang hitam (black hole). Setelah itu terjadilah ledakan sangat besar: big bang!
Pada menjelang fase itulah, di mana ciri-ciri kiamat seperti yang diwartakan Alquran ketika bumi dan matahari berguncang serta langit runtuh atau matahari tinggal sejengkal dari kepala, terasa bersesuaian dengan pikiran ilmiah. Stephen Hawking memang hingga kini masih tetap agnostik dengan mengatakan bahwa Tuhan tidak ikut campur dalam masalah di alam semesta. Namun, dia ternyata yakin bahwa alam semesta ini pun akan berakhir.
Dalam banyak bukunya, Hawking jelas menyebutkan betapa dahsyatnya kiamat ala black hole itu. Menurut dia, pada suatu waktu ketika di angkasa terjadi sebuah pemusatan masa yang cukup besar, saat itu pulalah muncul sebuah gaya gravitasi yang sangat besar. Medan gravitasi ini begitu kuat sehingga kecepatan lepas di dekatnya mendekati kecepatan cahaya. Tak ada sesuatu, termasuk radiasi elektromagnetik sekali pun, dapat lolos dari sedotan gravitasinya. Bahkan, cahaya hanya dapat masuk tetapi tidak dapat keluar atau melewatinya. Bumi masuk ke dalam lubang hitam sebelum meledak bersama planet-planet lainnya.
"Saya ingin tahu bagaimana jalan pikiran Tuhan ketika hendak menciptakan alam semesta," begitu kata Hawking ketika ditanya mendiang Paus Johanes Paulus II mengapa sampai sibuk berpikir mengenai soal perlunya mencari tahu tentang eksistensi Tuhan bagi alam semesta. Paus saat itu tidak berkenan ketika Hawking tetap berkeras menyatakan bahwa agama hanya ekspresi dari budaya manusia.
Menyadari semua itu, sembari berzikir dan melihat langit di atas Arafah, maka terbayanglah segala kedhaifan manusia. Melalui dua lembar kain ihram diajarkan bahwa segala kemegahan dunia tak ada artinya bila kiamat tiba. Bayangkan, Hawking meskipun tak percaya Tuhan itu ada, dia sangat yakin bila hari akhir dunia akan terjadi.
Maka, nikmat Tuhan kamu (Allah SWT) yang manakah yang kamu dustakan? (QS ar-Rahman).
Jumat, 04 November 2011
Antara Sunnatullah, Takdir, Syari'ah, Ikhtiar, dan Nasib
Sumber : Spiritual Sinergi Semesta
Sunatullah
Sunnatullah adalah KEHENDAK ALLAH yang berupa Konsep-Ketetapan Ilahi Yang Tak Bisa Diubah . Sunnatullah berlaku kepada siapa pun, dimana pun, dan kapan pun. Sunnatullah ada yang sudah dipahami manusia, tapi BUANYAK yang masih belum atau bahkan tidak akan pernah mampu dipahami oleh manusia. Kalau ada manusia yang memahami SEMUA SUNNATULLAHNYA maka dikhawatirkan manusia itu menjadi sombong dan menganggap diri sebagai Tuhan.
Taqdir
Taqdir adalah KEHENDAK ALLAH yang berupa Kejadian-Kejadian yang berlaku berdasarkan Konsep Ilahi, yakni berdasarkan Sunnatullah. Jika Sunnatullah itu sebuah Ketentuan yang berupa RUMUS, maka TAKDIR itu adalah AKSI dari RUMUS yang berlaku.
Syariah
Syari’ah adalah KEHENDAK ALLAH yang berupa Konsep-Ketetapan Ilahi yang diujikan kepada manusia secara bebas, apakah manusia mau menggunakannya ataukah tidak. MUSLIM artinya BERSERAH kepada ALLAH, yakni menurut-ta'at atas syari'ah yang telah ditetapkan untuknya. Dan sebagai MUKMIN artinya YAKIN bahwa syari'ah dari ALLAH adalah yang terBAIK untuknya.
Ikhtiar
Ikhtiar atau Ikhtiyar (artinya : atas kemauan-kehendak sendiri) dan Istikhoroh (artinya : mencari pilihan) berasal dari kata yang sama yaitu "Khoiron" yang artinya Kebaikan. Jadi secara sederhana IKHTIAR dapat diartikan sebagai USAHA DIRI "YANG PENUH KEMAUAN" untuk MENCARI dan MELAKUKAN PILIHAN TERBAIK.
Jadi, jika SUNNATULLAH, TAKDIR, dan SYARI'AH merupakan KEHENDAK ALLAH maka IKHTIAR adalah KEHENDAK diri. Intinya ALLAH berkehendak agar kita memiliki kehendak. Disinilah "ruang" ikhtiar. Itu sebabnya kelak kita bertanggung jawab atas ikhtiar-ikhtiar kita.
Nasib
Nasib adalah Hasil dari ikhtiar kita atas Syari'ah, Sunnatullah, dan Takdir . Hari ini banyak yang mengkonotasikan Nasib dengan sesuatu yang tidak baik, padahal tidak selalu demikian, bahkan bagi orang-orang yang berTAQWA maka NASIB BAIK akan nyaris selalu menyertainya.
Sunatullah
Sunnatullah adalah KEHENDAK ALLAH yang berupa Konsep-Ketetapan Ilahi Yang Tak Bisa Diubah . Sunnatullah berlaku kepada siapa pun, dimana pun, dan kapan pun. Sunnatullah ada yang sudah dipahami manusia, tapi BUANYAK yang masih belum atau bahkan tidak akan pernah mampu dipahami oleh manusia. Kalau ada manusia yang memahami SEMUA SUNNATULLAHNYA maka dikhawatirkan manusia itu menjadi sombong dan menganggap diri sebagai Tuhan.
Taqdir
Taqdir adalah KEHENDAK ALLAH yang berupa Kejadian-Kejadian yang berlaku berdasarkan Konsep Ilahi, yakni berdasarkan Sunnatullah. Jika Sunnatullah itu sebuah Ketentuan yang berupa RUMUS, maka TAKDIR itu adalah AKSI dari RUMUS yang berlaku.
Syariah
Syari’ah adalah KEHENDAK ALLAH yang berupa Konsep-Ketetapan Ilahi yang diujikan kepada manusia secara bebas, apakah manusia mau menggunakannya ataukah tidak. MUSLIM artinya BERSERAH kepada ALLAH, yakni menurut-ta'at atas syari'ah yang telah ditetapkan untuknya. Dan sebagai MUKMIN artinya YAKIN bahwa syari'ah dari ALLAH adalah yang terBAIK untuknya.
Ikhtiar
Ikhtiar atau Ikhtiyar (artinya : atas kemauan-kehendak sendiri) dan Istikhoroh (artinya : mencari pilihan) berasal dari kata yang sama yaitu "Khoiron" yang artinya Kebaikan. Jadi secara sederhana IKHTIAR dapat diartikan sebagai USAHA DIRI "YANG PENUH KEMAUAN" untuk MENCARI dan MELAKUKAN PILIHAN TERBAIK.
Jadi, jika SUNNATULLAH, TAKDIR, dan SYARI'AH merupakan KEHENDAK ALLAH maka IKHTIAR adalah KEHENDAK diri. Intinya ALLAH berkehendak agar kita memiliki kehendak. Disinilah "ruang" ikhtiar. Itu sebabnya kelak kita bertanggung jawab atas ikhtiar-ikhtiar kita.
Nasib
Nasib adalah Hasil dari ikhtiar kita atas Syari'ah, Sunnatullah, dan Takdir . Hari ini banyak yang mengkonotasikan Nasib dengan sesuatu yang tidak baik, padahal tidak selalu demikian, bahkan bagi orang-orang yang berTAQWA maka NASIB BAIK akan nyaris selalu menyertainya.
Epistemologi Makrifat
Sumber : Republika Online
Prof Dr Nasaruddin Umar
Guru Besar Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah, Wakil Menteri Agama RI
Pengetahuan yang diperoleh melalui olah nalar disebut dengan ilmu ('ilm) dan pengetahuan yang diperoleh melalui olah batin disebut makrifat (ma'rifah). Secara kebahasaan, kata 'ilm berasal dari akar kata alima-ya'lamu, berarti mengetahui. Seakar kata dengan 'alam, berarti tanda, petunjuk, bendera.'Alamah berarti alamat atau suatu tanda yang melalui dirinya dapat diketahui sesuatu yang lain (ma bihi ya'lamu al-syai). Dalam pembahasan terdahulu tentang alam dijelaskan segala sesuatu selain Allah (ma siwa Allah) adalah alam. Alam adalah tanda menunjuk kepada (adanya) Allah SWT. Alam juga sekaligus memberikan kesadaran dan pengetahuan tentang Allah SWT. Dari segi kebahasaan dapat ditangkap makna 'ilm dan 'alam memiliki konotasi fisik dan mekanik (hushuli).
Sedangkan, makrifah berasal dari kata 'arafa-yurif, memiliki berbagai makna yang lahir dari padanya, antara lain, mengetahui dan mengenal lebih dalam (i'rfah), pengakuan dosa (i'tiraf), wukuf di Arafah ('arrafah al-hujjaj), Padang Arafah ('arafat), tempat antara surga dan neraka (a'raf), bersetubuh ('arafah al-ma'ah), saling mengenal satu sama lain (ta'aruf), warisan tradisi lama yang positif ('urf), terkenal, masyhur (ma'ruf), ilmu pengetahuan luas (ma'arif), dan pengetahuan yang mendalam dan komprehensif ('irfan/ma'rifah). Dari segi kebahasaan dapat dipahami makna makrifat memiliki konotasi lebih tinggi dan agung (hudhuri).
Dengan perbedaan tersebut, dengan sendirinya antara ilmu dan makrifat memiliki ontologi, epistemologi, dan aksiologi yang berbeda satu sama lain. Perbedaan ini bisa dipahami melalui perbedaan antara ilmu-ilmu hushuli dan ilmu-ilmu hudhuri (lebih lanjut mengenai hal ini lihat artikel terdahulu: "Antara Ilmu Hudhuri dan Ilmu Hushuli").
Secara ontologi, ilmu ('ilm) masih lebih banyak berkutat pada wilayah logika manusia. Referensi yang digunakan untuk memahami ilmu juga masih bersifat fisik dan visual, meskipun dalam tingkatannya yang lebih tinggi, khususnya dalam level filsafat makna, sudah ada yang mulai bertumpang tindih dengan level awal ontologi makrifat. Ontologi makrifat, sebagaimana arti dasarnya, lebih mengacu pada wilayah-wilayah yang dapat dikatakan asing bagi para ahli ilmu pengetahuan (saintis).
Meskipun demikian, sesungguhnya para saintis tidak bisa serta-merta menafikan keberadaan ontologi keilmuan makrifat karena secara de facto banyak peristiwa yang diungkap oleh pengetahuan makrifat sulit dibantah oleh para saintis. Sebutlah contoh tentang efek keberadaan Tuhan yang dulu dinafikan oleh para saintis positivisme, tetapi di dalam era posmodernisme mulai diberi ruang. Terakhir para saintis dalam era new age tidak bisa menyembunyikan adanya Godspot di dalam diri manusia. Kini para ilmuwan modern, sesekuler apa pun mereka, tidak dapat lagi terus-menerus 'menyerang' kaum agamawan (baca: agnostik) karena mereka sendiri meragukan dirinya sendiri.
Bahkan, di negara-negara maju sekarang sudah mulai demam kajian spiritual. Kabbalah (mistisisme Yahudi) yang dulu diharamkan oleh para Rabbi karena dianggap bid'ah kini laksana cendawan tumbuh di mana-mana. Di New York, tepatnya The Manhattan Center, yang terletak di 155 E/84 St, di jantung Kota New York berdiri tegak Kabbalah Center. Jauh sebelumnya, Karen Berg pernah mendirikan The National Research Institute of Kabbalah di Los Angeles, yang sampai sekarang ramai dikunjungi artis Hollywood dan ilmuwan Yahudi di sana. Di Eropa dan Amerika Latin juga demikian halnya. Lembaga-lembaga meditasi bahkan sudah dibuka di sejumlah universitas terkemuka. Buku-buku new age pernah mendominasi sejumlah toko buku di Amerika dan Eropa. Pusat-pusat sufistik akhir-akhir ini mungkin lebih ramai di Barat daripada di Timur. The Beshara School, sebuah lembaga spiritual yang bertaraf internasional, sudah mulai go public dan merambah hampir di seluruh negara. Begitu pun Ibnu 'Arabi Society, para anggotanya semakin besar, sebagaimana dapat dilihat di webnya. Pengikut Kabbani dan Bawa Muhaiyaddeen di AS juga semakin ramai dikunjungi pengikut. Di antara mereka bukan orang awam, tetapi sangat terdidik dan pejabat.
Meningkatnya gerakan sufisme di berbagai tempat menandakan adanya ketidakpuasan manusia terhadap capaian ilmu pengetahuan selama ini. Paling tidak kehausan intelektualitas manusia ternyata tidak mampu dipuaskan oleh ilmu pengetahuan ('ilm). Manusia menginginkan lebih dari sekadar ilmu yang hanya mampu memberikan kepuasan logika. Kepuasan sejati hanya dapat dirasakan manakala menyentuh aspek hakiki dari manusia yang namanya kepuasan batin. Justru kepuasan batin inilah yang kemudian mendatangkan kesadaran kemanusiaan yang lebih tinggi.
Untuk bisa sampai pada tingkat kepuasan batin ini dibutuhkan pengetahuan tingkat tinggi yang biasa disebut dengan makrifat, yang sesekali disebut irfan atau dalam istilah tasawuf biasa disebut dengan mukasyafah. Mukasyafah berarti penyingkapan tabir-tabir (hijab) yang selama ini menghijab manusia untuk mengakses sebuah dunia yang agung, di mana manusia bisa meraih kepuasan yang luar biasa.
Epistemologi makrifat lebih dari sekadar menempuh epistemologi keilmuan biasa. Persyaratan yang harus ada di dalam menggapai tingkat makrifat Al-Qusyairi ialah penyucian diri dari berbagai dosa dan maksiat, bersih dari urusan dan ketergantungan dunia, terus-menerus bermunajat di hadapan Allah dengan cara sirri, selalu memelihara kelembutan jiwa dan budi pekerti, serta penuh pengendalian dan mawas diri. Bagi orang yang mencapai tingkat mukasyafah (penyingkapan), ia akan berada pada tingkat musyahadah (penyaksian kepada zat Yang Mahamulia). Dalam keadaan seperti ini, manusia bisa memperoleh kepuasan intelektual hakiki yang tak terlukiskan.
Rawaim Ibnu Ahmad pernah menggambarkan orang yang mencapai tingkat makrifat bagaikan seorang menyaksikan cermin. Jika ia melihat cermin itu, akan tampak jelas Tuhannya. Zunnun al-Mishri melukiskan orang-orang yang bergaul dengan penerima makrifah seperti orang-orang yang bergaul dengan Allah SWT. Menurut al-Hallaj, "Jika seorang hamba telah sampai kepada makrifatullah, Allah akan membisikkan kepadanya dengan melalui hatinya dan menjaga hatinya dari kata hati yang tidak benar." Abu Yazid al-Busthami pernah ditanya perihal orang yang mencapai makrifat, ia menjawab, "Orang arif adalah penerbang dan orang zuhud itu pejalan kaki." Selanjutnya, ia menambahkan, "Ketika ia tidur ia tidak melihat selain Allah, ketika ia terjaga ia tidak melihat selain Allah, ia tidak beribadah selain kepada Allah."
Untuk urusan lebih teknik untuk memperoleh makrifat, Ahmad Ibnu Atho' berkomentar: "Makrifat itu memiliki tiga rukun, yaitu takut kepada Allah, malu kepada Allah, dan senang kepada Allah." Jadi, memang tidak gampang mencari dan menemukan makrifat. Hampir seluruh ulama sepakat bahwa cara untuk meraih sukses mencapai makrifat ialah kebersihan batin. Untuk itu, penyucian jiwa (tadzkiyah al-nafs) dan keindahan batin (tanwir al-qulub) serta niat yang tulus merupakan persyaratan mutlak yang harus diwujudkan di dalam diri murid.
Pada dasarnya, manusia itu memiliki kemampuan dan kecerdasan, bahkan makrifat. Hanya, mereka terkontaminasi oleh lingkungan sosial sehingga mereka perlu berzikir (mengingat kembali). Ayat yang sering dilibatkan kelompok ini, antara lain, fas'alu ahl al-dzikr inkuntum la ta'lamun. (Bertanyalah kalian kepada ahli zikir jika kalian tidak tahu); Afala tatadzakkarun (Mengapa kalian tidak mengingat kembali?), dan Aqim al-shala li dzikri (Dirikanlah shalat untuk mengingat Aku). Kelompok ini mengedepankan penyucian diri dalam bentuk tazkirah, tashawwuf, tashwir, dan tazkiah untuk menjernihkan kembali pengetahuan inti yang pernah dibekalinya sejak lahir.
Menuntut ilmu-ilmu makrifat juga diperlukan kesantunan kepada guru (mursyid), sebagaimana dapat dilihat di lembaga-lembaga spiritual, termasuk dalam tradisi pondok pesantren. Ketawadhuan seorang murid dan kesantunan seorang guru atau kiai adalah adanya tradisi keluhuran dalam proses pencarian ilmu pengetahuan. Ini sejalan dengan ayat: "Sebagaimana (Kami telah menyempurnakan nikmat Kami kepadamu) Kami telah mengutus kepadamu Rasul di antara kamu yang membacakan ayat-ayat Kami kepada kamu dan menyucikan kamu dan mengajarkan kepadamu Al-Kitab dan Al-Hikmah (As-Sunah), serta mengajarkan kepada kamu apa yang belum kamu ketahui." (QS al-Baqarah [2]: 151).
Prof Dr Nasaruddin Umar
Guru Besar Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah, Wakil Menteri Agama RI
Pengetahuan yang diperoleh melalui olah nalar disebut dengan ilmu ('ilm) dan pengetahuan yang diperoleh melalui olah batin disebut makrifat (ma'rifah). Secara kebahasaan, kata 'ilm berasal dari akar kata alima-ya'lamu, berarti mengetahui. Seakar kata dengan 'alam, berarti tanda, petunjuk, bendera.'Alamah berarti alamat atau suatu tanda yang melalui dirinya dapat diketahui sesuatu yang lain (ma bihi ya'lamu al-syai). Dalam pembahasan terdahulu tentang alam dijelaskan segala sesuatu selain Allah (ma siwa Allah) adalah alam. Alam adalah tanda menunjuk kepada (adanya) Allah SWT. Alam juga sekaligus memberikan kesadaran dan pengetahuan tentang Allah SWT. Dari segi kebahasaan dapat ditangkap makna 'ilm dan 'alam memiliki konotasi fisik dan mekanik (hushuli).
Sedangkan, makrifah berasal dari kata 'arafa-yurif, memiliki berbagai makna yang lahir dari padanya, antara lain, mengetahui dan mengenal lebih dalam (i'rfah), pengakuan dosa (i'tiraf), wukuf di Arafah ('arrafah al-hujjaj), Padang Arafah ('arafat), tempat antara surga dan neraka (a'raf), bersetubuh ('arafah al-ma'ah), saling mengenal satu sama lain (ta'aruf), warisan tradisi lama yang positif ('urf), terkenal, masyhur (ma'ruf), ilmu pengetahuan luas (ma'arif), dan pengetahuan yang mendalam dan komprehensif ('irfan/ma'rifah). Dari segi kebahasaan dapat dipahami makna makrifat memiliki konotasi lebih tinggi dan agung (hudhuri).
Dengan perbedaan tersebut, dengan sendirinya antara ilmu dan makrifat memiliki ontologi, epistemologi, dan aksiologi yang berbeda satu sama lain. Perbedaan ini bisa dipahami melalui perbedaan antara ilmu-ilmu hushuli dan ilmu-ilmu hudhuri (lebih lanjut mengenai hal ini lihat artikel terdahulu: "Antara Ilmu Hudhuri dan Ilmu Hushuli").
Secara ontologi, ilmu ('ilm) masih lebih banyak berkutat pada wilayah logika manusia. Referensi yang digunakan untuk memahami ilmu juga masih bersifat fisik dan visual, meskipun dalam tingkatannya yang lebih tinggi, khususnya dalam level filsafat makna, sudah ada yang mulai bertumpang tindih dengan level awal ontologi makrifat. Ontologi makrifat, sebagaimana arti dasarnya, lebih mengacu pada wilayah-wilayah yang dapat dikatakan asing bagi para ahli ilmu pengetahuan (saintis).
Meskipun demikian, sesungguhnya para saintis tidak bisa serta-merta menafikan keberadaan ontologi keilmuan makrifat karena secara de facto banyak peristiwa yang diungkap oleh pengetahuan makrifat sulit dibantah oleh para saintis. Sebutlah contoh tentang efek keberadaan Tuhan yang dulu dinafikan oleh para saintis positivisme, tetapi di dalam era posmodernisme mulai diberi ruang. Terakhir para saintis dalam era new age tidak bisa menyembunyikan adanya Godspot di dalam diri manusia. Kini para ilmuwan modern, sesekuler apa pun mereka, tidak dapat lagi terus-menerus 'menyerang' kaum agamawan (baca: agnostik) karena mereka sendiri meragukan dirinya sendiri.
Bahkan, di negara-negara maju sekarang sudah mulai demam kajian spiritual. Kabbalah (mistisisme Yahudi) yang dulu diharamkan oleh para Rabbi karena dianggap bid'ah kini laksana cendawan tumbuh di mana-mana. Di New York, tepatnya The Manhattan Center, yang terletak di 155 E/84 St, di jantung Kota New York berdiri tegak Kabbalah Center. Jauh sebelumnya, Karen Berg pernah mendirikan The National Research Institute of Kabbalah di Los Angeles, yang sampai sekarang ramai dikunjungi artis Hollywood dan ilmuwan Yahudi di sana. Di Eropa dan Amerika Latin juga demikian halnya. Lembaga-lembaga meditasi bahkan sudah dibuka di sejumlah universitas terkemuka. Buku-buku new age pernah mendominasi sejumlah toko buku di Amerika dan Eropa. Pusat-pusat sufistik akhir-akhir ini mungkin lebih ramai di Barat daripada di Timur. The Beshara School, sebuah lembaga spiritual yang bertaraf internasional, sudah mulai go public dan merambah hampir di seluruh negara. Begitu pun Ibnu 'Arabi Society, para anggotanya semakin besar, sebagaimana dapat dilihat di webnya. Pengikut Kabbani dan Bawa Muhaiyaddeen di AS juga semakin ramai dikunjungi pengikut. Di antara mereka bukan orang awam, tetapi sangat terdidik dan pejabat.
Meningkatnya gerakan sufisme di berbagai tempat menandakan adanya ketidakpuasan manusia terhadap capaian ilmu pengetahuan selama ini. Paling tidak kehausan intelektualitas manusia ternyata tidak mampu dipuaskan oleh ilmu pengetahuan ('ilm). Manusia menginginkan lebih dari sekadar ilmu yang hanya mampu memberikan kepuasan logika. Kepuasan sejati hanya dapat dirasakan manakala menyentuh aspek hakiki dari manusia yang namanya kepuasan batin. Justru kepuasan batin inilah yang kemudian mendatangkan kesadaran kemanusiaan yang lebih tinggi.
Untuk bisa sampai pada tingkat kepuasan batin ini dibutuhkan pengetahuan tingkat tinggi yang biasa disebut dengan makrifat, yang sesekali disebut irfan atau dalam istilah tasawuf biasa disebut dengan mukasyafah. Mukasyafah berarti penyingkapan tabir-tabir (hijab) yang selama ini menghijab manusia untuk mengakses sebuah dunia yang agung, di mana manusia bisa meraih kepuasan yang luar biasa.
Epistemologi makrifat lebih dari sekadar menempuh epistemologi keilmuan biasa. Persyaratan yang harus ada di dalam menggapai tingkat makrifat Al-Qusyairi ialah penyucian diri dari berbagai dosa dan maksiat, bersih dari urusan dan ketergantungan dunia, terus-menerus bermunajat di hadapan Allah dengan cara sirri, selalu memelihara kelembutan jiwa dan budi pekerti, serta penuh pengendalian dan mawas diri. Bagi orang yang mencapai tingkat mukasyafah (penyingkapan), ia akan berada pada tingkat musyahadah (penyaksian kepada zat Yang Mahamulia). Dalam keadaan seperti ini, manusia bisa memperoleh kepuasan intelektual hakiki yang tak terlukiskan.
Rawaim Ibnu Ahmad pernah menggambarkan orang yang mencapai tingkat makrifat bagaikan seorang menyaksikan cermin. Jika ia melihat cermin itu, akan tampak jelas Tuhannya. Zunnun al-Mishri melukiskan orang-orang yang bergaul dengan penerima makrifah seperti orang-orang yang bergaul dengan Allah SWT. Menurut al-Hallaj, "Jika seorang hamba telah sampai kepada makrifatullah, Allah akan membisikkan kepadanya dengan melalui hatinya dan menjaga hatinya dari kata hati yang tidak benar." Abu Yazid al-Busthami pernah ditanya perihal orang yang mencapai makrifat, ia menjawab, "Orang arif adalah penerbang dan orang zuhud itu pejalan kaki." Selanjutnya, ia menambahkan, "Ketika ia tidur ia tidak melihat selain Allah, ketika ia terjaga ia tidak melihat selain Allah, ia tidak beribadah selain kepada Allah."
Untuk urusan lebih teknik untuk memperoleh makrifat, Ahmad Ibnu Atho' berkomentar: "Makrifat itu memiliki tiga rukun, yaitu takut kepada Allah, malu kepada Allah, dan senang kepada Allah." Jadi, memang tidak gampang mencari dan menemukan makrifat. Hampir seluruh ulama sepakat bahwa cara untuk meraih sukses mencapai makrifat ialah kebersihan batin. Untuk itu, penyucian jiwa (tadzkiyah al-nafs) dan keindahan batin (tanwir al-qulub) serta niat yang tulus merupakan persyaratan mutlak yang harus diwujudkan di dalam diri murid.
Pada dasarnya, manusia itu memiliki kemampuan dan kecerdasan, bahkan makrifat. Hanya, mereka terkontaminasi oleh lingkungan sosial sehingga mereka perlu berzikir (mengingat kembali). Ayat yang sering dilibatkan kelompok ini, antara lain, fas'alu ahl al-dzikr inkuntum la ta'lamun. (Bertanyalah kalian kepada ahli zikir jika kalian tidak tahu); Afala tatadzakkarun (Mengapa kalian tidak mengingat kembali?), dan Aqim al-shala li dzikri (Dirikanlah shalat untuk mengingat Aku). Kelompok ini mengedepankan penyucian diri dalam bentuk tazkirah, tashawwuf, tashwir, dan tazkiah untuk menjernihkan kembali pengetahuan inti yang pernah dibekalinya sejak lahir.
Menuntut ilmu-ilmu makrifat juga diperlukan kesantunan kepada guru (mursyid), sebagaimana dapat dilihat di lembaga-lembaga spiritual, termasuk dalam tradisi pondok pesantren. Ketawadhuan seorang murid dan kesantunan seorang guru atau kiai adalah adanya tradisi keluhuran dalam proses pencarian ilmu pengetahuan. Ini sejalan dengan ayat: "Sebagaimana (Kami telah menyempurnakan nikmat Kami kepadamu) Kami telah mengutus kepadamu Rasul di antara kamu yang membacakan ayat-ayat Kami kepada kamu dan menyucikan kamu dan mengajarkan kepadamu Al-Kitab dan Al-Hikmah (As-Sunah), serta mengajarkan kepada kamu apa yang belum kamu ketahui." (QS al-Baqarah [2]: 151).
Kamis, 03 November 2011
Bersahabat dengan takdir
>Sumber : Nurrudin Al Indunissy
ღبِسْــــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيღ
Kugoreskan pena ini dengan menyebut Asma Nya,
Kuawali dengan salam dari Syurga Nya; "Assalamualaikum Warohmatullahi Wabarokatuh", semoga Kesejahtraan Shalawat serta Salam senantiasa dicurahkan kepada Rasulullah Sholallahu 'Alaihi wa Salam, para Sahabat, tabiin tabiat dan generasi Ash-Salaf As-Shalih, para Ulama pewaris Nabi hingga kita sebagai Ummatnya di akhir Jaman ini.
Semoga Allah meridhai, menyayangi, mencintai dan Merahmati para pejihad yang meninggikan kalimat tauhid dengan tetasan darahnya digaris depan. Semoga Allah meridhai, menyayangi, mencintai dan merahmati para Ulama pejihad Dakwah yang mewarisi Ilmu Nabi yang dishalawati Allah dan semua mahluk Nya, hingga semut semut disarangnya dan ikan ikan dilautan.
Semoga Allah meridhai, menyayangi, mencintai dan Merahmatimu wahai saudara saudariku yang tengah menyingsingkan lengan bajunya, meneguhkan hati dan berbaur dengan jemaah di taman taman Ilmu di semesta Nya. Semoga Allah menajamkan hatimu dalam menangkap Hikmah Hikmah Nya, memberkati jalananmu sebagai Jihad untuk ikut serta mengikis pemikiran pemikiran batil yang bermula dari kebodohan dan memperturutkan hawa nafsu tanpa Ilmu dan Iman..
Semoga hati kita senantiasa bersih dan terjaga,
Sehingga langkah langkah kita diwarnai keyakinan, terhindar dari kesesatan serta mampu menapaki jalanan yang bercabang cabang ini dengan cahaya al Islam yang lurus. Agar kita tidak tergolong sebagai mahluk mahluk yang hanya bisa membuat kegaduhan di semesta ini. Mari kita bersama sama melangkah, berpegangan tangan saling menguatkan.
Saling menasihati dalam kebaikan, meluruskan ketika salah dan memaafkan ketika khilaf. Agar hati kita terarah dan bersahaja, mampu mengaitkan keseluruhan peristiwa peristiwa yang kita hadapi dengan Allah Aza wa Jalla. Sehingga spectrum Iman dihati kita konstan dan cahayanya membahagiakan seluruh tubuh kita.
Sahabat pena yang diridhai,
Saya sedikit risau menanggapi sebuah pertanyaan classic mengenai takdir;
"Apakah takdir bisa dirubah?"
Subhanallah..
Maha Suci Allah dari segala prasangka buruk hamba hamba Nya.
Bagai mana seorang Manusia bisa bersahabat dengan Takdir-Nya, jika ia tidak berkeinginan untuk mengenalinya sedikit saja?
Insya Allah Catatan berikut,
Berupaya mennggapai pemahaman kepada Taqdir dari sisi yang berbeda dan sesedehana mungkin. Hingga diharapkan semua pertanyaan dan keraguan itu sirna dari hati kita, agar persinggahan kita yang sesaat ini tidak dipenuhi kekhawatiran, keraguan dan kegundahan yang membuat tubuh kita sengsara.
Seperti kita ketahui,
Iman kepada Takdir Allah adalah salah satu dari enam Pilar Pilar Iman,
Rasulullah saw, seperti diriwayatkan Abu Hurairah - dalam Sahih Muslim No. 10 tentang Iman, Islam dan Ihsan - yang kemudian dengan Ijtihad para Ulama ditetapkan sebagai Rukum Islam dan Rukun Iman, mereka meletakan Iman kepada Qadha dan Qadar ini di urutan ke-6 sebagai penyempurna.
Insya Allah,
Dengan menyempurnakan Iman hingga tahapan 6 ini, pohon Iman dihati kita akan menjadi tegap. Jiwa kita kokoh, pribadi kita tangguh dan tidak mudah mengeluh dengan hal hal remeh seperti Dunia ini.
Sebelum menjawab pertanyaan diatas,
Mari kita terlebih dahulu menjenguk hati kita, disana ada suara hati. Ia menyerupai "bisikan" yang terdengar sayup sayup didalam nuansa istana hati kita. Ia menyerupai aktifitas obrolan, sesaat tenang kemudian gaduh. Kadang kadang menenangkan jiwa kadang kadang membuat kita merasa terbakar menahan dua pertentangan yang saling mengalahkan.
Pernahkah bertanya,
Darimana sumber bisikan bisikan itu?.
Hal ini penting untuk diketahui, karena dari hati inilah awal mula aktifitas berfikir manusia diarahkan. Pengaruh dari hati ini mendominasi kinerja fikiran kita, dari otak ini kemudian berbagai komando diperintahkan kepada Indra Indra tubuh yang menghasilkan reaksi reaksi tubuh dalam menyikapi masalah.
Tubuhlah yang kemudian menanggung resikonya,
Indra indra tubuh tidak bisa membantah perintah otak dari otak. Bahkan, tak jarang tubuh itu menjadi sengsara dan kelelahan. Ini karena reaksi reaksi yang dihasilkan itu tidak direstui fitrahnya manusia yang tertanam didalam Hati.
Dalam setiap hati Manusia terdapat dua kekuatan, keberadaannya seperti kontrol konstan yang mempengaruhi keseluruhan aktifitas tubuh Manusia. Biar saya sederhanakan, kedua hal tersebut adalah pengaruh baik dan pengaruh jahat.
Pengaruh baik yang menjadi sumber kebaikan itu, terdiri dari fitrah dan keberadaan Malaikat Malaikat pendamping yang Allah anugerahkan kepada setiap Hamba Nya, Manusia.
Didalam tubuh kita ada malaikat malaikat penjaga,
Al Qur'an menyebutnya Qarin. Qarin ini terdiri dari dua jenis, dari Malaikat penjaga dan Jin. Jenis Jin yang dimaksud adalah Jin Kuffar yang merupakan cucu cucu Iblis Laknatullah, mereka terlahir kedunia bersamaan dengan kelahiran seorang Manusia.
Agar mudah dipahami,
Selanjutnya Iblis diatas saya sebut dengan Qarin Jahat dan Malaikat Penjaga ini sebagai Qarin baik.
Qarin jahat inilah yang harus kita waspadai.
Karena ia mulai hidup sedari manusia itu masih bayi, hingga manusia itu dewasa. Iblis itu tetap hidup ketika Manusia itu meninggal. Bayangkanlah ketika uasia manusia itu mencapai 70 tahun, anak Adam itu meninggal sementara Iblis-nya tetap hidup, bukankah ia berpotensi besar dan berpengalaman untuk menjerumuskan Manusia lain?
Hingga tidak heran jika Iblis memiliki manajemen marketing yang suksesnya luar biasa, dagangannya yang berupa Neraka terjual laris kepada manusia. Bahkan, banyak dari manusia yang membelinya dengan sukarela. Nauzubillah.
Lihat saja sepak terjang musuh manusia terbesar yang sering kita manjakan ini.
Mereka tak segan segan menggiring satu Kampung kepada kemuyrikan sekaligus, termasuk Kyainya sekalipun. Contoh keci saja, dalam peristiwa "tahlilan" kadang si Iblis ini juga membuat onar. Ia merasuk ke dalam jiwa salah satu Manusia yang imannya paling lemah dan mengendalikannya, lalu orang menyebutnya kesurupan roh yang meninggal.
Ketika Manusia menaruh perhatian, Iblis semakin semangat. Ia lalu berpura pura bertingkah laku persis seperti prilaku orang yang telah meninggal. Manusia yang kesurupan itu meminta Coffe Hitam kesukaan manusia yang telah meninggal itu, atau berwasiat dusta kepada yang ditinggalnya. Si Iblis cerdik ini telah menghafal dengan baik suara, cara bicara, bahasa dan mengetahui dengan baik nama nama orang disekitarnya. Karena dia telah hidup bersamaan dengan orang yang telah meninggal tadi.
Lalu masyarakat tersebut percaya, bahwa roh si A masuk dan mebuat cucunya bernama si B sakit. Lalu fitnah teresebar, dan masyarakat awam Percaya bahwa roh yang mati bisa mengendalikan yang hidup. Ujung ujungnya mereka ramai ramai meminta do'a ke kuburan. Naudzubillah.
Inilah, salah satu kesuksesan marketing Iblis.
Nah, selama manusia itu hidup si Iblis ditugasi oleh kakek moyang Iblis untuk menjerat Manusia dengan berbagai cara. Allah telah memberi tangguh usia kepada Jin jenis Iblis ini, Allah ta'la juga memberi mereka kewenangan untuk masuk kedalam aliran darah Manusia dan berdiam dihati Manusia.
Dari hati inilah Iblis membisikan kejahatan.
Bagi orang yang beriman, pengetahuan sederhana ini bisa menambah keimanan dan memberinya kesimpulan besar. Diantaranya menjawab pertanyaan batil yang memfitnah ke Maha Suci-an Allah aza wajalla, pemikiran batil tersebut adalah berupa pertanyaan; "Apakah Allah juga menciptakan kejahatan?"
Seorang scientist Atheis, mengatakan bahwa Kejahatan itu seperti Kegelapan.
Kegelapan itu muncul karena ketiadaan "Cahaya". Dengan demikian, Tuhan tidak menciptakan Kejahatan, namun ketiadaan cahaya Tuhan dihati Manusia menyebabkan kegelapan/kejahatan itu muncul.
Subhanallah!
Bukankah Al Qur'an dalam surah Azzukruf ayat 36 telah menginformasikan hal ini jauh jauh agar Musimin Muslimah berhati hati dengan Iblis yang menyertai Manusia dan mebisikan kegelapan dihatinya?
Allah Subhana Huwwa Ta'ala berfirman:
“Barangsiapa yang berpaling dari pengajaran Tuhan Yang Maha Pemurah (Al-Quran), kami adakan baginya syaitan (yang menyesatkan) maka syaitan itulah yang menjadi teman yang selalu menyertainya". (Az Zukhruf 43:36)
Ayat ini telah dibaca oleh Milyaran Ummat Islam dari masa kemasa.
Syaitan yang dimaksud dalam ayat tersebut adalah Iblis pendamping. Dalam bahasa Arab kata قَرِينٌ (baca=Qarin) adalah pendamping/teman. Inilah dalil yang menjadi fakta tidak terbantahkan mengenai keberadaan si Jahat ini.
Keberadaan si Qarin ini dikuatkan juga oleh sebuah Hadts,
Dari Abdullah bin Mas’ud r.a, beliau meriwayatkan dahwa Rasulullah saw bersadba: ”Tidak seorangpun di antara kamu melainkan telah ada jin yang ditugaskan pemimpinnya untuk selalu menggodanya". Para sahabat bertanya: ”Anda juga ya Rasulullah?” Jawab baginda: ”Ya. Aku juga. Tetapi Allah selalu melindungiku dari godaan mereka sehingga mereka yang menggodaku akhirnya Islam (menyerah). Karena itu mereka tidak berani menyuruhku melainkan untuk kebaikan.” (HR Muslim)
Qarin jahat itu ikut mengalir dalam darah Manusia bersama Syahwat dan Nafsu. Ia juga ikut mempengaruhi bahkan sering mendominasi bisikan di hati Manusia, berupaya mengalahkan bisikan Qarin baik dari malaikat malaikat penjaga manusia dan Fitrah manusia itu sendiri.
Terjawablah lagi satu pertanyaan berikutnya.
HATI YANG 'GUNDAH'
Bukankah sesekali atau sering hati kita "gundah?"
Misalnya ketika dihati kita seperti ada suara, menyerupai adu argumentasi yang gaduh antara memaafkan dan tidak memaafkan atau ketika ada bisikan kedengkian, iri, sombong, ingin riya dan segala penyakit lainnya dihati yang kemudian diucapkan bibir atau tertahan dihati.
Ketika bibir kita menahannya, hati kita sesak dan suara berisik memenuhi istana hati kita seakan berkata "tak usah memaafkan, ia menghianatimu" bisikan lainnya berkata "maafkanlah itu baik bagimu, itu saudaramu"..
Inilah yang saya maksud aktifitas bisikan yang diakibatkan Qarin jahat dan Qarin baik, keduanya berperang saling mengalahkan. Keduanya bisikan itu tidak terlepas dari aktifitas Qarin ini. Seorang yang sering mengikuti bisikan Qarin jahat, hidupnya tidak tenang dan jiwanya sengsara karena ia melawan fitrahnya sendiri sebagai manusia.
Pertanyaan lain kemudian muncul, apa itu Fitrah Manusia?
Mari sejenak luangkan waktu untuk memahami kata "Fitrah" ini, agar presepsi kita sama dan melahirkan pemahaman bersama.
FITRAH MANUSIA,
Sering kita mendengarnya, namun benarkah kita telah memahaminya?
Fitrah merupakan ketetapan Allah yang tertanam dihati manusia sejak awal penciptaannya, ia merupakan kecendrungan alami yang keberadaannya mutlak tidak bisa diubah dihapus atau di modifikasi. Keberadaannya menyerupai sebuah kontrol lembut yang mengendalikan berbagai warna perasaan manusia, ia adalah sumber utama yang mempengaruhi dorongan untuk berfikir dan bertindak agar ummat manusia ini lestari dari masa kemasa.
Allah Subhana Huwwa ta'ala berfirman:
"Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Allah); (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui", (Qs Ar Rum 30)
Taqiyuddin an-Nabhani,
Dalam tulisannya yang berjudul "Hakikat Berfikir" menyebutkan fitrah itu dengan kata naluri. Beliau mendefinisikan fitrah sebagai daya kehidupan yang mendasar yang merupakan bagian integral dari hakikat manusia yang tidak mungkin diubah (dimodifikasi), dihapus, dan dibendung.
Beliau mengklasifikasikan Fitrah/Naluri/Gharâ’iz/Natural Tendency yang ada dalam hati manusia itu terdiri dari tiga jenis saja, yaitu: (1) Naluri Mempertahankan diri (gharîzah al-baqâ’), (2) Naluri Melestarikan Jenis (gharîzah an-nau‘) dan (3) Naluri Beragama (gharîzah at-tadayyun) atau pensakralan (at-taqdis).
Dari fitrah fitrah itu kemudian muncul berbagai penampakan (penjelmaan). Seperti cinta, benci, sedih, senang menolong, senang ibadah, iri, dll. Banyak dari kita yang memahami Cinta itu fitrah, padahal ia adalah penjelmaan dari Naluri manusia untuk melestarikan jenis sehingga Allah menanamkan rasa Cinta dan kasih sayang antara Manusia.
Yang harus kita perhatikan disini adalah fitrah Beragama, atau bahasa sederhananya fitrah manusia yang tunduk dan patuh dan ingin beribadah kepada Rabbnya, sehingga mendorong manusia untuk zuhud kepada dunia dan mempersiapkan kerinduannya kepada Akhirat.
Itulah salah satu fitrah baik Manusia yang menjadi manifestasi yang tidak bisa diubah oleh apapun, namun keberadaan fitrah ini kemudian dipengaruhi Akal, Nafsu dan Syahwat yang juga ditanamkan Allah ta'ala sebagai penjelmaan Fitrah tersebut.
Beda halnya dengan malaikat,
Allah hanya menganugerahkan kepada mereka kemampuan untuk menjalankan tugasnya dan beribadah saja. Tanpa dibekali Akal dan Nafsu, sehingga jelaslah bahwa Manusia yang tetap taat dan patuh kepada Allah setelah mampu menahan nafsunya maka ia lebih mulia dari Malaikat. Sehingga Allah ta'ala memerintahkan Para Malaikat dan Jin bersujud kepada Adam As ketika manusia pertama ini diciptakan di Syurga.
Sehingga jleaslah..
Alasan kenapa bidadari Syurga cemburu kepada Wanita Shalihah...
Sehingga jelaslah..
Bahwa Manusia yang telah dibekali akal dan kemampuan bicara, lalu durhaka dan membantah kepada perintah perintah Rabbnya adalah lebih hina dari binatang. Bahkan binatang lebih mulia, karena ia yang hanya dibekali nafsu itu hidup dan berkembang biak memberi kemanfaatan untuk Manusia.
Sahabat pena nai yang diridhai.
Seorang yang membiasakan diri mengikuti fitrahnya hati dan bisikan dari Qarin baik, jiwanya insya Allah akan tenang, hatinya tetap kaya meski tekanan dimana mana. Wajahnya teduh dan meneduhkan, senyumnya menyenangkan dan tutur katanya lembut. Pribadinya bijak dan menginginkan kebaikan bagi saudaranya.
Nah bagaimanakah agar Qarin baik ini mendominasi dan Cahaya-Nya yang berbentuk fitrah itu menyinari hati dan menyilaukan si Iblis Iblis jelek itu?
THE DZIKR PERSONALITY
Jawabannya begitu sederhana.
Pribadi tangguh yang insya Allah terhindari dari bisikan jahat dihati itu terlahir dari Pribadi Dzikrullah..
The Dzikr Personality atau Pribadi Dzikir tidak harus dicerminkan oleh panjangnya tasbih yang selalu membelit diantara jarinya, atau ikat kepala dan sorbannya. Tidak juga mereka yang selama hidupnya diam digua atau di masjid masjid dan melantunkan dzikr. Menjiharkan dzikir tentu lebih baik, dimana bibir dan hati ikut beribadah.
Namun, sebagai manusia yang tidak lepas dari kewajiban berusaha. Dzikir bisa dilakukan dimana saja dan kapan saja. Bahkan dalam aktifitas Hati, disana dzikir menjadi amaliyah hati yang murni dan terbebas dari riya.
Dzikrullah adalah mengingat Allah dengan MemujiNya, MentauhidkanNya, MenyucikanNya dan MengagungkanNya. Ini bisa dilakukan juga dengan memperhatikan atau diam mentafaquri hamparan Ayat Ayat Nya yang bertebaran di alam ini, atau merenungi semesta Nya yang senantiasa Ramai bertasbih MemujiNya. Ditengah tengah aktifitas kita, ruh kita bisa bergabung dengan semesta dan berdzikir.
Ketika hati kita terbiasa dengan Dzikir.
Kita akan mampu dengan mudah mengaitkan seluruh peristiwa yang menemui dan menghentak bathin kita dengan Allah aza wajalla yang telah mengirimkan pesan Rahmat Nya melewati mediasi Alam semesta ini.
Subhanallah..
Wajah tenang itulah cerminan dari pribadi Dzikr.
Wajah menjadi tenang karena hatinya tenang. Kebahagiaan seperti apalagikah yang engkau cari selain ketenangan jiwa?
Hati yang tenang itu muncul karena berkurangnya insensitas Qarin jahat. Sehingga Qarin baik dapat dengan leluasa membisikan kebaikan dan disambut dengan manusia yang berada dalam Fitrahnya. Fitrah itu kemudian mendominasi suasana hati dan aktifitas berfikirnya. Dengan demikian, perasaan "gundah" yang banyak menginspirasi seniman jadi jadian itu, tentu hiang jika "kegaduhan" itu sirna dari hatinya.
Karena kegaduhan itu terjadi dari adu argumentasi Qarin baik dan Qarin Jahat.
THE MIRACLE OF DZIKR
Inilah salah satu rahasia mengagumkan dari Dzikrullah.
Lantunan suara dzikir didalam hati adalah satu satunya cara untuk mengusir Qarin jahat dari istana hati kita, sehingga Cahaya-Nya yang berbentuk fitrah itu kembali muncul. Dengan demikian spectrum iman disana konstan dan menerangi kegelapan hati.
Hidup ini pilihan saudaraku,
Silahkan engkau memilih untuk bahagia atau sengsara.
Kebahagiaan sesaat atau kebahagiaan abadi.
Tentu kita berharap kebahagiaan di dunia yang sesaat dan juga kebahagiaan yang berkekalan disana, bukan menukar kebahagiaan sesaat dengan kesengsaraan abadi.
Jika kita ingin memilih bahagia,
Maka peliharalah hati kita, jaga ia dari pengaruh yang mengotorinya.
Sering memohon kepada Nya, minimal dengna mengingat Nya.
Karena si Qarin ini memang ada dalam diri kita, Jin berjenis Iblis ini mendiami tubuh seluruh umat Manusia dibumi, termasuk juga para Nabi Allah.
Aisyah radiyallahu anha,
Meriwayatkan Hadits tentang dirinya,
Suatu malam Rasulullah saw keluar dari rumahnya.
Aisyah berkata; “Maka akupun menjadi cemburu kepada beliau sekiranya beliau mendatangi istri yang lain. Kemudian Rasulullah saw kembali lagi dan melihat apa yang terjadi pada diriku.
”Apakah engkau sedang cemburu?” tanya beliau.
”Apakah orang semacam aku ini tidak layak cemburu terhadap orang seperti engkau ?” Jawab Aisyah ra.
“Rupanya syetan telah datang kepadamu”, sabda beliau
”Apakah ada syetan besertaku?’ tanya Aisyah ra
Rasulullah bersabda; “Tak seorangpun melainkan bersamanya ada syetan”
”Besertamu pula?” tanya Aisyah.
“Ya, hanya saja Allah menolongku untuk mengalahkannya sehingga aku selamat”, jawab Rasulullah saw. (Hadits ini ditakrij Muslim dan Nasa’i)
Alhamdulillahirabbil'alamiin..
Mari kita langsung kebahasan pokok, untuk memperkokoh kembali Pilar Iman kita yang ke 6 yaitu Iman kepada Takdir Allah dengan bekal bahasan konfrehensif diatas.
BERSAHABAT DENGAN TAKDIR-NYA
Banyak manusia beriman yang ragu tentang kekuatan taqdir ini.
Bagaimana mau bersahabat dengan Takdir-Nya jika kita tidak mengenalinya?
Keraguan tentang Takdir ini tak lain karena lemahnya pengetahuan atau sedikitnya perbendaharaan Ilmu difikiran kita, sehingga logika akal itu bekerja sendiri mengikuti nafsu duniawiyah saja. Sehingga kemampuan mata hati untuk melihat hikmah hikmah Nya yang bertebaran disemesta ini melemah. Lemahnya ilmu itu melemahkan Iman yang telah bersemayam.
Alasan lain keraguan terhadap takdir adalah bentuk nyata kesuksesan usaha Iblis yang intensif untuk menyesatkan manusia. Keraguan terhadap takdir, dan pertanyaan pertanyaan yang mengikutinya adalah cerminan lemahnya keimanan dan pengetahuan kita tentang Nya.
Untuk apa bibir berkata cinta jika tak ada kepercayaan?
Subhanallah.
Jika kita beriman, bukankah harus mengimani keseluruhannya?
Apakah mungkin meminum segelas air yang setengahnya air putih dan setengahnya lagi bensin? Tentu setetes bensin saja yang kita letakan didalam satu gelas air akan mengubah rasa air putih yang nikmat itu.
Begitulah, Iman.
Iman kepada Takdir Allah itu adalah 1dari 6 Pilar Iman yang harus tegap dalam hati kita. Jika tidak, maka jiwa akan lemah dan keropos. Tidak bahagia.
Telah menjadi pengetahuan umum, bahwasannya Taqdir manusia telah ditetapkan sebelum manusia diciptakan. Ada juga Hadits Hadits yang diriwayatkan bahwa Taqdir manusia ditetapkan ketika manusia ditiupkan Ruh kedaam janin di rahim ibu.
Tidak ada pertentangan tentang hal ini, yang ada hanya kesalahan manusia dalam menyikapinya. Sehingga ada manusia yang berkata dengan gegabah: "Bukankah takdir telah ditentukan, lalu untuk apa bersusah payah mengubahnya?"
Subhanallah..
Mahasuci Allah dari prasangka hamba hamba Nya yang hina.
Bukankah Usaha itu telah diperintahkan Allah ta'ala dan RasullNya?
Tidakkah terfikirkan, jika Allah ta'ala mampu menciptakan semesta yang menakjubkan ini, bukankah mudah saja bagi-Nya untuk mengubah takdirmu?
Berusaha dan Berdo'a lah.
Karena keputusan itu berada di Allah ta'ala.
JAWABANNYA ADALAH DOA
Rasulullah saw bersabda:
"Tidak ada gunanya waspada menghadapi Takdir, namun do'a bermanfaat menghadapi takdir, sebelum dan sesudah ia turun. Dan sesungguhnya setelah musibah itu ditakdirkan turun (dari Langit). Maka ia segera disambut oleh Do'a (dari bumi) lalu keduanya bertarung sampai Hari Kiamat". (HR Hakim, Imam Ahmad, Bazaar dan Ath Thabrani)
Ibnu Al Qayyim Azzawjiah menjelaskan:"Jika prisai do'amu lebih kuat dari musibah, ia akan menolaknya. Tetapi jika musibah lebih kuat dari prisai Do'a mu maka ia akan menimpamu. Namun sedikitnya tetap akan mengurangi effect-nya. Adapun jika prisai doamu seimbang dengan kekuatan Musibah. Maka keduanya akan bertarung".
Maka berusahalah, tunjukan kualitas usahamu dan berdo'alah.
Jika takdirmu tetap buruk, sesungguhnya bukan takdir itu yang buruk tapi pemahamanmu yang harus diperbaiki. Tentu semua yang terjadi adalah yang terbaik dari Nya untukmu, untukku dan untuk kita semua.
Sering kita memaknai musibah musibah dan kegagalan itu sebagai kesialan. Benarkah demikian? Mungkinkah Allah yang Maha Pengasih dan Penyayang menginginkan keburukan bagimu?
Mungkinkah seorang kekasih membuatmu kecewa?
Ya, mungkin saja jika kamu membuatnya cemburu.
Apakah kamu kecewa saat dia terbakar api cemburu?
Tidak, Kekasih apakah namnya jika ia tidak cemburu?
Besarnya gejolak api cemburu dihatinya adalah cerminan betapa besar rasa kasih sayangnya kepada kita.
Benar,
Dan Allahlah yang paling besar Kasih Sayang Nya, karena Dia Maha Pengasih dan Maha Penyayang.
KETAHUILAH BAHWA RABB-MU PUN CEMBURU
Dari Abu Hurairah r.a. dari Nabi s.a.w., sabdanya: "Sesungguhnya Allah Ta'ala itu cemburu dan kecemburuan Allah Ta'ala itu ialah apabila seorang manusia mendatangi -mengerjakan- apa-apa yang diharamkan oleh Allah atasnya." (Muttafaq 'alaih, Riyadhussalihin V/Muraqabah)
Aisyah radiyallahu anha meriwayatkan Sabda Rasulullah saw:
"...Hai umat Muhammad, tidak seorang pun lebih cemburu daripada Allah, bila hambanya, lelaki maupun perempuan, berbuat zina. Hai umat Muhammad, demi Allah, seandainya kalian tahu apa yang kuketahui, tentu kalian banyak menangis dan sedikit tertawa. Ingatlah! Bukankah aku telah menyampaikan. (Kutifan Shahih Muslim, Bab Gerhana Hadits No. 1499)
Bukankah Allah ta'ala Cemburu kepadamu saat kamu berbuat keharaman?
Bukankah Allah ta'la beda dengan Mahluk Nya?
Iya, tentu saja Sangat beda dan Dialah yang Maha Sempurna dan Maha Segala Galanya. Kecemburuan itu tidak begitu saja berubah menjadi Murka, sungguh Rahmat Nya yang memenuhi semesta ini telah menerjemahkan murka itu kedalam bentuk Kasih Sayang-Nya yang lain.
BENCANA...
Musibah Musibah yang menimpa kita adalah bentuk Kasih Sayang Nya, sebuah sentuhan lembut bagi manusia yang mampu melihat Hikmah Hikmah dibalik semua peristiwa dan pandai mengaitkannya untuk Memuji Rabb Nya.
Sa'ad bin Abi Waqqash berkata,
"Aku bertanya kepada Rasulullah Saw, Ya Rasulullah, siapakah orang yang paling berat ujian dan cobaannya?" Rasulullah saw menjawab: "Para nabi kemudian yang meniru (menyerupai) mereka dan yang meniru (menyerupai) mereka. Seseorang diuji menurut kadar agamanya. Kalau agamnya tipis (lemah) dia diuji sesuai dengan itu (ringan) dan bila imannya kokoh dia diuji sesuai itu (keras). Seorang diuji terus-menerus sehingga dia berjalan di muka bumi bersih dari dosa-dosa". (HR. Bukhari)
SUBHANALAH..
Mungkin hal buruk yang menimpamu itu adalah cicilan..
Agar adzab kita tidak begitu berat di akhirat Nya. Bukankah Api di dunia ini hanya 1 percikan dari 70 kali panasnya Neraka?
Bukankah Azab neraka yang paling ringan itu -- seperti Hadis riwayat Nukman bin Basyir ra, Muslim No.313 -- Bahwa "Ahli neraka yang paling ringan siksanya pada hari kiamat, adalah seseorang yang pada lekukan telapak kakinya diberi dua bara yang menyebabkan otaknya mendidih". ?
Sungguh Musibah demi Musibah itu adalah peringan Azab Nya yang berat, sehingga mereka yang beriman seharusnya tetap bersyukur dengan keringanan tersebut. Mengarahkan sekuat tenaga hati, fikiran dan bibir kita untuk beristighfar dan Memuji Nya.
Begitulah sahabat pena yang diridhai,
Afwan Jazilan Bahasannya melebar, ini semua adalah usaha kecil saja untuk ikut serta dalam memerangi pemikiran pemikiran Batil. Semoga Hidayah Allah senantiasa bersama kita dan semua Umat Muslimin Muslimat yang mengharap ampunan dan keridhaan Nya.
"Agar semesta Raya Ramai Bertasbih Memuji Nya"
^_^
Salam Bahagia dan Salam santunku,
Al Faqir Ilallah
Nuruddin Al Indunissy
RIYADH 2011
ღبِسْــــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيღ
Kugoreskan pena ini dengan menyebut Asma Nya,
Kuawali dengan salam dari Syurga Nya; "Assalamualaikum Warohmatullahi Wabarokatuh", semoga Kesejahtraan Shalawat serta Salam senantiasa dicurahkan kepada Rasulullah Sholallahu 'Alaihi wa Salam, para Sahabat, tabiin tabiat dan generasi Ash-Salaf As-Shalih, para Ulama pewaris Nabi hingga kita sebagai Ummatnya di akhir Jaman ini.
Semoga Allah meridhai, menyayangi, mencintai dan Merahmati para pejihad yang meninggikan kalimat tauhid dengan tetasan darahnya digaris depan. Semoga Allah meridhai, menyayangi, mencintai dan merahmati para Ulama pejihad Dakwah yang mewarisi Ilmu Nabi yang dishalawati Allah dan semua mahluk Nya, hingga semut semut disarangnya dan ikan ikan dilautan.
Semoga Allah meridhai, menyayangi, mencintai dan Merahmatimu wahai saudara saudariku yang tengah menyingsingkan lengan bajunya, meneguhkan hati dan berbaur dengan jemaah di taman taman Ilmu di semesta Nya. Semoga Allah menajamkan hatimu dalam menangkap Hikmah Hikmah Nya, memberkati jalananmu sebagai Jihad untuk ikut serta mengikis pemikiran pemikiran batil yang bermula dari kebodohan dan memperturutkan hawa nafsu tanpa Ilmu dan Iman..
Semoga hati kita senantiasa bersih dan terjaga,
Sehingga langkah langkah kita diwarnai keyakinan, terhindar dari kesesatan serta mampu menapaki jalanan yang bercabang cabang ini dengan cahaya al Islam yang lurus. Agar kita tidak tergolong sebagai mahluk mahluk yang hanya bisa membuat kegaduhan di semesta ini. Mari kita bersama sama melangkah, berpegangan tangan saling menguatkan.
Saling menasihati dalam kebaikan, meluruskan ketika salah dan memaafkan ketika khilaf. Agar hati kita terarah dan bersahaja, mampu mengaitkan keseluruhan peristiwa peristiwa yang kita hadapi dengan Allah Aza wa Jalla. Sehingga spectrum Iman dihati kita konstan dan cahayanya membahagiakan seluruh tubuh kita.
Sahabat pena yang diridhai,
Saya sedikit risau menanggapi sebuah pertanyaan classic mengenai takdir;
"Apakah takdir bisa dirubah?"
Subhanallah..
Maha Suci Allah dari segala prasangka buruk hamba hamba Nya.
Bagai mana seorang Manusia bisa bersahabat dengan Takdir-Nya, jika ia tidak berkeinginan untuk mengenalinya sedikit saja?
Insya Allah Catatan berikut,
Berupaya mennggapai pemahaman kepada Taqdir dari sisi yang berbeda dan sesedehana mungkin. Hingga diharapkan semua pertanyaan dan keraguan itu sirna dari hati kita, agar persinggahan kita yang sesaat ini tidak dipenuhi kekhawatiran, keraguan dan kegundahan yang membuat tubuh kita sengsara.
Seperti kita ketahui,
Iman kepada Takdir Allah adalah salah satu dari enam Pilar Pilar Iman,
Rasulullah saw, seperti diriwayatkan Abu Hurairah - dalam Sahih Muslim No. 10 tentang Iman, Islam dan Ihsan - yang kemudian dengan Ijtihad para Ulama ditetapkan sebagai Rukum Islam dan Rukun Iman, mereka meletakan Iman kepada Qadha dan Qadar ini di urutan ke-6 sebagai penyempurna.
Insya Allah,
Dengan menyempurnakan Iman hingga tahapan 6 ini, pohon Iman dihati kita akan menjadi tegap. Jiwa kita kokoh, pribadi kita tangguh dan tidak mudah mengeluh dengan hal hal remeh seperti Dunia ini.
Sebelum menjawab pertanyaan diatas,
Mari kita terlebih dahulu menjenguk hati kita, disana ada suara hati. Ia menyerupai "bisikan" yang terdengar sayup sayup didalam nuansa istana hati kita. Ia menyerupai aktifitas obrolan, sesaat tenang kemudian gaduh. Kadang kadang menenangkan jiwa kadang kadang membuat kita merasa terbakar menahan dua pertentangan yang saling mengalahkan.
Pernahkah bertanya,
Darimana sumber bisikan bisikan itu?.
Hal ini penting untuk diketahui, karena dari hati inilah awal mula aktifitas berfikir manusia diarahkan. Pengaruh dari hati ini mendominasi kinerja fikiran kita, dari otak ini kemudian berbagai komando diperintahkan kepada Indra Indra tubuh yang menghasilkan reaksi reaksi tubuh dalam menyikapi masalah.
Tubuhlah yang kemudian menanggung resikonya,
Indra indra tubuh tidak bisa membantah perintah otak dari otak. Bahkan, tak jarang tubuh itu menjadi sengsara dan kelelahan. Ini karena reaksi reaksi yang dihasilkan itu tidak direstui fitrahnya manusia yang tertanam didalam Hati.
Dalam setiap hati Manusia terdapat dua kekuatan, keberadaannya seperti kontrol konstan yang mempengaruhi keseluruhan aktifitas tubuh Manusia. Biar saya sederhanakan, kedua hal tersebut adalah pengaruh baik dan pengaruh jahat.
Pengaruh baik yang menjadi sumber kebaikan itu, terdiri dari fitrah dan keberadaan Malaikat Malaikat pendamping yang Allah anugerahkan kepada setiap Hamba Nya, Manusia.
Didalam tubuh kita ada malaikat malaikat penjaga,
Al Qur'an menyebutnya Qarin. Qarin ini terdiri dari dua jenis, dari Malaikat penjaga dan Jin. Jenis Jin yang dimaksud adalah Jin Kuffar yang merupakan cucu cucu Iblis Laknatullah, mereka terlahir kedunia bersamaan dengan kelahiran seorang Manusia.
Agar mudah dipahami,
Selanjutnya Iblis diatas saya sebut dengan Qarin Jahat dan Malaikat Penjaga ini sebagai Qarin baik.
Qarin jahat inilah yang harus kita waspadai.
Karena ia mulai hidup sedari manusia itu masih bayi, hingga manusia itu dewasa. Iblis itu tetap hidup ketika Manusia itu meninggal. Bayangkanlah ketika uasia manusia itu mencapai 70 tahun, anak Adam itu meninggal sementara Iblis-nya tetap hidup, bukankah ia berpotensi besar dan berpengalaman untuk menjerumuskan Manusia lain?
Hingga tidak heran jika Iblis memiliki manajemen marketing yang suksesnya luar biasa, dagangannya yang berupa Neraka terjual laris kepada manusia. Bahkan, banyak dari manusia yang membelinya dengan sukarela. Nauzubillah.
Lihat saja sepak terjang musuh manusia terbesar yang sering kita manjakan ini.
Mereka tak segan segan menggiring satu Kampung kepada kemuyrikan sekaligus, termasuk Kyainya sekalipun. Contoh keci saja, dalam peristiwa "tahlilan" kadang si Iblis ini juga membuat onar. Ia merasuk ke dalam jiwa salah satu Manusia yang imannya paling lemah dan mengendalikannya, lalu orang menyebutnya kesurupan roh yang meninggal.
Ketika Manusia menaruh perhatian, Iblis semakin semangat. Ia lalu berpura pura bertingkah laku persis seperti prilaku orang yang telah meninggal. Manusia yang kesurupan itu meminta Coffe Hitam kesukaan manusia yang telah meninggal itu, atau berwasiat dusta kepada yang ditinggalnya. Si Iblis cerdik ini telah menghafal dengan baik suara, cara bicara, bahasa dan mengetahui dengan baik nama nama orang disekitarnya. Karena dia telah hidup bersamaan dengan orang yang telah meninggal tadi.
Lalu masyarakat tersebut percaya, bahwa roh si A masuk dan mebuat cucunya bernama si B sakit. Lalu fitnah teresebar, dan masyarakat awam Percaya bahwa roh yang mati bisa mengendalikan yang hidup. Ujung ujungnya mereka ramai ramai meminta do'a ke kuburan. Naudzubillah.
Inilah, salah satu kesuksesan marketing Iblis.
Nah, selama manusia itu hidup si Iblis ditugasi oleh kakek moyang Iblis untuk menjerat Manusia dengan berbagai cara. Allah telah memberi tangguh usia kepada Jin jenis Iblis ini, Allah ta'la juga memberi mereka kewenangan untuk masuk kedalam aliran darah Manusia dan berdiam dihati Manusia.
Dari hati inilah Iblis membisikan kejahatan.
Bagi orang yang beriman, pengetahuan sederhana ini bisa menambah keimanan dan memberinya kesimpulan besar. Diantaranya menjawab pertanyaan batil yang memfitnah ke Maha Suci-an Allah aza wajalla, pemikiran batil tersebut adalah berupa pertanyaan; "Apakah Allah juga menciptakan kejahatan?"
Seorang scientist Atheis, mengatakan bahwa Kejahatan itu seperti Kegelapan.
Kegelapan itu muncul karena ketiadaan "Cahaya". Dengan demikian, Tuhan tidak menciptakan Kejahatan, namun ketiadaan cahaya Tuhan dihati Manusia menyebabkan kegelapan/kejahatan itu muncul.
Subhanallah!
Bukankah Al Qur'an dalam surah Azzukruf ayat 36 telah menginformasikan hal ini jauh jauh agar Musimin Muslimah berhati hati dengan Iblis yang menyertai Manusia dan mebisikan kegelapan dihatinya?
Allah Subhana Huwwa Ta'ala berfirman:
“Barangsiapa yang berpaling dari pengajaran Tuhan Yang Maha Pemurah (Al-Quran), kami adakan baginya syaitan (yang menyesatkan) maka syaitan itulah yang menjadi teman yang selalu menyertainya". (Az Zukhruf 43:36)
Ayat ini telah dibaca oleh Milyaran Ummat Islam dari masa kemasa.
Syaitan yang dimaksud dalam ayat tersebut adalah Iblis pendamping. Dalam bahasa Arab kata قَرِينٌ (baca=Qarin) adalah pendamping/teman. Inilah dalil yang menjadi fakta tidak terbantahkan mengenai keberadaan si Jahat ini.
Keberadaan si Qarin ini dikuatkan juga oleh sebuah Hadts,
Dari Abdullah bin Mas’ud r.a, beliau meriwayatkan dahwa Rasulullah saw bersadba: ”Tidak seorangpun di antara kamu melainkan telah ada jin yang ditugaskan pemimpinnya untuk selalu menggodanya". Para sahabat bertanya: ”Anda juga ya Rasulullah?” Jawab baginda: ”Ya. Aku juga. Tetapi Allah selalu melindungiku dari godaan mereka sehingga mereka yang menggodaku akhirnya Islam (menyerah). Karena itu mereka tidak berani menyuruhku melainkan untuk kebaikan.” (HR Muslim)
Qarin jahat itu ikut mengalir dalam darah Manusia bersama Syahwat dan Nafsu. Ia juga ikut mempengaruhi bahkan sering mendominasi bisikan di hati Manusia, berupaya mengalahkan bisikan Qarin baik dari malaikat malaikat penjaga manusia dan Fitrah manusia itu sendiri.
Terjawablah lagi satu pertanyaan berikutnya.
HATI YANG 'GUNDAH'
Bukankah sesekali atau sering hati kita "gundah?"
Misalnya ketika dihati kita seperti ada suara, menyerupai adu argumentasi yang gaduh antara memaafkan dan tidak memaafkan atau ketika ada bisikan kedengkian, iri, sombong, ingin riya dan segala penyakit lainnya dihati yang kemudian diucapkan bibir atau tertahan dihati.
Ketika bibir kita menahannya, hati kita sesak dan suara berisik memenuhi istana hati kita seakan berkata "tak usah memaafkan, ia menghianatimu" bisikan lainnya berkata "maafkanlah itu baik bagimu, itu saudaramu"..
Inilah yang saya maksud aktifitas bisikan yang diakibatkan Qarin jahat dan Qarin baik, keduanya berperang saling mengalahkan. Keduanya bisikan itu tidak terlepas dari aktifitas Qarin ini. Seorang yang sering mengikuti bisikan Qarin jahat, hidupnya tidak tenang dan jiwanya sengsara karena ia melawan fitrahnya sendiri sebagai manusia.
Pertanyaan lain kemudian muncul, apa itu Fitrah Manusia?
Mari sejenak luangkan waktu untuk memahami kata "Fitrah" ini, agar presepsi kita sama dan melahirkan pemahaman bersama.
FITRAH MANUSIA,
Sering kita mendengarnya, namun benarkah kita telah memahaminya?
Fitrah merupakan ketetapan Allah yang tertanam dihati manusia sejak awal penciptaannya, ia merupakan kecendrungan alami yang keberadaannya mutlak tidak bisa diubah dihapus atau di modifikasi. Keberadaannya menyerupai sebuah kontrol lembut yang mengendalikan berbagai warna perasaan manusia, ia adalah sumber utama yang mempengaruhi dorongan untuk berfikir dan bertindak agar ummat manusia ini lestari dari masa kemasa.
Allah Subhana Huwwa ta'ala berfirman:
"Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Allah); (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui", (Qs Ar Rum 30)
Taqiyuddin an-Nabhani,
Dalam tulisannya yang berjudul "Hakikat Berfikir" menyebutkan fitrah itu dengan kata naluri. Beliau mendefinisikan fitrah sebagai daya kehidupan yang mendasar yang merupakan bagian integral dari hakikat manusia yang tidak mungkin diubah (dimodifikasi), dihapus, dan dibendung.
Beliau mengklasifikasikan Fitrah/Naluri/Gharâ’iz/Natural Tendency yang ada dalam hati manusia itu terdiri dari tiga jenis saja, yaitu: (1) Naluri Mempertahankan diri (gharîzah al-baqâ’), (2) Naluri Melestarikan Jenis (gharîzah an-nau‘) dan (3) Naluri Beragama (gharîzah at-tadayyun) atau pensakralan (at-taqdis).
Dari fitrah fitrah itu kemudian muncul berbagai penampakan (penjelmaan). Seperti cinta, benci, sedih, senang menolong, senang ibadah, iri, dll. Banyak dari kita yang memahami Cinta itu fitrah, padahal ia adalah penjelmaan dari Naluri manusia untuk melestarikan jenis sehingga Allah menanamkan rasa Cinta dan kasih sayang antara Manusia.
Yang harus kita perhatikan disini adalah fitrah Beragama, atau bahasa sederhananya fitrah manusia yang tunduk dan patuh dan ingin beribadah kepada Rabbnya, sehingga mendorong manusia untuk zuhud kepada dunia dan mempersiapkan kerinduannya kepada Akhirat.
Itulah salah satu fitrah baik Manusia yang menjadi manifestasi yang tidak bisa diubah oleh apapun, namun keberadaan fitrah ini kemudian dipengaruhi Akal, Nafsu dan Syahwat yang juga ditanamkan Allah ta'ala sebagai penjelmaan Fitrah tersebut.
Beda halnya dengan malaikat,
Allah hanya menganugerahkan kepada mereka kemampuan untuk menjalankan tugasnya dan beribadah saja. Tanpa dibekali Akal dan Nafsu, sehingga jelaslah bahwa Manusia yang tetap taat dan patuh kepada Allah setelah mampu menahan nafsunya maka ia lebih mulia dari Malaikat. Sehingga Allah ta'ala memerintahkan Para Malaikat dan Jin bersujud kepada Adam As ketika manusia pertama ini diciptakan di Syurga.
Sehingga jleaslah..
Alasan kenapa bidadari Syurga cemburu kepada Wanita Shalihah...
Sehingga jelaslah..
Bahwa Manusia yang telah dibekali akal dan kemampuan bicara, lalu durhaka dan membantah kepada perintah perintah Rabbnya adalah lebih hina dari binatang. Bahkan binatang lebih mulia, karena ia yang hanya dibekali nafsu itu hidup dan berkembang biak memberi kemanfaatan untuk Manusia.
Sahabat pena nai yang diridhai.
Seorang yang membiasakan diri mengikuti fitrahnya hati dan bisikan dari Qarin baik, jiwanya insya Allah akan tenang, hatinya tetap kaya meski tekanan dimana mana. Wajahnya teduh dan meneduhkan, senyumnya menyenangkan dan tutur katanya lembut. Pribadinya bijak dan menginginkan kebaikan bagi saudaranya.
Nah bagaimanakah agar Qarin baik ini mendominasi dan Cahaya-Nya yang berbentuk fitrah itu menyinari hati dan menyilaukan si Iblis Iblis jelek itu?
THE DZIKR PERSONALITY
Jawabannya begitu sederhana.
Pribadi tangguh yang insya Allah terhindari dari bisikan jahat dihati itu terlahir dari Pribadi Dzikrullah..
The Dzikr Personality atau Pribadi Dzikir tidak harus dicerminkan oleh panjangnya tasbih yang selalu membelit diantara jarinya, atau ikat kepala dan sorbannya. Tidak juga mereka yang selama hidupnya diam digua atau di masjid masjid dan melantunkan dzikr. Menjiharkan dzikir tentu lebih baik, dimana bibir dan hati ikut beribadah.
Namun, sebagai manusia yang tidak lepas dari kewajiban berusaha. Dzikir bisa dilakukan dimana saja dan kapan saja. Bahkan dalam aktifitas Hati, disana dzikir menjadi amaliyah hati yang murni dan terbebas dari riya.
Dzikrullah adalah mengingat Allah dengan MemujiNya, MentauhidkanNya, MenyucikanNya dan MengagungkanNya. Ini bisa dilakukan juga dengan memperhatikan atau diam mentafaquri hamparan Ayat Ayat Nya yang bertebaran di alam ini, atau merenungi semesta Nya yang senantiasa Ramai bertasbih MemujiNya. Ditengah tengah aktifitas kita, ruh kita bisa bergabung dengan semesta dan berdzikir.
Ketika hati kita terbiasa dengan Dzikir.
Kita akan mampu dengan mudah mengaitkan seluruh peristiwa yang menemui dan menghentak bathin kita dengan Allah aza wajalla yang telah mengirimkan pesan Rahmat Nya melewati mediasi Alam semesta ini.
Subhanallah..
Wajah tenang itulah cerminan dari pribadi Dzikr.
Wajah menjadi tenang karena hatinya tenang. Kebahagiaan seperti apalagikah yang engkau cari selain ketenangan jiwa?
Hati yang tenang itu muncul karena berkurangnya insensitas Qarin jahat. Sehingga Qarin baik dapat dengan leluasa membisikan kebaikan dan disambut dengan manusia yang berada dalam Fitrahnya. Fitrah itu kemudian mendominasi suasana hati dan aktifitas berfikirnya. Dengan demikian, perasaan "gundah" yang banyak menginspirasi seniman jadi jadian itu, tentu hiang jika "kegaduhan" itu sirna dari hatinya.
Karena kegaduhan itu terjadi dari adu argumentasi Qarin baik dan Qarin Jahat.
THE MIRACLE OF DZIKR
Inilah salah satu rahasia mengagumkan dari Dzikrullah.
Lantunan suara dzikir didalam hati adalah satu satunya cara untuk mengusir Qarin jahat dari istana hati kita, sehingga Cahaya-Nya yang berbentuk fitrah itu kembali muncul. Dengan demikian spectrum iman disana konstan dan menerangi kegelapan hati.
Hidup ini pilihan saudaraku,
Silahkan engkau memilih untuk bahagia atau sengsara.
Kebahagiaan sesaat atau kebahagiaan abadi.
Tentu kita berharap kebahagiaan di dunia yang sesaat dan juga kebahagiaan yang berkekalan disana, bukan menukar kebahagiaan sesaat dengan kesengsaraan abadi.
Jika kita ingin memilih bahagia,
Maka peliharalah hati kita, jaga ia dari pengaruh yang mengotorinya.
Sering memohon kepada Nya, minimal dengna mengingat Nya.
Karena si Qarin ini memang ada dalam diri kita, Jin berjenis Iblis ini mendiami tubuh seluruh umat Manusia dibumi, termasuk juga para Nabi Allah.
Aisyah radiyallahu anha,
Meriwayatkan Hadits tentang dirinya,
Suatu malam Rasulullah saw keluar dari rumahnya.
Aisyah berkata; “Maka akupun menjadi cemburu kepada beliau sekiranya beliau mendatangi istri yang lain. Kemudian Rasulullah saw kembali lagi dan melihat apa yang terjadi pada diriku.
”Apakah engkau sedang cemburu?” tanya beliau.
”Apakah orang semacam aku ini tidak layak cemburu terhadap orang seperti engkau ?” Jawab Aisyah ra.
“Rupanya syetan telah datang kepadamu”, sabda beliau
”Apakah ada syetan besertaku?’ tanya Aisyah ra
Rasulullah bersabda; “Tak seorangpun melainkan bersamanya ada syetan”
”Besertamu pula?” tanya Aisyah.
“Ya, hanya saja Allah menolongku untuk mengalahkannya sehingga aku selamat”, jawab Rasulullah saw. (Hadits ini ditakrij Muslim dan Nasa’i)
Alhamdulillahirabbil'alamiin..
Mari kita langsung kebahasan pokok, untuk memperkokoh kembali Pilar Iman kita yang ke 6 yaitu Iman kepada Takdir Allah dengan bekal bahasan konfrehensif diatas.
BERSAHABAT DENGAN TAKDIR-NYA
Banyak manusia beriman yang ragu tentang kekuatan taqdir ini.
Bagaimana mau bersahabat dengan Takdir-Nya jika kita tidak mengenalinya?
Keraguan tentang Takdir ini tak lain karena lemahnya pengetahuan atau sedikitnya perbendaharaan Ilmu difikiran kita, sehingga logika akal itu bekerja sendiri mengikuti nafsu duniawiyah saja. Sehingga kemampuan mata hati untuk melihat hikmah hikmah Nya yang bertebaran disemesta ini melemah. Lemahnya ilmu itu melemahkan Iman yang telah bersemayam.
Alasan lain keraguan terhadap takdir adalah bentuk nyata kesuksesan usaha Iblis yang intensif untuk menyesatkan manusia. Keraguan terhadap takdir, dan pertanyaan pertanyaan yang mengikutinya adalah cerminan lemahnya keimanan dan pengetahuan kita tentang Nya.
Untuk apa bibir berkata cinta jika tak ada kepercayaan?
Subhanallah.
Jika kita beriman, bukankah harus mengimani keseluruhannya?
Apakah mungkin meminum segelas air yang setengahnya air putih dan setengahnya lagi bensin? Tentu setetes bensin saja yang kita letakan didalam satu gelas air akan mengubah rasa air putih yang nikmat itu.
Begitulah, Iman.
Iman kepada Takdir Allah itu adalah 1dari 6 Pilar Iman yang harus tegap dalam hati kita. Jika tidak, maka jiwa akan lemah dan keropos. Tidak bahagia.
Telah menjadi pengetahuan umum, bahwasannya Taqdir manusia telah ditetapkan sebelum manusia diciptakan. Ada juga Hadits Hadits yang diriwayatkan bahwa Taqdir manusia ditetapkan ketika manusia ditiupkan Ruh kedaam janin di rahim ibu.
Tidak ada pertentangan tentang hal ini, yang ada hanya kesalahan manusia dalam menyikapinya. Sehingga ada manusia yang berkata dengan gegabah: "Bukankah takdir telah ditentukan, lalu untuk apa bersusah payah mengubahnya?"
Subhanallah..
Mahasuci Allah dari prasangka hamba hamba Nya yang hina.
Bukankah Usaha itu telah diperintahkan Allah ta'ala dan RasullNya?
Tidakkah terfikirkan, jika Allah ta'ala mampu menciptakan semesta yang menakjubkan ini, bukankah mudah saja bagi-Nya untuk mengubah takdirmu?
Berusaha dan Berdo'a lah.
Karena keputusan itu berada di Allah ta'ala.
JAWABANNYA ADALAH DOA
Rasulullah saw bersabda:
"Tidak ada gunanya waspada menghadapi Takdir, namun do'a bermanfaat menghadapi takdir, sebelum dan sesudah ia turun. Dan sesungguhnya setelah musibah itu ditakdirkan turun (dari Langit). Maka ia segera disambut oleh Do'a (dari bumi) lalu keduanya bertarung sampai Hari Kiamat". (HR Hakim, Imam Ahmad, Bazaar dan Ath Thabrani)
Ibnu Al Qayyim Azzawjiah menjelaskan:"Jika prisai do'amu lebih kuat dari musibah, ia akan menolaknya. Tetapi jika musibah lebih kuat dari prisai Do'a mu maka ia akan menimpamu. Namun sedikitnya tetap akan mengurangi effect-nya. Adapun jika prisai doamu seimbang dengan kekuatan Musibah. Maka keduanya akan bertarung".
Maka berusahalah, tunjukan kualitas usahamu dan berdo'alah.
Jika takdirmu tetap buruk, sesungguhnya bukan takdir itu yang buruk tapi pemahamanmu yang harus diperbaiki. Tentu semua yang terjadi adalah yang terbaik dari Nya untukmu, untukku dan untuk kita semua.
Sering kita memaknai musibah musibah dan kegagalan itu sebagai kesialan. Benarkah demikian? Mungkinkah Allah yang Maha Pengasih dan Penyayang menginginkan keburukan bagimu?
Mungkinkah seorang kekasih membuatmu kecewa?
Ya, mungkin saja jika kamu membuatnya cemburu.
Apakah kamu kecewa saat dia terbakar api cemburu?
Tidak, Kekasih apakah namnya jika ia tidak cemburu?
Besarnya gejolak api cemburu dihatinya adalah cerminan betapa besar rasa kasih sayangnya kepada kita.
Benar,
Dan Allahlah yang paling besar Kasih Sayang Nya, karena Dia Maha Pengasih dan Maha Penyayang.
KETAHUILAH BAHWA RABB-MU PUN CEMBURU
Dari Abu Hurairah r.a. dari Nabi s.a.w., sabdanya: "Sesungguhnya Allah Ta'ala itu cemburu dan kecemburuan Allah Ta'ala itu ialah apabila seorang manusia mendatangi -mengerjakan- apa-apa yang diharamkan oleh Allah atasnya." (Muttafaq 'alaih, Riyadhussalihin V/Muraqabah)
Aisyah radiyallahu anha meriwayatkan Sabda Rasulullah saw:
"...Hai umat Muhammad, tidak seorang pun lebih cemburu daripada Allah, bila hambanya, lelaki maupun perempuan, berbuat zina. Hai umat Muhammad, demi Allah, seandainya kalian tahu apa yang kuketahui, tentu kalian banyak menangis dan sedikit tertawa. Ingatlah! Bukankah aku telah menyampaikan. (Kutifan Shahih Muslim, Bab Gerhana Hadits No. 1499)
Bukankah Allah ta'ala Cemburu kepadamu saat kamu berbuat keharaman?
Bukankah Allah ta'la beda dengan Mahluk Nya?
Iya, tentu saja Sangat beda dan Dialah yang Maha Sempurna dan Maha Segala Galanya. Kecemburuan itu tidak begitu saja berubah menjadi Murka, sungguh Rahmat Nya yang memenuhi semesta ini telah menerjemahkan murka itu kedalam bentuk Kasih Sayang-Nya yang lain.
BENCANA...
Musibah Musibah yang menimpa kita adalah bentuk Kasih Sayang Nya, sebuah sentuhan lembut bagi manusia yang mampu melihat Hikmah Hikmah dibalik semua peristiwa dan pandai mengaitkannya untuk Memuji Rabb Nya.
Sa'ad bin Abi Waqqash berkata,
"Aku bertanya kepada Rasulullah Saw, Ya Rasulullah, siapakah orang yang paling berat ujian dan cobaannya?" Rasulullah saw menjawab: "Para nabi kemudian yang meniru (menyerupai) mereka dan yang meniru (menyerupai) mereka. Seseorang diuji menurut kadar agamanya. Kalau agamnya tipis (lemah) dia diuji sesuai dengan itu (ringan) dan bila imannya kokoh dia diuji sesuai itu (keras). Seorang diuji terus-menerus sehingga dia berjalan di muka bumi bersih dari dosa-dosa". (HR. Bukhari)
SUBHANALAH..
Mungkin hal buruk yang menimpamu itu adalah cicilan..
Agar adzab kita tidak begitu berat di akhirat Nya. Bukankah Api di dunia ini hanya 1 percikan dari 70 kali panasnya Neraka?
Bukankah Azab neraka yang paling ringan itu -- seperti Hadis riwayat Nukman bin Basyir ra, Muslim No.313 -- Bahwa "Ahli neraka yang paling ringan siksanya pada hari kiamat, adalah seseorang yang pada lekukan telapak kakinya diberi dua bara yang menyebabkan otaknya mendidih". ?
Sungguh Musibah demi Musibah itu adalah peringan Azab Nya yang berat, sehingga mereka yang beriman seharusnya tetap bersyukur dengan keringanan tersebut. Mengarahkan sekuat tenaga hati, fikiran dan bibir kita untuk beristighfar dan Memuji Nya.
Begitulah sahabat pena yang diridhai,
Afwan Jazilan Bahasannya melebar, ini semua adalah usaha kecil saja untuk ikut serta dalam memerangi pemikiran pemikiran Batil. Semoga Hidayah Allah senantiasa bersama kita dan semua Umat Muslimin Muslimat yang mengharap ampunan dan keridhaan Nya.
"Agar semesta Raya Ramai Bertasbih Memuji Nya"
^_^
Salam Bahagia dan Salam santunku,
Al Faqir Ilallah
Nuruddin Al Indunissy
RIYADH 2011
Langganan:
Postingan (Atom)